
Selepas mengatakan itu, Alves justru pergi meninggalkan Elly.
"Aku berterima kasih karena mengambilkan ini untukku, tapi jangan ulangi lagi." Tegas Alves, dan berlalu pergi dari sana.
Orson langsung berjalan menghampiri Elly yang terlihat antara marah juga kecewa. "Jangan dengarkan ucapannya Bos, beliau saat ini hanya khawatir saja kepada anda, karena anda tiba-tiba pergi dengan helikopter nya. Saat ini Bos memang seperti itu, tapi nanti juga baikan lagi."
"Hmm...." Mata yang memperlihatkan perasaan amarah itu perlahan menghilang setelah adanya angin yang datang secara tiba-tiba.
Langit mendung kian menyelimuti langit ibu kota, dan Orson pun melihat adanya kesedihan itu di mata Elly.
Siapa yang tidak sedih ketika usahanya untuk diberikan pujian karena membantu keadaan darurat yang di miliki Alves, harus berakhir dengan kecewa, sebab Alves marah kepadanya.
'Sepertinya Nona perlu waktu sendirian. Kalau seperti ini, aku juga jadi merasa bersalah kepadanya. Jika tadi aku tidak membuatnya mengantarkan flashdisk, mana mungkin Nona Elly akan pulang dengan tergesa-gesa seperti itu.' Tapi mau bagaimana lagi? Karena dirinya masih harus kembali untuk rapat dengan Bos nya, Orson pun pergi meninggalkannya juga.
'Aku tidak mendapatkan pujian.' Elly jadi sedih karena usahanya hanya sia-sia. Setidaknya hanya sia-sia untuk dirinya sendiri saja, karena untuk Alves, misinya berhasil. 'Tapi, aku tidak boleh melakukan apapun selama tidak ada perintah? Apa artinya, aku harus tetap di sini sampai dia datang dan memberikanku perintah?'
Elly menatap tangannya sendiri. Saat itu, dia tiba-tiba saja melihat kenangannya sendiri yang begitu menyakitkan.
____________
__ADS_1
Flashback On
"Apa kau pikir dengan bergerak sendiri kau bisa keluar dari situasi yang berbahaya tadi ha?! Jika bukan karenamu yang suka mengambil keputusan sendiri, kita mana mungkin akan kehilangan rekan kita!" Suara keras langsung menggema di tengah pinggiran hutan.
Hujan yang cukup deras sama sekali tidak membuat ketiga orang ini bergeming dari tempatnya.
Karena tempat yang paling cocok untuk mereka bertiga Istirahat adalah di bawah pohon, walaupun itu cukup berbahaya juga jika ada petir yang tiba-tiba datang.
Dan ketiga orang itu tengah memakai seragam militer, dan dua orang laki-laki itu menatap penuh amarah pada satu orang wanita berambut pendek berwarna coklat.
"M-maafkan saya, a-aku p-" Ucapannya pun langsung di sela.
Ya, memang seharusnya ada empat orang. Tapi karena salah satu diantara mereka bertiga ada yang mati, makannya sekarang hanya tinggal mereka bertiga saja.
Karena merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan sampai dia mengorbankan nyawa temannya, wanita ini hanya menunduk dan terdiam.
Terus menerima dinginnya air hujan yang terus mengguyur tubuhnya.
Tidak di pedulikan apa yang sebenarnya dia rasakan, bahwa dia juga seorang manusia. Dan manusia pasti akan menemui kesalahan.
__ADS_1
Tapi, semua itu tidak ada gunanya, karena orang yang terlihat sebagai rekan kerjanya, hanyalah orang-orang yang memanfaatkan keunggulan milik Everly.
Everly, dia sebenarnya adalah gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Tapi karena suatu hari ada yang mengadopsinya, dan yang mengadopsinya adalah keluarga ternama yang memiliki pengaruh besar dalam bidang kemiliteran, makannya banyak yang yang menempel padanya.
Di antara semua orang, Everly adalah gadis yang unggul dalam segala hal. Punya skill bela diri yang tinggi, bisa menggunakan seluruh senjata, mengoperasikan segala jenis kendaraan, cantik juga termasuk, tapi yang membuatnya tetap pada kondisi seperti orang rendahan, adalah karena dia berasal dari panti asuhan, yatim piatu, juga Everly tidak bisa membuat keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
Karena kekurangannya itulah, Everly pun tetap di rendahkan, dia diperlakukan seperti robot. Menunggu perintah yang tepat.
Hingga suatu hari, di saat Everly berlatih menggunakan pesawat jet yang baru keluar dari pabriknya, dia diam-diam di serang oleh orang lain. Dan itulah yang membuat Everly meninggal, dan entah kenapa...
_______________
Flashback Off.
'Entah kenapa aku bereinkarnasi ke masa lalu.' Everly mengepalkan tangannya dengan erat.
Dia sungguh tidak percaya kalau ia akan bereinkarnasi ke tubuh orang lain, dan membuatnya hidup di zaman sebelum masuk ke abad 22.
"Berarti karena aku belum di perintah untuk ikut dengannya, jadi aku harus tetap berdiri di sini kan?" gumam Elly sambil menyindir dirinya sendiri.
__ADS_1
Maka dari itu, dengan pemikirannya itu, Elly dengan bodohnya tetap berdiri di atas ruftoop, sambil memandang kota yang terlihat cukup sesak untuk di huni jutaan manusia dalam satu tempat yang tidak seberapa luas itu.