Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
92 : PTRI : Penasaran


__ADS_3

Di kediaman utama rumah dari keluarga besar Avaris. 


Di tepi kolam seorang kakek tua dengan topi bundar di kepalanya, sedang duduk sambil memberikan makan ikan koi. 


Dengan ukuran yang besar-besar, siapapun yang melihatnya sudah dapat menilai bahwa harga satu ekor ikan koi itu bisa mencapai puluhan juta rupiah. 


“Kemana anak itu pergi?” Tanya kakek tua ini, dia adalah kakeknya Alves, dan dia tidak sendirian di sana, karena di belakangnya selalu ada anak buahnya yang setia untuk selalu menemani. 


“Tuan muda sedang pergi berlibur Tuan besar.” Jawabnya. 


“Tepatnya pergi kemana?”


“Maaf Tuan, saya tidak tahu. Karena anak buah saya kehilangan kontak dari jejak milik Tuan muda.” Jawabnya. Ia sempat membuat ekspresi menyesal karena tidak dapat menjawab pertanyaan dari sang majikan.


Sejujurnya kakeknya Alves sungguh kecewa karena ia jadi tidak tahu apa yang sedang di lakukan oleh cucunya itu di hari seperti ini. “Tapi setidaknya anak buahmu tahu kan siapa saja yang ada di samping anak itu?” 


“Hmm, Tuan Alves pergi bersama dengan asisten pribadinya dan juga seorang pelayan.”


Mendengar Toni, yaitu anak buah kesayangannya mengatakan seorang pelayan, hal itu langsung membuatnya penasaran, siapa pelayan yang Toni maksud ini?


“Pelayan? Memangnya dia tipe orang yang suka bawa pelayan ya?” Tanyanya lagi. 


“Sebenarnya tidak Tuan, tapi semenjak dua minggu lalu, ada seorang pelayan wanita bekerja di rumah Tuan muda, Tuan muda nampak memberikan banyak perhatian.”


“Oh, jadi pelayannya wanita, tapi kenapa? Kenapa dia harus dekat dengan pelayannya sendiri? Bukankah statusnya sangat tidak cocok jika dia dekat dengan wanita yang bahkan pekerjaannya adalah pelayannya sendiri.” Ucap sang kakek. 


Lantas Toni membenarkan. “Mungkin saja Tuan muda merasa cocok dengan pelayan tersebut. Tahu sendiri kan Tuan besar, kalau Tuan muda lebih suka pelayan yang bekerja di rumahnya itu untuk datang dan pergi? Itu jelas karena Tuan merasa tidak nyaman dengan banyak orang. 


Dan satu orang pelayan itu, memberikan dampak yang cukup besar terhadap Tuan muda. 


Walaupun jadi terdengar kalau Tuan muda terhasut dengan pelayannya sendiri, tapi bukannya Tuan besar selalu mengharapkan Tuan muda bisa dekat dengan wanita?”


“Apa yang kau katakan memang ada benarnya juga, tapi tetap saja, seorang Alves dari keluarga Avaris, jatuh cinta dengan pelayannya sendiri. Aku yang mendengarnya saja jadi merasa kurang etis.


Cucuku itu tampan, kaya, baik pula, jangan-jangan pelayannya itu memanfaatkan kebaikan dari cucuku. 


Kau coba selidiki seperti apa pelayannya itu.” perintahnya. 


“Baik Tuan, akan saya usahakan untuk mendapatkkan informasi yang terbaik ke depannya.” Jawab Toni. 


“Bawakan aku minum, aku mau Istirahat dulu.”


“Baik Tuan.” Toni pun pergi untuk mengambilkan air serta makanan untuk majikannya. 


Selagi Toni pergi, kakeknya Alves langsung duduk di kursi taman yang letaknya di bawah pohon. Di sana, ia mengeluarkan handphone miliknya, dan melihat satu pesan yang belum ia buka. 


“Apa?” wajahnya langsung menunjukkan keterkejutannya mengenai satu gambar yang di ambil oleh Orson. 


