
'Huh~ Jika bukan karena dia melindungiku dari kopi kemarin, dia tidak akan mungkin mendapatkan luka seperti itu. Dia memperlihatkannya kepadaku agar aku terbujuk untuk mengikuti kemauannya. Pintar sekali dia, agar terus dekat-dekat denganku.' Elly menatap Alves begitu lekat dari atas sampai bawah.
Tidak bisa menolak keinginannya Alves yang mengandalkan luka serta raut wajahnya yang terlihat seperti anj*ing kecil yang ingin meminta makan kepada majikannya, Elly akhirnya menuruti kemauannya.
“Hahh, ya sudahlah, tapi aku sarankan untuk tidak mandi lebih dulu.” Jawab Elly, lalu mengantarkan Alves pergi ke kamarnya Elly.
_____________
“Hmm…hmm…hmm…” sambil bersenandung ria di dalam mobilnya, pria ini dengan santainya melajukan mobilnya pergi menuju ke suatu tempat. “Ngomong-ngomong, kenapa aku tiba-tiba saja di panggil? Padahal setelah sekian lama, kami bisa mendapatkan jatah libur sampai tiga hari.
Rencanaku ingin liburan jadi gagal. Tapi aku penasaran, apa yang harus aku lakukan ketika sampai?” Gumam Orson.
Orson awalnya hendak liburan ke pantai, tepatnya di rumah yang belum lama ini di bangun. Tapi semua rencananya jadi gagal gara-gara Bos nya memanggilnya.
Lebih tepatnya, Orson menerima pesan singkat untuk pergi ke rumah Alves. Untuk alasan apa, Orson sendiri masih belum mengetahuinya.
Tapi setidaknya, ia tahu kalau resiko menjadi kaki tangan dari seorang Bos, adalah hal seperti sekarang.
Tidak perlu waktu yang lama, Orson akhirnya sampai di kediaman tempat tinggal milik Alves.
“Sebentar, kenapa rumahnya aku merasakan aroma yang campur aduk?” Setelah keluar dari mobil, karena kedua pintu depan rumah Alves sudah terbuka lebar, Orson masuk tanpa perlu mengetuk pintu.
Dia berjalan masuk lebih dalam, ke dalam rumah dari majikannya itu.
‘Rasanya sepi, tapi aku tetap merasa ada yang aneh. Ada bau minyak, bercampur dengan bensin. Tunggu, aku juga merasa ada aroma pengahurm ruangan, juga-’ ketika Orson melihat ke arah samping kanan, ia melihat dengan jelas ada deretan makanan yang sudah siap untuk di makan.
Sampai tidak lama kemudian Orson mendengar suara milik majikannya.
“U-uh, tunggu, jangan keras-keras.” Suara milik Alves langsung menarik perhatian Orson yang hendak pergi menuju meja makan.
‘Suaranya, berasal dari kamar itu.’ Dan Orson mulai mencurigai satu kamar yang tidak jauh dari tempat ia berdiri itu.
“Kalau tidak keras, hasilnya tidak akan maksimal.”
“Iya sih, tapi ini sakit. Tidak usah menggunakan tenaga juga, apa kau mau membuat kulitku yang berharga ini lecet?”
“Kulitmu itu tebal seperti badak, tidak akan lecet. Atau kau mau aku menggunakan sesuatu yang lembut?”
‘Apa yang sedang mereka berdua lakukan?’ Orson yang penasaran dengan segala pembicaraan yang di lakukan oleh Alves dan Elly, berhasil memancing Orson untuk menguping.
“Lembut? Memangnya kau mau pakai apa?”
__ADS_1
“Kulit dengan kulit.”
‘A-apa? Aku jadi semakin penasaran, apa yang sedang dua orang itu lakukan di dalam. Kenapa aku jadi punya pikiran kalau kedua manusia di dalam kamar ini sedang melakukan sesuatu yang sedikit intim?’ Orson sedikit terkejut dengan penturan Elly barusan.
