Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
63 : PTRI : Menerima hadiah Elly


__ADS_3

Sudah satu jam mereka berdua ada di dalam kamar mandi, dan Elly sendiri sengaja ikut basah-basahan di dalam untuk menemani Alves.


Sampai karena lelah untuk berdiri terus, Alves saat ini sudah duduk bersandar ke dinding dengan air shower masih mengguyur tubuhnya.


"Kenapa kau tidak keluar saja?"


"Aku ingin menemanimu. Katanya pelayan harus menemani majikannya."


Alves yang awalnya menunduk, perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Elly yang sama-sama duduk di depan Alves seperti an*jing kecil yang sedang menaruh simpati pada Tuan nya yang baru saja di landa masalah.


"Hah~ Kau ini, jangan terus-menerus menyebutmu pelayan. Aku tahu kau sekarang adalah pelayanku, tapi jangan terus menyangkut pautkan status itu dalam berbagai situasi." Beritahu Alves dengan tatapan sendu nya.


Dia sungguh menikmati tatapan polos milik Elly, seakan wanita di depannya itu benar-benar tidak memiliki pandangan terhadap dunia yang dia hadapi, selain tertuju kepadanya, yaitu kepada Alves sendiri.


"Tapi-"


"Tidak ada tapi-tapi. Aku tahu kemarin aku mengatakan hal yang salah kepadamu, sampai mengatakan kalimat yang sedikit kasar kepadamu. Tapi aku mengatakan itu karena aku khawatir kau tiba-tiba terbang dan melakukan yang terlihat berbahaya." Jelas Alves dengan senyuman mencibir.


Dia menyadari kalau apa yang ia katakan itu membuatnya seperti ia bukanlah seperti dirinya sendiri, tiba-tiba saja mengatakan rasa khawatirnya pada orang lain yang belum lama ia kenal.


Mendengar Alves mengatakan rasa khawatirnya kepadanya, perasaan yang bahkan tidak pernah ia dapatkan di kehidupan lalunya, membuatnya tiba-tiba merasa sensasi aneh yang masih bingung untuk di jelaskan.


Antara suka atau karena senang bisa mendapatkan perhatian itu, Elly sama sekali belum mengerti. Maka dari itu, Elly pun tiba-tiba berkata : "Kau memang pria yang baik." Puji Elly dengan senyuman lembut menghiasi bibirnya.


"Memangnya dari segi mana aku terlihat seperti orang baik?"


"Perasaanmu."


Satu kalimat yang keluar dari mulutnya Elly, sukses mengguncang hatinya Alves, sampai Alves semakin memperlihatkan wajah tercengangnya, gara-gara Elly tiba--tiba saja mengatakan soal perasaan.


Sampai Elly semakin tersenyum lebar, gara-gara melihat wajah terkejut Alves yang tidak bisa di sembunyikan itu. "Ya, jika bukan karena perasaan, sampai kau tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutmu dariku, lalu apa lagi? Apakah ada orang lain lagi selain aku sampai kau mau jujur dengan perasaan dari rasa khawatirmu itu kepadaku?"


Hanya sekedar mendengar ucapannya Elly, Alves sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa, karena ia sendiri langsung di hantam kebingungan.


"R-rasanya tidak." Singkat Alves, dengan perasaan yang tiba-tiba saja menjadi gugup. 'Kenapa aku tiba-tiba jadi gugup seperti ini? Sebenarnya dia wanita macam apa? Kenapa dia sama sekali tidak terlihat gugup sepertiku? Apa hanya aku saja yang memiliki perasaan ini? Perasaan kalau aku benar-benar menyukainya?'


'Lucu sekali dia, wajahnya sudah memerah. Dia ..., memang sama sekali belum pernah merasakan getaran di hatinya ya, saat di puji seperti itu? Ternyata tubuh yang aku diami ini memang cukup berpengaruh kepada pria ini.

__ADS_1


Sudah jelas sekali, dia memang menyukai pemilik tubuh ini.' Tidak tahan dengan wajah Alves yang cukup menarik perhatiannya, Elly yang tadinya hanya duduk saja, perlahan merangkak menuju Alves, dan secara intens Elly mengangkat tangannya.


Sentuhan yang cukup lembut itu pun mendarat di pipi kiri Alves, sampai Alves yang tadinya hanya diam memperhatikan, kembali memperlihatkan ekspresi wajahnya yang lain, dari terkejut perlahan melembut.


Benar, Alves akhirnya sadar kalau ia memang menaruh perasaan kepada wanita di depannya ini. Sampai di satu waktu, ia selalu merindukan sentuhannya, seperti yang di lakukan oleh Elly saat ini.


"Elly~" Panggil Alves saat melihat wajah Elly yang tiba-tiba saja mendekat.


"Ya?"


"Seperti yang kau katakan tadi, kalau aku memang punya perasaan padamu, tapi ...., apakah kau-"


"Maaf Alves, meskipun aku bisa melakukan apa saja untukmu, tapi aku sama sekali belum bisa memiliki perasaan kepadamu. Aku sangat yakin dengan perasaanku, tapi mungkin saja berbeda dengan tubuh ini.


Aku bisa merasakan ingatan terakhirnya, saat tubuh ini di temukan olehmu di pantai, terbesit rasa bahagia. Dengan kata lain, pemilik tubuh ini tahu siapa kau."


