Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
125 : Kejahilan Elly


__ADS_3

"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di sini?" Tanya Alves, matanya begitu sakit melihat adalah laki-laki lain di samping Elly.


Dan ketika melihat Elly, Alves melihat senyuman kemenangan terlukis dengan jelas di wajah yang sudah dipenuhi dengan peluh.


"Saya-"


"Aku bukan menanyaimu, tapi menanyaimu." Alves memotong ucapannya Elly, karena dia ingin mendengar apa yang bisa di jawab oleh Rafa kepadanya.


"Saya hanya membantu Nona untuk mengurus soal Bom yang hampir meledak."


"Terus?" Alves sebenarnya sedang tidak ingin mendengarkan Rafa, karena sudut matanya terus saja tertuju pada Elly yang sedang menyeka keringatnya. 'Kenapa dia bawa alat pemukul baseball?'


"Karena Bom nya berbeda dari yang lain, Nona menyuruh saya melemparnya, dan Nona yang memukul bom itu ke danau."


Mendengar sedikit penjelasan dari Rafa, Alves langsung melotot ke arah Elly, karena dia tahu kalau Elly lah yang pastinya merencanakan dua rencana gila itu.


"Bom? Di pukul?! Apa kalian berdua gila?! Jika bom itu meledak saat kau memukulnya bagaimana?! Kalian kalau bekerja mikir lah sedikit!" Benak Alves, tepatnya sebenarnya ke arah Elly saja, karena dia khawatir, tapi karena di sampingnya persis ada Rafa, maka secara tidak langsung kemarahan itu sendiri juga tertuju ke arahnya juga.


"Tapi ini kan keadaan darurat Tuan, kami berdua tidak tahu bagaimana untuk menjinakkan Bom, dan cara efektifnya dengan membuangnya ke danau." Rafa tanpa sadar jadi membela Elly, sampai Elly sendiri sedikit terkejut, padahal tampang dari Rafa sesaat tadi terlihat begitu ketakutan karena tatapan dan bentakan Alves yang begitu mengintimidasinya, tapi apa ini?


Alves yang tersulut emosi, sebab khawatir dengan Elly soal Bom yang di pukul, tapi Rafa justru tiba-tiba membelanya, membuat Alves membalas ucapannya saat itu juga. "Kalau tidak bisa, kan bisa hubungi aku? Aku bisa menjin-"


"Maaf menyela, tapi saya tidak punya handphone, nomor saja tidak tahu, jadi bagaimana saya menghubungi anda yang ada di ujung lapangan?"


DEG...


'Aku lupa.' Gengsi menyadari kesalahannya sendiri, Alves terus membuat alasan. "Kalau kau tidak tahu, kau seharusnya tahu apa yang harus kau lakukan kan?" Alves malah jadi menunjuk Rafa, seakan Rafa adalah orang yang bersalah juga. "Luciana, dia tahu nomorku, seharusnya jika ta-"

__ADS_1


"Sebentar, memangnya anda pernah mengatakan anda bisa menjinakkan Bom?" sela Elly, memecah segala logika yang ingin Alves buat, agar mereka berdua tetap bersalah. 'Sebenarnya ada apa dengan anak ini? Jelas karena aku belum gajian, aku belum sempat beli handphone, selain itu dia terus saja membuat seolah kami berdua bersalah, bukannya ini anak tidak tahu di untung sekali ya?' Pikir Elly di balik tatapan penuh menyelidik.


"Apa kau mau menyalahkan ku?" Tatap Alves kepada Elly sebagai balasan. Mereka berdua pun saling berkomunikasi lewat tatapan mata mereka dan gerak gerik alis atau raut wajah mereka sendiri sebagai ucapan yang ingin di sampaikan kepada lawan bicaranya itu.


"Tentu saja, kau tidak tahu di untung sekali, aku sudah mau menyelamatkan resortmu, tapi kau- bukannya berterima kasih, tapi malah menyalahkan kami berdua." balas Elly, dengan mata menyipit dan kedua alisnya hampir menyatu persis.


"Tapi aku di sini kan bicara untuk memperingatkanmu saja." kata Alves, tatapan matanya pun semakin dingin.


"Memperingatkan apa? Kau justru terlihat sedang memarahiku, tidak, bukan aku saja tapi dengan dia." Salah satu alis Alves terangkat, dia tidak terima kalau ucapan ngawur Alves tadi menyatakan untuk memberikannya peringatan, padahal jelas-jelas sedang memarahinya.


"Ha? Apa kau sekarang sedang membelanya? Apa sebenarnya hubungan kalian berdua? Jawab!"