“Apa maksudmu kau ingin menggunakan sepasang aset itu untukku?”
Wajah Orson langsung memerah, pikirannya jadi traveling kemana-mana.
“Kenapa aku jadi punya majikan semesum dirimu? Aku bukan orang bodoh, sampai menggunakan tubuhku untuk membersihkan tubuhmu. Apa hanya itu saja yang terlintas di pikiranmu?” Tanya Elly, mengharapkan jawaban yang memuaskan kepada Alves.
Alves menunduk dan tersenyum tawar sambil menjawab : “Itu- karena kau selalu menuruti semua ucapanku, dan kau juga mau melayaniku dalam hal itu juga, jadi wajar kan? Karena gara-gara kau sendiri, aku jadi hanya punya pikiran itu.” Jelas Alves. “
“Hmm…kau benar, berarti agar kau tidak berpikiran mesum seperti itu saat ada kita berdua, aku harus menghentikan kebiasaanku melayanimu dalam hal itu.” Gerutu Elly atas pendapatnya sendiri mengenai efek samping dari pria bernama Alves yang awalnya seperti pria sejati dengan paras seperti seorang yang menyeramkan setiap kali di ajak bicara, malah berubah jadi anak kecil yang suka ini dan itu dengannya.
“Aku tidak mengizinkanmu menghentikan layanan itu.” Tegas Alves.
‘Apa ini? Apa? Apakah hubungan mereka berdua benar-benar sudah lebih dari majikan dan pelayan?’ Pikir Orson, masih tidak mampu beranjak dari sana, karena pembicaraannya terasa menyenangkan untuk di dengar.
Namun di tengah-tengah Orson sedang menguping, dia tiba-tiba saja langsung ketahuan oleh Elly dengan pintu yang terbuka begitu saja.
KLEK…
“Sudah aku duga, kau sudah sampai.” Tatap Elly terhadap Orson dengan wajah datar.
“Lah, bukannya kau yang menyuruhku untuk datang ke rumahmu?” Tanya balik Orson, bingung dengan pertanyaan dari Alves.
Elly yang mendengar cara bicara Orson berbeda dari biasanya, membuat Elly bertanya, “Sebentar, kenapa cara bicaramu berubah kepada Alves? Biasanya kan kau selalu memanggil dia Bos.”
“Sebenarnya Orson itu temanku, dia akan bicara dengan formal saat bekerja saja, tapi diluar itu dia akan bicara santai denganku.” Jawab Alves, mewakili jawaban yang seharusnya dijelaskan oleh Orson sendiri.
“Enak ya, bisa punya teman dekat,” Gumam Elly lirih sambil berbalik memunggungi Orson yang nampak terkejut karena ia barusan mendengar sesuatu yang tidak didengar oleh Alves sendiri. “Masuklah Orson,”
“Kenapa aku harus masuk?” Tanya Orson detik itu juga.
Elly lantas mengambil handuk yang terlipat di atas meja dan menjawabnya : “Aku sudah membantu membersihkan tubuh Alves, hanya tinggal menghandukinya dan mengobatinya luka saja. Dan ngomong-ngomong, akulah yang memanggilmu kesini, jadi bantu dia, sedangkan aku akan mandi.”
Setelah berkata demikian, Elly berjalan masuk kedalam kamar mandi dan meninggalkan dua orang laki-laki di luar sana.
“Apa- karena aku mengacaukan kencan kalian berdua?” Tanya Orson dengan senyuman paksa. Ini pertama kalinya melihat Elly terlihat muram dan seperti menyembunyikan sesuatu, dan itu tepat setelah kata Elly bergumam sesuatu dengan kata ‘teman’
___________
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, perlahan Elly melepaskan semua pakaiannya. bau keringat yang begitu menusuk langsung membuat Elly melempar pakaian itu ke dalam kotak khusus pakaian kotor, sehingga kini Elly akhirnya bisa telanjang dan membebaskan semua jeratan yang selalu melekat di tubuhnya.
ZRASSHH…..
