Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
177 : Elly menangis karena ...


__ADS_3

Karena sudah di mintai pulang, Elly akhirnya memutuskan untuk pulang, dan di antarkan oleh sepasang suami Istri ini ke kediamannya Alves.


"Dahh!" Asena melambaikan tangannya itu kearah Elly, dan Elly sendiri melambaikan tangannya juga ke arah mereka berdua.


TINN...


Setelah mereka berdua pergi meninggalkannya di depan rumahnya Alves, Elly langsung berbalik dan dia langsung bertubrukan dengan sosok pria yang tiba-tiba saja sudah ada di belakangnya persis.


"Kau sangat bersenang-senang ya?" Tanya Alves, matanya sempat melirik ke tas belanja yang di tenteng oleh Elly.


'Dia pintar sekali menyembunyikan hawa keberadaannya. Aku sampai tidak sadar kalau dia ada di belakangku.' pikirnya, begitu drinya harus terpaksa menubruk tubuh pria ini gara-gara sudah ada di belakangnya persis dengan kehadiran yang cukup senyap, sampai Elly sendiri memang tidak menyadari kedatangannya itu.


"Padahal aku sudah meneleponmu berulang kali, tapi tidak aktif juga, apa kau sam-"


"Bateraiku habis." Tunduk Elly, dia yang sedang malas mendengarkan ocehannya itu, memberikan handphone lipat miliknya ke tangannya Alves, agar Alves tahu sendiri kalau handphone itu memang benar-benar mati.


'Dia mengabaikanku?' di tinggal pergi oleh Elly, Alves segera menyusul. "Apa kau sudah makan?"


"Sudah, terus apa yang kau beli itu?"


"..." Elly melirik ke arah tas belanjanya, dan dari lima itu, tiga diantaranya ia berikan kepada Alves. "Ini untukmu, aku tidak tahu kau suka atau tidak."


'Kau pintar menyuap rupanya, ya, dari dulu kau kan suka menyuap dengan segala cara agar kau lolos dari semua tuduhan.' pikirnya. Lalu dia membuka tas belanja tersebut dan menemukan satu setel baju lengkap dengan jas, ada aksesoris penjepit dasi, satu bros, juga ada dasinya juga. Di satu sisi, dia juga mendapatkan sepasang sandal?


"Apa kau suka?"


"Apapun darimu, aku suka sih, tapi kenapa ada sandal?" Memperlihatkan sepasang sandal jepit ke depan wajah Elly.


"Tadi, di tengah jalan, aku bertemu ada anak menjual sandal jepit, jadi aku beli semuanya." Jawab Elly, karena merasa bersalah, sebab barang itu adalah satu-satunya barang paling biasa yang pernah Elly beli untuk seseorang.


"Semua? Terus kenapa aku satu?"


"Kan aku sudah aku berikan kepada semua orang yang ingin aku beri. Asena, Gibran, dan ketiga anak buahmu yang ada di depan sana, aku beri mereka sandal juga, sisa satu aku akan memberikannya pada Orson." Jelasnya, sambil menghitung jarinya sendiri agar Alves percaya, bahwa setiap orang mendapatkan satu, dan semua itu pas sesuai dengan yang Elly beli.


"Dia punya sandal jepit di rumah sebanyak yang ingin dia punya, jadi tidak butuh sandal jepit lagi. Jadi berikan kepadaku saja." Alves yang sudah memakai sandal jepit dan ukurannya pas, langsung meminta sisa yang di miliki oleh Elly.

__ADS_1


"Kau mau makan sandal?" Ledek Elly, senyuman mencibirnya itu langsung membuat Alves jadi ingin memakannya hidup-hidup.


Tapi ia harus bertahan sampai saatnya.


"Iya, aku mau makan sandal, jadi berikan sandalnya." pintanya.


____


Tapi dua jam setelah Alves memakainya. Pria ini langsung menghampiri Elly yang sedang makan sendirian di meja makan.


PRAK....


"Kau berikan saja pada Orson." Tukas Alves, dengan ekspresi wajah tak puas hati. Padahal niatnya memang tidak ingin memberikan barang yang Elly beli kepada orang lain, makannya Alves berani merampok Elly dengan merampas sandal kepunyaannya Orson.


Tapi, karena dia memiliki masalah kulit setelah menggunakan sandal itu, maka dari itu dia pun mengembalikannya.


"Kenapa? Tadi minta jangan di berikan ke Orson, tapi ini tiba-tiba?" Elly pun melihat ke arah bawah, ada ruam merah setelah menggunakan sandal itu.


"Kulitmu itu, aku kira dari atas sampai bawah, kau punya kulit badak, tapi ternyata kulit di kakimu itu sangat sensitif."


Yah, itu hanya sepasang sandal dengan harga murah, tapi begitu dikembalikan, ada sedikit perasaan yang cukup sakit.


