
"Aku Elly, dan aku datang kesini bukan karena mencari pekerjaan." Jawabnya sambil merotasikan pandangannya ke segala arah, kali saja beruang grizzly itu sedang ada di lobi.
Tapi ternyata tidak.
"Ho~ Lalu jika memang datang kesini bukan karena pekerjaan, lantas apa tujuannya?" Pertanyaan yang mengandung banyak sindiran itu begitu tidak di ambil hati oleh Elly, karena tidak ada gunanya.
"Aku datang kesini karena ingin memberikan ini kepada Bos kalian." Kata Elly sambil memperlihatkan kotak bento yang sudah di kemas dengan cukup rapi di dalam serbet berwarna biru Navy dan memiliki motif bunga sakura warna putih.
Dan hal itu membuat langkah mereka semua tiba-tiba langsung terhenti, saat Elly mengatakan Bos dengan nada yang cukup arogan.
"Begitu rupanya, jadi kau salah satu dari tiga koma sembilan puluh milyar orang wanita yang menyukai Bos kami sampai membuatkan bento segala?" Cibir wanita ini dengan tatapan merendahkan. 'Berani-beraninya dia datang kesini dengan penampilan tidak tahu malunya. Dan apa-apaan dengan sorotan matanya itu. Dia sedang menantangku?'
"Dia siapanya Bos? Sampai membuatkan bento."
"Dia pasti hanya wanita tidak tahu malu. Dia datang kesini dengan penampilannya yang jelek, dan ingin memberikan itu kepada Bos kita? Hah ..., yang benar saja deh."
"Kelihatannya dia suka mempermalukan dirinya sendiri. Jika kita semua saja tidak di lirik, apalagi dengan wanita itu? Pasti hanya di anggap sebagai angin lewat saja."
"Kau benar. Pasti isi kepalanya sudah oleng. Berani sekali datang ke kantor ini, karena ingin memberikan makanan sampah seperti itu."
Berbagai hinaan langsung tertuju pada Elly yang bahkan tidak memperdulikan penampilannya sendiri karena dia tidak mau menarik lebih banyak perhatian, tapi semua itu justru adalah keputusan yang keliru?
Tidak.
Elly tidak begitu memikirkan soal itu, karena yang saat ini dia pikirkan adalah untuk memberikan makan siang kepada beruang Grizzly sebelum mengamuk.
Hanya itulah yang Elly pikirkan atas tujuannya kali ini.
Karena sudah tidak ada waktu lagi, Elly berjalan melewati wanita itu.
"Berhenti, siapa yang mengizinkan orang luar tanpa identitas sepertimu masuk ke dalam gedung ini?" Mencekal tangan kiri Elly agar tidak pergi dari sana.
"Tapi aku harus memberikan ini kepadanya, atau dia akan mengamuk."
"Justru Bos akan lebih mengamuk jika membiarkan orang asing sepertimu masuk ke wilayahnya tanpa Izin." Tegas wanita ini, tidak akan membiarkan Elly pergi.
"Apa kau yakin?" Elly langsung menepis tangan wanita itu dengan kasar. Dan dia pun bertanya dengan salah satu alis terangkat, seolah wanita bernama Dini itu adalah saingannya.
"Kau-" Marah dengan ekspresi wajah Elly kepadanya yang terlihat merendahkannya, wanita ini pun melayangkan tangannya untuk menampar ELly.
GREP..
"Akhh...!" Dini yang hendak menampar wajah Elly, justru terkena imbas.
Tangan kanannya itu langsung di tangkap oleh tangan kiri Elly, lalu menariknya, sehingga secara otomatis tubuh Dini terhuyung ke depan.
Di saat itulah, Elly langsung menghentikan tubuh Dini yang hampir terjatuh itu dengan tubuh Elly sendiri sehingga posisi mereka berdua kini pun sedang berpelukan.
BRUK...
"I-itu-"
"Itu sungguh tangkapan yang luar biasa."
"Mungkin kalau yang menarik tanganku pria, aku sudi-sudi saja."
Semua karyawan yang sempat melihat pemandangan itu langsung di buat tercengang, karena ada yang mampu untuk mengatasi perselisihan yang akan berakibat pertengkaran fisik dengan sebuah pelukan seperti itu.
"Cantik seperti ini kenapa galak sekali? Takut tersaingi olehku ya? Karena aku akan menemui beruang?" bisik Elly tepat di telinga Dini.
Sontak Dini langsung menoleh ke arah kiri, dan melihat senyuman yang cukup merendahkan tersungging di bibir yang memang ranum tanpa polesan sebuah lipstik.
