Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
151 : PTRI : Serba salah


__ADS_3

"Elly, apa yang baru saja kau lakukan di kampus? Padahal aku kan hanya menyuruhmu untuk membereskan masalahmu di sana, tapi bisa-bisanya kau berkeliaran dengan pria lain, dan me-" seketika Alves langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


Padahal dia seharusnya bisa menahan diri untuk tidak bicara secara sembrono di depan perempuan ini, hanya karena Alves melihat sebuah kenyataan kalau Elly memotong rambut orang lain dan di bayar.


"Dan apa? Kenapa tidak melanjutkannya saja?" Tanya Elly, dengan kepribadiannya yang bercampur juga dengan kepribadian dari Raelyn yang polos itu, Elly pun terkadang jadi nampak seperti orang lain.


Dan sama seperti Alves. Dia yang memiliki kepribadian yang bercampur antara diri Azriel si pendiam dan juga Alves yang suka bicara, maka dia sama-sama punya sisi yang terkadang tidak bisa di kontrol ketika memiliki satu obsesi yang sudah tidak bisa di bendung lagi.


Dan salah satunya adalah Elly ini.


Secara spontan ketika dia tahu kalau uang yang masuk ke rekeningnya adalah milik dari sepupunya Alves, dan tahu kalau rupanya Elly melakukan sesuatu pada orang lain dengan keahliannya, padahal Alves memberikan tugas penting agar Elly membereskan semua masalah di kampus, dia tidak sengaja jadi mengeluarkan rasa tidak sukanya itu secara terang-terangan.


Sesuai dengan kepribadian dari Alves jika tidak ada yang di sukainya akan langsung di katakan secara langsung.


"Aku hanya mengingatkanmu, kau itu pelayanku sekarang, jadi jangan lakukan apapun pada orang lain, termas-" Alves jadi ingin sekali menutup mulutnya, karena lagi-lagi secara tidak sadar mulutnya mengatakan hal yang membuatnya benar-benar condong, bahwa ia tidak cemburu kalau Elly melakukan pekerjaan dengan orang lain seperti yang sudah terjadi belum lama ini. 'Kenapa aku lagi-lagi tidak bisa mengontrol mulutku ini?' Pikir Alves.


"Haih..." Elly jadi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan melihat kelakuan dari pria ini, karena membuatnya terus penasaran. "Aku tahu, aku salah, karena tujuanku melenceng, tapi kau juga tahu sendiri kan? Kalau aku tidak suka jika ada orang yang membuatku merasa terganggu?"


'Apa ini? Kenapa dia malah memasang wajah memelas seperti itu? Apa dia sedang membujukku dengan tampangnya agar aku tidak memarahinya?' Batin Alves. "Tapi katamu waktu itu berharga, jadi setidaknya tahan obsesimu yang suka membereskan hal yang tidak seharusnya kau lakukan." Beritahu Alves.


Semuanya, dari dirinya dan juga Elly, tujuan mereka berdua sekarang yang tadinya merupakan majikan juga pelayan, akhirnya sudah hancur total karena pada akhirnya mereka berdua tetap saja sudah terlihat seperti pasangan.


Sepasang kekasih, dimana Alves memang cukup cemburu pada Elly. Sehingga Alves sendiri pun sadar dengan dirinya sendiri yang juga sama-sama menaruh keinginan besar untuk membuat Elly berada di sisinya terus.


"Tapi mereka itu bau, apa kau pikir aku bisa tahan? Untuk tidak membuat mereka bersih dan wangi?" Tanya balik


'Kenapa jadinya terdengar aku yang merasa di salahkan? Jika saja aku tidak menyuruhnya ke kampus, dia tidak mungkin bertemu dengan mereka. Haishh....' Alves yang akhirnya frustasi karena salah mengambil keputusan, akhirnya jadi menyalahkan Elly, padahal yang jadi penyebabnya adalah dia sendiri, sekarang dia pun jadi di buat menyerah. "Bisa tidak, jangan bicara seolah kau adalah pengasuh mereka berdua, padahal kau ini milikku." Alves yang sudah bingung dengan ucapannya sendiri sekaligus entah bagaimana caranya menghadapi Elly ini, dia segera duduk di sofa.


Ketika banyak dari mereka yang bisa berbincang sesuka hati di tengah pekerjaan, maka tidak dengan Alves.


Dia adalah orang yang lebih sibuk sampai semua ucapan yang keluar dari mulutnya itu terus saja membahas pekerjaan saja.


'Dia kelihatannya sangat lelah. Memang sih, pekerjaan dia yang dulu dengan yang sekarang kan berbeda. Dulu kan dia hanya fokus pada strategi pengembangan senjata saja, tapi sekarang, yang dia kerjakan itu membuatnya harus menghadapi banyak orang dan di ajak kerja sama.


Kalau di kehidupan sebelumnya saja dia merasa lelah dengan hidupnya sendiri, kenapa sekarang dia masih saja tetap bekerja keras seperti ini?' Pikir Elly, dia tiba-tiba merasa khawatir karena pria ini terlihat jauh lebih lelah dari pada kelihatannya.

__ADS_1


'Apa tidak ada pikiran lain selain memikirkan Elly terus? Otak ini, memang ya, berbeda dengan otakku dulu. Sekalinya suka, rasa cemburu dari tubuh ini sangatlah besar, aku sampai sering lepas kendali dengan emosiku jika aku menghadapi Elly.' Alves mengerutkan keningnya, dan mulai memijat-mijat pangkal hidungnya lalu pelipisnya.


