Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
175 : Karena kerja keras mereka berdua


__ADS_3

"Hah...hah...hah..., kau keterlaluan. Besok kau kan harus kerja, kenapa malah ahh!"


"Kan aku bos nya. Jadi mau berangkat atau tidak, suka hati aku. Apalagi karena kontraknya masih berlaku, kau harus menuruti kewajibanmu juga, kan?"


"Tapi, masa seperti ini? D-dan-"


"Dan apa?"


"Apa kau juga mendapatkan pelajaran dari Ibumu itu?"


"Hmm? Saat muda, aku kan memang sudah di perkenalkan cara untuk memuaskan pasangan tidurku, jadi wajar dong, kenapa aku bisa semahir ini." ucapnya, dia merasa bangga dengan jawabannya itu.


"Apakah itu Ibu mu yang mengajarimu?"


"Iya. Dan sekarang pelajaran itu sangat berguna untuk sekarang, pasti kemarin kau juga diberitahu cara-caranya juga kan?" Tanyanya dengan senyuman cerahnya.


"Kau- ini ihh!"


"Padahal aku tidak memasukkannya kedalam rumahmu, tapi kau benar-benar sensitif sekali. Jadi seperti air terjun."


"Kau sinting,"


"Lagi pula sinting karenamu." Tukas Alves detik itu juga.


"Ah...ah..!"


"Sabar-sabar, kau akan terbiasa." tutur Alves sambil tertawa kecil.


"Tidak, tetap saja tidak terbiasa." ketus Elly.


"Hahaha, kau mamang masih pemula. Tapi tenang saja, sebagai senior, bahkan sebagai calon suamimu mendatang, aku akan mengajarimu secara mendetail." Beritahu Alves.


Wajah Elly pun jadinya semakin memerah.


"Kau sangat mes*m."


"Biarkan aku jadi me*s*m untukmu saja."


Dan malam itu pun jadi malam yang panjang untuk mereka berdua.


__________


"Bos, hari ini ada jadwal pertemuan dengan Tuan besar." Ucap Orson, memberitahukan jadwal kepada Alves.

__ADS_1


Alves yang sedang mengelap senjatanya itu, tiba-tiba saja langsung menodongkan nya ke arah Orson secara langsung.


CKLEK....


Mengarahkannya kepada Orson, Alves pun mencoba membidiknya, dan setelah itu dia menarik pemicunya.


KLEK.....


'D-dia seperti benar-benar mau membunuhku saja. Tapi untungnya tidak ada peluru.' Orson sempat was-was, karena pria di depannya itu memang pria yang tidak terduga.


"Sejak kapan pertemuan dengan kakekku masuk dalam jadwal?" Tanya Alves, dia terus membidik Orson tepat ke lehernya.


"Lima menit tadi. Beliau meminta untuk bertemu dengan anda setelah jam makan siang, jadi semua jadwal di jam itu langsung di undur semua."


"Padahal kalau mau bicara tinggal telepon saja, tapi kenapa harus membuat jadwalku kacau?" Gerutu Alves. Padahal setelah jam makan siang, Alves memiliki janji temu dengan paman nya, karena paman nya itu juga membuka butik, jadi dia terpaksa harus menemuinya. "Aku akan meneleponnya sekarang, kau duduk lagi saja di tempatmu."


Orson mengiyakan permintaan itu dan pergi dari sana.


"Tapi- dimana dia?" Matanya sempat melirik ke arah kursi kerja milik Elly masih kosong.


"Dia kelelahan, aku memintanya untuk istirahat." Jawab Alves. Meskipun raut wajahnya seperti memperlihatkan wajahnya yang serius, tapi karena sudut bibirnya sempat terangkat walaupun sesaat, Orson pun tahu hanya dari melihat senyuman singkat itu.


_____________


Elly, dia merasa bingung dengan kondisinya saat ini, sebab ketika sinar matahari mulai meninggi dan jam mulai menunjukkan jam menjelang siang, tapi kenapa dirinya masih ada di dalam kamar?


"Oh ya, semalam." Karena tertidur terlalu lama, apalagi sampai jam siang, Elly pun merasa malas setengah mati, apalagi jika mengingat saat ini tubuhnya hanya berbalut handuk kimono saja. 'Apa dia pergi setelah membersihkan tubuhku? Karena aku kelelahan sampai ketiduran, aku jadi tidak ingat dengan apa yang dia lakukan saat aku tertidur.'


Setelah selesai bekerja sama dari sore sampai tengah malam, mereka berdua yang kelelahan sempat tertidur, tapi Elly sendiri tidak tahu kalau Alves pergi setelah tubuhnya di bersihkan olehnya.


"Huh, kenapa dengan bodohnya aku dulu pernah menolaknya? Takdirku malah ada setelah aku dikhianati oleh orang yang pernah aku cintai. Aku memang bodoh." Gerutu Elly sambil tertawa sendiri.


Dia masih saja belum bisa melupakannya, bahkan sekalipun sudah berusaha untuk melupakannya, yang ada justru ingatannya itu semakin jelas.


