Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
95 : PTRI : Pengkhianatan


__ADS_3

“K-kau! Kenapa kau malah bersama dengan wanita itu?! Kita sebentar lagi akan menikah, dan kau malah melakukan hal kotor dengan dia?!” Wanita berseragam militer ini langsung berteriak dan membentak seorang pria yang kini ada di dalam kabin pesawat, dan nahasnya pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, malah tengah berhubungan badan dengan wanita lain. 


“Maafkan aku Everlyn, lagian kau sendiri lebih suka kerja ketimbang berdua denganku. Aku sudah memintamu beberapa kali untuk tidur bersama, tapi kau selalu saja beralasan karena pekerjaan. 


Jadi apa boleh buat, aku lebih menyukai wanita ini ketimbang kau.” Dengan seringai kecilnya, tangan kanannya mengusap ujung kepala dari wanita yang sedang dia ajak bermain. 


“Ah, lebih cepat lagi sayang.” Pinta wanita ini, merasakan sensasi yang luar biasa nikmat saat benda pusaka milik dari pasangannya begitu menusuk daerah intinya. 


“Iya sayang.” jawabnya kepada wanita tersebut. “‘Lalu ngomong-ngomong, jika kau denganku tetap menikah, apa kau mau kerja terus? Jika seperti itu kau sama saja dengan hidup sendiri. Kau bahkan sama sekali tidak memberikan perhatian kepadaku, apa kau ingin aku mati sendirian dalam kelaparan? Pria itu punya sifat yang tidak suka menunggu, dan kau adalah salah satu penghalang dari hubungan ini Everlyn.” Jelas pria ini lagi, sesekali menghentakkan pinggulnya dengan keras, sehingga kamar itu langsung di isi dengan erangan yang begitu erotis. 


“Ha…hahaha, benar. Kau benar-” Everlyn tiba-tiba jadi tertawa mencibir, ia merasa telah dikhianati dengan calon suaminya sendiri. “Padahal akulah yang mencari uang untuk membiayai pernikahan kita, tapi kau dengan entengnya bilang seperti itu. Aku memang buta, memilih pria yang salah.”


“Ah, itu kau sadar juga. Seandainya sejak dulu tahu akan seperti ini, kau mungkin tidak akan pernah mau menerimaku, ya kan? Tapi kembali lagi Everlyn, semuanya itu berasal dari kesalahanmu sendiri. Kau itu wanita, kenapa pakai ikut kerja sebagai militer?


Negara ini tidak kekurangan orang, semua orang juga wajib militer, walaupun itu khusus utuk pria. 


Tapi kau, cuman satu-satunya wanita yang ikut militer. Kau itu seharusnya duduk diam saja di rumah dan melayani pria, jika aku jadi suamimu, tentu kau harus menjadi istri yang siap sedia melayaniku. 


Tapi karena standar untuk jadi Istri saja tidak ada, jadi tidak ada lagi kata pernikahan diantara kita. Kau paham kan Everly?” Jelasnya lagi. 


Sungguh ironis, bahwa semua usahanya untuk mendapatkan kebahagiaannya sendiri harus terhenti di sini, melihat calon suaminya justru tidur dengan seoang wanita seksi yang sudah mampu memuaskan naf*su yang di miliki oleh pria itu. 


“Baiklah, kalau begitu kenapa kalian ada di dalam pesawatku?” Tanya Everlyn. Tidak seperti awal pertama kali memergoki dua manusia sedang mengadu nasib mendapatkan kenikmatan, sekarang Everlyn jadi lebih tenang, karena setidaknya ia tidak jadi menikah dengan pria yang bahkan hanya memiliki pikiran di selangkangannya saja. “Kenapa tidak di hotel atau di dalam gorong-gorong saja?” 


Senyuman milik Everlyn tiba-tiba saja mengembang menjadi senyuman sinis. Ia tidak tahan lagi melihat kedua manusia di depannya secara langsung mengejeknya dengan gaya erotis dan vulgar itu di depan matanya. 


“Oh, apa kau tidak tahu, kalau sertifikat dari pesawat ini namanya sudah berpindah tangan kepadaku?” Kata-kata yang merubah senyuman sinis milik Everlyn tadi langsung pudar.


“Sudah pindah tangan ya? Dengan kata lain kau merebut aset milikku.” Ucap Everlyn dengan tatapan jenaka. “Haha, kenapa aku tidak tahu kalau kau adalah seorang lintah ya? Menyeret tubuh dari tanah ke kakiku, sungguh pria menjijikan, Denis.”


“Terserah kau mau bilang apa, bahkan apartment juga sudah jadi milikku. Kau sudah tidak memiliki tempat lagi, Everlyn.” Tambahnya lagi, membuat Everlyn jadi diam membisu. 


“Hahaha, kau ketipu. Itulah, jadi wanita jangan hanya berpikir pekerjaan jadi hal utama. Lihat ini, bahkan calon suamimu bisa aku rebut.” Sela wanita yang sedang mengumbar kemesraan dengan pria yang menjadi pasangan **** nya. 


