Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
167 : Gara-gara kucing


__ADS_3

"Apa yang sedang kau lakukan di depanku?" Tanya Elly, dia baru pertama kali melihat anak buah kakeknya Alves, jadi dia pun tidak tahu siapa pria ini. "Kalau saja kau tidak berhenti tepat waktu, aku tadi pasti sudah menindihmu." Kata Elly.


"Saya tadi berusaha untuk menangkap anda, tapi anda-"


Elly tersengih, "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku bisa mengatasi masalah sepele seperti tadi." kata Elly, karena dirinya berhasil menyelamatkan dirinya sendiri. "Tapi posisi kita ini lucu, aku jadi terlihat seperti melamarmu." tambahnya.


Wajah dari laki-laki ini pun langsung membeku, karena cara bicara dari Elly cukup terang-terangan. "I-"


"Padahal aku tadi sempat ingin memberimu kucing sebagai tanda perkenalan kita, tap-"


"Melamar apanya?" suara dari Alves seketika menghancurkan suasana diantara mereka berdua.


"Tuan muda?" Pria ini segera menurunkan kedua tangannya dan berbalik lalu memberikan salam hormat, sedangkan Elly dia buru-buru berdiri dan menepuk-nepuk tangannya karena tangannya sempat menyentuh rumput.


"Kau mau melamar dia ketimbang ak-" Alves dengan cepat segera menghentikan mulutnya yang mau bicara secara blak-blakan itu.


"Tidak, aku hanya mengatakan posisiku ini seperti mau melamarnya, tapi bukan berarti aku melamar dia. Kenal juga tidak." Tukas Elly.


"Tapi, kenapa kau tadi berlutut di depannya?" Tanya Alves sekali lagi, namun saat ini dia tengah berjalan menghampiri Elly, dan secara tidak sengaja dia melihat ada sebuah anak tangga yang terjatuh.


"Aku tadi hampir jatuh, dan dia juga mau menangkap aku karena aku jatuh, tapi karena aku bisa mendarat sendiri, posisi kita yang berakhir seperti tadi? Apa jangan-jangan kau bahkan cemburu dengan apa yang barusan terjadi?" Tanya Elly, dia pun memberikan tatapan penuh selidik.


Alves segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu menyeret Elly untuk pergi jauh-jauh dari bodyguard miliki kakeknya itu, karena takut tersaingi dengan anak itu.


"Hei kalian berdua, apa kalian mengabaikanku yang masih ada di sini?" Sela sang kakek.


"Kenapa kakek datang kesini lagi?" tanya Alves dengan penuh penekanan kepada satu orang itu.


"Kami hanya mengejar kucing Tuan besar yang sempat masuk kesini." jawabnya. "Dan kucing itu yang sudah Nona selamatkan tadi-" melirik ke arah Elly.


"Aku kira kucing tadi kucing liar. Pantas saja gemuk dan imut." Gumam Elly dengan mulut manyun.


"K-kucing?!" Mendengar kalimat kucing itu keluar dari mulutnya, Alves segera melepaskan cengkraman tangannya dari tangannya Elly. "Jadi kau tadi menyentuh kucing?" Tanya Alves langsung kepada Elly.


"Iya. Tadi Niatnya ingin aku kurung dan berikan ke toko hewan, tapi kucing aku selamatkan tadi keburu kabur."


Lalu respon Alves saat ini pun langsung memandang Elly dengan tatapan horornya. Bagaimana tidak jika kucing itu sebenarnya adalah hewan yang paling Alves tidak sukai, baik itu jati istrinya maupun si Alves sendiri, semua itu gara-gara dirinya punya alergi terhadap kucing.


"K-kau mandi sampai bersih, ja...hachumm!"


"T-Tuan muda?" pria ini kepada majikan mudanya itu.


"Jangan dek...hachumm! Hachum!" belum selesai bicara, Alves akhirnya jadi terus bersin, menandakan kalau tidak jauh dari sana memang ada seekor kucing. "Hachumm! Hachum! Sial, kalian semua! Cari kucing itu sampai dapat! Dan bersihkan rumahku sekarang juga!"