Ya, pesan singkat yang belum sempat di buka itu adalah nomor milik Orson, asisten pribadi nya Alves.


‘Bukannya ini wanita yang waktu itu tiba-tiba masuk ingin ke toilet ya?’ Pikirnya, sambil melihat satu gambar yang cukup fantastis, sebab di foto tersebut, ia diperlihatkan sebuah pemandangan menakjubkan, dimana Alves yang sedang ada di dalam kamar mandi, ternyata sedang berciuman dengan seorang wanita, dan sama-sama ikut di guyur air dari shower.


‘Sebenarnya siapa wanita ini? Sampai bisa berciuman seperti itu, berarti mereka memang memiliki hubungan, ya kan? Tapi Alves sendiri waktu itu sama sekali tidak memperkenalkan siapa wanita itu kepadaku, apa dia mau memberitahuku saat waktunya sudah tepat?


Ah, yang benar saja, aku bahkan sama sekali tidak bisa menunggu selama itu. Aku tidak suka menunggu, aku harus membuat Toni untuk menyelidiki wanita ini juga.’ Pikirnya.


“Tuan, saya sudah membawa apa yang anda minta.” Kata Toni dengan membawa nampan, dan berisi semangkuk salad buah, serta air minum dingin. 


Setidaknya hal itu bisa membuat dahaga milik sang Tuan besar bisa dihilangkan. 


“Toni, aku punya satu tugas yang lain, carikan aku wanita ini lagi. Bawa dia kepadaku.” Perintahnya lagi kepada Toni seraya memperlihatkan gambar seorang wanita sedang berciuman dengan Alves. 


“Kenapa anda tidak menanyakannya saja kepada Orson?”


“Dia tidak akan menjawabnya. Lagi pula alasan dia memberitahuku ini juga sebab dia berharap kalau aku akan mencari tahunya sendiri. Jadi bergerak sesuai dengan harapan anak itu.” Papar kakeknya Alves. 


“Baik. Jadi apa ada permintaan yang lainnya lagi, Tuan?”

__ADS_1


“Tidak, lakukan dua hal itu dulu.” Jawabnya dengan cepat. 


KWAKK….


“Oh, dia sudah kembali.” Kakek ini langsung mendongak ke atas dan melihat burung elang peliharaannya sudah pulang setelah berburu makanan sendiri.


Kwakk….


Burung elang itu pun langsung mendarat di lengan Toni. Walaupun agak berat karena tubuh elang itu memiliki berat sepuluh kilogram, tapi ia masih bisa menahannya. 


“River, makan ini.” Melemparkan satu buah stroberi kepada burung elang tersebut. 


Kwak..


“Tuan, jangan lakukan itu lagi, River ini pemakan daging, bukan buah.” kata Toni memperingatkan. 


“Tapi River saja mau makan, jadi memangnya masih jadi masalah?” 


Dan Toni jadi tidak bisa berkata-kata lebih jauh lagi.


___________


“Felix, aku penasaran, kenapa aku bisa melewati siksaan yang kemarin ya?” Tanya Arshen. Setelah kejadian yang menimpanya kemarin, sampai dimana kursi yang ia duduki harus d jungkir balikan oleh Elly demi menghindari peluru yang bisa saja menembus ke perutnya, Arshen sekarang sudah sepenuhnya sadar diri.


“Kau bertanya? Tanya karena penasaran atau tanya bagaimana Raelyn bisa seperti itu padamu?” Tanya balik Felix, sambil memakan sereal dan sesekali memindahkan pion dari permainan catur yang sedang ia mainkan bersama dengan Darren. 


“Dua-duanya lah.”


“Padahal aku dengar tadi kau hanya tanya pada dirimu sendiri yang bisa melewati waktu kelammu, kemarin.” gerutu Darren. 


Arshen tidak bisa berkata apapun, semuanya benar, apa yang dikatakan oleh kedua orang di depannya itu memang benar, tapi yang Arshen butuhkan saat ini tentu saja adalah sebuah jawaban. 


