Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
168 : Gara-gara kucing 2


__ADS_3

Gara-gara kucing, rumah Alves pun jadi langsung ramai untuk melakukan pembersihan secara menyeluruh, dan segera memfilter udara yang ada di dalam rumah.


"Apa yang sedang dia lakukan sekarang?" Tanya kakeknya Alves sambil memasukkan kucing yang berhasil di tangkap itu kedalam kandangnya lagi.


Meong~


"Tuan sedang memberikan hukuman pada Nona, Tuan. Karena tadi ada kejadian tidak terduga."


"Kejadian macam apa?""


"Karena Nona mau menangkap kucing, justru Nona malah tanpa sengaja menerjang Tuan muda yang baru saja mandi itu sampai handuk yang di pakainya terlepas gara-gara Nona yang terjatuh."


"Hahaha..., semenjak ada wanita itu, Alves perlahan jadi lebih aktif mengekspresikan dirinya." tuturnya sambil tertawa. "Karena kucingnya sudah di tangkap, kita pulang. Biarkan mereka berdua menghabiskan waktu bersama." Perintahnya.


"Baik Tuan."


____________


"Apa ini yang namanya mandi?" Tanya Elly sambil menundukkan kepalanya itu ke bawah.


"Kalau bukan mandi, lalu apa lagi?" Tanya Alves balik.


"Tapi tanganmu itu sedang ngapain di sana?"


"Membersihkan semua area yang kemungkinan banyak kotorannya." jawab Alves lagi, sambil memejamkan matanya dan kedua tangannya pun tengah bekerja dengan cukup baik untuk membersihkan sesuatu yang harus dia bersihkan.


"Apa kau menganggap aku ini sampah, kenapa kau mengatakan banyak kotorannya?" Tanya Elly lagi sambil mencengkram kedua lengan Alves yang dia selipkan dan melingkar dari bawah lengan Alves.


Sebuah gejolak yang tidak bisa dia tahan selamanya itu, sedang meraung untuk membuat mulutnya mengeluarkan suara indah bagai sedang melakukan paduan suara yang bisa menstimulasi pria yang ada di belakangnya.


"Bukan seperti itu juga, Elly." Jawab Alves lagi. "Ngomong-ngomong kelihatannya sudah hampir bersih ya?" Tanya Alves, sedang membersihkan rumah pribadi milik Elly yang ada di bawah sana.


Dengan rona pipi di kedua telinganya, Elly pun menahan de*sahn nya itu dengan mencengkram lengan Alves lebih kuat.


"Memangnya kenapa?"


"Begitu kau sudah selesai, aku akan mulai." bisiknya, lalu dia menggigit daun telinga kanannya Elly.


"Ah~"


"Kan, aku suka mendengar suaramu ini, berikan aku lagi." goda Alves, meminta Elly untuk kembali me*ndesah.


"Angh..ah~ K-kau masu terlalu dalam."


"Walaupun kau mengatakan terlalu dalam, bahkan sebenarnya ini masih ada sisa ruang yang bisa aku isi. Tapi karena jariku sudah sampai batasnya, ya mau gimana lagi? Sini, biarkan aku membersihkannya sampai bersih."


'Dia ternyata lebih sinting, kenapa jadi c*u*l seperti ini?' pikir Elly, dia langsung mengernyitkan matanya, merem melek lalu menggigit bibir bagian bawahnya.


Dia masih bisa menahannya, tapi tubuhnya jelas tidak mampu untuk menahan gejolak itu untuk tidak keluar.


"A-alves, dadamu jadi tergesk, itu pasti sakit."


"Aku masih bisa menahannya, yang penting itu kau." jawab Alves, dia tidak peduli dengan luka bakar di dadanya, karena memang sudah lebih membaik, sekalipun masih menyisakan ada rasa sakit, karena ada sedikit kulitnya yang melepuh dan mengelupas.


"Itu- tidak baik, hentikan ini." Pinta Elly.


"Tidak, ini masih belum." sahutnya lagi.


Dan semakin Alves bermain di dalam rumahnya Elly, semakin Elly tidak dapat menahan gelora itu sendiri sampai akhirnya tanpa sebuah erangan, dia berhasil mengeluarkan gejolak di dalam tubuhnya.


"Ini benar-benar hampir bersih, yah, sudah seharusnya sih. Karena ini sudah hampir setengah minggu, dan jadwalmu datang bulan juga memang teratur."


"Kau memang pria me*sum." Lirih Elly, masih tidak mampu untuk menahan kekuatan untuk terus menjepit jari Alves dengan pintu rumahnya, seakan ingin membuat jari jemari Alves patah di sana.


"Kau sangat berusaha ya? Lihat ini, sudah tidak ada sisa darahmu lagi, besok akan aku cek lago."


"Kau itu bukan dokter, jangan sembarangan melakukan ini lagi, ini masih belum selesai."