“Benar itu, dia memang hanya mencintai pekerjaannya saja. Padahal aku awalnya mencintainya juga, tapi apa bagusnya jika hanya wajah saja yang cantik, tapi sama sekali tidak tahu cara untuk memuaskan pasangannya. Siapa yang akan mau degan wanita sepertinya?” Sebuah cibiran lagi-lagi keluar dari mulutnya, membuat Everlyn tidak lagi memberikan sepatah kata apapun. 


“.........”


“Ah, lagi sayang, lebih dalam lagi.” Permainan pun kembali dimulai, menjadi siaran langsung untuk Everlyn yang masih berdiri di ambang pintu. 


Karena baginya cukup menarik, Everlyn yang sudah tidak punya perasaan apapun lagi hanya terus berdiri dan menontonnya. 


“Ah…ahh..sayang, lebih kuat lagi.”


“Iya, aku akan lebih cepat lagi.” Denis terus menggenjotnya, sampai ke bagian terdalamnya terus tergerak, tersentuh dan merasakan rasanya di *emas cukup kuat. 


“Ah…ahhh! Terus, lagi!”

__ADS_1


Terus melakukan pekerjaannya, Denis terus menerus, gencar untuk meraih kemenangan, meskipun di sela-sela kesenangan yang sedang mereka berdua lakukan, Everlyn masih berdiri di ambang pintu. 


“Apa? Kenapa kalian menatapku? Aku sedang menontonnya, jadi setidaknya aku tahu bagaimana caranya bermain di atas ranjang. Bukannya ini pelajaran paling ampuh dengan melihatnya secara langsung?” Ejek Everlyn dengan senyuman sumringah. 


“Ah, ayo, masukan lagi.” Pinta wanita ini.


Karena sudah ada di ujung tanduk, mereka berdua semakin mempercepat tempo gerakannya. 


Dan Everlyn terus menontonnya,  “Jadi begitu, cairannya mulai merembes tuh, apa itu air terjun?” Seolah-olah dirinya tidak tahu apa-apa, Everlyn dengan sengaja berbicara di atas tekanan harus menghadapi calon suaminya sendiri yang sedang bermain dengan wanita lain, itu.


Sehingga hal itu pun mengganggu konsentrasi mereka. 


“Karena aku baru melihatnya, jadi berapa ukuranmu Denis? Lima belas? Tujuh belas? Jika lebih panjang lagi, pasti lebih enak tuh.” ucap Everlyn lagi, kembali menghina kedua insan tersebut. “Hei, wanita yang ada di sebelah sana, apa lubangmu benar-benar bersih?  Kali saja sudah di gunakan oleh pria lain selain Denis.”


“Kau-”


“Ya, aku apa? Apa kau juga baru sadar kalau lubangnya bisa saja tidak bersih? kau bisa saja bukan satu-satunya pria yang menidurinya, jadi pada dasarnya, tidak ada manusia yang bisa saling percaya satu sama lain. Ucapannya mengatakan ini, tapi sebenarnya sudah melakukan itu.


Karena aku sudah menontonnya, aku jadi ingin tahu dengan calon tunanganku yang pernah di jodohkan denganku dulu, mungkin dia lebih besar, dan karena aku masih perawan, aku tentu saja masih bisa memuaskannya lebih dari wanita itu.” Jelas Everlyn, begitu sudah puas, ia pun meninggalkan satu pasah manusia yang sedang berselang-senang itu.


BRAK…..


Dengan langkah tegas ia berjalan keluar dari pesawat pribadinya. 


‘Daripada pesawat ini jadi miliknya, mending aku hancurkan saja.’ Pikir Everlyn. 


Setelah ia keluar dan turun dari pesawat, Everly langsung berdiri di luar pesawat sambil menodongkan senjata ke arah pesawat tersebut. 


DORR…


Mesin pesawat di tembak, dan giliran bagian kaca pesawat yang menjadi tempat dua orang itu berada, Everlyn tembak dengan brutal sampai pelurunya habis. 


“Akhh…wanita itu gila ya? Kenapa dia malah menembaki kita?!” Pekik wanita ini, merasa takut dengan peluru yang terus berdatangan menghampiri mereka. 


“Aku tahu dia wanita yang seperti apa. Cepat pakai pakaianmu, dia akan menghancurkan pesawat ini!” Pekik Denis, setelah itu tak perlu waktu lama, mobil yang Everlyn bawa itu kebetulan membawa senjata yang bisa di rakit dan menjadi besar, dari situlah saat mereka berdua yang ada di dalam pesawat sedang ketar-ketir, Everlyn justru sedang tersenyum puas, karena saat jari telunjuknya menarik pemicunya, pesawat itu langsung meledak. 


