
"Cie, cie, yang sudah nikah." Deon langsung menyikut lengan Alves dengan senyuman menggodanya.
"Iri ya?" Alves membalas sikutan dari Deon.
"Jelas lah, atau kau mau menyindirku karena aku belum menyusul?" Rungut Deon, melirik ke arah Elly yang sedang menghitung bunga mawar yang di pegangnya itu.
"Ternyata tangkap bunga yang di lempar pengantin bisa cepat menyusul, bisa jadi kenyataan ya?" Tanya Elly, dia terus memperhatikan bunga yang dia pegang itu.
"Berarti artinya harapan kalian itu manjur." ucap Deon, dia kembali melirik ke arah Elly, karena ia memang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Elly.
"Apa kalian bertiga mau bicara terus?" Tegur Orson, dia sudah bersiap dengan kamera yang dia pegang itu untuk mengambil gambar mereka bertiga.
Dan mereka yang langsung mendapatkan teguran dari Orson, langsung diam.
"Satu, dua-"
"Hei! Aku belum siap, belum seimbang!" Ucap Deon dengan cepat, karena mau bagaimanapun fotonya tidak akan seimbang jika diri Deon tidak memiliki pendamping di sisinya untuk menyeimbangkan foto mereka bertiga.
"Pesetan mau seimbang atau tidak yang penting kan foto." Ketus Elly, lalu menangkap Deon yang mau pergi menarik Diana ke panggung, dan memeluk lengan kanan Deon, sedangkan Alves yang melihat Elly justru memeluk pria lain di depan semua orang, langsung protes.
"Elly, kenapa ka-"
"Haish, tidak ada waktu lagi, mereka sudah mengantri." kata Elly, tanpa sungkan dia menarik dasi Alves agar membungkuk ke arahnya, dan begitu satu jepretan itu berhasil di tangkap, di dalam gambar itu Elly memeluk lengan Deon dengan ekspresi wajah Deon yang terkejut, sedangkan di satu sisi lain Alves kembali mendapatkan ciuman setelah dasinya di tarik oleh Elly.
CUP...
CKREK......
"Bagus! Selanjutnya!" Teriak Orson.
"Kau tidak ada emage bagus sama sekali, Orson."
"Biar mereka terdengar semua, jadi lebih cepat lebih bagus. Lagi pula kalian berdua sudah kebelet kan?" jawab Orson tanpa sungkan sedikitpun. "Ayo selanjutnya, para muda-mudi dari empat sejolin yang tidak pernah terpisahkan." Imbuh Orson.
Setelah dia memperhatikan beberapa foto yang bagus sudah tersimpan dengan baik, dia langsung memanggil empat sejolin yang di pimpin oleh Felix.
"Selamat ya." Kata Felix sedikit ketus.
Meskipun, di mata Elly saat ia melihat ekspresi milik Felix ini terlihat ada rasa kekecewaan yang begitu jelas, tanpa aba-aba apapun, Elly yang akhirnya bisa melihat anak di depannya itu sadar diri dengan kelakuan yang pernah di lakukan Felix sebelumnya kepadanya, Elly langsung mengusap ujung kepala Felix.
"Maaf, kau pasti suka padaku, tapi aku justru memilih sepupumu ini ya?" Tanya Elly dengan senyuman lembutnya.
JLEB....
Ke empat orang itu pun sama-sama terkena sasaran dengan ucapan yang keluar dari mulutnya Elly.
"Pfftt.." Sampai suara tawa milik Arlo yang tetap duduk diam di tempat itu, berhasil menarik perhatian mereka semua.
__ADS_1
"Apa yang kau tertawakan?" Alves memberikannya tatapan tajamnya.
"Karena lucu saja. Memangnya tertawa tidak boleh?" Tanya Arlo dengan mulutnya melengkung membentuk sebuah senyuman. "Ngomong-ngomong-" Arlo yang tiba-tiba menggantungkan kalimatnya dengan sengaja, sudah beranjak dari tempat duduknya, lalu dia pergi ke arah belakang dan menarik tangannya Rafael.
"Eh, ada apa?" Tanya Rafael.
"Mumpung aku masih disini, kita foto bersama." kata Arlo dengan senyuman bangganya, lalu dia pun terus menarik pergelangan tangan Arlo sampai Arlo dengan sengaja menyingkirkan ke empat sejolin itu dengan aura mengintimidasinya.
"Kami bel-"
"Mengalah saja, lagian setelah ini aku akan pergi." sela Arlo detik itu juga, "Lalu Alves, apa kau mau minggir dulu?" Toleh Arlo, menatap wajah Alves yang terlihat jelas sudah tersinggung dengan ucapannya, karena terdengar mengusir.
"T-tuan, tapi ini-"
"Sebagai kenalan, kita harus ambil gambar setidaknya sekali dengan pengantin wanita yang kau rindukan, ya kan?" kata Arlo, membuat Rafael jadi tidak enak hati dengan Elly yang juga sama-sama terlihat terkejut.
"Kalau aku tidak masalah sih. Lagi pula, aku merasa kenal dan dekat denganmu, jadi sekalian saja kita foto bersama, ya kan Rafael?" Ucap Elly detik itu juga seraya menatap wajah Rafael yang terlihat bingung itu. "Tapi kenapa tiba-tiba kau datang? Apa masih belum kap-" Belum selesai berbicara, ketika Elly memperhatikan wajah Arlo, dia langsung terdiam sejenak karena ia menyadari adanya perbedaan dari pria ini dengan orang yang ada pada malam itu.
"Kau sepertinya menyadarinya." lirih Arlo, melirik ke arah Elly, sampai berbisik begitu dekat. "Yang waktu itu, dia adalah kakakku. Jadi jangan sampai salah mengira." imbuhnya.
