Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
187 : Akhir dari harapan.


__ADS_3

Begitu dia sama-sama menyadari atas apa yang terjadi kepada Elly yang tiba-tiba saja ketika tautan dari mulut mereka berdua lepas, saat itu juga Alves melihat mata Elly sudah terpejam. "Elly! Dok Apa yang terjadi padanya?! Kenapa dia tiba-tiba tidak sadar seperti ini?!" Tanya Alves dengan suara yang cukup lantang.


"N-nyonya, i-ini! Nyonya mengalami pendarahan!" Kata suster ini yang bertanggung jawab untuk membersihkan kakinya Elly barusan, dan benar saja, saat Alves melihat ke arah bawah sana, dia sempat melihat daster hijau yang di pakai oleh Elly, tiba-tiba saja banyak rembesan darah.


"Kau, apa hanya tinggal satu saja itu?" tanya sang dokter.


"I-iya dok! Ini memang tinggal satu ini saja yang tersisa di bank darah, dan tidak ada yang lainnya lagi." jawab suster ini kepada Dokter tersebut.


"Apa? Kenapa bisa? Masa tidak ada sisa kantong darah yang lainnya?! Hubungi rumah sakit yang lainnya!" Teriak Alves kepada ketiga orang tersebut.


"B-baik!" Salah satu dari mereka mencoba untuk menghubungi pihak rumah sakit lain untuk mencari informasi apakah ada darah yang sama dengan yang di butuhkan di sana atau tidak, dan hasilnya, dia hanya menggelengkan kepalanya kearah Alves. "Maaf Tuan! Tidak ada satu rumah sakit pun yang memiliki kantong darah untuk Nyonya, karena golongan darah milik Nyonya cukup langka dan hanya ada lima persen di dunia, sedangkan kantong darah ini adalah darah yang di berikan hari ini oleh seseorang, jadi saya tidak pasti kalau orang tersebut akan mau di mintai darahnya lagi." Jelasnya dengan panjang lebar.


"Kalau begitu hubungi! Hubungi dia, kalau tidak mau akan aku seret dan memeras tubuhnya sampai darahnya kering." Ancam Alves.


"Suster pantau detak jantungnya itu, aku akan mencoba menghubungi orangnya dulu." kata dokter ini, dengan kelabakan dia pun mencoba untuk menelepon seseorang yang merupakan pendonor darah tersebut.


"Baik dok."


"Elly, aku mohon, jangan tinggalkan aku. Kau sudah meninggalkanku selama dua kali, jangan membuatku di tinggal untuk yang ketiga kalinya." ucap Alves dengan harapan yang cukup besar. "Apa masih tidak bisa di hubungi?!" Suaranya jadi kembali naik gara-gara yang sedang menelepon si pendonor darah itu masih belum menemukan titik terang.


"Tuan, pendonor ini berasal dari orang tua, karena sudah di ambil tiga jam yang lalu, tidak mungkin untuk melakukan pendonoran darah lagi. Jadi dia jelas tidak mau."


"Sini biar aku yang bicara!" Alves yang sudah tidak sabar itu, langsung merebut handphone milik sang dokter dan bicara : "Kau mau uang berapa akan aku bayar, tapi berikan darahmu kepadaku!"


-"Maaf saja, aku tidak bisa memberikan darahku, bagaimanapun apa kau mau membuat orang tua ini mati kehabisan darah?"-

__ADS_1


TUT....


Tiba-tiba saja di matikan, Alves sudah ingin sekali membanting handphone itu ke lantai, tapi akhirnya dia hanya melemparnya dengan kasar ke pada si pemiliknya.


PIPP----------


Hingga suara pemantau detak jantung yang terhubung oleh Elly, tiba-tiba berubah menjadi panjang yang menyiratkan tanda kalau detak jantungnya sudah tidak ada.


"Elly! Lakukan apapun itu! Selamatkan dia dengan cara apapun, atau jika tidak, akan aku akar rumah sakit ini sampai jadi debu!" Bentak Alves terhadap mereka bertiga.


Dan begitulah, Elly yang menanggung beban berat itu, justru menemui masa kritisnya yang membuat Alves cukup was-was dengan apapun yang akan terjadi kapada Elly ke depannya.


