Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
132 : PTRI : Sungai


__ADS_3

"Hei, cepat tembak lagi!" Perintahnya. Dan sesuai dengan pesan yang ia dengar itu, dia pun menembakkan senjata miliknya ke arah mobilnya Alves.


Dan Orson yang mengetahui rudal itu sedang terbang ke arahnya, sontak dia segera menaikkan kecepatan laju mobilnya.


"Kalian bersiap." Peringat Orson.


Elly dan Alves pun memejamkan matanya dan berusaha untuk berpegangan ada gagang pintu untuk bersiap keluar dari mobil setelah mobil yang mereka naiki langsung terjun bebas ke sungai.


BYURR...


Dan tidak lama kemudian, sebuah ledakan langsung terjadi.


DHHUAR...


Akibatanya, rudal itu pun meledak di dalam air dan membuat ledakan yang mengakibatkan adanya ledakan air yang lumayan besar.


Dan dua orang yang masih belum puas untuk menyaksikan kematian dari mereka bertiga, menembakkan kembali rudal nya tepat ke tempat dimana mobil dari sasarannya tadi masuk. Dan tidak lama setelahnya, ledakan yang besar kembali terjadi, menimbulkan banyak kekacauan yang cukup besar untuk membuat heboh banyak orang.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa masih ingin aku menembaknya?"


"Lebih baik begitu. Jangan sia-siakan peluru untuk membuat hujan peluru ke dalam sungai. Jadi, meskipun saat masuk kedalam sungai, lalu ada peluang mereka bertiga selamat, maka sekarang mungkin mereka akan selamat jika kau terus menghujani mereka peluru. Membuatnya tidak ada pilihan lain selain mati di dalam sungai."


"Ok lah, dari pada pelurunya nganggur." Balasnya, lalu ia pun mengganti senjatanya untuk menembaki sungai itu secara brutal, sampai stok peluru di dalam magazine nya habis.


Dan rentetan dari suara tembakan pun terjadi di pinggir kota. Sebuah pabrik yang terbengkalai menjadi saksi bisu peristiwa tersebut.


Setelah habis, mereka berdua akhirnya pergi dari sana.


"Gibran, kau yakin mancing disini bisa dapat ikan?"


"Entahlah, lagi pula ini kan tempat piknik kita. Jadi mau ada ikan atau tidak, biarkan takdir yang memilih kita. Dan kita berdua saatnya menikmati bersama." Dengan senyuman lebar, Gibran pun langsung berlari dan menghempaskan tubuhnya ke atas tubuh Istrinya itu, yaitu Asena.


"Ah, G-gibran, bagaimana jika ada orang lain yang melihat kita?" Tanya Asena, dia merasa enggan untuk bermesraan di pinggir sungai.


Sebagai penghabisan waktu mereka sebelum mereka berdua kembali bekerja, Gibran dan Asena pun melakukan piknik bersama di sebuah pinggir sungai.

__ADS_1


Tidak seperti sungai liar yang ada di alam, sungai yang mereka tempati itu adalah sungai yang memang di buat untuk tempat wisata, jadi terkesan rapi, bersih, dan menampilkan keindahan dari sungai yang sedikit besar itu.


Tentu saja, sebab mereka berdua menghabiskan waktu bersama ketika banyak orang bekerja, jadi tempat itu pun sepi.


"Berarti kita sedang pamer kemesraan dong. Mereka pasti iri dengan kita, jadi tidak akan jadi masalah." Ucap Gibran sambil menatap wajah cantik milik sang Istri yang sudah bersemu merah, karena tubuh mereka berdua benar-benar dekat.


"Gibran." Panggil Asena dengan lirih. Dia yang kian terhanyut dengan suasana yang sedang di buat oleh Gibran kepadanya, membuat Asena perlahan menemukan satu wajah yang sangat ia nantikan untuk ia raup mendapatkan keuntungannya. Dan salah satu bagian wajah yang ingin dia jadikan sebagai keuntungannya adalah bibir itu.


"Hmm? Apa kau mau membuat anak di sini?" Goda GIbran sambil tersenyum simpul, membuat wajah Asena berhasil merah padam.


"Kau ini, aku mana mungkin melakukannya di sini. Memalukan." Jawab Asena.


"Ya sudah, mungkin di pinggir rumah, akan bagus."


"Tempatnya yang agak romantis sedikit, kenapa? Masa pinggir rumah?" Protes Asena.


Sampai dimana, ketika canda mereka berdua berakhir dengan saling menatap satu sama lain, kedua bibir itu pun menyatu, menyerahkan perasaan yang mereka miliki dalam kelembutan dan juga kehangatan.

__ADS_1


__ADS_2