
DORR...DORR....DORR....
Tembakan demi tembakan terjadi. Suara yang begitu keras dan memekakkan telinga, berhasil mengisi keheningan di area tembak tersebut.
Demi menguji satu per satu senjata yang ada di dalam gudang, mereka berdua pun mulai menghabiskan waktu mereka untuk mencoba semua senjata yang ada, sekaligus untuk bahan pengalih suasana diantara mereka berdua yang sempat berakhir dengan canggung.
Niatnya memang seperti itu, tapi bahkan di pertandingan dalam menembak pun, Elly akhirnya kembali mengungkit soal hubungan mereka berdua, dan membahas masa lalu yang sempat berlalu itu.
"Alves, apa kau bisa beritahu aku kenapa kau bisa berakhir di sini juga?" Tanya Elly, sorotan matanya hanya tertuju pada titik merah yang ada di depan sana, sebagai targetnya untuk menembak sebuah papan berbentuk manusia.
"Setelah aku membunuhmu, mereka benar-benar datang mencarimu."
"Begitukah? Mungkin mereka ingin aku menyerahkan semua yang sempat aku punya kepada anaknya yang asli." Ucap Elly dengan lugas.
Dia yang dulu merupakan putri palsu dari keluarga ternama, dimana pekerjaan utama dari keluarganya Elly di masa lalunya itu, adalah sebagai komandan militer, dan Elly menjabat sebagai kapten. Tapi karena satu alasan yang pasti, keluarga palsu itu menemukan putrinya yang asli, sudah pasti ia akan di singkirkan.
Itulah yang menjadi titik balik, alasan Elly pernah mengatakan lelah hidup dalam dunianya, kepada Azriel, dan Azriel pun menuruti keinginan terakhir Elly yang menginginkan untuk mengakhiri deritanya dengan menembaknya mati.
"Dan aku tentu saja langsung membunuh mereka semua, dan ikut bunuh diri untuk menemanimu yang masuk kedalam air laut." Jawab Alves tanpa keraguan sedikitpun.
"Kau gila ya?" Lirik Elly dengan jawaban dari laki-laki ini. "Bagaimana bisa kau memutuskan seenaknya seperti itu? Bagaimana jika kau malah mati beneran, bukan..maksudku bagaimana jika kau bahkan tidak bisa hidup di tubuh orang lain?"
DORR...DORR...DORR....
__ADS_1
Tiga kali tembakan beruntun yang di lakukan oleh Alves itu, berhasil menciptakan kemenangan besar, sebab dia berhasil menembak di titik yang sama dalam tiga kali tembak seperti tadi.
Setelah ia selesai menembak, dan bahkan ia sempat mendengarkan omelan dari wanita di sampingnya, Alves justru tersenyum lebar.
"Itulah, yang namanya taruhan. Jika hatiku bahkan tidak percaya bahwa kita tidak di pertemukan di kehidupan kita saat ini, artinya kita belum ditakdirkan bersama.
Tapi, karena aku yakin dengan hatiku, keputusanku yang kau anggap gila itu, akhirnya membuahkan hasil, ya kan?" Jelas Alves panjang lebar.
Dia meletakkan pistolnya ke sarung pistol yang ada di bagian pahanya, melepas penutup telinganya, Alves lantas langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Elly.
Lantas ketika kedua tangannya mendarat di kedua bahunya Elly, Alves kembali berkata : "Lihat kita? Karena aku yakin dengan diriku sendiri, kau maupun aku, akhirnya bisa berdiri berhadapan seperti ini, ya kan? Kau maupun aku, punya tubuh baru dan kehidupan baru tanpa ada yang mengekang kita berdua, bukannya itu sama saja bahwa kita berdua sudah ditakdirkan bersama?"
"Alves-" Panggil Elly dengan mata nanar. Dia tidak tahu kalau orang yang di kehidupan dulunya bahkan adalah orang yang tidak banyak bicara, sekarang orang itu jadi lebih banyak bicara, dan bahkan sudah pintar sekali menggodanya.