'Jika bukan karena egoku untuk memiliki anak dengannya, tidak mungkin dia akan seperti ini.' pikir Alves, dia mulai di landa frustasi serta rasa delima yang cukup berat.


Kedua suster tersebut pun mengangguk, tapi begitu sudah di lakukan beberapa kali, hasil tidak berubah, dan membuat Alves yang tadinya mulia menaruh harapan besar kepada mereka bertiga, berangsur-angsur pudar ketika ia melihat wajah Elly yang semakin pucat.


"Tingkatkan lagi."


"Baik dok." jawab suster tersebut, dia pun meningkatkan lagi daya kejut listrik yang di gunakan untuk pacu jantung.


Namun sayangnya, sudah melakukan beberapa kali percobaan untuk mencoba memacu jantung yang milik Elly, hasilnya hanya menjadi sebuah kesunyian yang di temani dengan detektor jantung yang terus mengeluarkan bunyi yang cukup panjang.


"E-Elly." Alves mencoba untuk memanggil namanya, dia menghampirinya dan mencoba untuk membangunkannya dengan bisikan-bisikan kecil yang mungkin saja bisa menjadi pemicu untuk membuat Elly bisa terangsang dengan suara milik Alves. "Elly, kau benar-benar mau meninggalkanku?! Bahkan kedua anak kita? Aku salah Elly, aku salah! Seharusnya dari dulu aku mengajakmu pergi, tapi sampai akhirnya aku bawa kau pergi keluar, aku justru membawamu ke rumah sakit! Elly! Hiks..! Elly, aku mohon! Elly, jangan tinggalkan aku lagi!" Racau Alves.


Dia, untuk pertama kalinya akhirnya menangis, menangisi Elly yang hanya terdiam saja, tanpa merespon apapun yang Alves katakan kepadanya.

__ADS_1


Dan hal itu jadi membuat Alves semakin tersiksa.


Ketika kedua anak mereka sudah lahir, justru di ganti dengan nyawanya?


'Ini tidak adil, padahal aku belum lama ini bisa memilikinya, tapi kenapa malah berakhir seperti ini?!' Teriak Alves di dalam hatinya.


Sampai Alves jadinya berjongkok di samping tempat Elly terbaring dan dia memegang tangannya Elly dengan erat, mengecupnya dan memohon sebuah harapan kepada wanita yang ada di hadapannya itu untuk bangun kembali.


Tapi, semua meskipun sudah berusaha untuk berdoa dan berdoa, berharap, memohon, dan meminta agar Elly bisa berada di sisinya, semua itu akhirnya hanyalah harapan kosong yang tidak bisa pulih.


Semakin jatuhlah Alves saat dia seperti orang yang tidak mampu untuk menjaga wanita yang dia cintai itu untuk tetap berada di sisinya.


Maka dari itulah, tangisan milik Alves, benar-benar keras sampai suaranya keluar sampai keluar ruangan, karena saking sedihnya.


Padahal, harapannya hanya satu saja, ia ingin sekali bisa memiliki keluarga kecil, keluarga yang setidaknya utuh, dan tidak memiliki konflik apapun seperti apa yang terjadi mereka berdua baik di kehidupan mereka berdua sebelumnya, ataupun kehidupan mereka sekarang.


Dua perjalanan yang tidak memiliki masa-masa menyenangkan, Alves pikir bisa ia raih di waktu sekarang karena bertambah dua orang lagi untuk melengkapi posisi mereka berdua.


Tapi apa sekarang?


"Elly! Elly! Elly! Kau jangan tinggalkan aku!" teriak Alves sambil memohon-mohon pada tangan Ellynda.


Akan tetapi, semua harapan itu hanyalah menjadi harapan kosong saja, karena wanita yang dia harapkan untuk bisa berada di sisinya selamanya, justru meninggalkan dua orang anak untuknya.


"Elly! Hiks...huwaa!" racau Alves dengan hati yang cukup sakit dan terasa sudah terluka cukup parah, karena harapannya hancur hanya karena hari ini dirinya tidak menuruti apa yang di inginkan oleh Elly, dan semuanya pun berakhir di sini.

__ADS_1


__ADS_2