Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
60 : PTRI : Kepikiran Elly


__ADS_3

"Selamat datang Tuan." Sapa salah satu karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Alves yang baru saja masuk kedalam gedung.


Satu persatu mereka membungkukkan tubuhnya ke arah Alves serta Elly yang terus berjalan mengekorinya dan melewati mereka semua.


'Bagaimana bisa?' kernyit Alves sambil berjalan dengan langkah yang lebar dan cepat, menuntut agar ia bisa langsung masuk kedalam lift dari pada mendengar sapaan mereka semua yang terasa membosankan.


"Tuan, selamat datang."


"Selamat pagi Tuan."


Mereka saling memberikan hormat mereka kepada Bos mereka yang baru saja datang itu.


Senyuman, sapaan dari salam membungkuk, suara yang terdengar ramah, serta segala macam aroma parfum yang mengisi seluruh sisi lobi, Alves sebenarnya sudah cukup muak dengan itu.


Setiap pagi melakukan rutinitas yang sama, sama, dan tidak ada jeda perbedaan yang cukup signifikan.


'Bagaimana bisa dia menyebut dirinya sebagai boneka?' Pikir Alves dengan wajah yang cukup dingin.


Wajah kesal dengan aura suram yang terlihat dari diri Alves langsung menenai semua karyawan yang dia lewati.


"Pagi-pagi Tuan kelihatannya sedang dalam mood yang buruk."


"Yah~ Mungkin saja karena wanita yang ada di belakang Tuan itu, penyebab mood Tuan jadi buruk."


Satu persatu tentu saja ada banyak orang yang menyadari dengan mood milik Tuan mereka yang sedang dalam kondisi tidak begitu baik.


"Semoga saja mood Tuan tidak membuat pekerjaan kita kena Imbas juga."


"Ya, semoga saja."


Ucap mereka semua. Bisikan demi bisikan mengenai pemandangan dari Tuan mereka yang sedang bad mood membuat Elly mendengar semuanya.


'Kenapa Alves terlihat marah seperti itu?' Pikir Elly.


Dia tidak tahu bahwa cerita yang Elly ceritakan kepada Alves, membuat mood Alves begitu buruk.


'Apa aku mengatakan hal yang salah? Apakah karena aku menyebut soal aku yang di perlakukan seperti boneka?' Ketika Elly hendak ikut masuk kedalam Lift yang sama dengan yang di gunakan oleh Alves, Alves tiba-tiba saja menghentikannya dengan berhenti tepat di depan pintu lift.


"Elly, aku ada satu perintah untukmu." Ucap Alves, masih belum memunggungi Elly.


"Katakan saja,"


"Belikan kopi yang ada di sebrang jalan persis. Pilih tiga rasa yang kau suka, dan ini uangnya." Alves memberikan uang tanpa melihat wajah Elly meskipun itu sekilas. "Jika sudah beli, bawa itu ke kantorku."


Elly menerima uang pemberian Alves, dan Alves langsung pergi masuk kedalam lift khusus.


"Baik, akan aku belikan." Sahut Elly. Tapi semua itu tidak terdengar oleh Alves sendiri karena pintu lift nya keburu tertutup dan membawa Alves naik ke lantai paling atas.


____________________


Di dalam lift.

__ADS_1


BUKH.....


Satu pukulan yang cukup keras mendarat di dinding kaca dari lift yang Alves pakai itu.


Satu perasaan aneh kembali muncul di benaknya.


'Aneh, kenapa rasanya jadi menyakitkan seperti ini? Tubuhnya milik Raelyn, tapi kenyataannya Raelyn sudah tidak ada lagi, dan di gantikan dengan jiwa milik orang lain. Tapi kenapa saat dia mengatakan kalau dia adalah boneka yang di gunakan untuk semua orang, membuatku merasa sesak juga marah?


Sebenarnya aku bersimpati pada tubuh yang jiwanya sudah tidak ada, tapi di gunakan sesuka harti oleh jiwa lain itu, atau karena aku bersimpati dengan jiwa yang merasukinya?


Atau, karena kedua-duanya memiliki takdir nya sama?' Dengan memikirkannya saja Alves sudah merasa kesal sendiri.


Dia kesal karena dia sudah mengetahui fakta lain, bahwa tubuh yang di gunakan oleh Elly, yaitu Raelyn sendiri adalah wanita yang di perlakukan buruk sebagai pembantu, dan yang lainnya lagi kalau jiwa yang menggunakan tubuh Raelyn adalah jiwa yang sama-sama bekerja untuk menjadi seorang pembantu juga yang merujuk pada kata 'boneka'.


Itulah, kenapa Alves jadi kesal, karena dia akhirnya tahu alasan kenapa Elly begitu bersikukuh ingin menjadi pelayan nya.


Selain karena Alves memiliki kekayaan yang bisa membuatnya dalam kenyamanan, Elly adalah orang yang menganggap kalau Alves adalah orang yang membutuhkan bantuannya, sebab,


'Dia orang yang serba bisa?' Alves memejamkan matanya.


TING...


Lift yang di naiki oleh Alves pun sampai juga di tempat tujuan, dan secara otomatis pintu lift terbuka.


"Bos, kenapa wajah anda terlihat buruk seperti itu?" Satu salam sapaan dari Orson sungguh menarik perhatian Alves untuk menatapnya balik.