Sungguh, kehidupan kali ini memang di warnai banyak drama yang membuat mereka berdua terus di tuntut untuk berpikir sampai tujuh keliling, soal ini dan itu, sebab mereka berdua punya kehidupan serta latar belakang yang harus di bereskan pelan-pelan sambil menikmati hidup baru mereka, yang tanpa sadar, orang yang Elly layani adalah satu-satunya orang yang ia harapkan terkahir kali di masa lalunya.
Melihat Elly tiba-tiba matanya mengeluarkan air matanya, ujung jari jempolnya pun mengusap sudut bawah matanya dengan lembut seraya memberikan senyuman lembutnya. "Elly, jika kau bahkan tidak pintar bicara, akulah yang akan berusaha banyak bicara untuk menuntunmu mengakui perasanmu kepadaku."
Masih mengulas senyuman lembut, Alves sedikit memiringkan kepalanya ke samping kanannya.
Menikmati setiap inci dari wajah Elly yang baru dari sosok asli Everliyn yang dulu selalu memiliki ekspresi wajah yang terlihat seperti orang yang ganas, sekarang, wajah cantik di depannya itu justru lebih dominan seperti seorang wanita yang memang pantas menyandang sebagai wanita yang lemah lembut.
Bahkan termasuk Alves sendiri, dia yang dulunya adalah Azriel pemilik ekspresi wajah seperti dinding, di tubuh barunya itu ia memiliki berbagai macam ekspresi yang bisa ia perlihatkan dengan begitu mudah.
__ADS_1
Suasana hati yang di miliki tubuh mereka masing-masing, berhasil mewakili karakter baru mereka, itulah yang di miliki oleh Elly dan Alves.
"Kau- aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Hiks...hiks... Kenapa kau bisa berubah jadi orang yang semenyebalkan ini sih?" Protes Elly, akhirnya karena ia tidak mampu menahan perasaan haru dan pilu yang sedang bersatu menjadi satu itu, Elly pun menangis.
Air mata yang tidak bisa ia bendung itu langsung Elly seka dengan kasar dengan menggunakan lengan bajunya.
"Kau memang dari dulu tidak pintar menangis ya." Ejek Alves dengan senyuman jahilnya.
Mau bagaimanapun, di kehidupan lalunya Elly memang tidak pernah menangis, jadi sekalinya menangis, ia akan seperti seorang anak kecil yang nangisnya berantakan seperti sekarang.
Makannya, bagi Alves, pemandangan dari wanita yang sedang menangis ini pun jadi terlihat cukup lucu.
"Hiks...huks, kenapa kau malah bicara seperti itu? Huwaaa..., Alves, kau jahat. Aku bahkan tidka tahu...hiks, aku ini nangis atau apa. Hiks..hiks..hiks..."
Alves yang jadinya bingung sendiri dengan melihat keadaan Elly yang menangis nya semakin menjadi-jadi, dia langsung memutuskan untuk memeluknya, ketimbang tangisan itu pecah dengan ekspresi kekanakan yang begitu imut, dan tidak mau di bagikan ke orang lain yang kemungkinan sedang melihatnya lewat CCTV.
"Apa yang kau lakukan hiks..."
"Tentu saja menenangkanmu."
"Tapi pakaianmu jadi basah. Hiks..."
"Basah karena air mata kebahagiaanmu, apa yang salah dengan itu?"
__ADS_1
"Kebahagiaan?" Elly yang memang tidak tahu cara menangis, dan apalagi air mata kebahagiaan yang di hasilkan dari tangisan kecilnya tadi, membuat Elly bingung. "Kebahagiaan apa maksudmu hikks..hiks...huwaa..., kau jahat, kau menggodaku terus, hiks.."
"Jika aku tidak terus menggodamu, mau sampai kapan kau bisa merasakan cintaku ini, aku sudah pernah memberitahumu sebelumnya, ya kan? Aku sudah berjanji, dan aku menepati semua janji yang aku buat untukmu dari waktu ke waktu, itulah yang aku lakukan kepadamu." Jelas Alves. Dia yang mulai merasakan basah di dadanya, karena pakaiannya memang sudah mulai basah sebab air mata Elly yang begitu banyak, akhirnya diam dan menepuk punggung wanita ini dengan pelan, agar bisa tenan, setidaknya itu yang bisa ia lakukan saat ini untuk mengatasi seorang wanita yang menangis.