__ADS_1


"Tidak, kau paling lama itu butuh seminggu, tapi paling cepat empat sampai lima hari. Jadi aku yakin dengan tafsiran milikku kalau dua hari setelah kau selesai, bulan depan perutmu pasti berhasil di isi dengan kecebongku."


"Kau ini- kenapa selalu saja membuat kata-kata seperti itu. Kalau wanita lain aku pasti ingin menghajarmu sekarang juga." jawab Elly seraya menatap wajah Alves yang tampak begitu senang, saat mendengar kata di hajar.


"Selama kau punya kekuatan untuk menghajarku, aku pasti akan menerimanya, tapi jangan salahkan aku juga jika aku akan membalasnya dengan caraku sendiri yang lebih agresif." Papar Alves, ia pun melepaskan semua cengkraman tangannya baik dari dalam rumah pribadinya Elly, maupun dari salah satu aset yang sempat Alves mainkan. "Ini cukup lumayan, untuk memperbaiki mood milikku gara-gara kucing sialan itu." imbuh Alves, dan tanpa di duga, jari yang sempat digunakan untuk membersihkan rumahnya Elly, malah di jilat.


'Gara-gara kucing itu, ya...gara-gara kucing itu aku jadi harus menghadapi Alves dengan cara seperti ini. Aku harap dia terus di penjara di dalam sangkarnya. Karena dia aku jadi kerepotan.' kutuk Elly.


Dan di tempat lain, kucing itu pun benar-benar di kurung di rumah kucing yang di buat khusus dengan ukuran tiga kali dua meter.


"Kau diam saja di sana selama satu bulan, renungkanlah perbuatanmu karena kau sudah membuat alergi cucuku kambuh." ucap kakeknya Alves, dan dia benar-benar berhasil membuat kucing tersebut di kurung di dalam sangkarnya sendiri.


Meong~


Kucing itu membuat wajah memelas, tapi dengan cuek kucing itu pun berhasil di tinggal pergi oleh sang majikan.


Meong~ Meong~ Meong~


Kucingnya terus mengeong ingin keluar dari sana, tapi, sebuah hujan dengan kilatan yang begitu besar dan menggelegar, sukses membuat kucing itu segera pergi dan berlari masuk kedalam rumah-rumahan yang ada di dalam ruangan tersebut.


JDERR...


Meong~


_____________


"Tuan, kami sudah menyelesaikan tugas kami." Ucap para pekerja yang di datangkan langsung untuk membersihkan rumahnya yang ternodai oleh seekor kucing.


Alves yang baru saja keluar dari kamar, segera melihat ke sekelilingnya. Dirasa pekerjaannya berhasil di kerjakan dengan baik, Alves memberikan kode sebuah gerakan tangan untuk membuat mereka semua pergi dari rumahnya.


"Kami permisi." Lalu mereka semua pun pergi dari sana.


KLEK....


Tepat di kepergian mereka semua, di saat yang sama juga Elly keluar dari kamarnya Alves.


"Kan kau sendiri yang memilih untuk jadi pelayanku, jadi yang salah kan kau sendiri. Lagi pula, aku hanya memperkerjakan mereka satu bulan sekali." jawabnya, lalu dia menoleh ke belakang dan melihat Elly yang masih memakai handuk kimono miliknya.


Dengan tatapan bangga, Alves tersenyum melihat ada beberapa tanda yang berhasil mendarat di permukaan tubuh Elly.


"Apa aku baru saja melewatkan sesuatu?" Tanya Orson, baru saja datang. Dia datang sambil membawa handphone lipat yang sudah di jadikan seperti sebuah tab.


"Tidak ada." jawab Elly, dia turun dari lantai dua menggunakan anak tangga dan segera masuk kedalam kamar.


"Apa yang terjadi dengannya? Dan- ******, kau baru saja menyiksanya?"


"Siapa yang menyiksanya, aku hanya memberikan dia beberapa hukuman yang bagus." jawab Alves, dia turun dari lantai dua dan menghampiri Orson, yang masih saja menatap ke arah pintu kamar yang di gunakan oleh Elly.


"'Apa kau sudah berhasil menginterogasi tiga orang itu?" Tanya Alves.


"Ya, aku sudah mendapatkan kejelasan dari dua orang yang akhirnya ingin bekerja sama denganmu. Satu orang bernama Liam yang waktu itu menerobos masuk ke rumahmu, dia akan jadi desainer perhiasan, menggantikanmu. Dia termasuk orang yang bisa menduplikat apapun yang dia lihat dengan sangat baik, mungkin sebab itu dia mau mencuri perhiasan darimu untuk dia duplikat dan menjualnya di pelelangan. Satu orang lagi, soal bom dia bisa di urus, dia suka dengan teknologi, membuat bom jenis baru dan menjadikan resort punyamu untuk bahan percobaan. Sedangkan Arya-" Kalimatnya berhenti di satu nama bernama Arya.


