Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
73 : PTRI : Elly bermain


__ADS_3

DORR….


Satu tembakan lagi langsung meluncur ke arahnya. Dengan posisi mereka bertiga yang langsung berpencar, alias berpisah, Elly jadi kesulitan untuk membereskan ketiga orang itu secara bersamaan. 


“Hei, kita harus bagaimana? Kita sudah ketahuan seperti ini, dan aku sangat yakin, walaupun dia sendirian di sini, bukan berarti dia bisa di kalahkan.” 


“Liam, aku butuh pendapatmu tentang situasi ini.” 


Kedua orang itu pun masih menunggu konfirmasi dari temannya yang bernama Liam itu, apakah mereka bertiga akan menyerang Elly, atau harus kabur?


“Kalian, jika memang mau kabur, kalian seharusnya ambil handphone itu dulu. Wajah kita ada di dalam handphone itu.” Jawab Liam.


Kedua temannya itu langsung terperengah dengan jawabannya Liam yang cukup masuk akal. Karena Elly berhasil mengambil wajah mereka bertiga, mau tidak mau, konsekuensi yang harus mereka tanggung adalah dengan merebut handphone nya?


“Tapi, bukannya kita sebenarnya pakai topeng ya?”


Akan tetapi, Liam justru meresponnya dengan senyuman getir. “Sayangnya, walaupun kita sudah memakai wajah palsu, aku melihat kalau wanita itu sudah tahu seperti apa konstruksi wajah kita.”


“Walaupun suara kita sendiri sebenarnya di samarkan seperti ini?” Tanya salah satu teman Liam dengan nada berbisik.


Karena jarak diantara mereka bertiga tidak terlalu jauh, mereka pun masih bisa saling berbicara satu sama lain. 


“Hmm,” Dehem Liam. 


“Apa kalian mau main petak umpet denganku?” Tanya Elly, untuk berbasa-basi. Dia masih berada di lantai dua, dengan satu pistol sudah ada di tangannya, ia hanya perlu menembak target yang sayangnya sekarang ini sedang bersembunyi di beberapa tempat yang sulit di jangkau. 


“Ya, itu boleh juga.” Sahut Liam.


“Liam! K-kau benar-benar akan melawan wanita itu?” Tanyanya, khawatir akan hasil yang akan di dapatinya. 


“Kalau tidak seperti itu, memangnya kita harus kabur dengan tangan kosong? Karena kita sudah ada di sini, setidaknya berikan sesuatu pada pemilik rumah ini.” Balas Liam. 


“K-kau ada benarnya juga sih. Tapi kalau kalah bagaimana?”


“Maka artinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepada kita. Sayangnya, jika aku tidak mencoba, aku tidak akan tahu dia bisa apa saja.” Imbuh Liam sambil menarik slide pada pistol, agar peluru langsung masuk ke dalam rongga laras pistol, lalu ia pun bersiap untuk menembak. “Kau tahu Arya kan? Dia tidak kembali setelah menjalankan misinya untuk mencuri flashdisk itu, dengan kata lain aku jadi dapat mempersempit orang yang kira-kira berhasil menggagalkan rencana mereka berdua, dan itu adalah wanita di atas sana.” Tatap Liam, terhadap Elly yang sama-sama baru saja menarik slide pistol. 


‘Selama ada aku, maka tidak akan ada yang namanya kedua kali atau ketiga kali. Berdasarkan misi, aku harus membereskan mereka semua sekarang juga. Aku tidak akan membiarkan mereka lari dari tempat ini, seperti dua pencuri sebelumnya.’ Setelah berpikir seperti itu, Elly menjeling ke samping kanan dan kiri, tepat di belakangnya ada vas bunga, itu cukup kebetulan sebagai senjata dari sekian barang yang bisa ia gunakan sebagai pengalih. 


"Kalian berdua, lakukan apa yang bisa kalian lakukan agar tujuan kita idak sia-sia." Perintah Liam kepada kedua temannya itu.

__ADS_1


Mereka berdua membalasnya dengan anggukan. Setelah dirasa mereka semua siap, Liam langsung memberikan sebuah kode untuk maju.


"Sekarang!" Tekan Liam.


Dan di saat yang sama juga, Elly langsung menyambar vas bunga yang ia temukan itu. Setelah berhasil mendapatkan Vas bunga, Elly berlari, melompat ke pagar pembatas yang ada di tangga persis, lalu setelah itulah secara otomatis kedua kakinya langsung meluncur ke bawah, mengikuti tangan-tangan dari anak tangga itu.


DORR..


PRANK...


Tembakan yang dilancarkan oleh Liam langsung disambut oleh Vas bunga yang dilempar oleh Elly.


Dan ketika itu, Elly sudah melompat ke bawah, berlari ke arah depan, Elly segera mengarahkan senjatanya ke arah depan, dan adu senjata pun kembali berlangsung.


Dibantu dengan kedua teman Liam yang bersembunyi di tempat lain dan menargetkan Elly dari satu titik yang dianggap aman oleh mereka.


DORR..


