
"Tunggu, kau mau apa?" Tanya Elly sambil menahan tangan Aiden yang sudah menyentuh perutnya dan mulai menyusup masuk kedalam pakaiannya.
"Jangan sok tidak tahu, kau datang kesini karena ingin menemuiku karena merindukanku, ya kan? Jadi nikmati saja ini." Dan Aiden pun mencoba menggerakkan kembali tangan kirinya untuk masuk kedalam celah dari pakaian yang dikenakan oleh Elly.
"Rasanya ada yang salah deh, bukannya kau sendiri yang menyeretku masuk kesini?"
"Kalau begitu, kenapa kau datang ke hotel jika bukan karena menemuiku? Apa kau lupa? Ada sesuatu yang belum sempat kita selesaikan malam itu." Ucapan dari Aiden ini sontak langsung memancing rasa penasaran Elly yang sedang kebingungan.
'Malam itu? Atau saat malam dimana tubuh ini kecelakaan? Gawat, dia sebenarnya sedang mengenterogasiku. Tapi aku harus apa? Apa-' Karena sudah kehabisan ide untuk membalas apa yang sebenarnya dimaksud oleh Aiden terhadapnya, karena Aiden sendiri sedang memancingnya, Elly pun tiba-tiba saja mendorong tubuh Aiden ke dinding seberang.
BRUUKK...
"Kau~ Sejak kapan kau jadi ganas seperti ini?" Tanya Aiden, membalas tatapan mata Elly yang sedang menyipit seakan tengah menantangnya.
Elly menghimpit tubuh Aiden ke dinding dengan tubuhnya. Dengan kedua tangan Elly berhasil mencengkram kedua tangan Aiden untuk menempel alias merapat ke dinding, Elly pun menjawabnya, "Mungkin sejak waktu itu."
Sama hal nya dengan Aiden tadi, memberikan sebuah umpan, Elly pun jadinya membalas dengan hal yang sama, yaitu memberikan Aiden umpan juga.
"Sejak apa? Kau benar-benar sedang mengulur waktu ya?" Goda Aiden seraya mendekatkan wajahnya ke leher Elly yang kebetulan begitu dekat dengannya, sebab berada di depannya persis.
"Sejak aku hampir menerima ajalku, sejak saat itulah, tiba-tiba aku jadi tidak begitu peduli dengan yang namanya citra diri sendiri, juga, tidak takut kepada siapapun." Jawabnya dengan penuh penekanan.
CUP.
Di samping Elly membiarkan Aiden untuk mengecup lehernya, Elly pun menatap mata sayu yang sempat diperlihatkan sesaat tadi.
"Serius nih? Ucapanmu sungguh seperti orang yang sedang menantangku." Tanya Aiden dengan senyuman meledek. 'Padahal malam itu kau benar-benar seperti kucing kecil yang ketakutan. Malam yang membuatku tidak jadi mencicipinya, Raelyn, kau yakin apa yang tadi kau katakan kalau kau sudah tidak takut dengan apapun lagi?' Tatap AIden terhadap leher jenjang nan putih milik Elly, yang baginya memang cukuplah menggoda dan mampu membuat orang yang sempat menciumnya, akan jadi memabukkan.
"Dari matamu, kau tidak percaya ya?" Tanya Elly, demi saling membalas apa yang dilakukan dengan lawan bicaranya, Elly pun akhirnya menundukkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke samping wajah Aiden dan berbisik lirih. "Aiden?" memanggil namanya dengan begitu pelan, serta seorang memiliki banyak makna khusus.
__ADS_1
Bagi Aiden, yang pertama, itu terdengar seperti orang yang baru saja memberitahu kebenaran dari kecelakaan yang dialami oleh tubuh Raelyn yang sekarang di gunakan oleh jiwa Elly.
Yang kedua, baginya terdengar seolah Elly sedang menggertaknya, dan yang ketiga adalah Elly seperti sedang mengancamnya, bahwa jika Aiden melakukan lebih dari sekedar kecupan singkat ke lehernya Elly tadi, sesuatu besar akan terjadi kepadanya.
"Sini, jika kau tidak percaya, aku akan meladenimu seperti apa yang terakhir kali kau lakukan padaku di malam itu." Tantang Elly dengan beraninya kepada Aiden. "Tapi aku akan memastikan kalau hari ini jauh lebih kasar, daripada yang waktu itu." Imbuhnya dengan nada yang cukup dingin.
DEG..!
Jantung Aiden sesaat seperti baru saja kena tampar, membuatnya benar-benar merasa seperti ada yang salah dengan Elly yang ada di depannya itu.
'Ada yang berubah, dia benar-benar seperti bukan Raelyn yang aku kenal lagi.' Detik hati Aiden, begitu terkejut dengan cara Elly menatapnya, karena benar-benar seperti orang yang sedang merendahkannya. 'Tapi karena dia sendiri yang mengatakan itu, aku jadi penasaran, sekasar apa yang akan dia lakukan kepadaku jika aku melakukan apa yang terjadi di malam itu kepadanya? Elly, kau benar-benar cukup menantangku.' Sinis Aiden. "Kalau begitu, cobalah."