'Dia sakit kepala? Apa ada obat untuk sakit kepala?' Elly yang hanya tahu obat luka saja, karena ia dulunya tidak pernah sekalipun merasa sakit kecuali luka di tubuhnya, jadi bingung harus bagaimana membantu Alves yang kelihatannya sedang sakit kepala.


Maka dari itu, Elly pun pergi keluar sebentar.


"Kau mau pergi kemana? Duduk sini saja." Kata Alves.


"Aku pergi ke bawah dulu sebentar." sahut Elly dengan polosnya.


'Dia mau kebawah untuk apa? Padahal dia hanya perlu duduk di sini dan memijat kepalaku, tapi dia malah pergi begitu saja. Dia memang tidak bisa diam, sekalinya ada di sampingku, tetap saja berkeliaran seperti tikus.' Pikir Alves atas kesan milik Elly yang tidak bisa duduk diam saja di sampingnya.


Dan tidak lama setelah itu, Elly masuk dengan membawakan sebuah nampan, yang mana nampan itu membawa satu botol air mineral, satu bungkus roti, juga sebuah obat.


"Elly, kau-" Alves bahkan tidak menyuruhnya, tapi Alves yang tahu kalau wanita ini sama sekali tidak tahu tentang obat-obatan, melihatnya sekarang dia membawakan satu set lengkap makanan, minuman, obat sakit kepala, serta pelayan yang akan dia buat jadi istrinya, membuat Alves jadi melamun.


"Kau sakit kepala kan? Nih makan." Elly dengan tegasnya, langsung meletakkan nampan itu di atas meja dan menyuruh Alves minum obat setelah makan.


"Padahal aku tidak menyuruhmu, tapi dari mana kau bisa tahu ini obat sakit kepala?"


Alves jadi tersenyum sendiri begitu mendengarkan cerita Elly yang cukup menggelitik hatinya itu.


"Apa ada yang lucu dari ceritaku?"


"Bukan ceritamu sih, tapi kau sendiri. Walaupun kau memang dari awal sudah di benci oleh banyak wanita di sini karena kau yang baru masuk saja sudah aku jadikan asisten pribadiku, tapi ujung-ujungnya kan mereka tidak bisa melawanmu." papar Alves.


Elly memejamkan matanya sebentar, menata hati dan pikirannya untuk berbicara lebih lanjut. "Padahal kalau mau melawanku kan tinggal lakukan saja langsung, tapi kenapa mereka seperti itu?"


"Apa kau tidak sadar?"


Elly langsung membuka kelopak matanya dan bertanya : "Sadar soal apa?"


"Kau-" Alves menunjuk persis Elly dengan jari telunjuknya. "Walaupun kau hanya berdiri saja, kau itu sudah mempunyai aura yang cukup mengintimidasi. Kau bisa menganggapnya kalau kau mempunyai sisi untuk melawan nyali mereka tanpa membuatmu turun tangan, itulah kesanmu di mataku."


BLUSH....

__ADS_1


Melihat rona pipi Elly tiba-tiba jadi memerah, Alves yang tidak tahu apa-apa karena merasa tidak menggodanya, nyali untuk menunjuk wajah Elly dengan jarinya itu, langsung menghilang.


"Kenapa kau malah tersipu seperti itu?" Kernyit Alves, dia menyimpan kembali jari telunjuknya dan membuka bungkus roti untuk dia makan.


"Pujianmu, kenapa kau memujiku seperti aku ini orang bodoh!" Kata Elly dengan sedikit berteriak.


'Apa aku baru saja salah bicara lagi?' Merasa serba salah di mata Elly, Alves pun segera menarik tangan Elly dan membawanya masuk kedalam pangkuannya.


BRUKK....


Elly yang masih cemberut itu, menatap wajah Alves yang sedang sibuk mengunyah roti untuk di makan dalam waktu yang cepat.


Terlihat buru-buru karena ingin menyelesaikan makannya dengan cepat.


Begitu sudah selesai di lahap semua, melihat sudut mulutnya Alves ada sebuah sisa selai stroberi, ujung jari Elly tiba-tiba terangkat dan membersihkannya dengan jarinya itu, sebelum Elly malah menjilat jari jempolnya itu untuk memakan selai sisa yang tertinggal tadi.


SLURP....


Alves sekilas melirik ke arah bawah, melihat mata elang dari Elly ini seperti menyiratkan adanya ketertarikan pada sesuatu, membuat Alves bertanya : "Kau seperti pela*or yang sedang menggoda."


"Terserah kau menganggapku apa, karena saat kau menarikku ke pangkuanmu seperti ini saja sudah membuat kau memberikanku sebuah cap seperti wanita simpananmu." jawab Elly.


"Elly." Panggil Alves, dia meraih belakang kepalanya Elly, sampai akhirnya dahi mereka berdua saling menempel satu sama lain.


"Apa?" Dengan mata penasarannya.


"Jika kau dulu menolakku, sekarang kau mau menerimaku, kan?" tanya Alves dengan nada yang begitu lirih.


"Kenapa kau bersikeras sekali mengejarku sampai saat ini?"


"Karena apa lagi? Itu semua karena aku memang tidak bisa mengalihkan hatiku darimu. Apa kau tetap akan terus menyalahkanku yang menyukaimu seperti orang gila?"


Elly sempat berpikir. Selagi wajah mereka berdua saling berhadapan satu sama lain, tangan kiri Elly pun meraih obat yang ada di atas nampan itu, membukanya di belakang kepalanya Alves, dia pun memasukkan obatnya kedalam mulutnya sendiri, sampai akhirnya dia memberikan obat itu kepada Alves dengan sebuah ciu*man.


CUP...

__ADS_1


__ADS_2