Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
154 : Tangan terampilnya.


__ADS_3

"Cepat...! Cepat! Jangan ada kesalahan apapun! Kau yang ada di sana! Pastikan semua lampu sudah berjalan baik!" Wanita ini langsung berteriak sambil menunjuk satu per satu orang yang harus mengerjakan bagiannya dengan cepat tapi juga baik.


"Iya!"


"Dan kau! Atur suhu ruangannya menjadi lebih dingin, atur sampai lima belas derajat! Karena itu akan menyeimbangkan suhu dari lampu sorot yang panas."


"Baik!"


"Dan kau pula! Bawa makanan dan minuman untuk model utama kita! Beliau pasti sedang kelaparan, jadi harus membuatnya tetap semangat dan tidak terlihat lesu hanya karena belum makan!"


"Baik!"


Ketika banyak orang yang berlalu lalang karena sedang di kejar waktu, karena hari ini adalah hari besar untuk memperlihatkan fashion show serta memperkenalkan produk perhiasan terbaru hasil karya pribadi milik Alves yang akan di peragakan oleh Elly, maka hari ini pun benar-benar menjadi hari yang cukup sibuk.


KLEK....


Pintu yang dari tadi tertutup itu, akhirnya terbuka dan memperlihatkan sosok seorang perempuan yang baru saja masuk dengan membawa nampan, dimana ada nasi kotak sera air mineral.


"Kau taruh saja di meja." perintah pria ini


"Baik Tuan," Dengan patuhnya, perempuan ini pun pergi dengan cara berjalan mundur.


"Aku benci ini." Suara milik Elly akhirnya bisa keluar setelah terdiam beberapa saat, sebab ia merasa harus menahan nafasnya ketika ada satu tangan yang mendarat di permukaan kulit pipinya.


"Bisa jadi lebih cantik seperti ini, apa yang harus kau benci?" Tanyanya. Karena merasa sedikit gerah, lengan kemeja berwarna merah marun yang ia pakai, dia gulung sampai siku, dan dasi berwarna hitam bermotif itu, sudah terikat di kerah baju miliknya dengan longgar.


Dengan jarak yang begitu dekat, serta dua wajah yang saling berhadapan, nafas yang saling berhembus itu pun jadi saling bertukar untuk di jadikan nafas lagi untuk mereka berdua.


"Aku tidak suka aromanya." Jawab Elly, dia sedang memejamkan matanya, karena kelopak matanya saat ini sedang di berikan sebuah warna, untuk memperlihatkan ketegasan pada mata yang nantinya akan terbuka dan berkedip itu.


"Tahan saja."


"Memangnya kau akan membayarku berapa, sampai membuatku harus menahan aroma yang tidak aku sukai?" tanya balik Elly.


"Karena ini penampilan solo mu, aku akan memberikan tubuhku sebagai hadiah untukmu." Balas pria ini, dengan senyuman mautnya, pria ini pun sempat memiringkan wajahnya ke samping kanan. "Seharusnya sepadan, ya kan?"


"Sebenarnya sejak kapan kau mahir membuat gombalan seperti itu?" Tanya Elly kepada Alves.

__ADS_1


"Mungkin, hmm, entahlah. Tapi aku rasa sejak aku tiba-tiba merasa akan ada tanda-tanda yang akan hadir dalam hidupku."


"Jawaban macam apa itu?"


"Hahah, jangan banyak bicara dulu, nanti alis mu jadi tidak seimbang." pinta Alves. Sebagai pria yang serba bisa, karena tidak mau melihat wajah itu di rias oleh orang lain, Alves lah yang turun tangan sendiri merias wajah dari Elly ini secara pribadi.


Dan kemampuannya untuk menjadi seorang make over artis dadakan, karena artis sekaligus model miliknya adalah Elly, maka hasilnya pun tidak kalah menakjubkan dari milik orang lain yang sudah profesional.


"Kan? Jadinya repot sekali, merias wajah, pasti ada banyak pantangan, makannya aku tidak suka ini!" Geram Elly. Meskipun kelopak matanya masih terpejam, dia sama sekali tidak bisa menahan ekspresi wajahnya yang tidak suka dengan kondisinya saat ini.


"Itu artinya kau harus punya kesabaran tinggi. Tenang saja, ini untuk kedua kalinya, tapi akan ada ketiga kalinya."


Kedua alis Elly seketika jadi mengerut. "Apa? Ketiga kalinya? Memangnya aku harus apa lagi sampai aku harus di rias lagi?" Tanya Elly.


"Kau tahu? Itu akan terjadi saat kau menikah. Dan di hari itu juga, kau akan di rias juga." Jawab Alves. Senyuman lembutnya pun sebenarnya berhasil menyapu suasana diantara mereka berdua seperti baru saja ada musim semi, untuk mewarnai hari dari kehangatan yang bisa mereka jumpai setiap kali mereka berdua berbicara.


Dan ketika Alves bicara demikian, kedua telinganya Elly langsung memerah, dan di saat itu pula Alves berhasil merias wajah Elly dengan cukup sempura.


Elly yang merasa kalau apa yang di lakukan oleh Alves sudah selesai, Elly akhirnya membuka kelopak matanya sambil bertanya : "Apa sudah selesai?"


