
"Sekarang kita akan pergi kemana?" Tanya Elly, dia sudah menyalakan mesin mobil, dan tinggal menunggu jawaban dari si majikan.
"Saatnya pembersihan." Ketus Alves, dia langsung melepas maskernya, dan membuangnya ke tong sampah yang ada di tempat sampah mini yang ada di bawah kursinya.
"Pembersihan?" Elly melirik ke belakang, mencoba mencerna apa yang di jawab oleh Alves.
______________
ZRASSHH.....
Air dingin yang keluar dari shower, langsung membasahi tubuhnya. Meskipun kulitnya masih agak memerah karena siraman kopi yang di lakukan oleh Yuli beberapa hari yang lalu, tapi setidaknya lukanya itu sudah membaik karena sering di obati secara rutin.
Namun, apa yang dikatakan pembersihan beberapa puluh menit yang lalu saat perjalanan pulang, Elly yang berpikir kalau Bos nya itu hanya ingin berganti pakaian saja, karena sudah pasti Alves yang tidak begitu menyukai kucing, punya phobia untuk selalu bersih, apalagi dari bulu-bulu kucing tak kasat mata yang berterbangan menempel pada pakaiannya, rupanya pembersihan itu adalah membersihkan tubuhnya secara keseluruhan dari atas sampai bawah.
"Kenapa aku juga ikutan?"
"Kau kan pelayan?" Toleh Alves, melihat Elly sudah sepenuhnya telanjang, dan saat ini sedang memegang sebuah kain untuk membersihkan punggungnya Alves.
Ya, seperti sebuah kesempatan yang di buat-buat, mengatasnamakan pekerjaan Elly yang sebagai seorang pelayan, Elly pun harus melakukan apa yang di inginkan oleh Alves, yaitu membersihkan tubuhnya sampai bersih.
'Tapi kenapa aku harus seperti ini juga?' Batin Elly.
Sebagai orang yang dulunya pernah di layani oleh pelayan rumah, dari makan sampai mandi, maka dari itu, Elly pun sama sekali tidak memiliki malu, bahkan ketika di saat seperti ini, bertelanjang bersama dengan majikannya sendiri.
Maka dari itu, ketika Alves merasa aneh dengan sikap Elly yang tidak terlihat malu, Elly sebenarnya bersikap biasa saja, meskipun tentu saja reaksi dari tubuh yang Elly gunakan memperlihatkan telinga yang memerah, karena malu.
'Aku tidak tahu dia ini peka atau tidak. Padahal dia menolak keras untuk menerima tawaranku sebagai Istri, tapi jika aku memanfaatkan posisinya sebagai pelayan untuk melayaniku, bukannya akhirnya sama saja dia jadi seperi Istri yang patuh? Hahaha, kenapa ada wanita seaneh dia?' Kata hati Alves, merasa senang sendiri di atas kesusahan orang lain, karena Elly begitu merasa sial, sebab harus melayani seorang pria yang begitu mesum. "Ayo, gosok lagi." Perintah Alves.
Alves yang sedang duduk di kursi kecil, memberikan punggungnya yang begitu lebar itu kepada Elly untuk di bersihkan.
Dan Elly dengan senang hati membersihkannya, karena ia menganggap kalau hal itu memang tugasnya.
Suasana diantara mereka berdua pun perlahan berubah, Elly yang begitu mendalami perannya untuk melakukan tugas dengan baik, sungguh berbeda dengan suasana yang tercipta pada diri Alves.
Selama lebih dari 24 tahun mandi sendirian, dia akhirnya mendapatkan sesuatu yang berbeda, dan sangat kental dengan suasana yang kaya dengan romansa dari sepasang kekasih.
Ya, padahal Elly memang bukan siapa-siapanya. Pacar bukan, Istri juga bukan, tapi peran yang di dalami oleh wanita di belakangnya itu, membuat Alves entah kenapa, memang cukup menikmati semua layanannya.
"Elly, apa kau bisa menceritakan kisahmu sebelum datang ke dunia ini?"
