
"Yah~ Hujan." Seorang wanita memandang langit yang mendung itu dengan wajah muram.
"Ada apa sayang? Kedinginan ya?" Tidak lama kemudian, seorang pria datang memeluknya dari belakang.
"Aku ..., hanya tidak menyukai hujan." Jawab wanita ini, wanita yang beberapa hari yang lalu melangsungkan pernikahannya, yaitu Asena.
"Karena hujan, lebih baik tidak usah datang ke pestanya mereka. Mending kita saling menghangatkan tubuh," Tawar pria ini, suami Asena, namanya Gibran.
"Apa kau tidak malu, mereka berdua saja datang ke pernikahan kita, sedangkan kita tidak datang."
"Ya, lagian kau mengundang orang yang akan menikah, kan jadinya seperti ini." Masih ingin di manja dalam aroma lembut yang di miliki oleh tubuh Asena.
"Kau ini." Asena mengacak rambut suaminya itu dengan kasar, sehingga rambut yang sudah di sisir rapi itu akhirnya berantakan lagi.
Tapi Gibran tidak memperdulikannya, sebab yang ada justru dia merasa senang. Maka dari itu Gibran semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup bahu Asena yang terpampang jelas di depan matanya, karena Asena benar-benar sudah bersiap untuk pergi ke pesta, padahal waktu juga masih tersisa dua jam lagi.
"Asena, kau mengacak rambutku, apa kau ingin aku mengacaukan riasanmu itu?" Goda pria ini, degan nada berbisik.
Sampai nafas yang terasa hangat itu menyapu daun telinganya, sampai Asena merasa tergelitik.
"Apa kau cukup tega agar aku kembali merias sendiri?"
"Lagian, kamu sangat cantik, aku jadi lapar." Satu kecupan itu mendarat di leher Asena.
"Tinggal makan kan?"
"Tapi memangnya aku boleh makan?" Menilik ekspresi wajah Asena.
Asena yang merasa di tatap, akhirnya menoleh ke samping kiri, dan kedua wajah mereka pun jadi sama-sama dekat. "Tidak, aku sudah rapi-rapi seperti ini, masa aku harus memberimu jatah?"
Gibran langsung merungut, dengan ekspresi memelas seperti anj*ing kelaparan.
'Ukh ...., badannya saja yang gede, sekarang dengan wajahnya itu, dia sedang memohon-mohon seperti anak kecil. Dia ini, dia terlalu punya banyak kartu AS, sampai aku merasa kasihan dengannya.' Asena pun meneguk salivanya sendiri.
Padahal dia sudah berdandan cantik, tapi apakah ia harus merelakan penampilannya yang sudah rapi untuk memberikan anak besar ini makan?
"A-aku" Asena jadi gugup, karena dia sejujurnya sama sekali belum melakukan malam pertama, selain itu pula ia juga belum pernah berciuman.
Sedangkan Gibran, dia malah memanyunkan bibirnya seperti pan*tat ayam.
__ADS_1
Namun karena wajahnya manis menyedihkan itu berhasil menarik hati, Asena pun dengan terpaksa mendaratkan bibirnya.
CUP.
"Sudah tuh, aku sudah memberikanmu makan."
"Apa? Makan lisptikmu?" Gibran dengan menggoda malah menyeka bibirnya dengan ujung jari jempolnya, memperlihatkan lipstik merah yang tertinggal di sana. "Ini masih belum mengenyangkan." Gibran langsung menarik wajah Asena, dengan sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, Gibran akhirnya kembali mencuri bibir itu.
CUP...
Godaan itu akhirnya semakin meningkatkan keinginan mereka berdua untuk lebih dekat.
'Panas, jadi seperti ini rasanya ciuman? Kira-kira Alves sudah seberapa sering mencium wanita?' Asena yang tiba-tiba terpikirkan dengan Alves, mantan tunangannya itu, segera berbalik dan melingkarkan kedua tangannya ke leher pria ini, dan semakin mendalami tautan mereka berdua.
Gibran yang tangannya sudah tidak sabaran lagi, mulai menggerayangi punggung Asena yang cukup terbuka, sehingga dia dengan mudah untuk melonggarkan gaun hitam itu ke depan, agar Istrinya itu menampilkan sesuatu yang menjadi gejolak pancingan dari diri Gibran.
