
"Kau ini kenapa?! Tembak saja apa kau tidak becus?!" marah pria yang sedang menyetir mobil ini kepada teman sebelahnya karena tidak bisa menembak target dengan benar.
Padahal sudah sampai sejauh ini, tapi jika sampai gagal padahal sudah membuat mereka semua nekat menyerang mereka di siang bolong seperti ini, harapan mereka sudah pasti akan pupus.
"Kau pikir gampang ya nembak mereka?" Protes pria berkepala plontos ini karen di anggap sebagai orang yang tidak becus, padahal dia sendiri sudah melakukan hal yang terbaik untuk menembak.
"Itu kan bagianmu, jadi jika gagal, bukannya sama saja tidak becus ya?" Papar pria ini, masih terus mengejar mobil yang ada di depan sana dengan kecepatan tinggi, hingga mereka sama-sama menerobos lampu merah, dan membuat jalan raya memperlihatkan kekacauan.
"Tch, hanya nyetir saja tapi mulutmu itu berisik." Kutuk pria ini terhadap rekan kerjanya itu, karena hanya bisa bicara omong kosong belaka, padahal prosesnya untuk menembak saja juga tidak semudah hanya menarik pemicunya saja.
"Hah?" Malas menanggapi orang yang tidak becus bekerja itu, pria ini langsung menambah kecepatan mobilnya hingga di atas 80 Km/jam dan terus meningkat seiring waktu terus berjalan.
"Kau diam saja gih, terus nyetir dengan benar, aku akan menggunakan itu sebagai perlawanan singkatku." Lirik pria ini, dia yang tidak suka di katai tidak becus hanya karena tidak berhasil menembak dengan benar, ia langsung mengganti senjatanya dengan yang lebih besar yang di bawa dan di letakkan di kursi penumpang.
Begitu sudah mengeluarkan senjata itu dengannya ke atas mobil, pria ini langsung memikul senjata yang sedikit lebih berat itu dan langsung menargetkan mobil di depan.
__ADS_1
"Walaupun sayang sekali, wanita yang ada di dalam sana ikut mati tanpa menyapaku dulu dengan sapaan yang benar, tapi aku terpaksa membawamu ke alam baka dengan Bos mu itu." Gumam pria ini. Begitu dia sudah berhasil membidik sasaran, ujung jarinya pun menarik pemicunya.
Dan dalam sekejap mata, di jalan yang lumayan ramai itu, tiba-tiba saja di atas mereka langsung di lintasi dengan rudal kecil yang bagaimanapun punya ledakan yang cukup lumayan.
TIN...TIN....TIN!
Banyak sekali kekacauan karena mobil mereka berdua melaju dengan cara yang lumayan sembrono.
Sedangkan di posisi Alves sendiri, dia langsung memberikan perintah ketika ia tahu ada rudal yang terbang pergi ke arah mereka bertiga.
"Apa?! Kau mau kita menenggelamkan diri?" Tanya Orson dengan wajah terkejut.
"Dari pada kita di tembak mati karena rudal yang sedang terbang ke arah kita, bukannya lebih bagus kita masuk kedalam air?" ucap Elly mendukung keputusan Alves. Dia hanya bisa mengiyakan apapun keputusan dari Alves saat ini, sebab memang tidak ada cara lain untuk menghentikan rudal yang suah di tembak ke arah mereka. "Dan walaupun aku tenggelam, bukannya ada yang bisa menyelamatkanku?"
Alves, begitu dia mendengar kalau Elly rupanya percaya dengan rencananya, ia sedikit merasa senang akan hal itu.
__ADS_1
Entah datang dari mana rasa senang karena Elly mempercayainya, padahal dengan menenggelamkan diri, maka sama saja membuat insiden yang belum lama ini terjadi kepada Elly terulang lagi, Alves akan tetap menjalankan rencana darurat itu.
Maka dari itu, Orson yang bertanggung jawab untuk membuat mereka pergi ke tempat yang di tuju, langsung meningkatkan kecepatan mobilnya.
'Hari ini memang hari yang cukup gila. Tidak hanya hari ini aja, tapi setiap harinya! Bagaimana bisa aku punya teman sekali atasan yang punya sikap berbeda dari tujuh tahun yang lalu? Sudahlah, karena yang penting itu adalah bisa selamat, lebih baik memang masuk ke dalam sungai.' Orson yang tidak punya pilihan lain untuk menuruti keputusannya Alves, segera menginjak gas sedalam-dalamnya.
Begitu ada tikungan yang ada di depan mereka, Orson langsung membanting stir dengan memilih jalan ke arah kiri.
Dan rudal yang meleset tidak bisa mengikuti arah targetnya, berhasil membuat sebuah toko di depan sana, meledak.
"Mereka memang gila. Tapi untungnya kau memancing ke tempat yang lebih sepi." Ungkap Elly, begitu tenang melihat ada yang sedang mengejar-ngejarnya.
"Kenapa kau tidak panik?" Tanya Orson.
"Kenapa aku harus panik? Jika aku panik, bukannya kau juga ketularan jadi panik juga?" Lirik Elly, dia sudah bersiap dengan melepas sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Kalian berdua, fokus, di depan sana sudah ada sungai." Sela Alves, bagaimanapun situasi yang sedang mereka hadapi, mereka bertiga sebenarnya tidak bisa untuk panik begitu lama, karena pada akhirnya, mereka sama-sama sudah terbiasa.