“Skakmat.” Kata Felix, memenangkan permainan catur dari Darren. 


“Ahh, sudah berapa kali aku main, tapi kalah terus sih!” Protes Darren sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. “Sudahlah, sepertinya mau aku main berapa kali, jika lawanku adalah kau, pasti aku tidak akan pernah menang.”


“Nyamm..nyamm…” Karena sudah menang, Felix langsung membabat habis isi dari sereal yang sedang ia makan, dan dalam sekejap isinya sudah tandas. 


Darren dan Arshen yang melihatnya pn jadi terheran, karena Felix yang sudah besar itu ternyata masih saja suka dengan makan makanan sereal. 


Enak, tapi bagi mereka yang merasa gengsi, semua itu seperti hal tabu, tapi tidak dengan Felix sendiri. 


“Hei, jawab pertanyaanku kenapa.” 


“Padahal kemarin saja kau terlihat keras kepala, bahkan ekspresi wajahmu saja terlihat sudah memiliki dendam sedalam sumur lapindo, kenapa kau jadinya terlihat seperti anak kecil yang linglung kehilangan Ibu nya?” Ucap Felix dengan panjang lebar. 


“Ah, benar tuh, aku lihat kau seperti mau menebas leherku gara-gara aku memberitahu Raelyn soal kau yang hampir memperkosanya.” kata Darren mendukung apa yang barusan di ucapkan Felix. 


Felix lantas langsung melirik Arshen, karena Felix sendiri tidak tahu soal kejadian itu. “Kau masih waras kan?”


“Apa? Soal Raelyn yang aku bawa ke hotel? Sebenarnya waktu itu aku hanya punya pikiran separuh waras. Dia waktu itu sampai nangis kejer, hahaa, kalau kalian lihat wajahnya jelas terlihat putus asa. Tapi mau bagaimanapun aku mana mungkin berhubungan badan dengan wanita yang bahkan penampilannya jelek seperti itu.” Beber Arshen. 


“Itu dulu, tapi bagaimana dengan sekarang? Kau naksir ya kan?” Ejek Darren. “Lihat saja kemarin itu, dia seksi, bahkan dimatanya tidak ada rasa takut sama sekali. Aku suka dia, tapi jelas dia tidak suka kepadaku. Jadi aku hanya bicara apa adanya.” Papar Darren. Karena ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat melihat Elly memberikan wajah bencinya kepada Arshen, bahkan walaupun sempat menatap ke arahnya juga, Darren tentu saja sudah tahu bahwa Raelyn atau Elly itu tidak suka kepadanya. 


Tapi karena ada satu fakta yang belum Arshen ketahui bahwa Elly memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Tuan muda Alves yang terkenal itu, Darren dan Felix pun hanya mencoba membiarkan Arshen berpikir sesukanya, karena jika Arshen berbuat ulah lagi, tanpa perlu campur tangan mereka, Arshen akan kena imbas juga dari Alves.


“Ya, aku naksir, walaupun aku benci juga, karena dia berhasil mempermalukanku seperti itu.” Arshen pun memperlihatkan bogem mentahnya. 


Apalagi mengingat Elly mampu bela diri, hal itu pun membuat Arshen ada kalanya merasa tertantang, bagaimana jika melawannya, karena saat Elly melawa ke tiga orang polisi gadungan itu, semuanya di serang tanpa tanggung-tanggung. 


“Tapi serius, dia seram jika sudah marah, apalagi saat menyerang ketiga penjahat kemarin.” Ucapan Darren jadi menyadarkan Arshen kembali, bahwa apa yang terjadi kemarin cukuplah serius. 


Jika bukan karena Elly, Arshen tidak akan sadar dengan kesalahan di masa lalu yang pernah Arshen buat kepadanya, dan jika bukan karena Elly, Arshen sudah tamat karena peluru nyasar, dan satu lagi, jika bukan karena Elly lagi, maka mereka semua ada kemungkinan masuk dalam berita besar yang akan mempengaruhi roda bisnis kedua orang tua mereka, soal ganja ataupun soal penculikan. 