'Aneh, wajar kan, kalau dia menganggapnya dari pada tidak di gunakan, sebagai pajangan saja, lebih baik berikan pada orang lain. Tapi kenapa melihatnya dia mengembalikan sandal jepit lima belas ribuan itu, rasanya seperti di tusuk pisau?' Elly pun menyeret sandal jepit yang sudah kembali di bungkus kedalam wadah plastik itu ke sisinya, dan kembali makan malam. "Iya." Jawab Elly, hanya itu saja yang bisa dia jawab untuk membuat pembicaraannya tidak berhenti di Alves saja.


Hanya sekedar mendengar jawaban singkat dari Elly, Alves jadi ikutan duduk, dan berada di posisi sebelahnya Elly, lalu mengamati raut wajah dari wanita ini.


"Kenapa diam?"


"Memangnya aku harus bicara apa lagi?" Tapi entah kenapa, dia tidak berani menatap wajahnya secara langsung, dan justru lebih memilih untuk menatap mangkuk berisi mie instan itu.


"Biasanya kau terus mengoceh, tapi kenapa kau tadi hanya jawab iya saja?"


"Entahlah, aku juga tid-" semakin di bicarakan, sayangnya terbesit rasa sakit yang datang dari penolakan itu.


"Aku sedang bicara, tatap mataku."

__ADS_1


"'T-"


Alves yang sedikit geram dengan sikapnya Elly, segera menangkap wajah Elly dan membuatnya menatap ke arahnya persis.


"Kau kenapa? Apa ya-" kalimatnya seketika lenyap di telan kembali setelah dia tiba-tiba saja melihat adanya buliran air mata yang mulai membasahi sudut matanya itu. "K-kau, kenapa kau menangis?"


"Aku juga tidak tahu. Hiks...aku tidak bisa mengontrol perasaanku ini, tahu." Sendok yang sempat dia pegang itu pun jatuh ke dalam mangkuk lagi, dan menangisi rasa sakit hati yang di alaminya hanya gara-gara sandal.


"Memangnya apa yang kau rasakan? Jika kau tidak mengatakannya, aku juga tidak tahu." ucap Alves dengan ekspresi wajahnya yang serius itu.


"Hiks, hiks...itu....aku nangis karena sandal!" Hatinya meringis sakit, tapi mulutnya ingin tertawa, hanya saja air matanya juga menyiratkan kesedihannya, jadi dia pun tidak tahu ekspresi macam apa yang sedang dia buat saat ini kepada Alves.


'Sandal?' detik hati Alves.


"A-aku tahu kalau aku beli sandal itu murah, wajar jika kau tidak memakainya. J-jadi yang aku rasakan hiks..., itu aku merasa sakit, hiks saat kau m-mengembalikannya padaku." jelas Elly, dia masih saja meneteskan air matanya yang tidak tahu itu berharga atau tidak.


Mendengar alasan itu, Alves terdiam sejenak lalu menjawab : "Maksud yang kau rasakan itu, kau ingin aku menghargai sandal ini. Terlepas dari harganya, walaupun murah, pemberian darimu seharusnya aku terima saja. Ah.., ini salahku, aku lupa kalau perempuan memang seperti itu."


Alves melepas tangannya dari kedua sisi wajah Elly, dan mengambil sandal berwarna biru yang pertama kali ia terima dari Elly sebagai barang yang berharga.


"Aku akan mengambilnya, jadi tidak usah menangis. Ternyata kau bisa cengeng ya?"


"Ini bukan kemauanku, tapi ini." Elly meletakkan tangannya di dada, sebuah jantung juga hati, yang hidup bersama dan berdampingan di dalam dada itu menuntut untuk merasakan sakit jika barang pemberiannya tidak di terima dengan baik oleh pria ini.


"Kau- maaf, aku tidak peka." Senyuman lembut itu menyambut kesedihan milik Elly dan menghiburnya dengan usapan di ujung kepalanya Elly. "Karena satu ini saja sudah cukup, berikan saja yang sepasang ini kepada Orson."


Perasaan aneh karena keinginan yang aneh, membuatnya sama sekali tidak bisa untuk menahan diri mengatakan perasaannya itu kepada pria ini.


"Oh, besok rumah ini akan sedikit ramai, kau tidak perlu melakukan apapun."


"Memangnya kau mau mengadakan acara apa?" Tanya Elly dengan mata polosnya.


Dengan sengaja Alves menyipitkan matanya sambil menempatkan jari telunjuknya itu di depan bibirnya sambil berkata : "Rahasia. Tapi tidak lama lagi kau juga akan tahu."


Setelah itu Elly pun di tinggal pergi dengan deretan pertanyaan di dalam kepalanya.

__ADS_1


"Dia- membuatku penasaran." Gumam Elly, seperti baru saja mendapatkan musuh, matanya jadi melirik tajam ke arah punggung dari pria yang mulai pergi dari jarak pandangannya itu.


__ADS_2