
'Kenapa bisa gagal?! Padahal aku sudah memasang bom di berbagai tempat, hanya tinggal menunggu waktu saja, tapi jika sampai gagal seperti ini, berarti ada orang lain yang lebih hebat dari Alves itu.' Pikir pria ini. Dengan berpenampilan seperti seorang perempuan, orang ini pun mulai khawatir sendiri di tengah puluhan orang penonton yang sedang duduk di kursi penonton.
"Wah, tadi itu memang benar-benar kacau, gara-gara tadi, pakaianku jadi basah seperti ini."
"Iya, yah..., aku harus ganti pakaian, padahal sudah cantik seperti ini, tapi karena tersiram air banyak seperti ini, jadi apa boleh buat?"
"Tapi, apa kau pikir tadi itu adalah bagian dari rencana untuk mengejutkan kita semua?"
Satu persatu dari penonton, terus berbicara sendiri, ada yang pergi dari bangku penonton, ada juga yang tetap berada di sana terlebih dahulu, karena untuk keluar, tentu saja harus mengantri.
Ya, karena ledakan tadi, banyak dari mereka yang basah kuyup. Karena ledakan tadi itu berasal dari salah satu danau buatan yang tidak jauh dari tempat mereka menonton. Yang mana danau itu besar dan memiliki air mancur tepat di bagian tengah danau.
Danau itu bukanlah sekedar danau yang hanya bisa di lihat di saat siang hari, melainkan danau buatan yang biasa di gunakan untuk memberikan pertunjukkan air mancur di saat malam hari.
Tentu saja dengan ditemani air mancur yang memiliki daya semprot berkekuatan tinggi serta warna-warni lampu untuk memperindah danau dan aksi pertunjukan itu, danau itu memang cukup terkenal.
Hanya saja, ledakan tadi berhasil membuat seluruh air yang ada di dalam danau, sempat menciprat keluar dengan daya yang cukup besar, dan naas nya membuat para penonton dan pekerja di tempat itu, jadi basah kuyup.
Lalu, satu-satunya orang yang berhasil melakukan pencegahan dari Bom yang meledak itu, ada di atap dari resort tersebut.
"Rafa, apa kau yakin hanya itu saja bom yang aktif?" Tanya Elly kepada Rafa yang berdiri di belakangnya persis.
"Iya Nona, semua Bom yang di aktifkan lewat jaringan nirkabel, sudah sepenuhnya di non aktifkan oleh anda, dan hanya Bom itu saja yang tidak menggunakan teknologi nirkabel." Jelas Rafa dengan tenang.
Ya, setelah kepanikan dan suasana yang begitu tegang, mereka berhasil melewati masa krisis berkat Elly, wanita yang bekerja di bawah Tuan Alves secara langsung.
Alasan dimana mereka tahu ada Bom yang akan meledak, si tersangka sempat membuat sebuah ancaman.
Ancaman yang langsung membuat sebagian besar staf karyawan langsung panik. Sampai mencari semua bom yang sudah terpasang di beberapa titik dari resort itu, tidak bisa di temukan, sebab di letakkan di atas plafon di beberapa tempat yang bisa menjangkau banyak orang untuk berkumpul, tentunya.
__ADS_1
"Ternyata ada gunanya juga meminjam anj*ng milik salah satu pengunjung," Ucap Elly, dia tersenyum puas dengan hasil yang ia kerjakan.
Dengan menggunakan anj*ng salah satu pengunjung yang sudah terlatih, Elly berhasil memicu satu kesempatan mengetahui bom yang harus ia hadapi, makannya Elly pun berhasil menjinakkan tujuh bom yang terpasang dengan menggunakan komputer, dan sisanya, ada satu bom yang tidak menggunakan jaringan nirkabel, jadi saat ketahuan oleh anj*ng hasil pinjaman, Elly langsung membawanya ke atap, dan melempar bom itu sejauh mungkin dengan tongkat pemukul baseball.
Dan hasilnya, adalah seperti sekarang.
'Memanfaatkan danau itu sebagai tempat aku membuang Bom, hasilnya tidak buruk juga, mereka pasti tidak akan mengira yang meledak itu adalah bom.' Pikir Elly.
Di tengah kesibukan banyak orang yang ada di bawah sana, Elly sebagai mantan dari pasukan khusus dari sebuah tentara yang ia kerjakan di kehidupan sebelumnya, membuat Elly tidak bisa melihat orang yang tidak tahu apa-apa itu, menerima nasib mengerikan.
Ya, mengerikan diperuntukan jika dirinya tidak datang membantu mereka menyelesaikan masalah Bom itu.
Walaupun begitu, bukan berarti dirinya memihak mereka. Elly melakukanya sebenarnya untuk dirinya sendiri, maka dari itu, tidak mendapatkan pujian ataupun penghargaan dari mereka, adalah sesuatu yang memang tidak di harapkan oleh Elly, sebab sekarang dirinya hanyalah manusia dengan pekerjaan yang bekerja sebagai seorang pelayannya sang Tuan muda Alves saja.
Tidak kurang dan tidak lebih.