"Lepaskan!" Tegas Dini, ingin melepaskan dirinya dari pelukan yang di lakukan oleh Elly.
Elly hanya terdiam, dan bahkan lebih mengeratkan pelukan itu dari pada menuruti permintaannya Dini?
__ADS_1
"Apa kau tulis, lepas atau aku akan memanggil petugas keamanan untuk membawamu ke kantor polisi." Ancam Dini sambil lebih berusaha untuk lepas diri.
Tapi saat Dini sedang mengerahkan tenaganya lebih kuat agar bisa lepas dari pelukannya Elly, saat itu juga Elly justru melepaskannya begitu saja, sehingga Dini langsung jatuh terduduk.
BRUKK....
"Ahww ...! Kenapa kalian diam saja, usir pengganggu ini!" Teriak Dini pada dua orang pria yang bekerja sebagai petugas keamanan.
"B-baik!" Mereka berdua pun berlari untuk menangkap Elly.
Tapi reaksi wajah Elly justru terlihat senang. "Kalian ingin main kejar-kejaran dengan ku ya?" Tanyanya, sambil mendekap kotak bento dengan tangan kirinya, kemudian Elly langsung berbalik. "Kejar saja kalau bisa."
Lambaian tangannya itu pun diberikan untuk mereka berdua.
"Berhenti! Kau harus kami tahan."
"Ya makannya, tangkap aku jika memang bisa." Balas Elly dengan wajah tenang, lalu sedikit berjalan cepat menuju salah satu lift dari tujuh lift yang ada.
"Eih! Itu! Itu lift untuk Bos!"
Satu teriakan itu berhasil menarik perhatian banyak orang, pasal Elly yang justru pergi ke area lift yang di peruntukan oleh presdir mereka.
Dan untuk menggunakan lift itu, tentu saja antara kartu khusus yang sudah punya wewenang, seperti sekretarisnya Alves, maupun dengan menggunakan sidik jari.
Tapi Elly yang langsung mendaratkan kelima jarinya di layar pemindai, tiba-tiba lift langsung terbuka.
TING...!
"Eh~ Wanita itu bisa masuk dengan mudah."
"Dia punya aksesnya?"
"Jadi, siapa yang barusan Dini marahi itu?"
"Ini pasti akan jadi gawat, dia bisa naik lift khusus itu, berarti wanita tadi punya hubungan dengan Bos kita."
"Dini, kamu jari nahas loh. Kan sudah pernah di peringatkan, agar memperlakukan semua tamu dengan benar, jangan karena kamu bekerja di bagian resepsionis saja, sudah sombong seperti Bos saja." Ucap rekan kerja Dini yang masih duduk di belakang meja resepsionis.
"Hayo, untung saja aku tidak ikut-ikutan sepertimu. Jangan bawa-bawa kami, jika kau kena imbasnya." Kata teman rekan Dini yang lainnya lagi, tidak mau tahu apa yang akan terjadi dengan Dini nantinya.
*
*
*
Sedangkan Elly, dia berdiam diri menatap pintu lift dengan tatapan yang cukup datar.
Sebab sepanjang perjalanan dirinya yang sedang menaiki lift itu, dia ternyata di suguhi dengan pemandangan kota yang terlihat cukup dengan jelas.
Kaca transparan yang menjadi dinding dari lift itulah penyebab dia bisa melihat seluruh kota itu dalam sekali pandang.
Kota dengan bangunan yang terlihat kian mengecil, sebab Elly di bawa naik lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi.
'Jadi ini kota A di abad dua puluh satu?' Kilatan memori yang Elly miliki membuat dia mencoba membandingkan pemandangan kota di tahun ini dengan kota di masa depan.
Semuanya sangat berbanding terbalik.
Karena di mata Elly, dia melihat kalau kota yang terlihat padat ini, kedepannya akan berubah total dengan segala gedung pencakar langit yang lebih tinggi dan lebih mewah dari ini semua.
Makannya, Elly termasuk melihat tempat yang dia tinggali saat ini, biasa-biasa saja.
TING.....
Dentingan lift arti dari tujuan sudah sampai, membuat Elly bersiap untuk keluar.
__ADS_1
BRUK...
Lamunan milik Elly yang sempat masih tersisa itu membawa Elly tanpa sengaja jadi menabrak seseorang.
Tapi tubuh yang terhuyung dan hendak berjalan mudur itu, tiba-tiba saja langsung di tangkap dengan perasaan adanya tangan yang melingkar di pinggang rampingnya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Suara yang cukup familiar itu pun sukses menyadarkan Elly dari lamunan sesaatnya tadi.