Alves menatap mata Elly yang begitu mempesona, karena memperlihatkan sisi dari mata yang melihatnya dengan tatapan lembut, cukup pas dengan perhiasan yang akan di pakai oleh Elly, karena Alves memang ingin memperlihatkan kesan elegan dan juga penampilan polos tapi juga menonjolkan sisi tubuh yang terlihat sensual.


"Belum, kau masih belum aku berikan sentuhan terakhir." Jawab Alves, dia sedang memiliki sebuah lipstik yang sudah terjejer rapi di rak khusus untuk lipstik itu sendiri, sehingga Alves hanya tinggal memilih sesuai warna dan kesan bibir yang ingin di perlihatkannya.


Elly terus memperhatikan tangan kanan Alves, dengan jari jemarinya yang lentik itu, tangan tersebut tengah memilih deretan lipstik satu merk tapi beda warna.


"Kayanya cocok jika aku memberikanmu lipstik dengan warna ini." Ucap Alves, dia pun memperlihatkan salah satu lipstik pilihannya. Tidak satu, melainkan dua, dengan warna yang sedikit berbeda, dengan jari profesionalnya itu, Alves pun mengoreskan lipstik itu di permukaan bibirnya Elly.


Bibir yang sudah Alves ciicpi juga.


"Apa kau tidak bisa kondisikan matamu itu?" Tegur Elly saat dia melihat mata milik Alves yang terlihat seperti baru saja menemukan mangsa.


"Ya, terima kasih sudah mengingatkan. Tapi jika semua ini sudah selesai, sebaiknya kau siap-siap melakukan tugasmu."


"Kau membuatku kerja rodi."


"Kau akan suka, lagi pula juga tidak gratis, rekeningmu akan gendut, setelah itu perutmu akan gendut juga." jawab Alves seraya memberikan sebuah senyuman lemah penuh makna kepada Elly.

__ADS_1


"Bisa-bisa aku rusak lebih dulu."


"Aku tahu batasan, tidak usah khawatir." Kata Alves.


Dengan sentuhan lembut, untuk menghapus sedikit lipstik yang sempat keluar dari garis bibirnya Elly, Alves pun sempat menggunakan ujung jari jempolnya, dan ketika sudah hilang, Alves menimpanya dengan sedikit bedak lagi.


Dan seperti itulah, Alves pun berhasil merias wajah Elly dengan cukup sempurna sampai Alves sendiri merasa tidak percaya kalau wanita yang menjadi anak buahnya itu, adalah seseorang yang punya kecantikan seperti itu.


"Kalau saja kita bertemu lebih awal, kau pasti sudah jadi Istriku."


"Berhenti bicara soal Istri, ini bukan tempat yang tepat untuk membahas itu." Jawab Elly dengan tegas. Dia langsung berdiri lalu pergi menuju ruang ganti, karena sekarang dia harus mengganti pakaiannya dengan gaun malam berwarna biru dari langit malam.


"Apa kau butuh batuan?" Tanya Alves, dia meletakkan beberapa perlengkapan make up itu ke tempatnya, setelah itu dia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri wanita yang ada di dalam sana.


"Tidak perlu, ini bahkan terlalu longgar untuk aku pakai sendiri secara bebas." jawab Elly.


Dan seperti yang baru saja di katakan oleh Elly tadi, tanpa perlu membuang waktu yang lama, Elly sudah keluar dengan gaun miliknya.


Mata Alves seketika membulat sempurna, melihat Elly seperti seorang bidadari yang jatuh dari surga.


"Kau memang benar-benar datang untukku." tutur Alves berupa gumaman kecil yang masih bisa di dengar oleh Elly.


"Alves," Panggil Elly dengan lirikan matanya yang cukup tegas. "Aku itu bukan selamanya bisa cantik, jangan terlalu berharap pada kenyataan yang pasti akan datang secara tidak terduga. Wajah ini, bukan asetku, dan wajahku juga bukan sepenuhnya milikku, jangan begitu memuji atau terpesona denganku, karena in-"


Belum selesai bicara, ujung bibirnya tiba-tiba saja tertahan dengan ujung jari milik pria ini dengan sebuah desisan.


"Shhtt~ Kata kakekku, ucapan itu adalah sebuah doa. Aku sepenuhnya tahu apa yang kau maksud, tapi setidaknya jangan pernah lagi berkata buruk untuk dirimu sendiri." Sela Alves detik itu juga.


Elly akhirnya hanya mengatupkan mulutnya saja, hingga Elly akhirnya memilih untuk terdiam.


"Karena kau sudah mengerti, sekarang waktunya kita makan." tutur Alves, berjalan menghampiri pintu masuk, dan begitu terbuka, Orson lah yang datang dengan membawa sebuah tas.


"Kelihatannya anda sekalian sudah lapar, sini biarkan saya memberikan kalian berdua makan, agar tidak pingsan." Ucap Orson, melakukan candaan ringan kepada mereka berdua.


Saat Orson masuk, Elly sempat melirik pada kotak makan yang ada di atas nakas.


Dan apalagi saat melihat Orson ternyata benar-benar membawakan sebuah rantang makanan serta dua botol mineral, Elly akhirnya mengutarakan pertanyaannya. "Jika Orson datang kesini membawa makanan, terus itu untuk siapa?" Sambil menunjuk pada kotak makanan yang belum tersentuh sedikitpun.

__ADS_1


Orson dan Alves pun saling tersenyum, dan akhirnya berkata secara bersamaan. "Hati-hati adalah hal paling utama."


__ADS_2