Alves hanya terdiam sambil memeriksa data yang dia dapat, dari latar belakang Arya, dan pekerjaannya saat ini.


Tapi pekerjaan yang tercantum di dalam data itu, adalah kerjaan palsu sebagai samaran. Banyak sekali identitas yang Arya buat untuk menipu banyak orang, jadi pekerjaan paling dominan dari Arya ini adalah sebagai seorang pencuri yang banyak di incar oleh banyak negara.


"Jadi kita termasuk berhasil menangkap hiu ya? Identitasnya cukup banyak, tapi dia bekerja sendirian, dan pencurian senjata dari gudang itu hanyalah jadwal yang di buat secara sengaja oleh Arya. Tanpa di ketahui oleh para pencuri senjata, Arya bergerak sendiri untuk mencuri langsung dari kantorku. Dia cukup cerdik juga ya.


Tapi Orson, jika dia termasuk orang yang pintar, mana mungkin dia bisa tertangkap sedemikan mudah seperti itu." Satu pertanyaan yang membuat dirinya heran pun terlontar dari mulutnya itu.


Orson yang mendengar pernyataan itu, langsung melongo. "Kau benar juga. Jangan-jangan ada motif lain dari dia yang sengaja menyerahkan diri sedemikian mudah seperti itu." Ucap Orson juga.


_____________


"Heh~" Di dalam sebuah kegelapan, satu orang yang masih terikat di kursi itu, tiba-tiba saja menyunggingkan senyumannya yang cukup lebar.


"Hoammh..mau seberapa lama dia akan di sekap di sana? Gara-gara tidak ada yang menarik di sini, aku jadi mengantuk." Ucap salah satu anak buah Alves yang berperan sebagai seorang penjaga.

__ADS_1


"Kau benar, aku juga sebenarnya mengantuk juga. Tapi kita kan tetap harus berjaga di sini."


"Kau jaga disini, aku akan pergi sebentar buat kopi, bagaimana?"


"Setuju, jadi cepat pergi gih, bawakan camilannya juga."


"Ok." salah satu dari dua orang itu pun pergi untuk membuat kopi sekaligus mencari hidangan yang bisa di makan.


Sedangkan Arya, dia yang berada di ruang isolasi, sekarang ini dia sedang berusaha untuk melepaskan dirinya itu.


Dengan dua borgol yang mengikat kedua pergelangan tangannya, dengan sedikit sentakan, Arya berhasil membuka borgol tersebut.


Dan sekarang, yang perlu dia lakukan adalah melepaskan ikatan tali di tubuhnya itu.


Dengan berusaha keras, Arya berhasil melonggarkan ikatan talinya.


"Nah, ini kopinya, dan aku hanya menemukan donat di kulkas."


"Tidak masalah, yang penting isi perut dulu."


Ucap mereka berdua.


Tapi, baru saja mau menyeruput kopi itu, tiba-tiba alarm bahaya berbunyi.


Dan berhasil membuat mereka berdua langsung berdiri dan di buru kepanikan.


"Ada apa ini?"


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. T-tapi, ini kan tanda bahaya karena kebakaran?" Dan sesuai dengan ucapannya, pipa pemadam yang berada di semua atap plafon langsung menyala.


ZRASSHHH.....


"Bagaimana ini? Kita di tempatkan di ruang bawah tanah, masa kita akan tetap di sini?"


Arya yang berhasil melepaskan diri, langsung bersembunyi di pinggir tembok.


DRRTT...DRRTT....


"Bos. Ini dari Bos."


"Cepat angkat!"


temannya itu pun mengangguk iya. "Hal Bos? Ada apa?"


-"Apa yang sedang terjadi di sana?"-


"Kami mendapatkan tanda bahaya alarm kebakaran. Bagaimana Bos? Kemi berdua tidak mau mati."


-"Jangan sekali-kalinya pergi dari sana."-


"Tapi Bos, anda mau kami berdua mati di sini?"


-"Tidak akan, aku baru saja memeriksanya, tidak ada satu pun tempat yang terbakar. itu hanyalah ulah trik dari seseorang yang sedang menyabotase server perusahaanku. kalian berdua tetap di tempat. Jika aku mengatakan bahaya, barulah bahaya, tapi sekarang tidak ada bahaya apapun."- Jelas Alves lewat telepon.


Namun, saat mereka berdua sedang berbicara lewat telepon, tiba-tiba saja terdengar ada suara detik jam yang membuat mereka berdua langsung panik.


"B-Bos! Di sini ada Bom!"


Dan setelah itu, sebuah tabung kaleng kecil tiba-tiba menggelinding ke arah mereka berdua, sampai akhirnya sebuah asap langsung memenuhi ruang bawah tanah.


"Akh..ada penyusup!"


'B-bo-"


Karena asap memenuhi tempat tersebut, mereka berdua langsung tumbang.


BRUKK.....

__ADS_1


__ADS_2