__ADS_1
"Apa kau butuh dongeng pengantar tidur?" Tanya Elly balik. Jika berada di luar pekerjaannya yang berhubungan dengan dunia perkantoran, Elly akan kembali berbicara dengan bahasa yang informal. Karena aturan yang sudah di buat memang seperti itu.
Dan lagi pula, Alves juga sudah sepakat.
"Bukan pengantar tidur." Sudut bibirnya tiba-tiba saja terangkat membuat sebuah senyuman. Senyuman yang begitu menggoda namun juga terlihat seperti orang yang sedang merencanakan sesuatu yang cukup licik. "Tapi pengantar mandi."
Tangan Elly yang masih menggosok punggung Alves, ia menjawab : "Alves, jika gombalanmu hanya sebatas ini, bagaimana kau bisa menarik perhatian wanita?"
"Apa kau baru saja mengejekku?" Alves menoleh ke samping kanan, lalu melirik ke arah Elly yang akhirnya menghentikan pekerjaan dari tangan rampingnya itu.
Sungguh, Alves ingin sekali tertawa mencibir, karena punya fakta menarik saat wanita di belakangnya itu dirawat di rumah sakit beberapa minggu yang lalu, kalau Elly mengalami malnutrisi.
"Lucu-" Gumam Alves, membuat Elly bingung.
"Apanya yang lucu?" Elly tidak begitu menerimanya jika Alves tiba-tiba saja tertawa seperti itu.
"Bukan apa-apa." Tapi meskipun Alves berkata demikian, Alves justru semakin tersenyum lebar dan di barengi dengan tawa kecil yang begitu mengesalkan hati Elly.
"Tapi kau tertawa. Berarti ada yang lucu." Semakin tertantang dengan tingkah Alves yang tidak mudah di tebak.
"Kenapa kau begitu memikirkan apa yang aku tertawakan sih?"
'Ya ampun, kenapa ekspresinya, biasa-bisanya aku menganggap hal itu begitu imut?' Tawa Alves pun semain hambar, karena di matanya yang entah memang sudah buta karena cinta, ingin membuat Elly jatuh cinta kepadanya, menganggap reaksi bodong dengan wajah bingung Elly, begitu menarik perhatian Alves, sampai menganggap kalau Elly begitu imut. 'Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadaku? Padahal jelas, dia memang wanita asing, bahkan belum kenal lama, tapi- aku justru merasa sudah mengenalnya begitu lama.'
Deretan pertanyaan dari perasaan yang di miliki oleh Alves pun jadi membuat Alves frustasi sendiri, karena ia harus merahasiakannya dari Elly, atau yang ada adalah Elly menertawainya balik.
"Alves, kau mendengarku kan?"
"Sangat medengarnya, Elly." Tapi senyuman masih menghiasi bibirnya, membuat Elly yang tidak tahu apa-apa soal apa yang sedang di pikirkan oleh Alves, sampai membuat pria ini terus terlihat ingin tertawa, tapi tawa yang terlihat sedang merendahkan, langsung membuat Elly langsung berdiri.
Dia tidak tahan dengan sesuatu yang tidak bisa Elly baca, terutama dengan tingkah laku Alves saat ini.
"Aku sudah selesai membersihkan punggungmu, sisanya bersihkan sendiri." Ucap Elly.
Walupun terlihat begitu sopan, tapi kesannya memang sedang memperlihatkan wajah yang sedang marah.
"Tunggu, pekerjaanmu kan belum selesai." Tutur Alves, dimana saat Elly sudah berdiri dan hendak pergi dari sana, Alves yang tidak mau di tinggal sendiri, langsung menarik tangan Elly dan membuat Elly langsung jatuh ke atas pangkuannya.
"Kau-" Ally langsung kehilangan kata-katanya saat tangan kanannya yang masih di cengkram oleh Alves menuntun nya untuk memegang dada sebelah kiri Alves.
