Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
29 : PTRI : Kehadiran Elly membawa Alves kedunia baru


__ADS_3

Ketika Alves sedang menertawai posisinya itu, tanpa di sengaja sudut matanya melihat ada goresan luka tepat di bagian pelipis.


Alves pun membungkukkan tubuhnya ke arah Elly yang sedan tertidur itu, tangannya terangkat untuk meraih wajah Elly yang terlihat kalem itu.


Satu usapan lembut mendarat di pelipis sebelah kanan Elly, sampai si empu perlahan membuka matanya dan memperlihatkan wajah Elly yang kini dalam posisi setengah sadar.


Tanpa tahu apa yang sebenarnya Alves lakukan, Elly yang merasa masih terbuai dalam lamunan mimpi karena baru saja mengalami mimpi indah dalam nuansa hangat bisa di temani seseorang yang akan berada di sisinya sampai seumur hidup, Elly pun menangkap tangan Alves yang kini sedang menyentuh wajahnya.


Perasaan hangat itu tentu saja terlintas di benaknya. Hingga mulut yang sedari tadi tertutup rapat, tiba-tiba separuh terbuka dan mengucapkan sepatah kalimat yang cukup lirih. "Arth~"


'Arth? Itu terdengar seperti nama pria. Apa dia mengira kalau aku adalah orang yang dia sebutkan tadi?' Meskipun hanya dengan mendengarnya saja, Alves merasa terusik dengan nama yang keluar dari mulut manis milik Elly, Alves sama sekali tidak menarik kembali tangannya dari wajah Elly yang rupanya kembali memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.


Dia sungguh, sama sekali tidak bisa membiarkan tangannya itu melepas pipi mulus milik Elly yang terlelap tidur itu.


Tapi buaian dari perasaan bisa tidur bersama dengan wanita yang berperan menjadi pelayannya itu seketika saja sirna di depan mata, saat dia melihat adanya darah di sisi tempat Elly tadi berbaring, sebelum Elly sendiri merubah posisinya untuk tidur ke arah kiri.


'Apa dia terluka?' Detik hatinya. Karena khawatir dengan apa yang sedang dia tatap itu, Alves akhirnya beranjak dari tempatnya, memposisikan tubuhnya dalam keadaan merangkak, dia mencoba melihat apa yang terjadi di belakang punggung Elly itu. 'Apa ini karena pecahan beling saat aku menubruknya?'


Alves yang entah kenapa tiba-tiba saja merasa bersalah dengan kondisi Elly saat ini, akhirnya Alves pun memutuskan untuk turun dari tempat tidur.


Dia mencari handuk kimono untuk membalut tubuh polosnya, lalu pergi menuju nakas, tempat dimana ia menyimpan kotak P3K.


Setelah mendapatkannya, Alves pun pergi ke satu objek yang harus dia obati.


"Unghh ..." Lenguh Elly, ketika Alves sedang menggunting pakaian bagian belakang milik Elly.


Ya.


Tanpa harus membangunkan Elly yang terlihat sangat lelah itu, setelah berhasil melumpuhkan dua orang sampai kantor milik Alves sendiri jadi seperti medan perang, Alves pun sengaja memotong pakaian dibagian kulit tubuh milik Elly yang terluka.


'Padahal kacanya masih bersarang di dagingnya, tapi dia masih bisa tidur seperti itu?' Alves yang merasa khawatir, segera melakukan tindakan yang bisa dia lakukan untuk menangani luka milik Elly.


Meskipun ia harus memotong belakang pakaiannya Elly sampai separuh punggung hingga Alves sendiri dapat melihat punggung Elly yang polos, Alves akan tetap melakukannya.


GLUK.


'Kenapa aku seperti ini? Hanya dengan melihatnya saja, aku jadi menginginkannya. Tidak, dia itu adalah pelayan, dan sekarang dia sedang terluka, aku seharusnya tidak memikirkan hal apapun.' Keteguhan hati yang sedang di bawa oleh Alves membuat Alves sama sekali tidak sadar, bahwa telinganya sudah merah padam.


Dan dua orang yang saling menjaga itu pun menikmati dunianya masing-masing.

__ADS_1


Elly yang menikmati tidurnya, karena kelelahan, sebab ia menggunakan tubuh fisik yang bukan tubuhnya yang asli melebihi porsi yang bisa di lakukan oleh tubuh itu.


Dan Alves yang sedang serius mengobati punggung Elly dengan penuh kehati-hatian.


> Satu jam kemudian.


Mata yang terpejam akhirnya terbuka dengan cukup lebar.


Elly akhirnya bangun dari masa hibernasinya yang terasa nyenyak, tapi juga meninggalkan rasa sakit yang mendera tubuhnya.


"Ternyata setelah aku memindahkan tubuh mereka bertiga, aku tanpa sadar jadi langsung tertidur." Gumam Elly sambil menggaruk belakang kepalanya yang terasa gatal itu. 'Tapi kenapa selain sendiku terasa sakit, punggungku juga terasa sakit, dan sejuk?'