"......." dengan tatapan datar, Elly langsung memiringkan kepalanya ke samping kiri, mengarahkan tangan kanannya yang sedang memegang pistol itu ke samping kanan, dan satu tembakan langsung meluncur dari laras pistol ke arah target.


PRANK….


Lalu dengan tembakan yang kedua, peluru itu benar-benar hampir mengenai kaki dari salah satu teman Liam. 


‘Dia hebat juga. Tapi kira-kira apa jadinya jika tiga lawan satu?’ Penasaran dengan hasil itu, salah satu teman Liam yang lain pun menyerang Elly. 


Dia mengeluarkan tangannya dari persembunyiannya, dan mengarahkan senjatanya ke arah Elly. 


Elly yang menyadari akan ada serangan dari dua arah saat itu juga, tangan kanannya pun melempar pistolnya ke atas dan langsung di tangkap dengan tangan kiri, setelah itu dia bergerak ke depan, menangkis serangan dari Liam yang datang untuk memberikannya serangan fisik. 


DORR..


DORR….


Satu, dan dua peluru yang meluncur dari senjata yang di pegang oleh rekannya Liam, berhasil di halangi dengan peluru yang di tembak oleh Elly, dan saat itu juga Elly menangkap pergelangan tangan kanannya Liam yang hendak memberikannya pukulan ke arahnya dengan menariknya ke dengan kuat, sehingga Liam langsung tertarik ke depan. 


Setelah Liam berhasil kena tarik ke depan, Elly langsung memutar tubuhnya 360 derajat, lalu secara bersamaan tangan kanan Elly mencuri pistol yang ada di paha Liam sebelum akhirnya Elly memberikan tendangan kepada Liam dengan menggunakan kaki kanannya. 


BUKH…

__ADS_1


Liam hampir terjatuh terhuyung ke depan. Akan tetapi belum sampai di situ, kedua teman Liam yang kembali memberikan Elly tembakan, langsung Elly hindari dengan melompat ke arah sofa, melakukan salto dan kedua tangan yang sudah memegang pistol itu, secara bersamaan di arahkan ke arah kanan dan kiri, sebelum kedua jari telunjuknya itu akhirnya menarik pemicunya. 


DORR…


PRANK….


DORR….


“Akhh…!” 


Mendengar rintihan salah satu dari temannya, Liam langsung memutar tubuhnya ke belakang. 


‘Wanita itu, dia hebat juga. Tapi- dia sayangnya dia menjatuhkan handphone nya.’ Liam tersenyum licik, melihat handphone yang menjadi incarannya akhirnya terjatuh ke lantai, karena kecerobohannya Elly. 


‘Handphone nya!’ Elly yang menyadari handphone nya Alves terjatuh, dan tergeletak di lantai, dengan buru-buru Elly berbalik dan langsung berlari untuk mendapatkan handphone nya terlebih dahulu sebelum kedapatan oleh Liam. 


Elly berlari, lalu melompati meja pendek itu dengan sekali percobaan, dan hasilnya sekarang dia punya jarak tiga meter dari tempat dimana handphone nya Alves yang tergeletak itu hendak di rebut Liam. 


‘Aku akan mendapatkannya lebih dulu.’ Batin Elly, lalu kembali berlari ke depan. 


Dan Liam sendiri, dia juga sama-sama berlari menuju ke arah handphone yang tergeletak itu. 


DRAP….DRAP…..DRAP…..


‘Liam, dapakan handphone nya!’ 


‘Ayo Liam! Jangan kalah dengan wanita pelayan itu!’ 


Sorak dalam diam, mereka berdua, mendukung temannya yang berjuang untuk merebut handphone itu. 


Dua meter, berubah menjadi satu meter, mereka berdua sama-sama mengulurkan tangannya ke depan, dan hentakan kaki untuk pengereman pun mereka berdua lakukan, sampai di jarak setengah meter, Liam dan Elly sama -sama membungkukkan tubuhnya, sampai Elly yang merasa terdesak karena tidak mau membiarkan Liam mengambil lebih dulu handphone itu, Elly dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya  ke depan, sampai perpaduan lantai yang licin itu akhirnya membuat tubuh Elly terseret ke depan dengan cukup cepat. 


Hinga uung tangan yang sampai di salah satu sisi handphone itu pun berhasil membuat sebuah dorongan yang kuat untuk menyingkirkan handphone itu dari depan mereka berdua. ‘Berhasil!’


Ya, Elly memang berhasil menyingkirkan handphone itu daripada di rebut oleh Liam, akan tetapi karena langkah Liam yang cepat itu tidak sepenuhnya bisa berhenti saat itu juga, secara kebetulan juga, salah satu kaki Liam pun jadi tersandung bahunya Elly dan akhir dari pertarungan mereka, Liam langsung terjatuh. 


BRUK. 


“Ahww..itu pasti sakit.” Gumam sala satu dari teman Liam, sehingga suara yang cukup keras itu pun akirnya sukses membuat kedua temannya Liam, langsung menutup matanya.

__ADS_1


__ADS_2