__ADS_1
Di balik dada Alves yang begitu bidang, tersimpan jantung yang sedang bekerja dengan begitu cepat, seakan jantung itu adalah benda yang menjadi penanda aktifnya sebuah bom yang sebentar lagi akan meledak.
"Apa kau merasakannya?" Tanya Alves dengan senyuman tulus dan mata yang begitu sendu.
Sebuah ekspresi wajah yang menyiratkan keinginan seseorang untuk mengerti diri Alves sepenuhnya.
Bahwa, pria ini begitu mendambakan satu jawaban dari perasaan yang terus membuat jantungnya berdebar setiap kali bersama dengannya, yaitu Elly.
"Ya, aku merasakannya. Kau deg degan. Apa jantungmu sebentar lagi akan meledak?" Elly justru melontarkan pertanyaan dengan wajah seriusnya, hingga Alves sesaat merasa bingung sendiri bagaimana caranya untuk membuat wanita di pangkuannya ini mengerti maksudnya.
"Ya, jika kau pergi, mungkin saja jantungku malah akan meledak."
"Kau tidak pintar menggoda." Elly bahkan malah jadi meresponnya dengan ekspresi wajah jijik.
Alves menghela nafasnya, lalu dengan mata sayu, tatapan mata yang terus tertuju pada tubuh Elly, Alves pun menjawab. "Jika kau menganggapnya aku sedang menggodamu, kau salah. Aku hanya ingin jujur kepadamu saja, apakah itu masih sama di katakan sebagai sedang menggodamu?"
"....," Elly terdiam sejenak. "Beruang kesepian." Perlahan Elly jadi terbawa suasana yang di buat oleh Alves ini.
"Ya, aku memang beruang kesepian. Makannya, kau jangan pernah meninggalkan beruang ini sendirian lagi, agar aku tidak mendapatkan julukan beruang kesepian lagi." Balas Alves.
Beruang kesepian adalah julukan dari Elly terhadap Alves yang memang punya tubuh tinggi juga besar tapi punya kisah cinta yang tidak menarik sama sekali, sebab selama ini kisah hubungan dari pria ini bersama dengan beberapa wanita sebelumnya adalah sebuah skenario yang di buat-buat saja.
Maka dari itu, meskipun dia adalah pria yang begitu di cintai banyak wanita di segala penjuru dunia, namun hatinya yang masih tidak dia bukan untuk siapapun, membuatnya terlihat sebagai pria yang kesepian.
Di antara banyak teman-temannya yang seumuran, namun sudah menikah bahkan sampai sudah punya anak, tentunya, Alves adalah orang yang terlihat tidak begitu berminat pada pernikahan.
Maka dari itu, kakeknya Alves terus mendorong Alves untuk melakukan kencan buta, yang membuat Alves menjalin hubungan dengan beberapa wanita sebagai kekasih bayaran saja.
Dan hasil dari semua hari yang sudah terlewati, pada akhirnya Alves memutus hubungan dengan semua wanita yang pernah membuat perjanjian untuk menjadi kekasih bayaran, selepas Elly yang baru sadar dari koma namun tiba-tiba saja mengajukan perjanjian dengannya.
Perjanjian kerja, yang tanpa pikir panjang membuat Alves langsung menerimanya begitu saja.
Dan semua itu berasal kalau dirinya merasa lebih percaya bekerja sama dengan Elly ketimbang wanita lain.
Hasilnya, tentu saja seperti sekarang. Menjalani perannya, dengan begitu baik, sebagai seorang wanita yang melayaninya dengan caranya sendiri, tapi tidak membuat Alves merasa begitu tersinggung ataupun marah.
Malahan, membuat Alves cukup senang.
'Bukannya ini aneh?' Pikir Alves, sebab sekarang dirinya sedang di peluk oleh Elly. Sehingga wajahnya pun terbenam didepan dadanya.
__ADS_1
Aroma yang membuatnya begitu nyaman, apalagi dengan kehangatan yang tidak bisa di bandingkan dengan air hangat yang selama ini ia gunakan untuk mandi.