"B-Baik Tuan!" Teriak tiga orang yang tadinya berjaga di pintu gerbang. Mereka langsung pergi mencari kucing yang ada, dan termasuk anak buah dari sang kakek.

__ADS_1


"Haduh...., luarnya saja kelihatan sempurna, tapi dia benar-benar punya alergi kucing yang cukup parah." gerutu kakeknya Alves ini, dia sudah keluar dari mobilnya, tapi dia dengan sengaja tidak pergi menghampiri Alves, karena dirinya juga belum lama ini bermain dengan kucingnya yang sedang masuk kedalam rumah nya Alves.


Jadi untuk menghindari Alves jatuh semakin parah, dia jadinya tidak berani untuk mendekatinya selain membuat jarak.


"Kau tadi memegang tanganku yang kena kucing, lebih baik kau mandi juga, biar aku yang urus kucing itu." tutur Elly sambil membuat jarak dengan Alves juga, lalu dia pergi untuk mencari keberadaan dari kucingnya.


"Hchumm! Inilah yang tidak aku suka, alsan aku tidak mau tinggal di kota. Hachumm!" gumam Alves, hidungnya sudah memerah dan air matanya pun sudah menggenang di pelupuk matanya karena saking tidak tahan nya dirinya itu dalam menahan keinginannya untuk terus bersin. "Kakek sih, kenapa bisa-bisanya kucingnya kabur? Kan aku juga yang susah." Terus menggerutu tidak suka.


____________


Tiga puluh menit kemudian, mereka berlima akhirnya menemukan kucing itu, tapi paling nahasnya kucing itu sempat menyelinap masuk kedalam kamar.


"Kucingnya masuk kesana lagi. Aku akan pergi kesana, kalian ikuti aku di belakang." Perintah Elly.


Mereka berempat pun mengangguk. Karena kucingnya masuk kedalam kamar, Elly lah yang lebih dulu memimpin mereka berempat masuk kedalam kamar dengan menyelinap masuk juga. Karena Alves sedang mandi, mereka pun harus menangkapnya sebelum Alves keluar, itulah rencananya.


KLEK...


KLEK...


Pintu dan jendela tertutup rapat, empat orang itu berjaga di belakang sambil menunggu Elly sedang merayu kucing itu dengan dendeng sapi yang dia bawa.


"Pushh....kau tidak mau dendeng ini?" lirih Elly.


Tanpa mengeong, kucing itu mundur ke belakang, dan ke empat orang di belakang Elly pula perlahan maju juga, dengan jarak berpencar.


'Nona, bicara dengan kucing layaknya bicara manusia, memangnya ampuh?'


'Bicaranya seperti sedang bicara pada manusia, apa bisa merayu kucing itu?'


'Hah, mau menangkap satu kucing saja susah.'


'Tapi rasanya ini tidak akan berakhir dengan baik.'


Pikiran mereka satu per satu terus tertuju pada kucing abu dengan corak hitam itu. Dengan mata berwarna biru dan juga kuning, kucing itu pun benar-benar sangat menarik untuk di pandang.


Tapi karena sekalinya kabur susah di tangkap, itulah yang menjadi masalah untuk mereka. Kucing itu sudah beberapa kali kabur, dan ini untuk ke tiga kalinya kabur ke rumahnya Alves, padahal jarak antara kediaman utama dengan rumah besar yang Alves bangun di tempat lain ini jaraknya sampau puluhan kilometer, tapi kenyataannya kucing tersebut memang mampu untuk menempuh jarak tersebut dalam waktu beberapa jam saja.


"Dendeng, kau tidak mau ini? Atau ikan asin? Makanan kucing atau sosis?" deretan makanan itu pun di jejerkan di depan kucing itu dalam jarak kurang dari dua meter.