Sampai suara milik seseorang, langsung menghentikan aksi mereka berdua.
'Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat."
"Alves?" Asena langsung melepaskan pelukannya itu, dan memperbaiki gaun yang sudah sempat melorot itu.
Tidak hanya Alves saja, tapi juga ada seorang wanita di belakang Alves.
"A-apa yang kau lakukan di rumahku! Ini melanggar privasi." Protes Asena, karena dia kehilangan kesenangannya.
Gibran menganggukkan kepalanya. "Kau sungguh jahat, aku sedang mulai memanasi nya, tapi kau malah mendinginkannya." Gibran pun jadi kehilangan nafsunya, karena kedatangan Alves yang mendadak itu.
"Itu salah kalian sendiri tidak mendengar aku sudah mengetuk pintu berulang kali." Alves yang tidak memperdulikan apapun yang sempat ia lihat tadi, kembali menatap Asena.
"Jadi apa yang membuatmu datang kesini?"
Alves mengeluarkan handphone nya, dan membaca pesan yang sebenarnya sudah Alves kirim beberapa puluh menit yang lalu kepada Asena. "Padahal aku sudah mengirimkanmu pesan, kau sungguh tidak membacanya ya?"
"A-apa? Gibran, dimana handphone ku? Terakhir kali yang memakainya kan kau?" Tanya Asena sambil menepuk punggung Gibran dengan sedikit kasar.
"A-ahw, handphone nya kan mati, ya aku charge dulu." Gibran sedikit mengernyitkan matanya saat dia merasakan sakit karena tepukan itu.
"Kalau di charge ya di hidupkan lagi, hiii..dasar kau ini." karma yang Gibran dapat dari Asena pun jeweran di telinganya,.
__ADS_1
'I-iya...iya, jangan jewer lagi, kalau telingaku sobek bagaimana?"
"Gampang, tinggal aku jahit saja." Jawab Asena dengan cepat, dia masih merasa geram dengan Gibran, karena gara-gara laki-laki ini, akhirnya membawa mereka berdua sebagai tontonan sesaat untuk Alves yang memang suka nyelonong masuk.
"Alves, kenapa kita datang kesini?" Elly menarik ujung lengan Alves, sehingga Alves sedikit memiringkan tubuhnya ke samping kiri untuk mendengar bisikan milik Elly.
"Kan aku tadi sudah bilang, kita akan mengunjungi temanku, dia yang akan meriasmu."
"Ha?" Asena terkejut, dia tiba-tiba di suruh menjadi perias? Untuk wanita lain?
"Siapa dia?"
Asena melepaskan tangannya dari menjewer telinga suaminya, dan berjalan menghampiri Elly yang berdiri di belakang Alves persis.
"Siapa wanita yang kau bawa itu?" Tanya Gibran dengan tangan masih menggodok telinganya yang memerah akibat di jewer.
"Dia Elly, pelayanku."
"Apa?" Gibran dan Asena sama-sama terkejut.
Kedua orang itu pun berjalan bersama menghampiri Elly, dan memandanginya dari atas sampai bawah.
"Kau yakin, wanita secantik ini pelayanmu?" Tanya Gibran dengan gamblang.
DHUAK...
"Ahww..." Gibran mendapatkan tendangan dari Asena, karena memuji wanita lain lebih cantik.
"Iya, aku pelayannya." Jawab Elly dengan polosnya dan sama-sama membalas tatapan dari mereka berdua.
"Jujur sekali kau, dan apa Alves? Aku di suruh untuk meriasnya? Apa kau akan membawanya ke pesta?" Pertanyaannya beralih ke Alves langsung.
"Seperti itulah, jadi aku berikan kau waktu satu jam, rias dia. Aku akan menunggu di sini." Alves langsung masuk ke area dapur dan mengambil minuman isotonik yang ada di dalam kulkas sebelum Alves pergi dan duduk di sofa.
"Kau selalu saja seenaknya." Gerutu Asena. Dia melirik ke arah Elly lagi, dan memperhatikannya dengan lebih seksama. "Apa kau habis hujan-hujanan?" Tanya Asena sambil membawa Elly pergi dari sana.
"Iya,"
Asena terus meliriknya, dia sangat penasaran dengan wanita yang di bawa Alves ini. 'Alves yang menangkap buket bungaku, apakah ini artinya Alves akhirnya bisa menyusul?'
__ADS_1