"Apa yang kau bisikkan dengannya?"
"Bukan apa-apa." Jawab Arlo dengan entengnya. "Rafael, kau jangan membuang waktu lagi, sini." Kata Arlo, menarik Rafael agar berdiri di samping kirinya Elly, dan Arlo di samping kanannya Elly.
Begitu sudah siap dengan kamera, Orson yang masih menaruh curiga dengan Arlo itu, langsung mengambil gambar secepatnya.
CKREK.......
___________
Satu minggu kemudian.
"Tuan, saya ingin menyerahkan dokumen yang harus anda tandatangani." ucap seorang wanita yang berdiri di luar pintu kantornya Alves.
Setelah pernikahan yang di adakan begitu sederhana, beberapa hari setelahnya, pekerjaan tetap menjadi prioritas pertama.
Tentu saja, tidak ada yang tahu antara hubungan Alves dengan Elly di kantor, sebab rahasia memang benar-benar terjaga dengan baik.
"Masuk." Jawab Alves, dia begitu sibuk karena sempat menunda pekerjaannya selama beberapa hari gara-gara mempersiapkan pernikahannya waktu itu sendirian saja.
KLEK....
Karena Orson sedang ada urusan di luar, maka salah satu karyawan kantornya pun datang dan masuk sendiri.
Dengan sepatu high heels, langkah demi langkah, dia gunakan untuk mencapai tempat tujuan dengan segera.
Begitu sampai di depan meja kerja sang majikan, dia menyerahkan berkas yang dia peluk itu ke atas tumpukan dokumen yang sudah ada.
__ADS_1
"Ini Tuan." Ucapnya, dan dengan sengaja dia jadi sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memperlihatkan penampilannya itu, sebab dia memiliki buah yang begitu besar sampai nampak belahannya.
Tapi, Alves yang begitu antusias dengan komputernya, hanya menghiraukan keberadaan dari wanita cantik itu.
"Oh ya Tuan, malam nanti kami akan mengadakan makan bersama di restoran Bluemoon, apakah anda akan ikut?"
"Tidak, kalian juga biasanya hanya dengan melihat kedatanganku saja, kalian langsung tegang seperti aku mau membunuh kalian, jadi untuk apa aku ikut." jawab Alves tanpa mengalihkan perhatiannya dari komputer.
"T-tapi kami ber-"
KLEK....
"Tuan, saya sudah menyeduh kopi seperti yang anda minta." ucap Elly, dia masuk kedalam kantor dengan membawakan satu gelas kopi bersama dengan camilan berupa puding, dan puding itu benar-benar terlihat cukup mengejutkannya, sebab bentuknya berbentuk seperti apa yang biasanya di milik para perempuan.
"Nona, Elly, kenapa anda menyajikan makanan yang tidak sopan seperti itu?" topik pembicaraannya pun teralihkan dengan keberadaan Elly yang baru saja masuk dengan nampan itu.
"Kalau begitu aku tanya, mana yang lebih sopan dari puding bentuk gunungan kembar ini ketimbang-" Sengaja menggantungkan ucapannya di udara, Elly tiba-tiba mengalihan nampan itu untuk di topang dengan tangan kirinya saja, sedangkan tangan kanannya tiba-tiba mengeluarkan sebuah tongkat dari balik rok panjangnya, dari ukuran kurang dari 20 cm menjadi 1 meter dengan otomatis.
CTAK....
"....!" wanita ini lantas langsung terkejut dengan tongkat selfie yang bisa memanjang secara otomatis itu, ujungnya hampir mengenai lehernya.
"Punyamu yang dengan sengaja di perlihatkan secara terang-terangan pada Bos mu sendiri hm?" Dengan ekspresi wajah datarnya itu, Elly menunjuk ujung tongkat selfi itu ke dagu dari wanita itu. "Mau menggodanya? Kau seharusnya tanya dulu pada orang yang mau kau goda, sia-sia atau tidak? Jika tidak sia-sia kau bisa membukanya di depanku, biar sekalian menggodaku, yah, maksudku pamer kepadaku, mentang-mentang milikmu ini besar."
PLAK....
PLAK...
"Akhhw..!"
"Sia-sia, aku tidak akan tergoda karena miliknya besar, mau sebesar semangka pun, jika rasanya menjijikan, tetap saja menjijikan." sela Alves, dan dia tiba-tiba menghentikan aktivitasnya itu. "Dan aku peringatkan, jangan memeluk dokumen yang akan aku tandatangani, jadi bawa ini kembali dan ganti dengan yang baru." Alves pun mengambil dokumen itu dan menyerahkannya kembali pada karyawannya yang satu itu.
Terpojok dengan dua orang yang punya sifat keras kepala yang sama dan punya aura yang cukup sama untuk mengintimidasinya, wanita itu akhirnya pergi dari sana dengan perasaan malunya, sampai tidak mampu untuk berkata apapun.
BRAK....
Begitu sudah keluar, Alves dan Elly saling menatap.
"Aku tidak masalah jika kau melirik wanita lain." Meletakkan nampan itu di atas meja kerja milik Alves.
"Cemburu ya~" Goda Alves dengan senyuman tipisnya.
Elly yang baru saja megeluarkan sendok puding dari saku nya, begitu sudah di keluarkan dari saputangan, dia langsung melempar sendok puding itu ke tengah-tengah puding berwarna pink tapi punya puncak berwarna sedikit kemerahan.
KLAK....
Alhasil jadi terbelah jadi dua, lalu Elly menjawab dengan tegas. "Tidak." dan pergi dari sana, untuk kembali duduk di kursi kerjanya.
__ADS_1