
"Karena aku sempat dengar pembicaraan Aiden dengan kau. Itu saja, jadi aku hanya mewaspadai saja kapan hari itu datang." Jawab Elly. "Karena sudah jelas kalian berdua tidak bisa kabur dariku, sekarang kalian berdua di tangkap, lagi. Dan Arya, berikan flashdisk nya kepadaku." Tambah Elly sambil mengulurkan tangannya ke arah Arya.
"Flashdisk apa?" sok tidak tahu, padahal dia memang tahu dan menyembunyikan barang itu.
"Aku tahu kau waktu itu sempat menukarnya dengan flashdisk palsu buatanmu sendiri. Jadi mana? Berikan kepadaku atau aku yang akan menggeledah tubuhmu secara langsung."
"A-apa? Kau gila?! Menggeleda..akh..." temannya Arya ini sontak langsung terdiam dan tergantikan dengan rintihan dari rasa sakitnya akibat salah satu kakinya yang di tembak oleh Elly.
"Hahah, aku kan pada dasarnya selalu gila. Jika tidak gila, maka aku tidak akan dapat apa-apa, termasuk flashdisk yang kau simpan di dalam sana." Sorotan mata Elly pun langsung turun tepat ke dimana diantara selangkangannya Arya berada, ada satu barang yang sedang di incar nya. "Arya, jangan membuatku menunggu, flashdisk nya ada di dalam CD mu kan? Kau mau aku membukanya sendiri, begitu?"
Arya tersenyum. "Karena kau mengatakan itu, itu boleh di coba, ambil sendiri di sini. Tidak akan kemana-mana, asal kau mau mengambilnya sendiri dengan tanganmu itu." Tantang Arya kepada Elly.
Elly pun termenung, dia benar-benar menatap area pribadi milik Arya. Ya, Arya juga termasuk dalam golongan orang yang cukup gila, sampai menerima ancaman yang terdengar seperti tawaran itu kepadanya.
“Ok, jika kau tidak keberatan, aku juga tidak mempermasalahkannya.” Pikiran dari Elly pun langsung sirna karena dia memang tidak suka menimbang-nimbang keputusannya yang terlalu lama.
Dengan begitu, Elly pun berjongkok di depan Arya, dan Elly mulai mengarahkan tangan kanannya ke depan dan hampir sampai untuk memegang celana depan milik Arya.
Baru juga mau membukanya, tapi sebuah cengkraman tangan milik seseorang yang ada di belakang, langsung membuat Elly menoleh.
“Walaupun kau termasuk wanita yang mau menerima tantangan seperti ini, tapi hargailah dirimu sebagai wanita. Jangan asal sentuh pria, sekalipun dia sudah kau lumpuhkan.” kata Gibran, dialah orang yang berhasil mencegat Elly sebelum tangan itu sampai di tempat terlarang. “Biar aku yang urus sisanya, jadi sebaiknya kau kembali saja.” ucap Gibran sekali lagi.
Elly melamun, padahal selama ini dirinya sama sekali tidak ada yang mau menghargainya, tapi semenjak ada di dunia baru ini, melihat masih banyak orang yang menganggapnya sebagai wanita yang harus dihargai, dan begitu dia mendengar ucapannya Gibran barusan, Elly pun jadinya sadar, kalau-
“Kau itu sama sekali tidak sendirian. Lagi pula, karena sudah punya handphone, maka kau bisa menghubungi orang lain agar bisa membantumu. Kau yang melayani Alves, kan? Jadi hal seperti cukuplah mudah.” jelas Gibran. “Ingat, kau tidak sendirian lagi di sini, karena pastinya sudah banyak orang yang berhasil membuat mereka punya kesan berbeda dari dirimu yang sekarang daripada masa lalu, maka kau bisa memanfaatkan orang seperti mereka juga.” Imbuhnya.
____________
WHOSH….
WHOSH…
WHOSH….
__ADS_1
Baling-baling dari helikopter perlahan berputar, dari pelan lalu semakin cepat.
Sampai di detik helikopter yang di kendarai oleh Ellynda sendiri itu, akhirnya bisa terbang dengan sempurna dan meninggalkan sebuah gedung bekas rumah sakit.
Malam itu menjadi malam yang tidak bisa diprediksi karena cuacanya akhirnya berubah dengan drastis, dari terang menjadi hujan yang cukup deras.
Dan Elly terpaksa mengendarai helikopter di bawah hujan yang cukup deras itu.
Dia terus saja teringat dengan apa yang di katakan oleh Gibran baru-baru ini, membuatnya tidak bisa melupakan satu kalimat pun dari ucapannya itu agar kedepannya dia, Elly untuk menjaga Alves.
"Aku dari awal juga sudah menjaganya, jadi aku apa maksud dari kedepannya aku harus menjaganya?" gumam Elly. Dengan kecepatan yang sedang, Elly menikmati pemandangan bawah kota yang sedang di guyur oleh hujan.
Suhunya cukup pas, untuk menyendiri, merenung dalam diamnya, serta masuk untuk memenuhi kehangatan yang bisa di ciptakan, entah itu sendirian maupun berduaan dengan seseorang.
Tidak perlu waktu lama, kurang dari lima menit saja dia berhasil sampai di halaman belakang rumahnya Alves.
Lalu belum sempat turun dari helikopter, dia melihat Alves sudah berdiri sambil membawa sebuah payung yang cukup besar, sehingga muat untuk mereka berdua.
Langkah demi langkah Alves buat, menghampiri Elly dan menyambutnya dengan uluran tangan yang cukup hangat itu.
"Aku pulang." Jawab Elly.
Sambutan dengan sebuah senyuman simpul langsung di berikan oleh Alves kepadanya.