Elly yang penasaran dengan apa yang terjadi di bagian punggungnya, langsung bangun dari tempat tidurnya, lalu pergi ke arah cermin yang ada di dalam kamar mandi, tepat di atas wastafel.


'Hah? Kenapa pakaianku sudah seperti ini?' Pikir Elly dengan mata semakin terbuka lebar, hingga ia benar-benar sadar sepenuhnya.


Elly sungguh di kejutkan dengan pakaian bagian punggungnya yang sudah tidak utuh lagi.


Tapi lebih dari pada itu, 'Ternyata aku luka di bagian punggung? Eh sebentar, aku kan tidur, lalu siapa yang mela-'


Elly akhirnya sadar juga, karena satu-satunya orang yang bisa melakukannya tanpa sungkan, siapa lagi kalau bukan Alves.


Apa yang akan terjadi jika saat masuk dan keluar, Elly memakai pakaian yang berbeda?


'Sudahlah, aku tidak peduli dengan itu.' Elly berbalik, lalu keluar dari kamar mandi.


Karena dia tidak bisa mandi, gara-gara lukanya sudah lebih dulu di perban, Elly pun mencari sesuatu yang setidaknya cukup masuk akal untuk membalut tubuhnya itu.


_____________


TING.


"Hah~ Karena dia belum bangun, aku terpaksa kembali lagi." Gumam Alves, sambil membawa paper bag di tangan kanannya itu.


Dia baru saja belanja, baik untuk makan malam, maupun untuk dia berganti.


Alves memang bisa tidur di manapun, tapi tetap saja ia merasa asing ketika ia harus kembali ke kantor untuk menginap di kantor?


Entahlah, Alves tidak tahu, karena selama pelayan pribadinya itu belum bangun, ia tidak bisa pulang lebih dulu.

__ADS_1


Di dalam lift, karena semuanya sudah dibereskan, dari masalah pencurian, rapat yang tertunda, dan semua karyawan yang mendapatkan trauma?


Dia tidak memperdulikan itu, karena selama mereka semua di gaji, mereka mau tidak mau akan tetap bekerja di bawah naungannya.


Alves tiba-tiba saja termenung ketika ia menatap pemandangan kota yang bisa Alves jangkau dari tempatnya itu.


'Dia lagi-lagi membantuku. Sampai mau melawan pencuri itu? Sebenarnya apa-apaan dengan wanita itu? Padahal saat di atap, aku sempat sedikit memarahinya, tapi dia malah membantuku seperti ini.


Elly, sebenarnya siapa kau? Di balik tubuhnya yang kurus kering seperti itu, dia bisa mengalahkan dua pencuri, sampai saat aku bangun saja, aku sudah ada di tempat tidur.' pikir Alves seraya menatap dinding lift yang terbuat dari kaca itu.


Dimana, seiring waktu Alves menatap kaca itu, pemandangan kota yang pertama kali Alves lihat itu, perlahan jadi menatap wajahnya sendiri yang terpantul di dinding kaca tersebut.


Dia sama sekali belum pernah, dilayani, ataupun melayani wanita sampai seperti itu.


'Dia berhasil mencuri perhatianku.' Detik hati Alves, seraya menyentuh dinding kaca itu dengan tangan kanannya, sampai bel lift tanda sampai pun terdengar.


TING.


Alves segera keluar dari lIft dan berjalan menuju kantornya.


KLEK.


"Ini sudah jam delapan, aku harus membangunkan Elly dulu. Setidaknya perutnya itu tidak boleh kosong. Atau Doni akan rewel lagi kepadaku." Ucap Alves pada dirinya sendiri, sambil menarik dasi yang terasa mencekik lehernya, menutup pintunya dan memutar tubuhnya ke belakang.


"Berita kali ini, setelah lima tahun menjalin hubungan, akhirnya kedua selebriti ini akan melangsungkan pernikahannya di tanggal 25 besok.


Acara yang akan di selenggarakan di hotel xxx, sungguh mengejutkan, karena sampai menelan biaya lima puluh enam milyar.


Seperti yang kalian saksikan kali ini, dekorasi yang akan di gunakan akan mengusung tema alam, tapi uniknya akan di adakan di dalam gedung."


Alves yang baru masuk itu tiba-tiba saja di suguhi berita dari selebriti papan atas yang akhirnya akan menikah tahun ini?


Itu sudah jelas, karena Alves sendiri sebenarnya dapat undangannya.


Namun yang dia tidak menyangkanya adalah, Alves menemukan Elly sedang menonton berita itu lewat televisi dengan wajah serius, dan saking seriusnya Alves melihat Elly juga sedang menggigit jari dengan bibir yang terlihat menggoda itu.


Tapi dari pada itu semua, 'Kenapa Elly memakai pakaianku?'


Alves pun memejamkan matanya. Dia benar-benar harus menghadapi satu orang wanita yang berperan menjadi pelayan itu, tapi punya hal yang di lakukan sesuka hatinya.

__ADS_1


'Tapi wajahnya terlihat serius seperti itu, sampai pipinya merona. Apakah dia sedang menontonnya sambil mengkhayal seseorang jadi pasangannya kelak?' Melihatnya saja, Alves jadi ikut merona sendiri.


__ADS_2