Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
113 : PTRI : Kecurigaan yang sia-sia


__ADS_3

Setiap pintu yang di lihatnya, langsung pria tua ini buka dengan kasar. 


Semua harapan untuk menemukan satu orang yang sangat ingin ia temui, harus berhenti di sini, karena ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda dari keberadaannya. 


‘Padahal jelas sekali anak ini baru tidur dengan wanita. Aku samar-samar masih mencium aroma dari seorang wanita. Tapi karena aku tidak menemukan bukti agar Alves bicara dengan terus terang kepadaku, aku harus menahan diri dulu. 


Setidaknya kedepannya aku harus selangkah lebih dulu, agar aku tidak ketinggalan seperti ini.’ Pikir kakek nya Alves. 


Semua harapan untuk memergoki cucunya itu, hanya menjadi angan-angan belaka, karena ia sama sekali tidak menemukan keberadaan dari wanita yang menemani Alves beberapa hari yang lalu. 


“Kakek?” Panggil Alves, melihat kakeknya tiba-tiba saja melamun dengan ekspresi wajah yang begitu serius. 


Kakeknya Alves langung melirik ke arah cucunya yang sudah dewasa itu. 


Meskipun dari luar, Alves terlihat begitu luar biasa, namun sayangnya di balik itu semua, dirinya jelas tahu kalau Alves tetaplah manusia biasa yang pastinya memiliki banyak kekurangan, dan salah satu nya adalah hatinya. 


‘Hanya tubuhnya saja yang terlihat sudah besar seperti itu, tapi aslinya dia tetap saja masih seperti anak kecil.’ Pikirnya.

__ADS_1


Pandangannya terus memperhatikan penampilan Alves yang tidak kalah luar biasa, sampai beranggapan kalau Alves hanya pakai kaos murah dengan celana boxer saja, sambil duduk di bawah pohon dengan jari sedang membersihkan hidung, semua orang pasti banyak yang tidak peduli dengan pemandangan yang terlihat memalukan itu, karena Alves tetap mengeluarkan pesona luar biasanya. 


‘Kenapa dia punya gen sesempurna itu sih? Dasar anakku itu, dia memang pintar memilih pria untuk mendukung menciptakan gen terbaik seperti ini. Tapi, sekalipun di dukung dengan segala kelebihan, kekurangannya di Alves saat ini tetap saja adalah dia belum benar-benar memiliki wanita yang bisa di jadikan pendamping dengan cukup serius. Padahal aku sangat ingin sekali bisa menggendong cicit, tapi dia-’ Kakeknya Alves pun terdiam. 


Walaupun masih harus menempuh jalan yang panjang, setidaknya ia sedikit lega karena ada wanita yang mau membuat Alves perlahan memperlihatkan perubahan. 


‘Hanya tinggal masalah waktu saja. Tapi aku yakin, waktu yang akan datang itu, akan membuatku tahu siapa wanita yang sudah membuat anak ini bisa jadi seperti ini.’ Pikirnya lagi, lalu ia pun melihat wajah dari sang cucu tercintanya itu. 


Tidak seperti sebelumnya, di saat setiap kali berhadapan dengan dirinya, Alves selalu memasang ekspresi wajah dingin dan penuh waspada, saat ini ia untuk pertama kalinya bisa melihat ekspresi wajah Alves yang terlihat bodoh. 


“Bagaimana dengan liburanmu?” Seketika topiknya langsung teralihkan. 


“Buruk.” Ungkap Alves dengan jujur. 


“Buruk? Apa ini sebabnya kau malah pergi ke hotel ini?” Tanya sang kakek, meminta penjelasan lebih, karena di saat Alves menjawab dengan kata buruk, sesuatu yang sedang disembunyikan oleh cucuya itu pun jadi lumayan untuk menarik perhatiannya .


“Hmm…, tapi aku sudah mengurusnya, jadi kakek tidak perlu khawatir.” Jawab Alves dengan cukup singkat, padat dan jelas. ‘Kalau saja Elly tidak mabuk laut, aku sebenarnya sudah cukup siap agar kapal yang menabrak kita itu, aku beli hari ini juga. 

__ADS_1


Tapi gara-gara permasalahannya adalah mabuk laut itu, aku tidak akan menyia-nyiakan sesuatu yang bahkan tidak akan pernah di gunakan.’ Pikirnya. 


_____________


‘Adududuh, hidungku gatal. Hampir saja aku ketahuan. Jika aku tidak sengaja kali ini aku benar-benar bersin, sudah pasti kakek itu akan mencurigai keberadaanku.’ Maka dari itu, demi menghindari segala hal yang tidak diinginkan, Elly pun berhasil kabur, sekaligus bersembunyi di balik tembok dari dinding yang menjadi pembatas dari kamar mandi tersebut. 


“Sudah aku duga, kau pasti akan langsung sembunyi seperti ini. Pakai ini sebelum kau masuk angin.” Datanglah Orson dengan membawakan selimut yang cukup tipis, ringan, tapi bisa memberikan kehangatan, kepada Elly. 


“Terima kasih.” Elly sedikit tersenyum simpul, sebab Orson yang begitu menghargai keberadaannya, memberikan sebuah perhatian sepele, tapi cukup menyentuh hati Elly.


“Hmm…”


“Tapi apa mereka masih lama?” Tanya Elly, ingin tahu situasi serta kondisi yang sedang terjadi antara Alves bersama dengan kakeknya sendiri. 


“Tidak. Karena Tuan besar begitu memperhatikan jam istirahat, jadi jangan khawatir, karena Tuan besar lebih senang untuk pulang tepat waktu seperti saat mendiang dari Nyonya besar, alias Istrinya.” Jawab Orson. “Dan jam Istirahat Tuan besar juga hanya sampai jam setengah sembilan, jadi sebentar lagi, Tuan akan menyudahi percakapannya diantara mereka berdua."


Elly yang percaya dengan apa yang di katakan oleh Orson, hanya mengangguk setuju, karena sejujurnya Elly sendiri ingin pergi untuk makan, saking laparnya. 

__ADS_1


__ADS_2