Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
156 : Undangan Fashion Show


__ADS_3

"Felix! Bagaimana kau bisa mendapatkan undangan ini? Bahkan kau sampai mau membagikannya pada kami." Tanya Warren, bersama dengan Darren juga Arshen, mereka bertiga berjalan mendekati Felix yang baru saja keluar dari mobilnya.


Mereka bertiga bisa mendapatkan undangan khusus untuk menghadiri acara fashion show yang di adakan oleh Alves berkat Felix. Sebuah acara yang entah akan ada kejutan apa, karena Felix sampai repot-repot mendapatkan undangan untuk mereka bertiga, maka dengan senang hati mereka bertiga sama-sama hadir.


"Aku dapat dari sepupuku." Jawab Felix, melirik ketiga temannya yang baru saja datang itu dengan penampilan mereka yang cukup rapi, seakan mereka akan menghadiri acara penghargaan.


"Sepupu? Memangnya kau punya sepupu?" Tanya Darren antara penasaran juga merasa bingung.


"Ya ampun, apa kalian berdua tidak sadar, dia punya nama belakang Avaris, masa hal sepele seperti itu saja kalian tidak tahu?" Sela Arshen, dia berjalan melewati Warren, Darren dan Felix dengan tampilannya yang di buat terlihat sok tahu, sok keren, yang penting dia bisa terlihat cool di depan semua orang, termasuk para wanita yang sudah mulai memenuhi area depan perusahaan.


"Felix? Memangnya margamu itu Avaris?" Tanya Warren, dia memang sama sekali tidak tahu latar belakang dari sahabatnya itu, karena selama ini mereka berdua merasa enjoy saja jalan dengan anak orang kaya ini, yang ternyata begitu anggukan dari Felix muncul, Warren dan Darren justru langsung melotot.


"Ya, aku memang punya nama belakang, Avaris, itulah margaku." Jawab Felix, sedang menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya ke belakang, lalu dia pun pergi berjalan menyusul Arshen yang sudah ada di depan.


"P-pantas saja! Aku- aku merasa aneh karena anak itu sepertinya ra-rada mirip dengan si Tuan muda kaya yang arogan itu." Ucap Darren tanpa filter.


"Iya, kau benar. Aku juga merasa seperti itu. Tapi aku hanya tidak menduganya saja, kalau dia punya marga Avaris? Keluarga yang terkenal itu?! D-Darren, dia tidak akan menuntut kita berdua yang suka buat onar kan?" Tanya Warren kepada Darren.


"Entahlah, aku hanya bisa pasrah jika kau tanya soal itu. Karena baik itu kau maupun aku, sama-sama sering membuat kekacauan. Tapi kenapa si Arshen berng*sek itu tidak pernah memberitahu kita?"


"Lihat wajahnya yang sok tampan itu, dia sedang menggoda banyak wanita untuk di jadikan kekasihnya." Kata Darren menunjuk pada Arshen yang sedang bicara dengan beberapa wanita sekaligus.


"Sudahlah, terserah mau apa. Sekarang karena mumpung kita bisa mendapatkan undangan ini dari Felix, kita harus menikmati acara ini. Pasti banyak barang dan pakaian yang bisa dilihat, sekalian tawari tante kita mau beli atau tidak. Itung-itung cuci mata juga kan?" Ucap Warren.


"Iya yah. Benar, sekarang yang harus kita lakukan adalah mencuci mata dengan melihat banyak wanita cantik! Apalagi model kan orangnya tinggi-tinggi tuh, pasti wow..wow, ya kan?" Imbuh Darren.


Dua anak kembar ini pun akhirnya cekikikan sendiri sampai dilihat oleh beberapa orang yang tidak sengaja lewat itu.


Karena mereka tidak sadar dengan tatapan heran orang-orang, mereka berdua langsung berlari menyusul Felix dan Arshen yang sudah mendahului mereka berdua.


Karena punya standar keamanan yang ketat, tentu saja mereka semua harus diperiksa satu per satu, dari barang bawaan, serta dimana mereka juga menjalani sinar x tanpa di ketahui oleh mereka semua.


Alves dan Orson lah yang menyarankan sistem pengamanan seperti berada di bandara, karena tidak ingin ada kejadian yang tidak di inginkan seperti sebelum-sebelumnya.


Ya, masih banyak penjahat di luar sana yang mengincarnya untuk saling menumbangkan satu sama lain.

__ADS_1


"Ayo, anda harus keluarkan apapun yang ada di kantong saku anda." kata seorang petugas keamanan, dia sendiri adalah Rafael.


Karena jasa nya bisa menyelamatkan mereka semua di resort, saat Rafael minta pengajuan diri untuk bekerja semalam di acara tersebut, permintaan itu pun di terima.


"Iya..., iya. Nih, makan sekalian." Ledek Darren, dia mengeluarkan handphone, kunci, undangan, bahkan sampai melepas penjepit dasi juga dan menyuruh Rafael yang sedang bertugas itu untuk memakan semua barang bawaannya.


Karena ada empat pintu, proses dari pemeriksaan para tamu undangan pun bisa selesai dengan cepat tanpa membuat mereka mengendurkan pengamanan mereka.


"Anda selalu suka bercanda ya? Mana mungkin saya memakan itu semua." Jawab Rafael kepada Darren.


