Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
35 : PTRI : Pelayan >< Majikan


__ADS_3

Elly segera menarik tangannya dari cengkraman tangan milik Alves, tidak peduli apa reaksi orang-orang yang melihatnya, Elly menghampiri pria yang sedang berusaha untuk berdiri.


'Sialan, siapa wanita ini? Pukulannya kuat sekali.' Tidak rela akan di tangkap karena seorang wanita, pria ini langsung berlari pergi.


Tapi Elly yang lebih gesit itu, langsung berjongkok, merentangkan salah satu kakinya dan berputar seratus delapan puluh derajat, berusaha untuk menjegal kaki milik pria itu.


BRUKH....


Dan tubuh itu pun kembali terjatuh tersungkur.


Tepat setelah membuat pria itu kembali terjatuh, dua orang satpam berlari menghampirinya dan menangkap basah si pencopet itu.


"A-anda tidak apa-apa kan?" Tanya salah satu dari satpam itu kepada Elly.


"Aku tidak apa-apa, tapi kelihatannya tidak dengan dia," Sudut matanya melirik kearah pria yang sedang berwajah bengis kepadanya.


"Baguslah, terima kas-" Belum sepenuhnya berbicara, satpam ini langsung bungkam saat melihat adanya pria yang sangat mereka kenali sedang menatap sengit kearahnya.


"Ya, sama-sama, yang penting jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi. Padahal mall nya sebesar ini, tapi kenapa keamanannya sedikit? Bagaimana kalian meng-mphh...!" Elly membelalakkan matanya saat mulutnya di bungkam oleh Alves.


"Kau pasti terlalu lelah, kakimu pasti sakit kan? Kita Istirahat dulu, biarkan mereka yang mengurusnya. Simpan tenagamu itu untuk nanti." Kata Alves membuat semua orang jadi salah paham.


DRAP....


DRAP....


DRAP....


Wanita yang menjadi korban pencurian tadi pun berlari dan meminta dompet yang di curi itu.


"Mana dompetku!"


Di susul oleh anak kecil yang ada di belakangnya persis.


Salah satu satpam itu merogoh saku yang ada di balik jas yang di pakai oleh si pencuri itu, dan ia menemukan dompet lipat berukuran kecil berwarna pink.


"Ini nyonya." Memberikan dompet milik Ibu dari anak yang sedang menjilati ice Cream.


Dengan begitu kesal, wanita ini menyambar dompetnya dan memeriksa semua isinya, untung saja masih utuh. "Aku tidak akan membiarkanmu, bawa dia ke kantor polisi," Perintahnya.


"Baik nyonya." Jawab kedua satpam tersebut kepada wanita itu.


"'Dan anda, say-" Baru juga mau mengatakan rasa terima kasihnya kepada Elly karena baru saja mendapatkan bantuan besar, sehingga menyelamatkan dompetnya yang berharga. Bukan karena banyak uang, tapi di dalamnya banyak kartu penting.


Tapi ketika ia menoleh ke belakang, kedua orang yang terlihat seperti sepasang kekasih tadi sudah pergi menghilang.


"Kemana mereka berdua pergi?" Tanya wanita ini pada pengunjung yang kebetulan sempat menonton pertunjukan tadi.


Salah satu diantara pengunjung itu pun menjawab. "Mereka berdua sudah naik ke atas." Sambil menunjuk pada ekskalator berjalan, dan kedua sosok itu sudah menghilang setelah sampai di lantai atas.


"Mah, kakak tadi hebat juga. Dia berani," Puji anak dari wanita yang menjadi korban pencurian.


Sang Ibu pun berjalan menghampiri anaknya, dan mengusap ujung kepalanya. "Kalau mau jadi hebat seperti kakak tadi, makannya anak mama ini harus rajin belajar." Mencoba membujuk anak nya yang masih kecil itu dengan ekspresi lembutnya.

__ADS_1


Dan anggukan khas dari anak kecil yang sedang sibuk makan Ice Cream itu pun menjadi jawabannya.


"Bagus, sekarang bagaimana jika kita kejar kakak tadi, Mama belum sempat berterima kasih." mengulurkan tangan kirinya untuk di genggam oleh anaknya itu.


