Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
40 : PTRI : Kantor


__ADS_3

'Gara-gara aku fokus pada rapat karena proyeknya harus berjalan dalam waktu dekat ini, aku sampai melupakan kalau aku meninggalkan Elly di ruanganku.


Dan seperti yang aku perintahkan, aku tidak membiarkannya pergi kemanapun dari kantorku, dan sekarang sudah lewat dari jam makan siang, dia pasti kelaparan.'


Alves berdiri dan terus mencemasi satu orang wanita yang ada di kantornya, karena ia meninggalkannya dengan begitu lama sampai melupakan untuk memberinya makan.


'Sudah kurus, aku mana mungkin membiarkannya lebih kurus dari itu,' Pikirnya lagi.


TING.


Tepat setelah Lift terbuka, Alves bergegas keluar dari ruang sempit itu, pergi menuju pintu kantornya, dan....


KLEK...


"Elly." Alves menoleh ke samping kanannya, tidak terlihat adanya keberadaan Elly yang harusnya berada di depan komputer, kalau memang sedang melaksanakan tugas yang Alves berikan kepadanya.


Alves berjalan masuk kedalam ruangannya yang cukup luas, seperti kamar tidur yang ada di rumahnya. Dan di saat itu pula, dia melihat ada setumpuk kertas yang lumayan tinggi ada di atas meja kerjanya, sedangkan kursi singgasananya sudah berada dalam kondisi berbalik.


"Elly?" Alves berjalan menuju meja kerjanya, dan ketika kursinya di putar, dia akhirnya melihat wanita bernama Elly ini dalam kondisi tidur, dengan posisi kaki ada di tangan kursi sebelah kanan, dan bagian kepalanya ada di tangan kursi sebelah kiri. 'Kenapa dia malah tidur di sini?'


TING...


Satu notifikasi dari email yang masuk langsung menarik perhatiannya Alves.


Alves membuka layar komputer yang mati dengan gerakan mouse nya saja, ketika layarnya kembali menyala, betapa mengejutkannya itu.


'I-ini, dia menyalin semuanya di dalam komputerku?' Detik hati Alves melihat di dalam folder sudah ada lima puluh lebih dokumen siap cetak lagi. Karena setalah di buka, tidak ada kesalahan kata sama sekali. 'Tunggu, tidak mungkin Elly mengerjakan separuh tumpukan di mejanya itu dalam waktu singkat seperti ini.'


Alves yang kurang percaya itu, di kageti dengan Elly yang tiba-tiba saja terbangun. "K-kau sudah selesai rapat? Hoaammhh....." Tanya Elly sambil menguap lebar. Matanya sebenarnya masih berat, tapi dia langsung melek saat melihat Alves sedang menggunakan komputernya. "M-maaf, itu belum selesai semuanya," Elly buru-buru bangun dari kursinya dan membiarkan Alves duduk menggantikan posisinya tadi.


"Aku kan sudah memberimu meja sendiri, kenapa kau justru menggunakan komputerku?" Alves memberikan tatapan selidik pada Elly yang tiba-tiba jadi mencurigakan.


"Kau kan keburu pergi sebelum menyalakan komputer itu."

__ADS_1


"Memangnya kau tidak bisa menyalakannya sendiri?"


"Ini berbeda dari komputer punyaku, makannya aku bingung. Karena aku tidak mau mengusikmu yang sedang rapat, aku jadinya memakai komputermu." Elly pun membawa semua berkas yang sudah di salin itu.


"Bukannya komputer semuanya sama saja, apa yang berbeda dengan punyamu?"


"Punyaku, dia bisa pakai layar sentuh."


"Ini juga bisa,"


"Punyaku, terbuat dari kaca."


"Apa itu sebuah hologram?"


"Ya, dan intinya, walaupun sedang tiduran sekalipun, hanya dengan bicara saja sudah selesai." Elly menempatkan semua tumpukan kertas itu di ujung tembok, dan duduk di kursinya sambil menatap komputer yang mati itu.


'Dia sebenarnya punya kondisi lingkungan yang seperti apa?' Alves pun jadi penasaran, seperti apa lingkungan di sekita Elly sebelum ini. Tanpa di sadari, Alves tiba-tiba menemukan satu keganjilan, "Bukannya kamu hilang ingatan?"


Elly kembali terdiam dengan raut wajah kurang baik.


"Elly, kau kenapa?" Tanya Alves buru-buru menyusul Elly yang duduk di ujung sana.


"Aku-" Elly membungkukkan tubuhnya, dan memegangi perutnya. Rasa sakit itu datang karena dia memang sedang Hiad. Tapi bukan itu permasalahannya, yang jadi masalahnya adalah dia sungguh lapar.


KRUYUKK~


Alves yang baru saja setengah jalan itu, langsung berhenti dengan sorotan mata berhasil mengunci sosok Elly yang sudah tersenyum tawar kearahnya.


"Aku lapar,"


'Aku kira kenapa, ternyata lapar.' Alves pun bernafas lega, karena Elly tidak kenapa-kenapa.


"Tunggu saja, aku yang akan memesan makanan untuk makan siang kita," Pinta Alves, lalu kembali ke mejanya, menekan tombol nomor delapan dari telepon berkabel itu.

__ADS_1


-"Ya, ada yang bisa saya bantu?"-


"Bawakan makan siang untuk tiga porsi seperti biasa." Perintah Alves pada resepsionis.


-"Baik Tuan"-


TUT.


Sepuluh menit kemudian ketukan pintu pun terdengar.


"Tuan, saya mengantarkan pesanan anda."


"Bawa masuk," Perintah Alves sambil berkutat di depan komputer.


Dan masuklah seorang wanita berseragam biru seksi masuk kedalam kantor sang Tuan besar. 'Kenapa ada meja kerja lain di dalam kantor Tuan? Apakah Tuan merekrut seseorang untuk bekerja di kantor tanpa adanya penyeleksian?'


"Hmm, taruh saja di meja." Sahut Alves, masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari komputer, karena dia sedang mengoreksi semua hasil kinerja Elly yang belum selesai itu.


"Alves, aku sangat lapar, apa makanannya sudah datang?" Suara Elly yang berasal dari kamar mandi, membuat wanita itu terkesiap.


'S-suaranya, kenapa sangat familiar dengan wanita yang kemarin datang itu ya?' Pikirnya. Dan keterkejutannya bertambah saat Alves menjawab pertanyaannya Elly.


"Keluar saja, makanannya sudah siap menyambutmu,"


'A-apa? Apa aku baru saja mendengar gombalan dari Tuan?' Pikirannya jadi tidak karuan, mengingat Alves bukanlah orang yang suka membuat gombalan dengan orang lain.


"Apa makanannya enak?" Tanya Elly setelah keluar dari kamar mandi.


"Kau akan tahu setelah mencicipinya, jika tidak sesuai dengan lidahmu, aku akan memakannya untukmu, dan aku akan menyuruh dia untuk membeli makanan yang lain," Jawab Alves.


"Aku bukan pemilih, tapi selama enak, aku akan memakannya." Lalu ketika ia keluar, dia langsung di tatap cukup serius oleh wanita yang kemarin ada di lobi, salah satu resepsionis yang tidak memperdulikan rekan kerjanya memaki Elly. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku juga di kira wanita jalanan yang merangkak ke atas ranjang Bos mu?"


"Elly, apa yang kau katakan barusan?" Alves langsung bereaksi setelah mendengar ucapannya Elly, lalu arah pandangannya dia alihkan ke arah pegawainya yang baru saja meletakkan paper bag ke atas meja kaca itu.

__ADS_1


__ADS_2