Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
185 : Berhasil


__ADS_3

Dan setelah kejadian itu, Elly pun terus mendapatkan jatah yang cukup memuaskan dari Alves.


Tidak ada jeda yang lama untuk terus melakukannya, selain mandi dan makan, lalu melanjutkannya lagi dan lagi.


Sampai setengah bulan berlalu Alves yang sedang bekerja di dalam kantornya dan menjalani rapat rutin, tiba-tiba saja merasa mual.


"Huekk..!"


"T-tuan?" Tanya salah satu karyawannya, yang merasa asing dengan sikap Bos nya itu, apalagi tiba-tiba saja mual.


"Huekk...huekk..." Kening Alves pun langsung berkerut-kerut dengan situasinya itu. 'Kenapa aku merasa mual sekali?' Tidak tahan dan apalagi mendapatkan tatapan dari para bawahannya itu, Alves langsung menutup laptop nya, dan pergi dari sana dengan segera.


BRAK...


"Tuan Orson? Apa yang terjadi pada Tuan?"


"Yah, saya juga tidak tahu. Tapi seperti yang kalian lihat, karena sepertinya Bos dalam kondisi yang kurang baik, rapat di hentikan sampai pemberitahuan berikutnya. Sekarang cepat bubar." jawab Orson.


Mereka pun pergi dari sana, dengan wajah bingung mereka.


Karena Orson tidak tega melihat temannya itu mual-mual terus, Alves pun di bawa pergi ke rumah sakit atas perintah Orson, agar tidak terus berkelanjutan.


___________


"Ini, sudah berapa lama aku telat?" Elly yang sedang makan coklat itu, jadi kepikiran tentang itu.


Jadi dia pun pergi sendiri keluar rumah dan pulang dengan membawa alat testpack.


Karena dia awalnya tidak tahu bagaimana menggunakannya, dia pun sempat bertanya kepada si pemilik apotek tadi dan sesuai dengan saran, dia mencoba untuk melakukan tes di dalam kamar mandi.


Ya, karena kebetulan tadi memang belum mandi, dia jadi sekalian mandi.


Dan dari lima yang dia pakai, semuanya sama-sama menunjukkan garis dua?

__ADS_1


"A-apa? Hanya alat sekecil ini bisa jadi informasi sebesar ini?" gumam Elly dengan mulut sudah melongo. Dia memang terkejut karena baru pertama kali menggunakannya. "Dua, hebat ya. Hebat juga ya, terus di gempur setiap hari, sekarang jadi sudah ada hasilnya." gerutu Elly, dia terus saja memandangi tes kehamilan itu.


Karena masih merasa heran, penasaran, sekaligus terasa tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat, dia pun mencobanya dengan yang baru.


Dan hasilnya cukup menggelikan hatinya, sebab ada garis merah dua.


"Hahahaha..." Elly jadi tertawa cekikikan di dalam kamar mandi, gara-gara garis dua itu benar-benar karena hasil hubungan badan yang dia lakukan dengan Alves setiap hari. "Hahaha, aku jadi merasa ini lucu, hanya itu, jadi itu. Begitu sudah jadi, jadi begini. Padahal hanya berolahraga dengan rasa yang menyenangkan seperti itu. Tapi bisa ya..., aku ..aku , hahahah, aku masih heran dengan hal semacam ini.


Jadi inilah yang di geluti orang yang ingin punya anak. Hahaha, aku masih tidak percaya dengan cara seperti itu bisa menghasilkan seperti ini." Elly terus cekikikan di dalam kamar mandi, sampai tiba-tiba saja pintu kamar mandinya terbuka.


KLEK....


"Elly." panggil Alves dengan wajah pucatnya.


Elly yang sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan air hangat itu, lantas menoleh ke belakang, dan melihat wajah Alves yang begitu khawatir atau, entahlah, yang pasti bisa melihat Alves masuk dengan terburu-buru seperti itu, ia jadi punya kesan sendiri kalau Alves sedang di desak sesuatu yang belum Elly ketahui.


"Kenapa kau pulang? Bukannya ini masih pagi?" Tanya Elly.


Rambut hitam panjang yang menghiasi kepalanya itu basah sampai menutupi pinggangnya. Sambil menoleh ke arahnya dengan penampilan dari tubuhnya yang di guyur oleh air, wajah yang basah itu tiba-tiba menjadi kesan aneh pada diri Alves, kalau dia harus segera menangkap sosok dari wanita ini dengan segera.


"Kau kenapa? Tiba-tiba pulang, lalu menerobos ke sini sampai memelukku." Tanya Elly, sampai ia tidak sengaja jadi menjatuhkan tiga alat tes kehamilan itu ke lantai.


"Aku tidak tahan, aku ingin mencium aromamu ini. Rasanya lebih menyenangkan ketimbang parfum milikku." jawab Alves. Karena perbuatannya itu juga, tubuh Alves jadinya basah juga.