"Iya, selamat datang." sapa Alves, lalu dia pun menuntun Elly untuk turun dari helikopter.
ZRASHHH.....
Hujan tanpa sebuah petir membuat suasana di sana entah kenapa membuat Ellynda merasa cukup nyaman. Mungkin karena sensitif dari indera pendengarannya itu, dia jadi sempat menikmati semua suara yang tercipta setiap kali hujan itu mendarat di permukaan daun, ranting, tanah, dan genangan air.
"Kenapa kita tidak masuk?" Tanya Elly dengan tatapan polosnya.
"Aku ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu." Senyum Alves melihat wajah bingung milik dari wanita di hadapannya ini terlihat cukup imut, membuat Alves ingin sekali memakan wajah itu hidup-hidup saking imutnya.
__ADS_1
"Apa?" tanyanya.
Tanpa membuat suara, dengan sebuah isyarat dari mimik bibirnya yang menyebut nama Orson, tiba-tiba saja semua area dari halaman depan sampai belakang rumah milik dari pria ini langsung menjadi tempat yang cukup indah karena di hiasi dengan banyaknya lampu warna-warni yang di tempatkan di setiap dalam semak-semak ataupun bunga juga ranting pohon.
Sampai tepat pendaratan helikopter yang tadinya hanya terlihat seperti lantai biasa saja, juga tidak luput dari lampu hias yang menyinari tempat tersebut, sehingga area yang awalnya cukup gelap dan terlihat seperti tempat angker, sekarang jadi tempat paling indah layaknya negeri dongeng.
"Kenapa tempatnya jadi terasa seramai ini? Kau mau membuat tagihan listriknya jadi lebih mahal ya?" Ucap Elly, sebagai pertanyaan pertama setelah melihat pemandangan menakjubkan itu.
"Terserah kau menganggapku boros atau tidak, tapi selama aku ada uang, aku bisa bebas melakukan apapun dengan uangku sendiri. Benar kan?"
"Iya sih. Tapi, sejak kapan kau menyiapkan ini? Jangan-jangan saat-"
"Saat aku menyuruh mereka membersihkan rumahku, aku juga menyuruh mereka untuk menghias tempat ini. Keren kan, aku?" Tanya Alves, meminta sebuah pendapat dari wanita di depannya ini.
"Ya, kau keren dan sangat berkuasa, satu kali perintah langsung beres. Tapi apa tujuanmu sampai harus memboroskan uangmu sendiri seperti ini?" Tanya Elly, dia terus celingukan melihat tempat yang sering Elly kunjungi setiap hari di pagi ataupun sore, kini bisa dia kunjungi di malam harinya dengan pencahayaan yang cukup menyita perhatian nya itu.
Tanpa memperhatikan Alves yang sedang merogoh saku dari baju hoodie nya, Elly terus saja memperhatikan kerlap-kerlip dari lampu yang bahkan berhasil menghiasi pohon, layaknya lampu tetes, karena punya daya tarik seperti cahaya yang menetes, padahal itu adalah lampu stick yang cukup panjang.
"Tujuanku karena ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya membuat suasana romantis, jadi aku hanya bisa melakukan apa yang aku tahu saja." Kata Alves, begitu dia mengeluarkan barang yang ada di dalam saku bajunya, sebuah kotak cincin pun di sodorkan ke arah Elly.
Elly melirik ke arah kotak cincin berwarna merah marun itu. Ketika Alves membukanya, ada dua cincin yang ada di dalamnya.
Dengan kata lain, cincin dan suasana dari rumah yang cukup meriah dengan lampu ini, adalah sebagai bentuk cara Alves memberikan suasana untuk melamarnya.
"Alves, kenapa kau sangat berusaha sekali ingin membuat suasana romantis seperti ini, padahal kau tipe orang yang bahkan tidak bisa romantis dengan pasanganmu?"
"Aku tidak peduli dengan hasilnya, karena yang penting aku sudah berusaha." sahutnya, senyuman yang begitu lemah itu pun jadi menarik perhatian Elly kala itu untuk memperhatikannya lebih dari sekedar menatap wajah, dan barang yang di tawarkan kepadanya itu.
Bukan dari seberapa besar, mewah, atau banyaknya uang yang dikeluarkan oleh Alves untuk mendapatkan suasana seperti ini, melainkan seberapa tulusnya pria ini untuk terus mengejarnya tanpa ada kata lelah sedikitpun itu?
"Padahal ini belum satu bulan penuh, tapi kenapa kau begitu ingin secepatnya melamarku seperti ini?" tanya Elly, matanya yang sayu itu memperhatikan satu berlian kecil yang tersemat di atas cincin berwarna silver itu, karena cincin itu terbuat dari emas berwarna putih.
"Aku hanya ingin segera memilikimu setelah waktu itu kau menolakku, aku ingin kali ini kau bisa menerimaku. Aku tidak berharap banyak karena kau masih trauma dengan masa lalumu, tapi aku hanya ingin menyatakan rasa ini secepat mungkin sebelum aku menyesal seperti kehidupanku sebelumnya." Sudah ada stau pelajaran yang ia bawa di kehidupan sebelumnya, bahwa selama masih ada kesempatan, maka saat itu juga kesempatan itu harus di gunakan dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
Jika dulu, dia terlambat menyatakan perasaannya sebenarnya, sampai ia merasakan rasa penyesalan yang bahkan tidak bisa dia sampaikan dengan benar, maka tidak dengan kali ini, dia sangat ingin sekali bisa menyatakan perasaannya secepatnya agar tidak menuai rasa sesal di kemudian hari jika ia terlalu lama untuk melakukannya.