Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
69 : PTRI : Elly ingin berguna


__ADS_3

Wanita yang tidak lain adalah Elly itu, sontak langsung menyadari Felix yang tiba-tiba saja berhenti berlari dan justru memilih untuk menatap ke arahnya. ‘Kenapa dia menatapku?’


“Felix! Kenapa kau berhenti di sana! Cepat ayo masuk!” Teriak Arshen, saat ia melihat Felix justru berhenti di tengah jalan, padahal hujan sudah mulai bertambah deras.


‘Katanya dia menghilang, tapi kenapa dia ada di sini?’ Pikir Felix, masih menatap Elly dengan tatapan tidak percaya.


_______________


“Oh, kebetulan sekali kau di luar, masuk, kita pulang.” Kata Alves yang masih berada di dalam mobilnya, karena tidak sengaja melihat Elly hendak masuk ke dalam lobi.


“Bukannya jam pulangnya masih lama?” Tanya Elly terheran, padahal biasanya Alves akan pulang tepat waktu, dan itu sekitar jam lima sore. 


“Apa kau tidak ingat apa yang pagi tadi aku dapatkan?” 


Elly melirik ke arah tubuh Alves, tepat di bagian dada. Dan ia baru kembali diingatkan bahwa bahwa di balik tubuh dengan setelan jas yang cukup rapi itu, Alves belum lama ini mendapatkan luka, dan itu membuat Elly jadi merasa bersalah.


Karena sudah kembali di ingatkan oleh Alves, Elly pun akhirnya masuk kedalam mobil. 


“Kau baru saja darimana?” Lirik Alves saat ia melihat sepasang kaki Elly sudah basah, termasuk ujung dari gaun yang dipakai oleh Elly sendiri. 


“Cuci mata,”


“Apa selama kau cuci mata, kau tidak pernah berpikir untuk membawa pulang bingkisan untukku?”


“Hmm…, itu sedikit susah.” Dengan memperlihatkan wajah berpikirnya. 


“Apanya yang susah? Aku ini selalu mempermudahkanmu dalam segala hal.” pungkas Alves.


“Tapi kan aku tidak tahu selera hadiahmu itu seperti apa, jika kau memberitahuku seleramu seperti apa, aku pasti akan membawakannya.” 

__ADS_1


Mendengar jawaban Elly, Alves jadi punya kesan sendiri bahwa Elly adalah orang yang sama sekali tidak tahu apa itu memberikan orang lain hadiah. 


“Aku pikir, kau memang benar, jika aku memberitahumu soal seleraku padamu, kau pasti akan menemukannya dengan mudah, tapi apa kau tidak pernah merasa kalau aku memberitahumu seperti itu, itu sama saja dengan perintah?”


“I-itu benar sih, tapi kan, jika aku tidak tahu selera orang yang akan aku berikan hadiah, 80% hadiah itu pasti akan ditolak. Dan ini juga ada kaitannya dengan hubungan dari aku dan orang yang aku beri hadiah. Jika orang ini adalah orang yang baik, penuh pengertian, memang, hadiahnya bisa diterima. 


Tapi bagaimana jika itu adalah orang yang bertolak belakang dengan harapan? Dari luar memang menerima hadiahku, tapi di belakangku pasti orang itu akan membuangnya. Bukannya itu sia-sia? 


Dan aku bukan orang yang akan membuat waktuku menjadi sia-sia dengan hal yang bahkan tidak di hargai. Itu menyebalkan, mending aku berikan kepada orang yang tidak aku kenal, sebagai hadiah sedekah, ketimbang harus memberikan kepada orang yang bahkan tidak menyukaiku.” Papar Elly. 


“Kau-” Sayangnya apa yang akan dikatakan oleh Alves, tidak bisa Alves katakan, karena apa yang dikatakan oleh Elly juga termasuk masuk akal. ‘Ternyata, dia perempuan yang begitu perhitungan.’


‘Ngomong-ngomong, dia mengatakan soal hadiah. Sebelum aku pergi tadi, aku diberitahu kalau besok Alves akan ulang tahun, aku jadi bingung apa yang harus aku berikan kepadanya. 


Dia sudah menyelamatkanku, tapi pada akhirnya, selama ini aku sama sekali belum bisa membalas kebaikannya.


Sambil memandangi kaca jendela mobil yang ada di samping kanannya persis, Elly benar-benar memiliki banyak pikiran yang tidak bisa bisa ia beritahukan kepada Alves, karena ia sama sekali tidak mau merepotkan pria di sampingnya itu. 


‘Padahal biasanya mereka yang ulang tahun, akan merayakannya, apakah dia sama sekali tidak akan merayakan ulang tahunnya?’ Lirik Elly, melihat wajah Alves yang begitu tenang saat mengendarai mobil. “Apa kau terluka?”


‘Hm? Kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu? Bukannya dia sudah tahu kalau aku hanya punya luka bakar karena siraman kopi tadi pagi?’ Benak hati Alves. Hanya saja, saat Alves menyadari sorotan mata Elly begitu terpaku pada ujung lengan kemeja hitamnya, Alves pun dibuat untuk bertanya : “Apa kau melihatnya?”