Anak perempuan itu pun menyambut tangan sang mama dan mencoba mengejar Elly dan Alves.


________________


"Heimpph!" Portes Elly, berusaha melepaskan tangan Alves dari mulutnya.


Alves melepaskan tangannya daripada membungkam mulut milik wanita ini lalu mengambil saputangan untuk menyeka telapak tangannya yang terkontaminasi air liur milik Elly.


"Kenapa kau menutup mulutku?!" Elly pun menyeka bibirnya itu dengan lengan bajunya.


Melihat bibir yang terlihat menggoda itu di seka dengan kasar, Alves hanya mengatupkan mulutnya.


Apa yang ingin ia katakan, tidak jadi keluar karena kalimatnya ia telan kembali dan di gantikan dengan kalimat yang lain. "Agar kau tidak berisik,"


Jawaban khas Alves yang cukup singkat, jelas namun padat.


"Tapi telapak tanganmu itu asin, phuih, berapa milyar bakteri ya, yang menempel ke mulutku." karena saking jijiknya, Elly pergi ke wastafel dan berkumur, lalu mencuci kedua tangannya dengan sabun yang ada. Barulah, ia merasa menjadi bersih lagi.


'Kasar sekali dia.' Detik hati Alves. 'Tapi bagaimana dia bisa tahu kalau laki-laki tadi pencurinya? Padahal jelas sekali kalau aku dan dia menyadari ada pencuri karena Ibu-ibu tadi merasa kehilangan dompet.' Pikir Alves lagi, memindai Elly dari atas sampai bawah, Elly terlihat seperti wanita biasa pada umumnya. Tapi disini jelas ada yang berbeda, di balik penampilannya yang terlihat seperti wanita polos, tersimpan kekuatan yang besar di dalam diri Elly itu sendiri.


Seperti kemarin saja, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Elly melempar pulpen sebagai senjata untuk membalas serangan dari pencuri yang ada di dalam kantornya Alves, dan cara melemparnya juga termasuk seperti sudah terampil.


"Apa kau pernah berlatih bela diri?"


"Kenapa kau mengatakan hal yang sudah jelas?" Tanya balik Elly.


"Sudahlah, jangan bahas itu. Bukannya kita mau pergi ke kantor? Kalau terlambat bagaimana?" Memejamkan matanya, dia menyudahi perbuatannya yang berani membalas tatapan dari majikannya sendiri.


"Kan aku sendiri yang jadi Bos nya, mau akau tidka berangkat, juga sebenarnya tidak masalah." Alves tersenyum tipis, dan kembali berjalan menyusul mendampingi Elly yang lebih dulu pergi dari hadapannya tadi.


'Iya juga, ya? Kenapa aku selalu lupa kalau orang ini adalah majikanku sendiri?' Tatapan matanya beralih pada hiasan berbentuk burung yang menjuntai dari langit-langit mall paling atas sendiri.


Jika di lihat dari bawah, itu akan memperlihatkan kalau banyak burung yang berterbangan, padahal hanya hiasan saja.


Karena cukup terlena untuk berjalan terus, tangan Elly langsung di tarik oleh Alves. "Kau mau pergi kemana? Tempatnya di sini." Menarik Elly untuk masuk ke dalam salah satu toko pakaian da*lam wanita.


'Dia terlihat begitu terbiasa dengan ini.' Elly pun melihat tangannya sendiri yang kini sedang di gandeng oleh Alves. Terbesit rasa hangat ketika ada yang menggnggam tangannya.


Setidaknya tidak seperti terakhir kali ia mengalami insiden kecelakaan, yang mana suhu di sekitarnya sangatlah dingin.


'Aku harus melupakan masa-masa mengerikan itu. Walaupun aku bereinkarnasi ke masa lalu, setidaknya aku tidak sendirian lagi, karena aku dan laki-laki ini sudah mengikat janji kontrak, sebagai majikan dan pelayan.


"Halo Tuan, dan Nona," Sapa salah satu wanita dari pegawai toko tersebut.


Menyambut kedatangan tamu memang cukup penting, tetapi yang harus di perhatikan adalah kebanyak orang akan pilih-pilih.


