
Suatu kelembutan, adalah hal yang biasanya di miliki oleh seorang wanita, dan salah satu diantaranya Alves selalu mendapatkan kelembutan itu dari wanita ini.
"Katakan jika sakit, aku akan berusaha sepelan mungkin." Pinta Elly. Karena sekarang ia akan membantu Alves membalutkan perban untuk menutupi luka bakar itu, Elly pun lebih dulu mengolesinya dengan salep, barulah dia melilitkan perban ke tubuh Alves yang benar-benar kelewat besar juga tinggi.
Sampai Alves di tuntut untuk duduk, agar ia lebih leluasa saat memutar perban untuk di lilit ke tubuhnya Alves ini.
'Dekat-' Detik hati Alves saat wajah mereka berdua kembali dekat, saat Elly melilitkan perban ke belakang dan ke depan lagi, sampai semua bagian yang harus di tutup itu benar-benar terbungkus dengan rapi. "Apa kau benar-benar masih menolak untuk jadi Istriku saja?"
"Menolak." Ketus Elly dengan ekspresi datar. "Kan tadi aku sudah bilang, aku sama sekali tidak memiliki perasaan kepadamu. Jadi memang apa bedanya aku jadi pelayanmu dan jadi istrimu selain status itu sendiri? Kan aku tetap akan melakukan sesuai dengan isi kontrak yang aku sepakati."
"I-iya sih." Jawab Alves canggung, karena Elly masih punya kegigihan bahwa keduanya sama saja. "Tapi kan, katamu aku pernah memperawanimu."
"Ya~ Itu yang aku lihat di dalam mimpi. Bukan, tapi dari memori yang aku lihat saat tidur waktu itu."
"Bukannya aku seharusnya tanggung jawab?"
Elly tiba-tiba saja memberhentikan gerakan tangannya. "Apa itu alasan? Sekarang yang punya tubuh kan aku."
Setelah mengatakan itu, Elly kembali membalut perban tersebut, dan setelah menutupi semua bagian yang perlu di tutupi, Elly mengguntingnya dan mengikatnya sedikit sebelum dia plester, untuk berjaga-jaga agar tidak lepas.
"Aku hanya ingin masih bebas tanpa ikatan pernikahan. Lagi pula, aku pernah gagal sekali di kehidupanku yang lalu." Imbuhnya.
__ADS_1
"Kehidupanmu cukup keras juga. Terima kasih sudah membantuku merawat lukaku. Kau seperti dokter, memang bisa di andalkan." Puji Alves sambil mengusap ujung kepala Elly.
"Iya." Jawab Elly singkat dengan telinga tiba-tiba memerah.
'Kenapa telinganya merah? Apa dia menyukai jika kepalanya di elus?' Tapi karena Alves sendiri sama-sama merasakan nyaman jika berada di dekat Elly, ke depannya, ia memilih untuk terus memberikan hadiah kecil seperti itu. 'Padahal kemarin malam saja dia merasa enggan kepalanya di sentuh, imut, dia punya mood yang cepat berubah.'
Dan Alves masih mengusap kepala Elly dengan penuh perasaan.
"Nanti Orson akan membawakanmu baju, tunggu saja di sini dulu."
"Bukannya harusnya Istirahat, mau kemana lagi?" Melihat Alves beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju lemari yang kebetulan memang ada di belakang Elly.
"Aku mau mencari tikus kecil dulu."
Elly memiringkan kepalanya dengan wajah polosnya. "Aku juga ingin ikut mencari tikus."
"Ini bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan hewan, tunggu saja di sini." Ucapnya lagi, sambil memakai kemeja hitam miliknya.
"Tapi kau itu baru mendapatkan luka, apa kau mau pergi dengan kondisi yang bisa saja merugikanmu saat mencari tikus yang kau maksud itu?" Jelas Elly. Tentu saja Elly tahu apa yang di maksud dengan tikus kecil yang di sebutkan oleh Alves barusan.
"Ini berbahaya Elly."
__ADS_1
"Justru itu, aku ing-"
"Elly." Pungkas Alves saat itu juga, memberikan peringatan kepada Elly agar menuruti perintahnya dengan jelas. 'Kau sendiri juga bekum lama ini keluar dari rumah sakit, istirahat saja. Lagi pula ini bukan sesuatu yang berhubungan denganmu."
"Tapi karena adanya kau dalam urusan ini, bukannya itu sama saja jadi urusanku juga? Kau kan majikanku?"
'Kenapa wanita ini selalu saja pandai berdebat?' Tapi karena ini adalah urusan pria, Alves pun sama sekali tidak mengizinkan Elly pergi dengan sebuah gelengan.
Maka dari itu, usapan terakhir dari Alves yang awalnya berada di atas kepala Elly, berakhir dengan tangan yang sempat menyusuri wajah Elly yang mulus itu sebelum akhirnya Alves meninggalkan Elly di dalam kamarnya.
KLEK.
"Alves, apa kau sebegitu tidak percayanya dengan kemampuanku? Seolah aku akan tetap dalam kondisi harus di lindungi olehmu?" Gumam Elly.
Tapi kembali lagi dengan mengingat kondisi tubuh nya saat ini.
Dirinya bukan berasal dari dunia ini, dan tubuh yang ia diami pun adalah milik orang lain. Sebuah tubuh lemah yang harus di berikan latihan khusus secara rutin, agar setidaknya ia tidak memiliki masalah kekuatan yang lemah.
"Huh`" Elly berdecak pinggang, mau tidak mau dia harus memulai dirinya yang baru dari awal lagi. "'Seperti kata Alves, jika aku ingin melakukan hal yang aku inginkan dengan bebas, sebaiknya aku prioritaskan dulu kondisi tubuh yang aku rasuki ini."
Dengan ekspresi wajah kecewa, Elly pun melihat tangan kanannya sendiri, lalu dia membuka dan menutup kepalan tangannya, untuk mengetahui seberapa kuat tenaga yang bisa ia keluarkan untuk membuat cengkraman nya bisa lebih kuat, dan hasilnya ...
__ADS_1