Jadi pada akhirnya mereka berempat di selamatkan oleh serang dewi yang Arshen bawa sebagai malapetakanya sendiri tapi juga pahlawannya sendiri.


“Hah, aneh.” Lirih Arshen dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya. 

__ADS_1


Ia hanya tidak tahu kalau ia akan mendapatkan kesialan dengan mendapatkan satu balas denda, dari Raelyn secara langsung, dan di saat yang sama ia juga harus menghadapi fakta lainnya kalau Raelyn yang ia kenal sudah tidak ada lagi. 


Itu yang harus Arshen ingat dari apa yang terjadi kemarin. 


“Tapi untung saja berkat dia kita tidak jadi masuk dalam koran di halaman pertama, ya kan?” Imbuh Darren. 


Arshen dan Felix terdiam, jika Felix masih memikirkan soal sepupunya yang rupanya memiliki satu hubungan dengan Raelyn atatu Elly, maka Arshen sedang memikirkan perbedaan dari ekspresi wajah yang sempat Raelyn perlihatkan kepadanya di waktu itu.


‘Raelyn, berubah? Kelihatannya memang seperti itu.’


_____________


Flashback On


“Hah…hah….hahh….t-tolong, h-hentikan, a-aku a-aku tid..dak mau jadi w-wanita pea*acur seper..ti itu. Arshen, a-aku mohon.” Pinta Raelyn kepada Arshen. 


Arshen, demi ingin membalas dendam kepada mantan pacarnya yang bernama Elena, membuat Arshen menggunakan Raelyn sebagai bahan pelampiasannya. 


Ia mempergunakan Raelyn untuk ia mainkan, dan memperlihatkannya kepada mantan pacarnya. 


Tapi semua itu hanya berhasil sebanyak lima puluh persen, karena akhirnya Elena mematikan VC mereka berdua, dan sekarang Arshen jadi tidak punya tujuan lain selain bermain-main dengan wanita yang ada di bawahnya itu.


Dengan keadaan kaos yang sudah naik ke atas, dan rok panjang yang sudah tersingkap semua dan mendarat di atas perutnya, Raelyn pun benar-benar memperlihatkan penampilan seksi yang tidak akan pernah di lihat oleh orang lain selain Arshen sendiri yang merupakan orang pertama yang melakukan hal itu kepada wanita yang dari luar terlihat udik itu. 


“Jika kau memohon dengan wajah seperti itu, orang lain saja pasti tahu kalau kau menginginkan hal lebih.” Kernyit Arshen saat melihat ekspresi wajah Raelyn yang terlihat sedang memelas. 


“Tapi ini bukan keinginanku, lepaskan aku, ku mohon, lep-” dan semua apa yang akan ia katakan akhirnya ia telan kembali saat ada sesuatu yang masuk kedalam area sensitifnya. 


Arshen yang melihat hal itu, jadi terheran sendiri, karena Raelyn benar-benar merasa terangsang hebat, padahal yang Arshen lakukan hanyalah memasukkan jarinya dan bermain di dalam sana, yang ternyata cukup hangat, basah, serta terasa ketat. 


Itu bukan sesuatu yang bisa Arshen dapatkan dengan mudah, tapi ia benar-benar merasakan itu secara cepat tepat saat Arshen memainkannya .


“Angghh~ Hahh…anghh.. tidak, A-arshen, jangan lanjutkan. R-rasanya ada yang aneh, aku mohon janghh~” Raelyn yang sudah kelewat merasakan rangsangan yang luar biasa dari Arshen, dengan tangan mengepal dengan erat, dan nafas yang tidak beraturan, Raelyn pun mendapatkan pelepasan untuk yang kedua kalinya, dan serasa terus keluar saat Arshen benar-benar tidak mau menghentikan tindakan bejatnya. 


