
"Baiklah, jika kau ingin aku turun tangan untuk membereskan masalahmu itu, apa kau mau membawa asistenmu lagi di hari yang akan datang?" Tanya Jefferson.
Elly dan Alves saling melirik satu sama lain, kamudian Alves menjawab : "Itu masalah gampang. Asal paman bisa membereskan soal apa yang terjadi pada gudang penyimpanan yang ada di pelabuhan."
Jefferson tersenyum puas, "Aku akan menangkap pelakunya sesuai dengan instruksimu. Tapi setidaknya aku ingin tahu apa imbalanku nanti."
"Paman sendiri maunya apa? Selama permintaan paman masih masuk di akal, aku akan mengabulkannya, tapi jika itu diluar kemampuanku, paman tidak usah berharap besar kepadaku.” Jawab Alves.
Senyuman itu pun kian menjadi lebar, dan Jefferson menjawab : "Aku akan memberitahumu lewat pesan." Lalu Jefferson melirik kearah Elly yang benar-benar duduk di meja samping mereka berdua persis.
Saat ini Elly sedang duduk sambil menatap puding paling fenomenal, membuat telinga Elly mulai memerah.
"Pfft, asistenmu lucu." Ucap Jefferson lalu mencoba menimbang apa ekspresi wajah Alves sekarang.
Elly yang mendengar kata 'Lucu' keluar dari mulut sang tamu dari majikannya, sontak langsung menoleh ke belakang dan bertanya : "Apanya yang lucu?"
"Tentu saja wajahmu anak muda, kau sedang kagum dengan puding itu kan?” Jefferson sedikit tertawa lepas, dan melirik lagi puding yang ada di depan mata Elly.
Puding itu bentuknya seperti bola yang di potong menjadi dua, dimana tepat di atas puding berwarna pink itu ada ujung puncak berwarna pink sedikit kemerahan. Dengan di letakkan di atas piring bundar berwarna putih bersih, mau di lihat dari sudut manapun puding itu benar-benar mirip seperti-. saat Elly pun melirik ke arah bawah, tepatnya sepasang aset miliknya yang tersimpan di dalam pakaiannya, puding itu pun memang sangat mirip dengan buah dada dari seorang wanita.
“Hahah, cantik kan?” Tanya Jefferson, meledek Elly.
Alves yang tidak tahan dengan puding yang pamannya pesan untuk Elly, Alves tiba-tiba saja langsung melempar sendok kecil miliknya ke tengah puding tersebut
PHAK….
Dalam seketika puding itu langsung terbelah menjadi dua secara sempurna.
“Yah?” Elly mengeluh
“Apa kau sesuka itu menatap puding aneh itu?” Tanya Alves menyela keluhan Elly karena puding aneh yang sangat mirip dengan buah dada wanita, secara tidak langsung sebenarnya membuat Alves tersinggung sendiri. Makannya, Alves pun langsung menghancurkan imajinasi Elly itu dari puding yang langsung terbelah menjadi dua itu.
“Tidak juga, tapi jika anda mau saya buatkan, saya akan membuatkannya untuk anda.” Dengan dalam damainya, Elly langsung menyuap satu sendok puding pertamanya kedalam mulutnya.
‘Asisten dengan majikan, kelihatannya mereka berdua punya hubungan lebih dari apa yang aku lihat. Alves, kau ternyata sudah besar ya? Padahal dulu sependek meja ini, tapi sekarang bahkan tingginya sudah melebihiku, seperti tiang listrik.’ Memikirkan hal tersebut, Jefferson langsung tersenyum-senyum sendiri, membuat Alves semakin menatapnya dengan tatapan penuh curiga.
“Karena urusan kita sudah selesai, aku akan pergi.” Sebagai orang yang punya alergi terhadap kucing, tentunya dia tidak akan berada di sarang kucing itu lama-lama. “Elly, ayo pergi.”
“Tapi aku belum selesai makan.” Ucap Elly, tapi Alves yang sudah tidak mau ada di tempat itu lebih lama lagi, dan apalagi melihat Elly malah benar-benar memakain puding aneh itu, Alves langsung menyeret Elly pergi.
“Jika kau masih ingin memakan puding, aku akan membuatkannya untukmu. Cepat pergi, aku tidak mau berada di neraka ini lebih lama lagi.” Suara tegas yang begitu menuntut Elly untuk segera beranjak dari sana, tidak bisa mebuat Elly untuk tidak mengalah.
__ADS_1
“Iya,” Dengan raut wajah sedih, Elly pun meninggalkan puding yang masih tersisa banyak itu. Dan ketika melihat wajah Jefferson yang terus tersenyum kearahnya, Elly pun jadi merasa aneh sendiri. ‘Sebenarnya kenapa dia terus tersenyum ke arahku? Walaupun dia mengatakan hal yang terdengar menyenangkan untuknya, tapi tidak denganku. Kenapa Alves begitu percaya dengan pamannya sendiri seperti itu?’