"Kenapa aku harus menjawabnya? Dia itu kakakku, kakak baruku." balas Elly, dia pun lantas merangkul Rafa yang sedang kebingungan karena raut wajah Alves dan Elly terus berubah-ubah, padahal dari beberapa puluh detik tadi, tidak ada pembicaraan diantara mereka semua.


"Elly!" Tingkat kecemburuan dan emosi yang sudah tinggi, Alves pun berjalan menghampiri Elly yang berani merangkul pria lain di dapan matanya.


"A-apa?" Elly berpura-pura ketakutan, sehingga dia pun meminjam tubuh Rafa sebagai tameng. Maka dari itu, ketika Alves ada di depan nya Rafa persis, Elly pun berjalan dan bersembunyi di belakang punggung lebar Rafa.


Karena tidak akan ada habisnya jika terus ke sana ke sini, Elly tidak bisa di tangkap-tangkap, Alves pun berhenti, dan berkata : "Apa kau sedang menantangku?"


"M-menantang bagaimana Tuan? Nona Elly yang terus menerus berlari di belakang saya, menghindari Tuan." Jelas Rafa dengan senyuman tawar. Dia agak bergidik ngeri melihat ekspresi Alves yang sudah bengis.


"Karena kau bahkan tidak menghentikannya, kau sama saja dengan membelanya!" Marah Alves.


'Emosinya itu! Kenapa dia kekanakan sekali! Padahal aku hanya sebatas pelayannya, saja, tapi dia ini benar-benar, membuatku frustasi juga!' Elly memijit pangkal hidungnya, padahal hanya ingin bercanda dengan Alves, tapi ujung-ujungnya Alves jadi marah-marah.


"Elly, kesini atau tidak. Jika tidak mau, aku tidak akan memberimu gaji minggu ini."

__ADS_1


Seketika, kepala Elly langsung nongol di balik bahu Rafa.


Rafa yang merasa aneh sendiri, refleks kepalanya menoleh ke arah kirinya.


"Kau jangan menoleh." Tunjuk Alves tepat ke wajah Rafa. Karena ketika menoleh, maka Rafa akan melihat sisi wajah cantik Elly yang tidak bisa Alves biarkan di pandang Rafa dengan jarak sedekat itu.


"I-Iya." Rafa spontan langsung menghadap ke depan.


"Menoleh." Tapi Elly memaksa kepala Rafa untuk menoleh ke arah kiri, sehingga wajah mereka berdua pun benar-benar sangat dekat sekali, hingga dua nafas yang akhirnya menyatu, sedikit lagi menyatukan bibir mereka berdua.


'Dekat sekali.' Detik hati Rafa, merasakan nafas milik Elly, serta wajah yang begitu sangat dekat dengan matanya.


"Wajahmu tidak kalah tampan dengannya, aku harap kau jadi kakakku, apa kau mau?" ucap Elly, memberikan pujian serta tawaran.


'Wanita ini, kelihatannya memang ingin aku hukum.' Alves yang sudah kehilangan kesabarannya, karena tujuannya itu ingin menangkap Elly, Alves pun langsung berjalan cepat ke arah mereka berdua.


Elly, melihat reaksi Alves yang sudah sepenuhnya marah kepadanya, karena tidak ingin di seret oleh pria itu, Elly tiba-tiba saja langsung menendang pan*at Rafa dan membuat Rafa terdorong ke depan dan akhirnya menerjang Alves, sehingga di detik-detik itulah, Rafa berhasil menjatuhkan tubuh Alves.


BRUKK...


Dan di saat yang sama pula, pintu ruftoop tiba-tiba saja terbuka dan Luciana keluar, "Tuan muda, kami sudah menangkap tersangka dari kasus ini, jadi saya ingin berta-" Mulut Luciana seketika langsung mengatup ketika matanya justru melihat sesuatu yang cukup langka. "Rafa, Tuan? Apa yang sedang kalian berdua lakukan? Dengan posisi seperti itu?"


Dalam sepersekian detik itu juga, wajah Alves dan Rafa jadi sama-sama suram, gara-gara Rafa sekarang terlihat sedang menyerang Alves dalam artian seolah memiliki hubungan layaknya gay.


'Hahahaha, aku ingin sekali bisa tertawa. Hahahah, tapi aku harus tahan, harus.' Tapi sayang sekali, usaha Elly dalam menahan tawanya tidak berhasil, dan akhirnya Elly pun tertawa ketika melihat pose Rafa yang sedang menindih tubuh Alves layaknya akan melakukan sesuatu seperti yang di lakukan sepasang kekasih di tempat sepi. "Pfft..."


"Elly!"

__ADS_1


"Nona!"


Teriak Alves dan Rafa secara bersamaan, saking kesalnya karena gara-gara satu wanita saja, berhasil membuat harga diri mereka berdua sebagai pria jadi jatuh di depan wanita.


__ADS_2