
Demi menghindari adanya pertemuan lagi dengan para penjahat tadi, mereka semua segera pergi dan sekarang mereka ada di rumah pribadi milik Asena dan Gibran.
"Untuk sementara kalian bertiga bisa tinggal disini lebih dulu." Ucap Gibran, lalu mengantar Alves dan Orson di dua kamar tamu, sedangkan Elly dibawa oleh Asena untuk pergi ke kamar yang akan di tunjuk oleh Asena sendiri.
Sesaat Alves melirik ke arah Elly yang terlihat melamun saat di bawa oleh Asena.
'Apa yang sedang dia pikirkan?' Pikir Alves detik itu juga, sampai dimana Alves dan Orson masuk kedalam kamar yang bersebelahan.
_______
Petang itu, mereka semua kebetulan sama-sama sedang sibuk sendiri, terutama karena Alves, Orson, juga Asena adalah orang-orang kantoran yang cukup sibuk dengan pekerjaan mereka, maka sesi memasak itu sendiri di kerjakan oleh Elly.
__ADS_1
Sampai tidak lama kemudian, Gibran datang.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Gibran. Dia jelas baru saja mandi, dan karena pekerjaannya memang sudah selesai lebih awal, dia pun saat ini tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan.
Elly, yang kala itu hendak mengambil piring, hanya menjawab, "Tidak ada, sebentar lagi juga akan selesai." Elly berbicara demikian tanpa melihat lawan bicaranya. 'Kenapa lemari bufet selalunya tinggi-tinggi sih?' Karena piring yang harus ia ambil rupanya ada di rak atas, Elly pun sedikit kesusahan.
Gibran yang melihat ekspresi wajah Elly yang terlihat susah itu, lantas berjalan mendekat.
Elly dengan buru-buru awalnya hendak naik ke atas meja dapur itu sendiri, melihat hal tersebut, Gibran berkata : "Jika memang ada yang bisa aku bantu, kenapa tidak bilang saja?"
"Mau apa lagi? Aku ini lebih tinggi darimu. Ketimbang kau naik ke meja dapur dan membahayakan diri sendiri, kenapa aku tidak membantu hal remeh seperti ini?" Tatap Gibran. 'Dia memang wanita yang aneh, padahal di pinggir kulkas ada kursi lipat, tapi dia malah suka tindakan praktis tanpa memperhatikan keselamatan sendiri.'
__ADS_1
Begitu Gibran saling menatap wajah Elly ini, ia tangan Gibran yang sudah memegang dan mengeluarkan piring dari dalam lemari, tiba-tiba saja terus memperhatikan wajah Elly dengan begitu seksama.
"Hei pria." Panggil Elly secara terang-terangan.
"Hmm? Aku ini memang pria, ada apa?" tanya Gibran balik tanpa melepaskan pandangannya dari Elly.
"Apa kau tidak pernah berpikir kalau kau ternyata tidak sopan sekali menatapku. Kalau Istrimu tahu bagaimana?" Tentu saja Elly sendiri juga membalas tatapan matanya Gibran yang terlihat tengah memperhitungkan sesuatu kepadanya.
Apa itu, Elly sendiri tidak tahu.
"Asena? Dia tidak akan cemburu, karena dia juga tahu aku ini seperti apa." Jawab Gibran. Begitu terus menatapnya dengan penuh perhitungan, Gibran tiba-tiba saja menyentuh pipi Elly dengan ujung jari telunjuknya. 'Empuk, halus pula.'
__ADS_1
Terkejut karena pipinya tiba-tiba saja di sentuh, Elly tiba-tiba angkat suara : "Ternyata kau tidak jauh berbeda dengan Alves, dasar pria mesum."
"M-mesum?" Suara milik Asena itu pun tiba-tiba saja terdengar, dan sontak membuat Gibran langsung menjauhkan diri dari hadapan Elly yang akhirnya mau menuruni kaki kanannya itu dari atas meja dapur. "Gibran, apa kau sedang menggoda wanita lain selainku?"