
'Siapa wanita ini? Kenapa dia datang dengan Alves?' Cemburu melihat Alves menggandeng tangannya Elly, wanita ini langsung memisahkan gandengan tangan diantara mereka berdua.
"Alves, siapa wanita ini? Kau sampai membawanya bersama dengamu, padahal aku ini ke-"
"Memangnya kau siapa? Berani membuat keributan di depan kantorku segala." Pungkas Alves, dia sungguh merasa eneg melihat wanita yang entah datangnya dari mana, dengan penampilan seksi dan make up yang tebal ini berada di depannya persis, bahkan sekarang wanita tersebut sedang memeluk lengannya.
"Kok aku siapa, kan waktu itu bukannya kau sudah-" Wanita ini sedikit menjinjit agar dia bisa menyamai tinggi tubuh Alves untuk berbisik. "Berjanji akan membuatku jadi kekasihmu hari ini setelah kau putus pertunangan dengan Asena?"
Alves mengernyitkan matanya, karena dia benar-benar tidak menyukai aroma tubuh milik wanita ini.
'Dia terlalu-' Elly kembali makan Ice cream, dan terus memperhatikan Alves yang sedang di tuntut oleh wanita lain untuk menjadi pacar, atau kekasih, entahlah, itu memang terdengar sama saja, tapi Elly tidak begitu peduli dengan siapa pria itu dekat, karena bagi Elly adalah dirinya sendiri, bisa menikmati makanan sekaligus kehidupan barunya itu. "Orson, dari pada berdiri terus di sini, lebih baik duduk dan makan ini."
Elly memberikan ice cream rasa Taro kepada Orson, dan mendorong tubuh laki-laki itu untuk duduk di kursi singgasana milik Orson sendiri, sedangkan Elly duduk di meja kerja milik Orson.
"Tapi sayangnya sudah ada orang yang lebih tepat untukku ketimbang kau. Jadi lepaskan atau tidak,"
"Tidak! Aku sama sekali tidak akan melepaskannya sebelum kau menjawab alasanmu menolakkau," Wanita ini terus bersikukuh untuk memeluk erat tangan Alves yang kekar itu sekaligus menuntut jawaban, padahal ia sudah menantikan kalau Alves benar-benar akan menjadi kekasihnya, sampai ia sudah memiliki niat tersendiri untuk membuat Alves menikahinya.
Tapi apa?
Tiba-tiba saja Alves menolaknya?
'Memangnya aku kurang apa coba.' Gerutu wanita ini, namanya adalah Jenia, dia adalah seorang aktris baru, sekaligus teman lama Alves waktu kuliah, makannya Jenia berani memeluk Alves seperti itu juga karena keluarga mereka berdua juga sebenarnya cukup dekat, dan bahkan sebenarnya sempat ada pembicaraan untuk melakukan perjodohan diantara mereka berdua.
"Jenia, memangnya aku tidak tahu? Saat pesta waktu itu, kau memasukkan obat di dalam wine ku." Jelas Alves singkat.
__ADS_1
Jenia tercekat kaget, karena dirinya ketahuan pernah memasukkan obat di dalam wine yang di minum oleh Alves.
Dan di malam Alves mendapatkan obat halusinogen itu, Elly lah yang menyelamatkannya.
"Kenapa kau melakukannya?" Alves benar-benar menepis tangan Jenia dari lengannya, karena ia benar-benar tidak kuat lagi untuk di peluk oleh tubuh Jenia yang bagi Alves sendiri, sungguh membuatnya muak dan ingin muntah.
"Aku-"
Jenia yang sudah ketahuan, jadi tidak bisa membuat sangkalan, makannya saat tangannya di tepis oleh Alves, dia jadi merasa enggan.
"Padahal waktu SMA, aku tahu perasaanmu yang suka kepadaku. Dan sebenarnya aku juga pernah memiliki perasaan kepadamu.
Tapi setelah sekian waktu terus berubah, kau juga terus berubah, dan sekarang? Lihat penampilanmu itu, aku sama sekali tidak menyukainya.