Selepas mengatakan itu, salah satu kaki Aiden menjegal salah satu kaki Elly, dan ...
BRUKK....
BRAK....
Di saat yang bersamaan, Alves membuka pintu rumahnya dengan kasar.
"Elly!" panggil Alves dengan nada berteriak, agar wanita itu bisa mendengarnya.
Tapi satu teriakan dari nama itu sama sekali tidak membuat si empu langsung hadir.
"Kemana wanita itu pergi?" Gumam Alves, terus berjalan masuk ke dala, rumahnya yang terletak di atas ruftoop hotel miliknya.
Padahal awal dari Alves pergi keluar adalah untuk mengambil handphone pesanannya, dan berharap kepulangannya langsung disambut oleh Elly yang senang dengan hadiah yang akan Alves berikan.
Namun, seperti yang terlihat, bahkan matanya sama sekali tidak melihat batang hidung dari wanita yang sudah dalam setengah bulan ini ada di sisinya terus.
__ADS_1
Sampai orang yang diharapkannya akan memberitahu kemana keberadaan dari Elly, yaitu Orson, pria itu malah sedang membuat konten mukbang dengan mengandalkan makanan yang sudah tersaji di meja makan.
"Nyamm...nyam..., asal kalian tahu saja, makan ini bukan makanan yang aku beli. Seseorang membuatnya dengan kasih sayang, sampai aku tidak dapat berkata-kata lagi selain mengatakan kalau makanan ini cukup enak. Yah, bahkan aku sampai ingin menangis, kenapa dessert yang dibuatnya membuatku merasakan nostalgia yang cukup kuat.
Perpaduan antara krim dan kue ini cukuplah lembut dan krimnya malahan langsung lumer di mulut." Ucap Orson sambil memakan sebuah kue brownies yang di sajikan di dalam sebuah botol kaca, sehingga Orson hanya tinggal mengambilnya dengan menggunakan sendok saja. "Hmm, kalian pasti sedang ngiler." Ledek Orson sambil tersenyum puas menikmati brownies buatan tangan Elly yang baru saja dikeluarkan dari kulkas. "Nyamm! Ini benar-benar enak. Kalau saja orang ini belum ada yang punya, aku pasti sudah langsung menikahinya. Brownies nya enak, lembut, manis, seperti orangnya. Kalian pasti penasaran, ya kan?"
Orson terus saja berbicara di depan kamera, dimana kamera itu hanya memperlihatkan sebagian wajah Orson saja, jadi tidak akan ada yang tahu seperti apakah muka Orson,
"Orson," Panggil Alves dengan ekspresi wajah datar.
Sampai Orson yang hendak menyuap satu sendok brownies lagi, langsung mangap, ketika ia melihat Alves sudah duduk di depannya persis.
"Baiklah, karena ada tamu penting, siaran kali ini aku akhiri. Selamat mencoba." Kata Orson di depan kamera lagi, lalu di saat itu juga Orson langsung merebut kamera itu sebelum benar-benar di ambil oleh Alves. "Kau sudah pulang?"
"Kalau bukan pulang, kau pikir aku sedang mampir?" Tukas Alves. "Itu punyaku kan?"
Matanya tertuju pada brownies rasa coklat yang masih tersimpan tinggal separuh toples lagi.
"Tidak, ini punyaku. Elly sudah buat lima, jadi aku makan bagianku." Tanpa memperdulikan Alves yang sedang menatapnya dengan sorotan mata yang terlihat iri, Orson kembali memasukkan makanannya ke dalam mulut. "Nyamm....."
"Kau lihat Elly?" Alves dengan sengaja merebut toples berisi Brownies tersebut dari tangan Orson, dan langsung mengambil sendok yang ada di piring. "Nyamm..." Satu suapan, langsung menghipnotis Alves. 'Sialan, makanan seenak ini, Orson malah ikut mendapatkannya? Aku harus buat Elly untuk membuat lagi khusus untukku saja.' Pikirnya.
"Dia keluar. Dia bilang, jika kau bertanya pada staf, mereka akan tahu dia ada dimana. Maksudnya ,kau cari sendiri dengan menggunakan cctv," Sahut Orson lagi. Tapi ketika Orson hendak mengambil kembali brownies itu dari tangan Alves, Alves justru langsung meludahnya dan baru memberikannya.
"Phuih...." Alves sungguh, dia benar-benar memberikan ludah ke dalam toples yang masih berisi brownies itu dan memberikannya kepada yang punya.
"Keterlaluan." Sesal Orson, karena dia makanannya sudah tidak bisa ia makan lagi, saking jijiknya.
"Kau yang keterlaluan. Sekalipun dia membuatkannya untukmu, jangan pernah makan, semuanya itu bagianku." Ungkap Alves, sebelum dia berbalik dan pergi meninggalkan Orson yang sudah di landa oleh kesedihan, hanya gara-gara mulai sekarang dirinya tidak boleh makan hasil masakannya Elly.
__ADS_1