
TAK….
Satu pukulan pun terjadi, dan kali ini Aiden lah yang melakukannya. Sama seperti kemampuan yang di miliki oleh Alves, Aiden pun melakukan hal yang sama, sebab dalam sekali pukulan, hal itu membuat bola kecil berwarna putih langsung melambung tinggi dan pergi ke tempat jauh, dimana di depan sana ada sebuah tiang bendera berwarna putih.
Namun di samping itu, bola itu justru mendarat persis di tepi sebuah danau.
‘Jika dilihat sekilas, danau itu memang cukup cantik, seperti danau biasa yang dihias dengan tanaman bunga, tapi sayangnya di sana ada buaya. Apa yang akan kau lakukan? Di jam ini, tidak lama lagi buayanya akan keluar karena ingin berjemur.’ Pikir Alves, dalam diam dia pun menyeringai puas, bahwa Aiden akhirnya bisa menemukan halangan dalam bermain golf.
“Anda pemukul yang bagus juga, tapi sekarang anda harus bagaimana itu? Dengar-dengar di danau itu ada buayanya.” Ucap pembawa acara ini saat melihat bola putih yang kecil yang berhasil di pukul oleh Aiden, justru pergi ke tepi danau.
“Tidak terduga ya? Atau kau memang sengaja mengincar posisi yang ada di sana?” Tanya Alves menyindir.
“Memangnya ken-”
“Groarhh..” Dan benar saja, seekor buaya keluar dari kolam, dan karena menciptakan gerakan yang sedikit membuat air bergelombang, bola itu pun terseret arus gelombang dan naasnya, karena buaya itu menguap lebar, dengan mulut yang sedang menganga, bola golf itu akhirnya masuk kedalam mulutnya dan tertelan.
“Waduh! Bola anda sudah di makan oleh buaya, bagaimana ini?” Beberapa orang yang menyaksikan itu secara langsung, langsung tersenyum tawar, tapi tidak dengan Alves yang tidak bisa menyemubnyikan cekikikannya.
“Hahah, kelihatannya bola punyamu itu lebih enak ketimbang daging.” Kata Alves. Tentu saja itu adalah sebuah sindiran.
__ADS_1
“Masih ada banyak bola, hanya tinggal menggantinya di tempat yang sama, memangnya apa susahnya?” Kata Aiden, sedikit terpancing dengan ucapannya Alves ini.
“Yah, tidak susah sih, tapi lucu juga melihat bola yang seharusnya kau pukul lagi, malah sudah ada id perut buaya.” Alves benar-benar tidak bisa menghilangkan rasa bahagianya karena melihat kejadian lucu itu sendiri. ‘Jadi karena untuk permulaan saja dia sudah punya halangan seperti ini, kedepannya pasti akan ada lagi. Elly, aku tidak akan pernah membiarkan anak bau kencur ini membawamu dariku.’
Harapan kecil yang begitu berharga, siapa yang tidak suka itu, ketika ada orang lain yang menderita, maka orang lain yang begitu mendambakan orang itu menderita, dengan sendirinya tentu saja akan membuatnya bahagia.
Dan Alves pun merasakan itu.
“Sini-” Aiden yang kesal karena dipermalukan oleh seekor buaya darat yang sedang berjemur, dengan hati-hati Aiden pun mencoba untuk meletakkan bola golf itu ke tempat semula. Awaknya niatnya memang seperti itu, hingga tidak lama kemudian, di saat Aiden akan turun menuju cekungan dari danau itu sendiri, tiba-tiba suara ledakan muncul.
DHUAARR……
Wajah ketujuh orang yang ada di lapangan Golf, sudah termasuk dengan Alves, mereka semua langsung memasang ekspresi terkejutnya.
“Wah, ada apa itu?! Saya jadi bingung untuk mendekat atau tidak.” Pembawa acara ini pun jadi mengoceh dari topik seharusnya, karena ada kejadian yang tidak terduga. Dan dia bersama dengan kameramen, sebenarnya memiliki niat untuk meliput peristiwa ledakan tadi.
Antara meliput ledakan tadi atau meliput ekspresi wajah Alves yang begitu terkejut, kedua pria ni memilih untuk lari mengejar Alves.
"Baik, seperti yang anda lihat, Tuan Alves tiba-tiba saja berlari, kami akan terus mengikutinya, karena pasti ada sesuatu yang menarik bagi para penonton."
__ADS_1
"Menarik apanya? Apa kau mau mengumbar masalahku di depan banyak orang?" Sarkas Alves di tengah-tengah dirinya sedang berlari sekuat tenaga menuju ke kendaraan Club Car.
"Anda- tapi wajah anda yang panik seperti itu sangat jarang terjadi muncul di publik, pasti semua orang pada penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, terutama kepada anda. Apakah, ada yang membuat anda sampai berekspresi khawatir seperti itu?" Oceh pembawa berita ini, sambil mewawancarai Alves yang sedang di buru-buru pergi ke suatu tempat.
Karena adanya masalah yang begitu mendesak, permainan pun di batalkan. Membuat mereka semua langsung naik club car demi melintasi arena lapangan golf yang cukup luas itu.
"Apakah itu jawaban yang harus aku jawab?" Tanya Alves, wajahnya begitu serius, tangan dan kakinya tidak henti-hentinya untuk bekerja menyetir mobil itu sendiri dengan kecepatan tinggi, sama hal nya dengan kameramen dan reporter itu sendiri, mereka berdua juga mengejar Alves dengan kendaraan yang sama, demi bisa meliput apa yang akan di lakukan oleh Tuan muda mereka dalam bepergian dengan wajah sepanik itu.
"Tentu saja, semua orang juga pastinya sungguh penasaran. Tapi jika anda tidak mau menjawabnya, juga tidak masalah." Reporter ini terus saja bicara, demi memanas-manasi suasana. Itulah pekerjaan dari orang yang begitu merepotkan dunia pertelevisian.
"Kalau begitu aku memilih untuk tidak menjawabnya. Pikirkan saja sendiri." Toleh Alves, melambaikan tangannya ke arah kamera sebelum Alves menaikkan kecepatan laju dari mobil miliknya.
Melihat objek yang di wawancarainya sudah pergi jauh, kameramen dan reporter ini tiba-tiba saja langsung di hadang oleh lima orang petugas keamanan, mencegah mereka berdua, masuk atau lebih tepatnya mengikuti Bos mereka lebih dekat lagi.
"Kalian hanya bisa meliputnya sampai sebatas ini." Pria berpakaian serba hitam dengan kacamata hitam, benar-benar langsung menghadang mereka, sehingga informasi yang mereka dapatkan pun jadinya terbatas.
"Tuan muda licik, padahal sudah mengundang kami, tapi giliran ada berita lebih besar dari pada taruhan ini, malah di larang untuk meliput." gerutu reporter ini, karena dirinya jadi tidak memiliki bahan berita yang lebih akurat.
"Orang-orang seperti kalian memang cukup merepotkan. Ini masalah internal, kalian hanya bisa meliputnya dari sini, tidak lebih dan tidak kurang. Kalau masih saja ingin masuk, kami tidak akan segan untuk mengambil kamera anda dan mengusir kalian, apa kalian paham?" Jelas salah satu satpam kepada mereka.
__ADS_1