Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
36 : PTRI : Salah paham


__ADS_3

"Hei, dia seksi sekali."


"Cantik sekali dia?"


"Apa laki-laki yang sedang duduk itu adalah kekasihnya?"


Satu demi satu bisikan memenuhi semua segala sisi dari ruangan. Sampai Alves sendiri jadi merasa bangga dengan wanita yang ada di depannya itu.


"Wah, aku jadi ingin kenalan, apa dia mau kenalan deng-" Kalimatnya seketika terpotong saat Alves langsung menoleh ke balakang dan memicingkan matanya, memberikan peringatan pada beberapa pria yang memang datang untuk menemani kekasihnya belanja ataupun memang beli untuk hadiah pasangannya.


'Seharusnya dia hanya memperlihatkannya kepadaku, bukan kepada mereka.' Kesal karena ada orang lain yang melihat tubuh molek Elly dengan wajah polos dan terlihat lugu itu, Alves langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Elly. "Masuk dan ganti lagi. Kau hanya perlu memakainya saja, biar aku yang beli semuanya."


"Jangan terlalu baik seperti itu kepadaku." Ucap Elly sambil menepis tirainya. Dan sebelum masuk kedalam ruang ganti, Elly sedikit menoleh ke samping kanan untuk menambahkan masukannya. "Aku mengatakan ini agar aku tidak terlalu bergantung kepadamu."


Selesai mengatakan itu, Elly pun masuk ke dalam ruang ganti.


Alves berdiri di depan pintu, menundukkan kepalanya, dia sungguh merasakan sensasi geli hati karena ucapannya Elly yang sungguh lucu. 'Padahal asal kau tahu saja, aku justru ingin agar kau semakin bergantung kepadaku.'


"Kau masih di luar kan?" Suara Elly dari dalam itu langsung menyeruak keluar, membangunkan Alves dari pikirannya sesaat tadi.


"Ada apa? Apa kau akhirnya memerlukan bantuanku?" Dan tanpa sungkan lagi, serta tanpa meminta Izin dari orang yang ada di dalam sana, Alves masuk begitu saja, menemani Elly yang di suruh berganti baju.


Dan ketika ia masuk, Alves sungguh di suguhi oleh punggung Elly yang sebenarnya mulus. Tapi karena masih menyisakan bekas sabetan, jadi Alves refleks menyentuh punggung itu.


"Kenapa kau malah menyentuh punggungku? Itu, aku tidka sampai. Tempelkan plester perbannya lagi." Tegur Elly sambil meminta bantuan kepada pria yang ada di belakangnya itu, agar mau membantu untuk memperbaiki perban yang menempel pada permukaan luka yang Elly dapatkan kemarin siang.


"Kalau tidak sampai, kenapa bisa ada perban di sini? Bukannya tadi pagi saja kau itu mandi?"


"Aku hanya memaksa dan menempelkannya dengan asal." Sahut Elly dengan wajah berpaling ke arah lain.


"Sini, biar aku perbaiki." Dua tubuh dengan tinggi tubuh yang berbeda itu membuat Alves jadi sedikit membungkukkan tubuhnya, meraih tali samping kanan Lingerie itu agar jatuh ke samping, sampai ia sungguh dapat mencium aroma wangi sabun yang di gunakan oleh Elly dengan cukup jelas.

__ADS_1


Suatu pemandangan luar biasa dari Elly yang akhirnya mengekspose punggung yang nampak mungil itu untuk Alves cium dengan penuh kelembutan.


CUP.


Bibir itu pun sungguh mendarat di permukaan kulit kenya milik Elly. Kekenyalan dan elastisitas yang cukup untuk mengundang satu gairah lain.


Setelah menciumnya dengan penuh perasaan, Alves merubah tatapan matanya itu menjadi sipit, seolah dia memang menemukan sesuatu yang cukup menakjubkan untuk di gapai.


"Elly, sebaiknya ini ganti dengan yang baru." Kata Alves, perlahan melepas plester yang menempel antara kulit punggung Elly dengan perban itu.