Jenia memang merupakan teman dekatnya di waktu SMA, bahkan saat kuliah. Dan tentu saja Alves pernah menyukainya karena waktu SMA, karena penampilan Jenia yang memperlihatkan kepolosan dengan kecantikan alami, serta kebaikan yang di miliki oleh wanita itu.
Tapi semua perasaan itu sudah menghilang setelah Jenia dan Alves masuk di universitas yang sama dan menjalani anak kuliah di sana.
Jenia sudah berubah total, bahkan penampilannya pun sangat bertolak belakang dengan yang sebelumnya. Hal itu di tambah dengan Jenia sudah perlahan sering bolos kuliah, walaupun paginya atau di jadwal masuknya, Jenia berangkat, tapi dianya sama sekali tidak sampai di sekolah.
Perubahan sikap, penampilan, dan karakternya, itulah yang membuat Alves kehilangan perasaan itu sendiri.
"A-apa? Kau pernah menyukaiku saat SMA?! Kalau kau menyukaiku, kenapa kau tidak membalas perasaanku waktu itu!" Marah Jenia, dia merasa waktu yang terus terbuang itu kian menjadi sia-sia.
"Karena saat itu, kau sebenarnya sudah punya pacar, kan? Aku mana mungkin menerima perasaan dari orang yang sudah memiliki kekasih." Imbuhya.
__ADS_1
Lagi-lagi Jenia di tempatkan di posisi yang salah.
"Kau cukup terlambat untuk menyesalinya, bahkan untuk kejadian tempo hari itu, karena kita pernah berteman dan punya perasaan, sekalipun saling bertepuk sebelah tangan, aku akan menganggapnya tidak pernah terjadi. Tapi jika kau kembali mengusikku, aku tidak akan tinggal diam. Apa kau paham, Jenia?" Tanpa menunggu sebuah jawaban dari wanita itu, Alves berjalan melewati Jenia dan menarik tangan Elly untuk masuk ke dalam kantornya.
BRAK.
"Alves! Tu-"
"Shhtt...." Orson baru saja menghabiskan ice cream pemberian Elly tadi. Tapi disebabkan ia melihat Jenia hendak menerobos masuk, Orson langsung berdiri dan mencegat Jenia masuk. "Anda tidak dengarkah tadi untuk tidak mengusik Bos lagi?"
Orson terus mendorong tubuh Jenia untuk pergi dari lantai itu. Sedangkan Jenia terus saja berteriak memanggil namanya.
"Alves! Padahal kau sudah janji! Kau sungguh pengecut! Kau memilih wanita kampungan itu ketimbang aku!"
Orson yang merasa terganggu dengan suara Jenia yang cukup nyaring itu, dia pun jadinya mengeluarkan senjatanya. Dia langsung mengeluarkan botol semprot dan menyemprotkan cairan bening ke wajah Jenia yang di lapisi make up tebal.
"Alves! Alv- Akhh... Sialan! Apa yang kau lakukan ini! Wajahku jadi basah!" Protes Orson.
Orson tidak menggubris kemarahan milik Jenia, karena dia akhirnya mendorong tubuh Jenia masuk kedalam Lift yang sudah terbuka.
"Sebaiknya anda bercermin dulu." Dan dorongan itu berhasil membuat Jenia masuk kedalam lift, dan akhirnya tertutup juga.
"KYAAAAA....! Apa yang kau lakukan ke wajahku! Pria sialan! Aku kut-" Karena lift nya sudah mulai turun, suara yang berisik itu pun sudah tidak ada lagi.
"Yah, cairan pembersih make up ini memang ampuh juga. Bagaimana Nona Elly bisa memberiku solusi yang bijak seperti ini?" Orson sedikit tersenyum, sebab ia di beri hadiah berupa cairan pembersih make up kepadanya saat Alves dan Jenia berdebat soal hubungan. "Sungguh Nona pelayan yang bijak, saya jadi semakin menyukainya." Dan Orson pun kembali meletakkan barang berharga itu ke dalam saku furing yang ada di dalam jas nya.
__ADS_1