"Tentu dong, jika tidak ada candaan, tidak akan ada tawa yang bisa menghiasi hidup kita." Jawab Darren dengan percaya diri. Dia pun merentangkan kedua tangannya dan Rafael pun memeriksa apakah ada yang bawang bawaan yang menempel pada tubuhnya atau tidak. "Tapi ngomong-ngomong-" Darren melirik ke arah tag nama yang ada di seragam yang di pakai oleh Rafael.


Sebuah seragam dengan jas hitam lengkap yang cukup mewah, tapi lebih dari pada itu, yang sedang Darren perhatikan tentu saja adalah Rafael sendiri.


"Ada apa?"


"Kau lebih pantas jadi model ketimbang berdiri di sini." imbuh Darren. "Wajahmu juga tubuhmu, bahkan karena aku lebih tinggi dariku, kau memang cocok untuk bagian itu."


Rafael pun hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman, dan menjawab : "Terima kasih atas saran anda, tapi saya lebih suka di sini, karena bisa melihat semua orang lebih dulu, apalagi melihat barang bawaan yang anda selian bawa, pasti ada sesuatu yang tidak terduga tersimpan." Jelas nya seraya menatap satu per satu orang yang Rafael lihat tengah mengeluarkan barang yang di bawa nya.


'Saat dia melihat ke belakang sana, rasanya dia seperti melihat seoang musuh.' Pikir Darren.


Rafael yang merasakan adanya tatapan dari Darren yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik, ekspresi wajah Rafael pun segera dia kondisikan agar lebih rileks lagi. "Sudah selesai, terima kasih atas kerja samanya." kata Rafael kepada Darren.


"Ya. Kapan-kapan kita ketemuan ya? Mau tidak?"


"Anda yang bicara seperti itu, seolah sedang mengajakku kencan, terima kasih tawarannya, tapi itu tergantung kondisi saya, apakan ada waktu luang atau tidak. Silahkan maju, dan untuk yang selanjutnya-" Rafael terus menjalankan tugasnya menjadi seorang petugas keamanan di pintu masuk pertama.


___________


"Woah, ini cukup mewah, megah tapi juga masih menanamkan kesan elegan. Puji Warren kepada Darren, dan di dengar oleh Felix juga Arshen.


"Bangku kita ada di sana." Felix yang menghiraukan Warren yang terpesona dengan tempatnya, segera mengarahkan ketiga temannya itu ke barisan depan samping kanan catwalk.


"Dapat bangku depan juga, lumayan, kau hebat Felix." Puji Warren sekali lagi.

__ADS_1


"Tentu saja, siapa dulu. Kalian duduk di sini, aku akan meminta minuman untuk kalian." kata Felix.


Felix pun pergi menuju belakang panggung sekalian ingin melihat apa yang terjadi di belakang sana. Apalagi kalau tidak penasaran.


Banyak wanita dan pria yang sudah bersiap untuk naik panggung dan berjalan di atas catwalk memperagakan busana yang mereka gunakan untuk pemasaran sekaligus memperkenalkan trend baru di musim ini.


"Apa aku bisa minta minum?" tanya salah satu model pada asisten yang bisa di ajak untuk menerima perintahnya.


"Iya, tunggu sebentar, saya akan mengambilkannya."


"Tolong carikan anting yang cocok untuk medel yang ini." perintah sang desainer.


"Baik."


Ketika semua orang sibuk, Felix melihat ada satu pintu yang di beri tanda khusus untuk model utama.


Ada tanda peringatan dilarang masuk selain orang yang berkepentingan.


Tentu saja, karena felix sedang ada kepentingan dengan rasa penasarannya itu, dia pergi ke sana.


'Kira-kira siapa yang akan jadi model utamanya? Alves, aku hanya menebak kalau yang jadi medel nya pasti dia.' Begitu Felix memikirkan satu orang yang dia kenal, tepat di saat tangannya hendak menggapai knop pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dari dalam.


KLEK....


"Apa kau juga pernah seperti pada wanita lain?" Suara milik Elly seketika memasuki gendang telinganya Felix. Tapi belum sempat mengintip apa yang sedang di lakukan oleh Elly, Orson sudah lebih dulu menghalangi sela pintu yang sedang di buka itu dengan menggunakan tubuhnya.


"Apa yang anda lakukan di depan sini?" Tanya Orson, lalu dengan perlahan dia menutup pintunya, jangan sampai membiarkan Felix masuk sekaligus tahu apa yang ada di dalam sana, sekalipun suara tadi jelas sudah menjadi pacuan kalau Elly orang yang paling Felix kenal adalah Ellynda.


"Aku hanya ingin melihat siapa yang akan jadi model utama malam ini." Jawab Felix.


"Anda akan tahu jika anda duduk di tempat anda. Jadi silahkan pergi dari sini." Kata Orson, tidak memperbolehkan Felix masuk.


Felix hanya terdiam dan mau tidak mau harus menyerah untuk mengintip ke dalam karena bodyguard dari Alves ini sudah menghalangi rencananya, dan memutuskan untuk pergi dari sana.


Orson terus memperhatikannya dalam diam, melihat kepergian Felix dari sana.

__ADS_1


'Siapa dia? Aku rasa aku baru pertama kali melihat orang itu.' Pikir Orson saat tidak sengaja melihat seseorang yang tidak ia kenal berjalan ke suatu tempat dengan terlihat cukup mencurigakan.


__ADS_2