"T-tuan, dia wanita, dan anda-"
"Ya, dia wanita, memangnya kenapa?" Tanya balik Alves atas keraguan yang di miliki oleh sekretaris pribadinya itu, yaitu Orson.
'Siapa wanita ini? Kenapa dia bisa masuk menggunakan lift milik Bos?' Pikir Orson.
"Aku hanya datang untuk mengantarkan ini." Masih dalam tahanan di mana tangan Alves masih menahan tubuh Elly agar tidak jatuh ke belakang, Elly langsung menyodorkan kotak bento tepat di wajah Alves, si Beruang Grizzly.
Mata Alves jadi juling, karena tiba-tiba di hadapkan oleh bento pemberian orang lain.
Orson semakin memberikan tatapan menyelidik, sambil mengusap dagu miliknya yang bersih itu, dia memperhatikan antara Bos nya dengan wanita asing itu secara bergantian. 'Bahkan wanita ini sampai mengantarkan kotak makanan untuk Bos?! Jangan-jangan!'
Orson langsung menatap wajah Bos nya dengan cukup intens.
"Jangan menatapku seperti Orson, atau kau malah jatuh cinta padaku." Sela Alves di sela-sela perhatian Orson kepadanya itu.
Orson buru-buru mundur satu langkah ke belakang.
"Padahal tidak usah repot-repot membawakannya ke tempatku." Kata Alves, di tunjukkan untuk Elly yang baru saja tubuhnya dia tangkap sebelum jatuh.
"Nanti beruang lapar, makan orang."
"Pfft!" Orson langsung memutar tubuhnya ke belakang dan mencoba menahan tawa yang timbul akibat ucapannya Elly.
"Aku bukan beruang." Kata Alves mempertegas dirinya itu adalah Alves, manusia yang kebetulan punya penampilan yang cukup sempurna. "Tapi sebaiknya kau pulang saja, karena aku akan pergi."
"Karena Bos tidak mau, bagaimana jika anda memberikan bekal makan siang itu kepada saya saja." Ucap Orson, menawarkan diri.
Tidak rela jika barang yang akan di berikan kepadanya, justru akan di berikan kepada orang lain, Alves langsung mengambil bekal makanan itu dari tangan Elly.
"Sekarang kau bisa pulang." Perintah Alves kepada Elly yang sudah kembali berdiri dengan benar.
"Ya sudah," Elly pun menekan tombol lift untuk turun. Tapi itu langsung di cegat oleh Alves, karena sebenarnya Alves sendiri memang ingin menggunakan lift itu juga.
"Nati dulu, aku harus pergi ke atas. Orson, masuk. Jangan tertawa terus atau aku potong gajimu juga." Ancam Alves.
Tidak seperti tadi, Alves berekspresi biasa saat bertatap muka dengan Elly, saat kedua pria itu sudah masuk ke dalam lift yang sama dengannya, Elly mendapati ekspresi wajah Alves yang begitu serius.
DRTT....
Orson mengangkat telepon yang masuk itu, dan ekspresinya langsung berubah jadi tidak baik.
"Bos, mereka akan terlambat." Kata Orson, memberi sebuah kabar buruk kepada Alves.
"Hah~ Padahal di saat seperti ini, mereka justru lambat. Apa sih yang sebenarnya mereka lakukan?" Kutuk Alves atas nasibnya sendiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Elly dengan wajah polosnya.
Membuat kedua orang pria tinggi dan besar di depannya itu, sama-sama menoleh ke arah Elly yang sedang berdiri di belakang mereka berdua persis.
"Ini tidak ada urusannya denganmu."
"Ya, seperti yang Bos katakan, ini tidak ada hubungannya dengan nada." Orson berkata untuk mempertegas ucapanya Alves barusan.
Tapi Elly yang tidak menerima jawaban penolakan seperti itu, langsung bersandar ke belakang, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan bertanya balik. "Alves, kau yakin tidak mau memberitahuku? Aku sudah bilang, aku ini pelayanmu, jadi sebagai pelayan pribadimu, aku berhak tahu apa permasalahanmu, sebagai majikanku."
__ADS_1
"A-anda pelayan?" Tanya Orson, tidak percaya bahwa Bos nya yang sangat menghindari wanita, apalagi memiliki pelayan di rumahnya, ternyata sekarang sudah memiliki pelayan, dan itu ada di belakang mereka berdua persis. 'Tapi jika memang pelayan, kenapa bicaranya sangat informal sekali. Sampai memanggil nama Bos secara langsung seperti itu.'