Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
173 : Tes


__ADS_3

Jam sembilan pagi.


Ngiikkk....BRR....


Suara ringkikan kuda itu mengisi keheningan yang ada di tempat pacuan kuda.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" gumam Elly. Dengan rasa terkejut yang dari tadi memang belum sirna, Elly pergi dan berganti pakaian lalu tanpa ia sadari dengan waktu yang terasa berlalu dengan cepat, dia saat ini sudah menunggang seekor kuda.


"Karena kau seorang yang akan mendampingi Alves, lagi pula karena dia juga punya hobi berkuda, kau harus bisa menyamai kesukaannya."


'Padahal dia yang selau menyamai kesukaanku, kenapa jadi berbalik seperti ini?' Pikirnya, dia lantas menoleh ke arah Alves yang sedang berdiri di atas balkon sambil memandang mereka berdua dari tempatnya itu. "Alves, apakah Ibumu memang seperti ini?!"


Tatapan mataya mengatakan itu kepada pria yang ada jauh di depan sana.


"Aku juga tidak tahu. Aku sama sekali tidak dekat dengannya, jadi jangan tanyakan aku." Jawab Alves, lewat tatapan matanya itu juga.


Karena sudah pasrah sebab tidak bisa di mintai jawaban dari orang yang bersangkutan seperti Alves itu, Elly hanya menghela nafas panjang.


"Untuk pertama, latihan memerintahkan kuda untuk sekedar berjalan."


Satu perintah dua perintah, semua perintah itu semakin kesini jadi semakin meningkat ke atas, sampai akhirnya Elly harus berpacu dengan kuda untuk melompati halang rintang, serta balapan.


____________


Jam sepuluh pagi.


DORR...DORR...


'Dia ternyata bisa menembak juga, jadi apakah Ibunya Alves ini pengejar semua olahraga?' Pikir Elly melihat cara Ibu nya Alves menembak juga sudah cukup terampil.


Tidak mau kalah, Elly pun melakukan hal sama, dan bahkan lebih menakjubkan.


"Saya akan melempar ini, anda hanya perlu menembak sasaran dari piring yang saya lempar." ucap sang pelatih.


Dan deretan dari peluru yang di tembak terus mengisi lapangan tembak.


Padahal hanya dua orang saja yang melakukannya, tetapi suara yang kerasa itu seperti menandakan adanya baku tembak yang terjadi secara beruntun.


DORR...DORR...DORR....


"Nyonya, mendapatkan 10 poin." ucap pria ini, dialah yang bekerja sebagai pelatih tapi juga wasit.


DORR...DORR...DORR....


"Nona Elly, anda mendapatkan nilai 15 sempurna."


Semakin waktu berlalu semakin sengit juga pertandingan diantara mereka berdua.


"Kau ternyata cukup pinta juga dalam menembak."


"Terima kasih pujiannya, tapi Nyonya sendiri juga hebat."

__ADS_1


Pujian itu saling di lontarkan.


Dan tes yang di maksud oleh Ibunya Alves pun adalah semua latihan fisik, serta pemahaman dasar untuk menjaga diri sekaligus-


_________


"Huahh! Gila, dia Ibumu, tapi kenapa aku seperti baru saja menjalankan latihan militer dengan komandanku dulu?" keluh Elly, dia akhirnya bisa menyeimbangkan semua tes yang di lakukan bersama dengan Ibu mertua.


"Apakah sebegitu lelahnya?" Tanya Alves, melihat wajah lelah Elly, dia memberikan air dingin kepada Elly.


Tapi Elly menolaknya, dan meminta air biasa.


"Lelah, jika pakai tubuh ini, aku termasuk sedang sangat kelelahan."


"Padahal kau tidak perlu memaksakan dirimu, karena bagaimanapun dia menyukaimu karena ada lawan yang bisa menyeimbangkan kemampuannya." Jelasnya, sangat di sayangkan karena Alves punya rapat dadakan, jadinya dia tidak bisa melihat semua nya sampai akhir.


Dengan tubuh yang lelah, begitu sudah di berikan air biasa dari Alves untuk dia minum, Elly langsung bersandar ke sandaran sofa, menengadah ke atas seraya menutup sepasang matanya dengan lengan kanannya.


'Dari semua tes, hal yang paling memalukannya, dia malah memberikanku pengetahuan dasar untuk bercinta. Banyak orang aneh di dunia ini. Aku pikir awalnya ibunya itu membenciku, tapi begitu aku bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan, sikapnya jadi lebih baik.


Avaris, keluarga ini orangnya sangat aneh-aneh, bahkan kakeknya itu.' Pikir Elly, dia hari ini akhirnya bisa mendapatkan banyak ilmu, dari ilmu ini sampai ilmu sensitif, dia menerima semua pelajaran itu langsung dari sumbernya, membuat Elly yang terdiam itu langsung tersipu.


________


KRRIIINGG....


"Hah!" esok harinya, Alves yang begadang semalaman, langsung membuka matanya lebar-lebar dengan suara alarm yang menunjukkan jam sudah ada di pukul enam pagi. "Aku kesiangan!" Ucap Alves.


Tapi, gara-gara dirinya begadang untuk mendesain sesuatu yang akan dia gunakan dalam waktu dekat ini, dia jadinya kesiangan.


Dengan kelabakan Alves yang tertidur dalam posisi duduk di atas tablet digital yang dia gunakan sebagai alat khusus dirinya ketika ingin menggambar, tablet itu segera dia matikan, membereskan kertas yang ada dan meletakkannya dengan buru-buru di dalam laci sebelum dia akhirnya masu kedalam kamar mandi untuk ritual paginya.