Sekali saja tamu yang di pandang adalah orang kaya, mereka tentu saja akan menyambutnya dengan cukup ramah dan sangat sopan santun.


Itu memang tugas mereka, karena melayani raja dan ratu mereka sendiri.

__ADS_1


Tapi akan di abaikan jika yang datang adalah orang biasa, dan hanya memperhatikannya dari kejauhan.


"Apa ada yang bisa saya bantu? Mencari pakaian da*lam atau lin-"


"Aku hanya butuh celana pop."


Wanita ini terhenyak sesaat, sebelum ia membungkukkan tubuhnya dan pergi untuk mengambil apa yang di minta oleh Elly.


"Kalau kau mau, kau bisa beli itu." Alves menunjuk ke satu patung manekin yang sedang memakai lingerie berwarna hitam.


Cukup menerawang. Dan Alves justru terlihat sedang menawarkannya untuk Elly.


"Kau ini kenapa? Kenapa aku membeli itu?" Menatap Alves dengan tatapan selidik.


"Setiap wanita pasti punya itu di lemarinya, memangnya kau tidak ingin?"


"Padahal untuk tidur saja, dari pada beli mahal-mahal, mending tidur sambil memakai pakaian saja, kan?"


Alves sama sekali tidak bisa menyangkal cara bicara Elly yang cukup mahir menjawab itu.


"Nona, kekasih anda kan ingin membelikan anda Lingerie, kanapa menolaknya? Dia pasti ingin melihat Nona memakainya juga." Satu wanita lainnya yang sama-sama bertugas untuk melayani pelanggan yang datang, tiba-tiba saja sudah muncul begitu saja di sampingnya dan mengucapkan kalimat menghasut.


Elly sama sekali tidak berminat untuk membelinya karena itu sama sekali tidak berguna.


Elly yang bahkan sama sekali belum berkomentar apapun, langsung di sodorkan lingerie itu ke arah Elly.


Dan ketika melihat Alves, ia melihat adanya senyuman tipis sebagai senyuman rasa puas yang langsung pudar saat itu juga untuk kembali mengatur reaksi wajahnya yang terlihat cuek itu.


"Ayo Nona, kekasih anda sudah menunggu." Menghasut Elly lagi untuk segera memakai lingerie tersebut.


Elly terus di dorong pergi menuju kamar pass.


'Sampai ada yang bilang dia kekasihku, berarti dia memang cocok denganku, ya kan?' Pikir Alves. Dia duduk di sofa yang ada, dan menunggu Elly keluar dari ruang ganti tersebut.


Karena pemakaiannya cukup mudah, Elly keluar dari ruang ganti.


"Apa kau puas?" Dengan wajah jutek, Elly memperlihatkan tubuhnya yang sempurna itu hanya terbalut dengan Lingerie yang cukuplah menerawang.


Walaupun tidak memiliki dada yang begitu besar, tapi karena proporsi tubuh Elly yang pas, membuat Lingerie itu cukup serasi dengan tubuhnya.


Menampilkan kesan sensual yang cukup menarik perhatian Alves untuk bisa tersenyum puas kembali.


"'Beli itu sekalian," Satu perintah di peruntukan untuk pegawai toko.


"Tidak, aku tidak memerlukan ini. Yang aku butuhkan hanya celana pop saja." Ucapnya dengan tajam.


"Ayolah, kau memang tidak butuh, tapi bagaimana jika aku yang mengatakan kalau aku butuh, karen ingin melihatmu memakai itu? Apa kau akan menolak keinginanku?" Kata Alves dengan sudut mulut terangkat.


'Sesuai dengan posisi pelayan menuruti keinginan majikannya.'


Itu yang di maksud Alves kepada Elly.


'Benar juga. Dia memang selalu saja benar. Dia ingin ini, aku memang harus menurutinya.' Elly terus menatap Alves yang terlihat sedang menunggu jawabannya?

__ADS_1


Tanpa menjawab pun sebenarnya sudah jadi jawaban untuk Alves, karena Elly mau tidak mau harus menuruti kemauannya dari majikannya itu.


__ADS_2