“Kan aku punya mata, jelas aku melihatnya” Senyum Elly, sampai senyuman simpul itu pudar dan tergantikan dengan senyuman tipis yang nampak seperti orang yang sudah mengetahui sesuatu hanya dalam sekali lihat. “Walaupun kau memakai kemeja berwarna hitam, tapi aku masih dapat melihat ujung dari lenganmu itu basah, bukan karena air. Apa kau baru saja menangkap tikus sampai kejar-kejaran?”


‘Kelihatannya aku memang tidak boleh meremehkannya. Hah~ Apa-apaan dengan dia ini, kenapa aku merasa dia bukanlah wanita biasa yang bukan sekedar punya pengalaman jadi pelayan?’ Tersenyum simpul dalam artian lain, Alves berkata : “Apa kau tahu laki-laki bernama Arya yang kau kalahkan beberapa hari yang lalu itu? Sebenarnya aku hampir saja menangkap dalang yang ada di balik tindakannya yang ingin mencuri flashdisk punyaku. Tapi sayangnya, dia berhasil lolos dari kejaranku, tentu saja di tengah-tengah itu aku sempat bertarung, tapi tetap saja gagal.”


“Bukannya aku sudah mengingatkanmu agar tidak melakukan hal itu lebih dulu, karena lukamu justru menjadi penghalangmu sendiri. Jangan sok karena kau punya tubuh beruang seperti itu, karena bagaimanapun, tubuh pasti punya batasan, apalagi jika sudah terluka. Itu bisa memperparah keadaan tubuhmu. Jika saja kau membawaku bersamamu, aku pasti bisa menyeret dia ke depan kakimu.”


“Ha? Apa kau sedang kesal karena aku tidak membawamu dalam pekerjaan sampinganku?” Ledek Alves, mendengar Elly yang terasa seperti orang yang sedang merajuk kepadanya. 

__ADS_1


“Ya iya lah, kau pikir aku ini gunanya untuk apa? Aku bukan sekedar orang yang bisa melayanimu dalam hal ini dan itu saja, tapi juga bisa jadi anak buahmu yang berguna.” Jawab Elly dengan penuh semangat. 


Tapi berbeda dari harapan kalau Alves akan terlihat senang dengan keahlian lain yang Elly miliki, Elly justru melihat Alves seperti orang yang marah?


‘Kenapa dia berekspresi seperti itu? Apa aku salah bicara?’ Detik hati Elly. 


“Elly, kenapa kau mengatakan hal itu, seakan kau membanggakan pekerjaanmu yang sekedar pelayanku saja?” Begitu Alves bertanya demikian, Elly terdiam sejenak.


“Memangnya tidak boleh? Bisa bekerja di bawah majikan baik hati dan tampan sepertimu, bagiku itu adalah sesuatu yang cukup menyenangkan.” Jawab Elly. 


‘Dia cukup blak-blakan soal perasan, apalagi mengatakan kalau aku tampan. Ya, aku akui kalau aku tampan, tapi ini untuk pertama kalinya, dia jadi terlihat seperti gadis biasa, seperti orang yang sedang mengutarakan perasaan cintanya.’ Alves terdiam, dan kembali menatap ke arah depan. ‘Cinta ya? Sepertinya agar dia jadi punya perasaan cinta untukku, aku sendirilah yang harus berjuang untuk mendapatkannya.’ Hanya sekedar berpikir seperti itu, Alves dalam diam jadi tersenyum sendiri. 


Padahal selama ini banyak wanita yang justru mengejarnya. Akan tetapi posisinya saat ini, Alves lah yang harus mengejar Elly. Karena jika tidak seperti itu, rasa hampa yang sudah Alves rasakan lebih dari lima belas tahun itu akan Alves rasakan lagi, dan Alves sendiri, ia sama sekali tidak mau mendapatkan perasaan hampa yang hanya diisi dengan pekerjaannya saja. 


Elly sedikit menunduk dan untuk beberapa waktu ia tersenyum lemah sambil memainkan jari-jarinya yang sudah keriput karena sempat bermain air hujan dalam waktu yang lama. “Aku, hanya beruntung, meskipun kau punya jabatan tinggi seperti ini, kau mau berbaur dengan orang sepertiku. Mungkin karena di kehidupan laluku aku sudah terbiasa untuk di manfaatkan, aku jadi tanpa sadar seperti merasa bangga jika aku bisa berguna untukmu. Bukankah hidup sebagai manusia itu digunakan untuk saling memanfaatkan dan dimanfaatkan, meskipun itu cinta sekalipun?”


Sampai semua apa yang dikatakan oleh Elly kepadanya, jadi membuat Alves tidak bisa berkata-kata lagi. 


Apapun, yang keluar dari mulut Elly, bagi Alves selalu saja membuat kemenangan telak dalam hal berdebat. 


‘Elly, jadi itu nilai dari hidupmu selama ini?’ Batin Alves. Sampai tanpa sadar, Alves mengangkat tangan kanannya dan menaruh tangannya itu di atas kepala Elly. 


“A-apa?” Terkejut Elly saat kepalanya tiba-tiba saja di elus. 


“Apakah butuh alasan, untuk mengelus kepalamu?” Senyum Alves. 


DEG.


‘K-kenapa? Kenapa jantungku tiba-tiba jadi berdegup kencang? Pasti ini ulah tubuh ini yang suka dengan orang ini kan?’ Pikir Elly, sambil  mencoba menahan degupan jantungnya yang berdetak begitu cepat. 

__ADS_1


__ADS_2