Lima menit kemudian, dia sudah rapi dengan kaos, celana jeans, blazer, jam tangan mewah, serta sepatu berwarna putih yang membalut kakinya itu dengan deretan harga yang tidak bisa di hitung lagi dengan jari.


"Kenapa aku lupa kalau hari ini aku ada janji." gumam Alves, dia menuruni anak tangga dengan gerakan langkah kaki yang cukup cepat.


Tapi, baru saja turun ke lantai satu, dia justru sudah di hadiahi sebuah pemandangan dari pan*at milik Elly.


Ya, sekarang Elly sedang menungging di belakang sofa, dan terlihat seperti sedang menggapai sesuatu yang ada di kolong sofa.


"Elly, kau bear-benar ingin di tusuk ya?"


"Bisa tidak, ucapanmu itu tidak vul*ar seperti itu."


'Dia langsung tahu maksudku, peka sekali dia ini.' Senyum Alves, lalu dia pun menghampiri Elly dan bertanya : "Apa yang sedang kau cari?"


"Anting, tadi masuk ke kolong sofa."


"Kenap atidak minta bantunku saja?"


"Kau kan tadi tertidur, aku mana mungkin membangunkanmu hanya karena anting."

__ADS_1


"Tapi memangnya kau punya perhiasan?" Alves malah jadi jongkok di belakang Elly persis, godaan itu benar-benar persis ada di depannya.


"Tidak, tapi aku kan harus mengembalikan perhiasan yang kau pinjam padaku untuk pameran waktu itu." jawabnya. "Dapat." Elly akhirnya mendapatkannya, dan langsung meletakkannya di dalam kotak perhiasan yang sudah dia pegang dari tadi.


Selesai meletakkannya, dia segera menyerahkannya kepada Alves.


"Ini, aku kembalikan." Katanya, dengan wajah polosnya itu.


Alves terdiam, lalu menatap kotak perhiasan itu secara bergantian dengan menatap wajah Elly. "Padahal kau kan sudah dengar sendiri waktu itu, aku membuatnya sambil memikirkan seseorang, dan akan memberikan nya pada orang itu, sebenarnya kau tahu atau tidak, kalau orang yang aku maksud itu adalah kau?"


"Tapi ini terlalu mahal. Yah, bukan soal mahalnya, tapi- memakai perhiasan itu bagiku terlalu norak, tubuhku jadi terasa berat, kau simpan saja ini. Lagian aku juga tidak akan pernah menggunakannya lagi."


"Siapa yang bilang kau tidak akan pernah menggunakannya lagi? Kau harus tahu, dalam lima hari ke depan, kau akan memakai perhiasan itu lagi di acara paling khusus." Alves segera berdiri, lalu meninggalkan Elly dengan langkah yang begitu tergesa-gesa.


Tapi begitu Alves sudah ada di ambang pintu, Elly baru saja melupakan hal yang harus dia ucapkan. "Aku sudah masak, kau mau pergi kemana?"


"Aku pulang sore, jangan tunggu aku, duduk manis saja di dalam rumah!" Teriak Alves, dan langsung masuk kedalam mobil begitu mobilnya sudah terlebih dahulu di panaskan oleh salah satu anak buahnya.


BRRMMMM.....


Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Alves pergi dengan sekejap mata, dan disitu Elly hanya merasakan aroma parfum yang di tinggalkan oleh Alves, sebagai jejak terakhirnya untuk Elly.


"Dia ini, padahal aku pagi-pagi sekali sudah susah payah masak, tapi karena tidak mungkin di buang, lebih baik ajak mereka makan juga." Gerutu Elly, dia sangat tidak puas hati dengan Alves yang pergi begitu saja tanpa memakan sedikitpun makanan yang sudah Elly masak.


Karena sudah begitu, Elly pun pergi keluar rumah dan mencari-cari keberadaan dari tiga orang anak buah Alves yang bertugas untuk berjaga itu.


"Kalian bertiga! Berkumpul!" Teriak Elly, pagi-pagi sudah berteriak dengan keras, karena dirasa ada hal penting, mereka bertiga segera hadir dan berbaris.


"Ada apa Non?"


"Apa ada tugas yang perlu kami lakukan?"


"Kami sudah su-"


"Apa kalian bertiga sudah sarapan?" Tatap Elly. "Jangan membuatku mengulanginya dua kali." kernyit Elly.


"Belum." jawabnya dengan serentak.


"Ayo masuk.Tugas kalian menghabiskan makanan tanpa sisa denganku."


mereka bertiga saling pandang satu sama lain.


"Apa yang kalian tunggu? Masuk, duduk, dan makan. Itu misi kalian." kata Elly sekali lagi, mempertegas perintahnya kepada mereka bertiga.


"Tapi bukankah anda selalu memasak untuk Tuan muda? Kenapa memberikannya kepada kami?"


"Dia pergi, katanya pulang sore, dan aku mana mungkin membuang makanan yang sudah susah payah aku buat, padahal di luar sana saja masih banyak yang kelaparan." mendengar cerita singkat dari Elly, mereka bertiga pun jadinya bersimpati kepada Elly.


Sebenarnya mereka bertiga sendiri juga tahu kalau pagi-pagi sekali Elly sudah bangun pagi dan bergegas memasak untuk Tuan muda mereka. Tapi begit usaha dari Elly terbuang sia-sia karena majikannya memilih untuk makan di luar, mereka bertiga pun membuat rencana sendiri.


Begitu Elly sudah berbalik, mereka bertiga saling menganggukkan kepalanya sebagai respon mereka yang setuju dengan rencana mereka.

__ADS_1


__ADS_2