"Aromaku? Aku bahkan belum mandi, selain mengguyur tubuhku dengan air dulu." Elly pun jadi mencoba untuk mencium aroma tubuhnya sendiri. Akan tetapi dia sama sekali tidak merasakan aroma apapun.


"Iya, kau tidak akan merasakan apapun, karena aroma tubuh manusia itu sama seperti feromon untuk mengikat lawan jenisnya. Jadi walaupun kau tidak merasakan apapun, tapi sebenarnya tidak denganku. Rasamu cukup manis, sampai ingin aku makan. Tapi-" Melepaskan pelukannya, Alves memungut alat testpack itu dari lantai dan melihat adanya dua garis di sana. "Jadi apakah ini alasanku mual?" kernyit Alves.


"Bukannya yang mual seharusnya aku, kan aku yang hamil."


"Tapi kenyataannya akulah yang mual. Bahkan aroma bawang saja, rasanya sudah ingin muntah." Itulah yang sedang Alves rasakan, sehingga dia bahkan tidak bisa makan-makanan yang enak. "Tapi aku senang, kau ternyata sudah hamil."


'Tapi akulah yang akan susah.' Batin Elly. Sebenarnya dia belum begitu siap untuk menghadapi itu. Tapi karena sudah berada di titik ini, dia pun akan mencoba untuk menerimanya.

__ADS_1


___________


Dan 8 bulan itu juga, Elly yang ingin pergi tapi di larang ini dan itu.


"Alves, bangun!" Elly yang tidak sabar untuk menagih janji dengan pria beruang Grizzly untuk pergi keluar jalan-jalan, langsung menarik selimutnya sampai tidak ada satu sisa dari sisi selimut yang ada di atas kasur, karena sudah di buang oleh Elly.


"Ah, sebentar lagi." Alves yang baru saja tertidur gara-gara begadang, menuntut ingin di berikan waktu sedikit lagi untuk dirinya tidur, karena masih belum puas.


Elly yang geram sendiri melihat seorang pria enak asik tidur, bisa gulang dan guling sini, Elly yang sudah tidak tahan itu pun langsung naik ke atas tempat tidur dan menindih tubuh Alves, sehingga Alves pun langsung merasakan berat badan yang cukup mencuri perhatian kesadarannya untuk keluar dari rasa kantuknya.


"Alves, bangun, ini sudah pagi jam enam. Katanya mau mengajakku keluar, cepat bangun." Elly yang lebih kalem dari pada sebelumnya karena ia tidak mau terus saja emosian sebab akan mempengaruhi kehamilannya, terus memukul-mukul bahu Alves dengan tongsis nya. "Alves! Bangun! Ini sudah mulai siang, kalau kesiangan udaranya tidak sejuk."


"Kalau mau yang sejuk, di belakang rumah, kan ada hutan."


"Masa kau mau menyuruhku ke hutan?" Kernyit Elly, dia tidak suka melihat Alves yang terlihat santai itu. "Ih! Kebo! Bangun!"


"Iya, nih sudah bangun." Cuman membuka kelopak matanya lebar-lebar.


"Aku colok baru tahu." Elly mengancam kedua bola mata yang melotot lebar ke arahnya itu dengan tongsis. "Ayo bangun, aku ingin jalan-jal-" belum selesai bicara, Elly langsung diam dan menatap Alves dengan lekat.


"Kenapa diam?"


"T-tidak apa-apa." Elly menjawabnya dengan ragu-ragu, lalu dengan perlahan dia beranjak dari atas perutnya Alves. Namun, saat Elly sudah beranjak dari atas tubuhnya, Alves yang hendak bangun itu sempat melihat darah yang ada di atas perutnya persis.


"Elly!" Panggil Alves dengan nada yang yang cukup tegas.


"Apa? Kalau mau tidur- tidur lagi saja. Aku tidak jadi pergi kemana-mana." perubahan mood yang di alami oleh Elly yang begitu drastis itu pun sontak langsung memancing Alves untuk berekspresi khawatir.


Melihat Elly yang hendak pergi itu, Alves buru-buru mengejarnya dan langsung membopongnya pergi keluar dari kamar.


"Kenapa kau menggendongku?! Aku kan bisa jalan kaki sendiri." Dengan tongsis yang masih dia pegang, dia gunakan untuk memukul-mukul pipinya Alves agar segera menurunkannya.


"Kita pergi ke rumah sakit."

__ADS_1


"Kenapa pergi kesana? Aku kan baik-bai s-"


"Jangan mengatakan yang bisa membahayakanmu." Tekan Alves terhadap Elly. Lalu tanpa melihat wajah Elly yang sedang berpikir keras itu, Alves membawanya pergi dari rumah menuju ke rumah sakit.


__ADS_2