‘Teman ya?’ Pikir Elly, menatap dinding berkeramik putih yang ada di depannya persis.
Dengan tubuh yang akhirnya menerima air dingin yang cukup menyegarkan, ia tiba-tiba saja merasa seperti sedang berdiri di bawah hujan.
‘Teman yang saling memanfaatkan. Ya~ Pada dasarnya hubungan antara satu manusia dengan manusia lainnya kan ada untuk saling mendapatkan keuntungan. Tapi mereka berdua-’ Elly menoleh ke arah pintu kamar mandi.
“Ahw, apa kau tidak bisa pelan-pelan?” Suara milik Alves akhirnya kembali terdengar di telinga Elly yang merasa iri dengan hubungan dari dua orang yang ada di luar itu.
“Kau ini kan pria, apa kau tidak bisa menahannya?” Ucap Orson.
“Hei, bukankah mulutmu itu cukup sadis? Jangan menyindirku. Mau bagaimanapun sakit tetap saja sakit, kenapa aku harus menahannya?” protes Alves.
“Padahal aku rasa, aku sudah melakuannya dengan pelan-pelan deh. Apa kau sedang merintih seperti itu agar bisa menarik perhatiannya?”
“Diamlah, tidak usah banyak bicara omong kosong lagi. Inii betulan sakit, jadi lakukan dengan pelan-pelan, kenapa?” Pinta Alves.
‘Mereka berdua hubungannya benar-benar cukup dekat.’ pikir Elly, merasa iri. Apalagi dengan mendengar permbicaraan dari Alves dengan Orson, Elly sekilas jadi sudah tahu kalau hubungan diantara mereka berdua cukuplah dekat.
Dan hal itu berbanding terbalik dengannya.
‘‘Yah, daripada aku yang punya hubungan dengan Alves atas dasar kotrak kerja, hubungan mereka dari dua orang teman yang saling mengandalkan satu sama lain seperti mereka, jauh lebih menyenangkan ketimbang hubungan kerja sepertiku.’ Imbuh Elly.
“Orson, kau menyentuh salepnya dengan jarimu, apa tanganmu itu benar-benar sudah bersih?” Tanya Alves, curiga sekaligus memperingatkan, bahwa apapun yang menyentuh tubuhnya adalah sesuatu yang harus bersih.
“Kau ini, sudah untung aku mau membantumu.” Sedikit kesal karena Alves terlalu memperhatikan kebersihan. Dan itu sebenarnya bagi Orson sendiri jadi sedikit mengganggu, karena dengan sifat Alves yang sangat suka dengan kebersihan, membuat semua apa yang akan di lakukan oleh Orson untuk Alves, jadi harus tertunda. “Ah, apa aku harus pakai kuas?”
Mendengar Orson memberikan saran yang cukup mencengangkan, Alves jadi menatap Orson dengan tatapan sengit.
“Aku pikir karena dadamu seperti dinding, jika menggunakan kuas, selepnya akan jauh lebih cepat di aplikasikan ke dadamu.” Imbuhnya, seamkin membuat Alves merasa ingin marah.
“Apa kau mau gajimu akupotong separuh selama setengah tahun?” Ancam Alves terhadap saran Orson yang terdengar sepert lelucon untuk Orson, tapi merasa seperti sindiran telak untuk Alves sendiri.
“Hahaha,” Orson awalnya tertawa lebar dan terbahak-bahak, tapi di detik selanjutnya ekspresi wajah Orson langsung menjadi datar. “Tidak.”
“Makannya, jangan membuat penderitaanku sebagai lelucon, sana cuci tangan dulu.”
“Iya, iya. Puya mysophobia sepetimu memang sungguh merepotkan.” Decih Orson.
__ADS_1
‘Dia punya mysophobia?’ Elly yang baru mengetahui hal itu jadi merasa heran. ‘Masa sih? Padahal selama ini dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang gila dengan kebersihan.’ Pikir Elly, jadi ingin bertanya langsung kepada Alves.