Tapi tanpa memperdulikan apa yang di katakan oleh Orson kepadanya, Alves langsung keluar dari lift dan menyela ucapannya Orson.


Tapi sayangnya saat ini dia tiba-tiba saja di pojokkan dengan sosok Bos nya yang berdiri di depannya persis, seperti seorang mafia yang sedang mengancam nya.


"I-iya? Apa anda perlu sesuatu?" Tanya Orson dengan gugup. 'Kenapa Bos tiba-tiba memandangku seperti itu?' Orson tanpa sadar jadi khawatir kalau dirinya telah melakukan kesalahan, dan majikan nya ini hendak memberikannya hukuman.


"Ya, aku memerlukan sesuatu." Tekan Alves degan wajah masih memandang Orson dengan tatapan yang serius.


___________________


20 menit kemudian.


Di tengah-tengah Alves rapat, dia sama sekali tidak bisa fokus dengan pikirannya yang sedang memikirkan hal lain.


'Tunggu, kenapa akhir-akhir ini aku seringkali tidak bisa fokus dengan pekerjaanku? Jelas saja, Orson memandangku dengan ekspresi terheran karena aku sendiri juga sadar, kalau aku perlahan berubah.


Ya, itu karena, Elly~' Alves memandang pemandangan dari tempat dia duduk.


"Tuan? Apa ada yang salah dengan laporan milik saya?" Tanya salah satu karyawan Alves, sehingga pertanyaan itu pun berhasil menarik segala pikiran milik Alves.


Deretan orang yang duduk di depan meja rapat, sama-sama menatap ke arahnya.


Jelas, di mata mereka pun tetap merasakan kesan yang sama dengan apa yang di pikirkan Orson terhadapnya, maka dari itu Alves pun sudah tidak begitu terganggu.


"Tidak ada." Jawab Alves singkat. Lagi-lagi pikirannya jadi terbagi karena Elly sama sekali belum kembali.

__ADS_1


Itu jelas, karena jawaban dari Orson yang tetap berada di meja kerja nya yang ada di depan kantornya persis, menjawab kalau Elly belum datang.


'Kenapa aku cemas seperti ini? Apa karena gara-gara dia adalah jiwa dari dimensi lain? Aku bahkan menemui kalau ada beberapa hal yang tidak Elly ketahui, seperti orang yang berasal dari desa saja. Ini menggangguku, jika aku tidak melihatnya langsung dia sedang apa dan di mana karena lama tidak naik-naik, aku akan terus kepikiran.' Kesal pada dirinya sendiri, gara-gara pikirannya tidak bisa fokus di tengah rapat seperti ini, Alves yang kebetulan sedang memegang pulpen, tiba-tiba saja patah.


"........!" Sontak saja semua orang yang ada di sana langsung terkejut dengan pulpen yang di pegang itu, langsung patah begitu mudahnya.


'Apa hari ini pun ada hukuman juga?' Pikir salah satu orang di antara mereka.


'Apa yang membuat Tuan jadi bad mood seperti itu?'


'Wajah Tuan seperti gangster saja, aku jadi takut.'


"A-"


"A-ampuni kami Tuan, jika ada salah mohon beritahu kami, kami akan segera memperbaikinya."


"Iya Tuan, saya mohon, kali ini kami akan bekerja lebih baik lagi, jadi jangan pangkas gaji kami."


"Benar Tuan, kami mohon."


Satu huruf yang belum terucap dengan suaranya, langsung membuat mereka semua angkat bicara untuk memohon kepadanya?


Wajah takut pun tersirat di wajah mereka semua, yang ingin mendapatkan belas kasih darinya, karena Alves baru saja marah?


'Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Apa mereka mengira kalau aku sedang marah?' Ketika Alves melirik ke arah tangan kirinya, dia baru sadar kalau pulpen yang dia pegang ternyata sudah patah. "Hahh~"


'Tuan menghela nafas lagi.'


'Kenapa Tuan lebih sering menghela nafas ya?'


Pikir mereka lagi, karena melihat Tuan mereka kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya.


"Apakah wajahku terlihat seperti orang yang sedang marah?" Tanya Alves secara tiba-tiba dengan kepala sedikit di miringkan ke arah kiri.


Mereka semua langsung bereaksi dengan wajah gugup.


"A-anda memang terlihat seperti sedang marah."


"Begitu ya?" Dengan mulut yang kembali terdiam dan tatapan mata yang sayu, tangan kanannya menyentuh wajahnya dan bercermin di depan laptop nya sendiri. "Jika mau kalian ingin memperbaiki laporan kalian, maka aku tunggu sampai tiga hari kedepan. Hari ini rapat selesai, dan dua hari besok kantor libur."


Setelah mengatakan itu, Alves langsung menutup laptop nya, menyimpan kembali pulpen miliknya dan membawa laptop miliknya keluar dari ruang rapat begitu saja.


KLEK.


"Dengar itu?" Satu orang wanita mulai berbisik di sana.


"Iya, Tuan tiba-tiba meliburkan kita selama dua hari! Itu lumayan!"


Mereka semua mengangguk setuju, akhirnya mereka bisa beristirahat sejenak sambil membetulkan laporan mereka agar bisa memuaskan Bos nya itu.


Meskipun bagi Alves, tidak ada satu pun laporan para anak buah nya yang perlu di perbaiki.

__ADS_1


__ADS_2