Posisinya saat ini, bukanlah seperti dulu, jadi ia hanya memanfaatkan apa yang ia pelajari di kehidupan lalunya, untuk membuat jadi dirinya yang sekarang.
"Ya, dia sedang rindu kepadaku." Senyum Elly, benar-benar melihat wajah Alves yang begitu khawatir, "Melihatnya dari sini, Tuanku seperti anak yang kehilangan induknya, ya?"
Rafa mencoba untuk melirik ke bawa, Alves sesaat masih berdiri di bawah sana, sebelum pria yang memiliki kuasa di sana, langsung pergi dari sana.
"Hubungan anda dengan beliau kelihatannya cukup dekat. Apa anda tidak takut?"
"Takut soal apa?"
"Banyak sekali yang memberitakan kalau Tuan sudah punya kekasih rahasia, kalau anda dekat dengan beliau, pasti kekasih Tuan bisa melabrak anda." Ucap Rafa, sama sekali belum tahu rumor kalau sebenarnya pelayan nya adalah wanita yang berhasil merayu majikannya sendiri.
Ingin sekali, Elly tertawa, tapi dia tahan, 'Padahal tampang dari wajahnya itu, aku pikir dia adalah orang yang pintar, tapi ternyata hanya tubuhnya saja yang sudah dewasa, tidak dengan cara berpikirnya. Dia masih terlalu polos. Tapi dia cukup imut, seandainya aku punya kakak, pasti enak juga ya, bisa mengerjai kakakku yang polos.'
__ADS_1
'Kenapa dia terus menatapku? Atau jangan-jangan, dia naksir denganku? Ah, jangan bercanda, dia kan pelayannya Tuan Alves.' Pikir Rafa, tidak mau berharap lebih dengan cara Elly menatap ke arahnya.
"Rafa, kalau di pikir-pikir, apa kau tidak merasa janggal dengan wajahmu?" Elly sedikit menutup mulutnya yang tersenyum itu, melihat raut wajah Rafa yang langsung bingung sendiri. 'Imutnya.'
"M-memangnya ada apa dengan wajah saya?" Rafa jadi panik, dengan senyuman penuh makna yang tersungging di bibir manis milik Elly yang terlihat menggoda itu.
"Wajahmu-" Elly terus memperhatikannya dengan seksama, dia tidak salah lihat, dan apa yang dikatakannya tadi, memang tidak ada yang salah, soal ada yang janggal dengan wajah dari Rafa ini.
Tapi karena merasa kurang puas, jika hanya di lihat dari jarak tiga meter seperti itu, Elly pun berjalan mendekat kearah Rafa yang semakin panik dan salah tingkah sendiri.
"Entah kau ini masih belum sadar atau tidak, tapi diantara kita pasti ada sesuatu." Gumam Elly, wajahnya jadi semakin serius, sampai kedua alisnya pun menyatu, saking berusaha untuk berpikir keras.
'Sesuatu apa?! Kenapa wanita ini terus dekat-dekat denganku? Kalau tiba-tiba Tuan Alves muncul, bukannya aku yang akan jadi korban selanjutnya?' Benak hati Rafa. Jantungnya pun berdegup kencang, aroma keringat yang bercampur dengan samar-samar aroma parfum buah yang masih bisa ia rasakan oleh hidung rafa dari bau tubuh Elly, membuat roma nuansa diantara mereka berdua perlahan berubah.
Rafa pun ada punya kejanggalan sendiri, karena parfum yang di pakai oleh Elly dengan aroma buah jeruk yang menyegarkan, juga sama dengan yang di pakai oleh dirinya.
Walaupun sudah pasti, kalau merk yang mereka berdua pakai pasti jauh berbeda, tapi tetap saja, rasa di untuk mereka berdua terasa menyatu.
"Kira-kira sesuatu apa ya?" Tanya Rafa, kurang pasti dengan pertanyaannya sendiri apakah cocok atau tidak, karena Elly sendiri juga sedang berpikir keras.
"Entahlah, wajahmu, apa kau tidak merasa kalau kita ada sedikit kesamaan?"
Rafa langsung diam, bagaimana bisa diantara mereka berdua punya hubungan, jika mereka saja baru bertemu beberapa puluh menit lalu, dan Elly hanya menyimpulkan itu berdasarkan wajah?
"Aku pikir wajah kita sama." Ucap Elly lagi.
KLEKK....
"Elly, berhenti disitu." Pungkas Alves, suara berat itu berhasil memecah suasana diantara Elly dan Rafa, sehingga Rafa yang terasa sedang di interogasi oleh Elly, langsung terlonjak kaget.
__ADS_1
"Tuan?"
'Aku benci mendengar dia memanggilku dengan kata Tuan. Tapi aku harus menahannya untuk sementara waktu, karena yang paling penting itu adalah, kenapa dia malah sedang menggoda laki-laki lain?' Alves langsung melotot ke arah Rafa, dimana Rafa langsung kepincut ingin pergi dari sana, gara-gara tidak tahan dengan aura tidak suka milik Alves yang cukup mengintimidasinya.