"Kalau begitu kau mau apa?"


Elly sedikit memiringkan kepalanya ke samping kiri. Menemukan wajah Alves yang terlihat bingung itu, Elly semakin mendekatkan wajahnya.


Aku masih tidak memiliki perasaan cinta seperti yang kau miliki, tapi beda dengan tubuh ini. Meskipun tubuh ini memiliki hati yang sedang sakit, karena merasa pernah terkhianati, tapi dia masih mendambakan cinta.


Entah cinta itu untuk siapa, tapi bukannya lebih baik aku berikan untukmu saja?" Papar Elly.


Cukup lama Elly dalam posisi merangkak seperti itu, karena hanya posisi seperti itulah ia bisa menggapai wajah Alves dengan lebih baik, sampai hal paling baik nya adalah, dia bisa jadi bisa melihat tatapan Alves yang terlihat terpancing dengan semua ucapannya.


"Jadi-" Wajah yang awalnya berjarak dua puluh centimeter itu perlahan terkikis. "Walaupun aku tidak memiliki perasaan terhadapmu, aku akan tetap melakukan apa saja sesuai yang ada di dalam kontrak.


Dan sekarang, sebagai majikanku, aku tahu, kalau kau sedang membutuhkan seseorang sepertiku di dekatmu. Aku anggap ini sebagai layananku kepadamu, jadi terima saja Alves yang kesepian."


'Alves yang kesepian ya?' Hanya dengan sekedar sentuhan di wajahnya saja membuat Alves merasa nyaman, Alves pun akhirnya menerima tawaran Elly dengan sebuah anggukan kecil.


Dan Elly pun memberikan apa yang biasanya di butuhkan oleh seorang pria yang kesepian ini dengan sebuah ciuman.


'Walaupun katanya dia sama sekali tidak pernah berciuman dengan wanita lain, tapi bagiku ini Alves cukup handal.' Pikir Elly.


Kesan lembut, hangat, dan ma*nis, perlahan Alves rasakan.

__ADS_1


'Padahal aku sudah melakukannya beberapa kali dengannya. Tapi kenapa kali ini rasanya berbeda?' benak hati Alves.


Akrobat dari bibir dan lidah mereka berdua pun terus hadir dalam permainan yang hanya bisa di mainkan oleh mereka berdua.


'Elly, sebenarnya kenapa kau mau melakukan pada pria yang bahkan tidak kau cintai? Sebenarnya seperti apa kehidupanmu sebelum ini? Walaupun aku menuntut diriku untuk tidak terlalu penasaran, tapi semakin dia mengerjakan semua yang aku butuhkan dan aku inginkan, aku jadi semakin penasaran.' Sesaat Alves membuka matanya, dan melihat mata Elly yang terlihat menghayati sekaligus menikmati ciuman yang sedang di kerjakan nya untuk Alves yang sedang membutuhkan teman main.


________________


Sedangkan di luar ruang kerja Alves, Orson sudah mempersiapkan semua kebutuhan sesuai yang di minta oleh Elly.


Perban, salep, plester, semuanya sudah Orson bawa dan akan memberikannya kepada Bos nya yang baru saja mendapatkan musibah itu.


'Sesuai perkiraan, Yuli bukanlah orang yang cocok untuk menjadi duta dari brand ambassador perusahaan Bos.


Sampai menuangkan kopi ke tubuh Bos, bukankah itu sama saja dengan mengumumkan pemberontakan kepada Bos? Hah~ Kenapa Bos selalu terlibat dengan masalah wanita yang tidak ada habisnya seperti ini?' Setelah mengumpat dalam diam, Orson pun masuk kedalam kantor milik Bos nya.


Dia hendak ikut membantu Elly untuk menangani luka yang Bos nya dapatkan itu, maka dari itu Orson tanpa sungkan masuk kedalam kamar yang ada di dalam kantor milik Bos nya.


ZRASSSHH.....


Sampai air shower yang terdengar cukup jelas itu berhasil menarik perhatian Orson untuk menoleh ke arah kiri.


Dan betapa mengejutkannya, Orson tiba-tiba saja di perlihatkan suasana yang sama sekali belum pernah Orson lihat.


Tepat di ujung kamar, pintu kamar mandi yang terbuka itu benar-benar memperlihatkan dua sosok yang sedang berciuman, dan di saat yang sama mereka berdua sama-sama di hujani dari air shower yang terus menyala.


'Bos, berciuman dengan Nona Elly? Apakah artinya di balik hubungan pelayan dan majikan itu, perlahan akan berubah?' Batin Orson.


Sampai Orson sediri tiba-tiba saja hatinya merasa terharu, karena baru kali ini Orson melihat Bos nya menerima sentuhan sebanyak itu dengan seorang wanita.


Baginya, itu adalah sebuah prestasi yang cukup besar, mengingat Orson sendiri tahu kalau Bos nya itu baru-baru ini kembali di tuntut oleh Tuan besar, yaitu kakek dari sang Bos nya itu untuk mencari pendamping hidup.


'Ini bisa jadi kabar baik, jika Tuan besar tahu ini, Tuan pasti tidak akan terus mendesak Bos terus menerus.' Pikir Orson.


Karena Bos nya sedang asik dengan permainan milik mereka berdua, Orson pun dalam diam pergi dari sana.


__ADS_1


__ADS_2