DHUARR…


“Akkhh…!” Dan secara beruntung, mereka berdua mampu keluar lebih dulu dari pesawat dan melompat turun. 


“Eh, kenapa kalian turun? Padahal aku sudah buat kejutan agar suasana kalian bisa lebih panas.” Cibir Everlyn.


----->>>


Di malam hari, sesuai dengan apa yang di harapkan.


Kesedihan karena ia merasa di khianati membawanya pergi ke dermaga dan menemui seseorang di sana.

__ADS_1


"Azriel?"


ZRASSHHH....


Di malam itu hujan lebat tiba-tiba saja mengguyur wilayah tersebut, membuat mereka berdua yang melakukan pertemuan di pinggir dermaga langsung kena hujan.


Tapi tidak seperti Everlyn yang langsung basah terkena hujan, pria berama Azriel yang sedang berdiri menatap laut itu sudah mempersiapkan diri dengan payung yang di bawahnya.


"Kau sudah datang?" Azriel menoleh ke samping kanan dan melihat raut wajah Everlyn yang begitu sedih.


Masih dengan menggunakan seragam militernya, dengan buru-buru melakukan pertemuan rahasia di tempat sepi. Dermaga yang sudah terbengkalai dan memang sudah tidak di gunakan lagi.


"Kenapa wajahmu sesedih ini?" Tanya Azriel dengan wajah datar.


Ya, dia adalah Azriel, pria yang sebenarnya pernah di jodohkan dengan Everlyn. Tapi karen Everlyn sendiri menolaknya, atas dasar karena ia sudah memiliki pria yang ia cintai, membuat Everlyn menolak perjodohannya.


Namun setelah sekian lama, ia baru tahu, orang yang ia pikir mencintainya, ternyata hanya mencintai hal lain yang di miliki oleh Everlyn.


Makannya, ia pun merasa menyesal atas perbuatannya dulu karena menolak Azriel yang akan menjadi jodohnya.


"Maafkan aku atas apa yang aku lakukan, karena aku menolakmu."


"Jadi karena itu kau ingin bertemu denganku, karena kau sadar kalau Denis bukanlah pria baik seperti yang kau pikirkan?" Tanya Azriel, menebak kira-kira maksud dari kehadirannya Everlyn kali ini.


"Hmm..." Dehem Everlyn.


Walaupun tadi siang ia merasa seperti tidak peduli lagi dengan kenyataan pahit yang harus ia telan sendiri, bagaimanapun ia tetaplah seorang manusia normal, dan tetap memiliki hati yang mampu di sakiti.


"Jadi kau menyuruhku bertemu disini karena apa?"


"Aku hanya ingin bilang terima kasih."


"Hm? Kenapa malah berterima kasih?"


"Kan kau sudah mau datang kesini di tengah hujan seperti ini, lagi." Ucapnya, dengan senyuman paksanya. "Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, semuanya sudah di ambil, tidak..tapi sudah di rebut kembali kepada pemiliknya yang asli, dan kau, pasti sudah tahu kan apa yang aku maksud?"


"'Hmm, anak yang asli dari orang tua angkatmu sudah di temukan." Jawab Azriel.


"Tuh kan, kau saja sudah tahu apa akhir dari orang yang di pungut dari panti asuhan sepertiku. Kau akan bertunangan dengannya, ya kan?" Karena tidak bisa menjaga raut wajahnya lagi dengan senyuman paksa, ia pun memperlihatkan ekspresi wajah aslinya.


Wajahnya yang benar-benar terlihat sedih, dan tidak bisa di perbaiki lagi, karena semua usaha yang ia miliki benar-benar akan menghilang bersama dengan resminya anak asli dari keluarga angkatnya, memperkenalkannya kepada seluruh orang di penjuru kota.


Everlyn akan masuk kedalam bayangan gelap yang tidak akan di ketahui siapapun, karena wajah antara dirinya dengan wajah dari anak asli dari orang tua angkat Everlyn benar-benar mirip.


"Aku benar-benar tidak ingin melihat itu terjadi di depan mataku lagi. Apa kau punya solusi? Aku lelah, menganggap diriku ini boneka yang bisa dipekerjakan sesuka hati mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya aku rasakan rasanya menyakitkan." Setelah mengatakan itu, Everlyn meletakkan kepalanya di depan dada bidang Azriel, ia hanya ingin bersandar sebentar, ya...sebentar saja.


"..........." Azriel terdiam dengan segala ucapan dari keluhan yang di miliki oleh Everlyn. "Aku tidak akan bertunangan dengannya."

__ADS_1


"Tapi kedua orang tuamu juga sudah menyetujui untuk berhubungan dengan orang tua angkatku, ya kan? Jadi sudah pasti kau akan di tunjuk untuk bertunangan dengan anak asli mereka. Jadi silahkan saja, aku juga tidak peduli lagi dengan soal pertunangan." Ucap Everlyn, ia sudah tidak menginginkan apapun lagi.


__ADS_2