"Tapi- aku kayanya harus kerja keras dulu, gara-gara dia tempa tidurku jadi kotor, sprei, selimut, dan kasur!" gumamnya. Walaupun malam tadi bisa bersenang-senang, sayang sekali sekarang dia harus membereskan kekacauan yang di lakukan oleh mereka berdua tadi malam dengan membersihkan tempat tidurnya.


Gara-gara itu juga, aroma di dalam kamarnya jadi bercampur dengan aroma yang lumayan aneh.


"Semoga saja hari ini cukup terang, agar jemurannya bisa ker-"


KLEK....


Tiba-tiba saja ada satu orang perempuan berpakaian pelayan, tentunya, masuk kedalam kamar.

__ADS_1


"Siapa kau?" Raut wajah Elly langsung berubah drastis.


"Saya Indy, saya akan membereskan tempat tidur anda." Jawab Indy, tanpa merubah ekspresi wajah datarnya sekalipun.


Melihat itu, Elly seolah jadi melihat Indy ini seperti Azriel yang dulu, yang sama sekali tidak memiliki ekspresi wajah selain ekspresi yang datar layaknya tembok.


"Siapa yang menyuruhmu? Aku bisa melakukannya sendiri." Elly yang tidak suka ada orang lain masuk, segera beranjak dari tempat tidurnya. Tapi baru juga mau bangun, pinggangnya terasa sakit. Alhasil Elly pun kembali duduk, 'Apa yang sudah dia lakukan semalaman denganku? Kenapa tubuhku rasanya seperti remuk semua?'


"Saya di suruh oleh Tuan muda untuk mengurus rumah selagi anda beristirahat."


"Berarti setelah aku sudah istirahat, kau akan pergi, kan?" Tanyanya, dia juga tidak terlalu suka kalau di rumah terlalu banyak orang.


"Untuk hari ini iya, tepi untuk dua hari ke depan, saya dan rekan satu tim saya akan datang kembali ke sini. Jadi anda istirahat saja, dan biarkan pekerjaan ini saya yang urus." jelas Indy, dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya selain bicara menjawab semua pertanyaan dari Elly barusan.


'Apa dia sengaja mengirim satu pelayan karena tahu tubuhku remuk seperti ini?' Batin Elly. 'Tapi apa aku harus bersyukur, karena berkat dia, aku jadi bisa istirahat tanpa khawatir makanan? Karena aku tidak biasa di layani karena selama ini aku melayani diriku sendiri, aku jadi masih merasa aneh. Tapi karena dia sudah datang, biarkan saja lah dia di sini.' pikirnya. "Ya sudah, kau saja yang rapikan." perintahnya.


Pada akhirnya Elly pun mengiyakan untuk mendapatkan bantuan dari satu orang pelayan ini.


'Tapi itu kasur juga sangat basah, aku jadi ingin tahu apa yang dia pikirkan.' Elly terus memperhatikan kerja Indy yang hanya diam dan fokus dalam pekerjaannya itu.


'Dia benar-benar tidak ada reaksi apapun, apa dia sudah terbiasa?' Pikirnya lagi.


_______________


"Jadi anda mau pilih yang mana?"


"Ini."


"Sepatunya?"


"Kau harus buat sepatu dengan desain yang sudah aku buat sendiri." Alves yang sedang ada di salah satu butik, langsung memperkenalkan beberapa desain yang dia buat kepada madam, untuk segera di buatkan dalam waktu yang memang cukup mepet itu. "Bahkan tiara, sarung tangan, model gaunnya juga seperti ini."


"T-tuan, tangan anda itu memang benar-benar tangan emas ya? Saya pasti tidak akan pernah bisa pernah berpikir untuk membuatkan gaun pengantin dengan model seperti ini. Dan anda juga yang pertama kalinya mengajukan desain gaun pengantin kepada calon istri anda. Saya jadi sangat kagum pada anda." puji wanita paruh baya ini dengan senyuman cerah, sebab meskipun Alves memberikan desain semua aksesoris serta gun kepada mereka dengan mendadak, tapi karena bahan-bahannya saja sudah di pilihkan dengan di bawa langsung oleh Alves juga, mereka jadi tidak terlalu kesusahan untuk menerima permintaan itu.


"Aku terima pujianmu, tapi apa kau bisa membuatnya dalam kurun waktu tiga hari?"


"Bisa Tuan, untuk anda, kami akan berusaha untuk menyanggupi permintaan anda dengan setulus hati." jawabnya.


"Kalau begitu aku serahkan padamu. Karena aku sudah menyematkan ukuran tubuhnya di situ juga, jadi aku tidak perlu lagi membawanya kesini."


"Baik Tuan, ini benar-benar jadi sangat bermanfaat untuk kami, dan merasa terhormat bisa mendapatkan permintaan menakjubkan dari anda." tuturnya, sambil terus membungkuk karena ia merasa bangga dengan kehadiran dari pria terkenal ini.


Walaupun akan ada banyak wanita di dunia yang patah hati karena Alves sudah mempunyai pasangan, tapi karena pada dasarnya takdir dari Alves sudah di tentukan setelah melewati rangkaian peristiwa yang sudah terjadi, jadi mereka hanya bisa tersenyum saja.

__ADS_1


__ADS_2