Elly sungguh-sungguh sudah punya niat untuk menangkapnya, maka dari itu Elly membawa makanan favorit kucing untuk kucing tersebut.


Tapi, begitu Elly sudah mampu untuk mendekati kucing itu, dan mau melompat untuk segera menangkap kucingnya, tiba-tiba saja pintu kamar mandi itu terbuka.


KLEK.....

__ADS_1


"HYAH.."


Meong!


Alves yang sedang mengeringkan rambutnya, langsung membelalakkan matanya dengan cukup lebar dengan kucing yang melompat ke arahnya dan di susul oleh Elly.


"E-..?!" belum sempat mengatakan apapun yang Alves ingin ucapkan, kucing tersebut langsung menerjang ke arahnya.


Meong!


'Tuan!' Teriak mereka berempat melihat kucingnya malah menerjang langsung ke arah sang Tuan muda.


Ya, kucing tersebut pun akhirnya mencakar handuk yang melingkar di pinggangnya Alves, tapi karena si kucing itu menyadari dengan ancaman dari Elly yang sedang melompat ke arahnya juga, kucing itu pun langsung menumpukan lompatan dari ke empat kakinya itu ke handuk yang di cakar itu dan langsung melompat naik ke bahunya Alves, dan akhirnya melompat ke atas pintu.


'Alamak!' Tapi di saat yang bersamaan pula, Elly yang tidak bisa menghentikan kedua kakinya untuk mengerem mendadak, sontak langsung menghampiri Alves itu dan...


BRUKK...


"T-tuan" Wajah dari ke empat anak buah Alves juga kakeknya, langsung melongo, bahkan termasuk Alves juga yang langsung diam membeku melihat kelakuan Elly yang berhasil membuatnya malu setengah mati, gara-gara handuk yang melingkar di pinggangnya Alves, langsung kena tarik oleh Elly.


"Adududuh, tanganku sakit, lututku juga." Gumam Elly, masih jatuh dalam posisi menungging, dan dimana handuknya juga sudah berhasil Elly rampas sepenuhnya.


"Elly- apa kau sebegitu tidak sabarnya ingin aku tiduri jadi langsung masuk kedalam kamarku?" Tanya Alves, wajahnya yang suram dengan tampangnya yang terlihat cukup dingin, langsung Elly lihat, begitu Elly mendongak ke atas.


BLUSSHH...


Wajah Elly pun sukses tersipu malu melihat tubuh Alves yang baru saja mandi itu benar-benar berhasil Elly telanjangi, dengan merampas handuk yang seharusnya menutupi area kakinya itu.


"Aku hanya ingin menangkap kucing, bukan menangkapmu." Sahut Elly dengan cepat.


"Tapi karena kau masuk kedalam kamarku, bukankah artinya kau mau menangkap milikku dengan dalih kucing?" ucapannya Elly sontak langsung menjadi bumerang untuk Elly sendiri.


"T-tid-" belum sempat Elly bicara dengan benar, Alves langsung menarik tangannya Elly dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Tapi sebelum pintunya tertutup, karena kemarahannya itu, Alves langsung mengambil kucing yang ada di atas pintu itu dan langsung melemparnya keluar kamar mandi.


Meong!


Salah satu dari mereka pun langsung berhasil menangkap kucingnya, dan sebelum mereka pergi, Alves segera memberikan titah kepada mereka. "Keluarkan itu dari rumahku, bersihkan seluruh area, dan jangan ganggu aku!"


BRAK...


"Alves! J-jangan! Kau kan alergi kucing, jadi aku harus mandi terpisah denganmu!"


"Selama ada air mengalir, semua kotoran juga langsung bersih dari tubuhmu, jangan membantah, lepas bajumu sekarang, dan tanggung jawab dengan tubuhku yang kotor lagi karena kucing itu." Jelas Alves.


ZRASSHHH.....

__ADS_1


Air dari shower pun langsung menghilangkan jejak dari suara mereka berdua yang sudah ada di dalam kamar mandi.


__ADS_2