"Terserah, aku sama sekali tidak bisa melihatnya, jadi apa baiknya, lakukan saja." Jawab Elly sambil menahan Lingerie yang menutupi bagian dadanya, karena sekarang kedua talinya sudah jatuh dan mendarat di sikunya, akibat Alves yang melepas tali Lingerie itu agar dapat melihat serta memeriksa punggung Elly yang sempat terluka karena Insiden yang kemarin.


"Yang di luar, bawakan kotak P3K." Ucap Alves dengan sedikit keras.


"Baik Tuan," Sahutnya, dan bergegas pergi untuk mengambil permintaan si pelanggan.


Entah karena apa sampai meminta kotak P3K, ia hanya peduli dengan hal lain, yaitu keromantisan dari dua insan yang saat ini sedang berduaan di dalam kamar.


Alves langsung merebut kotak itu dan membawanya masuk. Membukanya dan segera mengganti perban untuk luka tusuk Elly gara-gara sebuah pecahan beling.


"Elly, turunkan lagi Lingeriemu."


"Kau sungguh mengambil kesempatan di dalam kesempitanku ya?" Sindir Elly terhadap permintaan Alves yang menyuruhnya untuk lebih mengekspose punggungnya.


"Jika tidak seperti itu, aku pasti pria yang bodoh," Mencibir dirinya sendiri.


"Kau sendiri yang bilang begitu. Jadi jangan protes jika suatu saat aku memanggilmu bodoh juga, atau bahkan, idiot."


"Asal kau suka, aku terima saja apa julukan milikku pada dirimu."


Elly yang lelah jika berdiri terus, dia memutuskan untuk berjongkok, dan akhirnya menurunkan semua Lingerie itu dari tubuhnya, sehingga kini yang tertutup oleh Lingerie itu sendiri adalah pinggang ke bawah, sedangkan di bagian atas, semuanya sungguh sudah terekspose jelas di mata Alves sendiri.

__ADS_1


'Dia sungguh tidak punya malu. Sangat berbeda dari wajahnya yang terlihat lugu itu.' Alves hanya menatap sekilas ekspresi wajah Elly yang sungguh serius, sebelum ia kembali fokus kepada satu luka yang menambah noda di punggung milik Elly ini.


'Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di pung-' Kalimat yang menghilang itu tergantikan dengan suara aneh yang cukup menggoda, "Aahh..~" Elly langsung memutar tubuhnya ke belakang, saat punggungnya tiba-tiba di sentuh dengan usapan ringan yang cukup menggelikan itu."


"Oh, aku pikir ini apa, ternyata ada tahu lalat."


"Jangan lakukan itu disini. Di depan banyak yang mengantri, jadi cepat." Pinta Elly.


"Kau sungguh tidak sabaran," Ledek Alves, karena Elly barusan membuat kalimat yang menguras kesalahpahaman banyak orang di luar sana.


Sedangkan di luar, banyak orang yang justru terdiam seperti patung dengan wajah merah merona.


Padahal tida ada satu orang pun yang menggoda mereka semua satu per satu, tapi kenyataannya ucapan dari dua orang yang sedang ada di dalam kamar pass itu sungguh menjadi pemicu mereka semua untuk berpikiran jauh dan mengarah ke hal lain.


"Mereka berdua lama sekali."


"Apa mereka sedang pamer dengan kita-kita yang jomblo?"


"Kalau aku tidak peduli," Diantaranya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, tidak mau tahu apa yang terjadi, sebab ia hanya merasa senang kalau ia jadi bisa mendengar serta melihat langsung pandangan romantis penuh dengan kesalahpahaman mereka.


"Itu sakit, jangan terlalu di tekan begitu."


"Kalau tidak di tekan, bagaimana ini bisa menempel?"


"Ya gunakan perasaan juga kali. Memangnya aku dinding sedang di tempeli stiker dinding?"


"Ah~ T-tunggu, kenapa kau menyentuh itu dulu? Itu sakit."


"Lah~ Sakitan mana antara jariku dengan senjata yang aku punya?"


BLUSHH.....

__ADS_1


"A-apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan sampai alur pembicaraannya semakin ambigu?" Ucap salah satu dari banyaknya pengunjung yang ada.


__ADS_2