“Dengar itu, suara mesum milikmu keluar juga dari mulutmu.”


“Hiks, tidak…! jangan lakukan itu lagi, angghh…angh… Arshen! Hah..hah…” Pekik Raelyn. 


Meskipun sudah begitu, ia sama sekali tidak bisa lepas dari kekangan yang di buat oleh Arshen kepadanya. 


Dengan kedua tangannya yang terikat dasi dan di ikat ie tempat tidur, ia sama sekali tidak bisa lepas, selain hanya bisa menggerakkan tubuhnya, yang bahkan justru akan semakin terlihat seperti orang yang sedang merasakan nikmatnya. 


“Arggh~” Erang Raelyn, ia benar-benar di anggap sebagai wanita murahan, karena ia tidak bisa menahan suaranya sendiri yang keluar dari mulutnya. 


“Hahaha, terus …., teruslah mende*sah, itu sangat cocok untukmu. Kau benar-benar jadi terlihat seperti wanita j*l*ang lainnya. Lihat ini, di sini saja sudah ba*sah seperti sungai. Jika bukan aku, siapa lagi yang bisa membuatmu memperlihatkan ekspresi wajah ja*a*ngmu ini hmm?” Kata Arshen sambil mencengkram wajah Raelyn dengan erat. “Disini sudah cukup menginginkan apa yang aku miliki, kau yakin tidak mau?” Tanya Arshen, sambil memperlihatkan ancaman yang sudah ia keluaran dari tempatnya, membuat wajah Raelyn pucat pasi. 


Dengan wajah pucat, Raelyn menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. “Tidak, aku sama sekali tidak mau.”


“Padahal punyamu saja pasti sudah sangat kelaparan juga,” sambil menyentuh area pribadinya Raelyn. “Tapi kau sungguh-sungguh bertekad untuk menolaknya? Yang benar saja. Sini, aku akan membiarkanmu bisa mencicipinya, walaupun sedikit.” Ancam Arshen sekali lagi, dan dengan begitu percaya dirinya, ia pun benar-benar mendekatkan pusakanya di depan bibirnya Raelyn yang ada di bagian bawah. 


Raelyn langsung mendapatkan tekanan mental yang cukup kuat, sampai tepat sebelum Arhsen menempatkan ujung miliknya, Raelyn sudah pingsan lebih dulu. 


BRUK…


“Apa? Dia malah pingsan?” Terkejut Arsen dengan kondisi Raelyn yang sedang ia buat main-main, malah pingsan di tempat.


Dengan penampilan sudah separuh telanjangnya itu, siapapun bahkan akan menaruh kesempatan itu sebagai peluang emas untuk mencicipinya. 


Tapi karena ada sedikit simpati dari Arshen, Arshen pun tidak melanjutkan permainan itu lagi. 


“Sama sekali tidak menyenangkan.” Gumam Arshen, melihat wajah Raelyn yang panik itu kini jadi diam seperti adik kecil yang sedang tertidur. Sampai ia baru menyadarinya kalau di bagian perut milik Raelyn ternyata ada bekas jahitan, dan juga tubuh yang nampak kurus serta ada beberapa luka lebam dimiliki oleh Raelyn. 


“Sama sekali tidak menyenangkan.” Gumam Arshen, melihat wajah Raelyn yang panik itu kini jadi diam seperti aak kecil yang sedang tertidur. Sampai ia baru menyadarinya kalau di bagian perut milik Raelyn ternyata ada bekas jahitan, dan juga tubuh yang nampak kurus serta ada beberapa luka lebam dimiliki oleh Raelyn. 


Tidak peduli dengan hal itu Arshen pun turun dari atas tubuh Raelyn. Dengan tubuh sudah sama-sama separuh telanjang, Arshen pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya serta sekalian mengkondisikan adik kecilnya.


‘Wajahnya memang jelek, tapi akui kalau suaranya, ekspresinya, dan cara dia memberontak dari sentuhanku membuat dia berhasil merangsangku juga. Hmm…’ 

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2