Deretan pertanyaan pun bermunculan, tetapi ia sama sekali tidak bisa bertanya saat ini juga, karena Alves terlihat sudah mengeluarkan aura kebenciannya.
“Miaw…., miaw…, miaw…”
Beberapa kucing mulai berjalan menghampiri Alves, setidaknya ada tiga kucing yang sedang duduk menghalangi jalan nya Alves.
‘K-kucing-kucing ini, apa mereka semua ingin aku bunuh?’ Geram Alves melihat hewan yang paling ia benci, malah berani menghalangi jalannya.
“Apa anda sebegitu bencinya terhadap kucing?” Kembali menatap kucing yang ada di depannya itu, dia pun menunggu jawabannya.
“Kalau tidak? Aku mana mungkin ingin membunuh semua kucing yang mendekatiku.” Jawab Alves saat itu juga, bahkan aura gelap nya pun sudah tidak bisa dibendung lagi untuk tidak keluar begitu saja, sehingga Elly yang begitu sensitif terhadap mood milik Alves, hanya diam.
‘Huh, aku tidak tahu kalau dia ternyata punya masalah yang harusnya sepele, jadi terlihat berat. Padahal kucing, tapi dia ternyata begi membenci kucing karena alergi itu sendiri.’ Pikir Elly, lalu ia pun menatap ke tiga kucing itu dengan begitu intens.
“Miaw….miaw….miaw…..”
“Miaw…”
“Miaw….miaw….”
“Tapi mereka menghalangi jalanku.” Kernyit Alves, mewaspadai ketiga kucing itu dengan tatapan tajam.
Ia tidak mau jika dirinya lewat, tiba-tiba saja kucing itu akan berlari dan melompat ke arahnya. Itulah, alasan kenapa Alves ragu dengan perkataan Elly.
Tapi seperti apa yang di lakukan oleh Alves kepada Elly beberapa waktu tadi saat menariknya pergi dari ruang makan, saat ini Elly lah yang bergantian memegang tangan Alves dan pergi mengikutinya.
“Elly-”
“Tenang saja. Mereka tidak akan melompat ke arah anda.” Jawab Elly. Dan benar saja, saat Elly berjalan memimpin Alves, menuntunnya pergi keluar dari restoran Miaw, ketiga kucing tadi hanya diam saja, walaupun Elly dan Alves melangkahi tubuh mereka bertiga.
Alves yang sedikit bingung itu, sempat menoleh ke belakang dan melihat ketiga kucing tadi tetap berdiri di tempatnya sambil menatap ke arah pintu bagian yang lebih dalam dari restoran, tempat dimana Alves, Jefferson dan Elly berada di satu ruangan itu.
KLINGG….
Suara lonceng dari pintu yang terbuka dan kemudian tertutup lagi membuktikan kalau mereka berdua akhirnya keluar dari restoran tersebut.
Di saat itulah, Elly melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Elly.
“Jadi anda menyuruh paman anda untuk mencari dalang di balik pencurian itu?” Setelah menyimpan begitu lama pertanyaan itu di dalam kepalanya, setidaknya semenjak dimana insiden pencurian flashdisk itu ada dan berhubungan langsung dengan apa yang terjadi di gudang penyimpanan yang ada di salah satu pelabuhan terbengkalai yang ada di kota A, akhirnya Elly pun beranya juga.
__ADS_1
Ia berusaha untuk menghilangkan rasa penasaran itu sendiri dengan bertanya langsung ke narasumbernya langsung.
“Ada apa?” Tanya balik Alves, memperbaiki ujung lengan yang sempat kusut itu, kemudian ia berjalan masuk kedalam mobil yang memang terparikir di depan restoran persis. “Apa kau mencurigai sesuatu?”
BRAK….
Seperti layaknya majikan dengan pelayan, Alves duduk di bangku belakang, sedangkan Elly duduk di bangku depan dengan maksud akan menyetir mobil.
“Entahlah, apa paman anda itu memang seperti itu? Dia tersenyum terus, padahal tidak ada sesuatu yang begitu lucu.
“Ya, dia orang yang selalu punya pikiran yang tidak aku tebak. Walaupun aku menyerahkan tugas ini kepada pamanku, bukan berarti aku benar-benar mempercayainya” Jelas Alves, ia bukanlah tipe orang yang akan mempercayai seseorang bahkan jika orang itu masih masuk dalam bagian keluarga besar nya, ia tetap tidak bisa sepenuhnya menaruh semua kepercayaan nya itu pada satu orang, jika sekalipun orang itu adalah keluarganya sendiri. “Tapi jika kau memang merasa curiga kepadanya, kau bisa menyelidikinya untukku. Walaupun aku tidak begiu mengizinkannya, tapi kau pasti akan tetap melakukannya kan?”
Alves pun melirik ekspresi wajah apa yang sedang Elly gunakan saat ini lewat spion tengah yang menggantung di depan, di dalam mobilnya.
Dan Elly yang tadinya diam dengan mulut tertutup rapat, tiba-tiba saja langsung menyunggingkan senyuman sebagai jawaban ‘Iya’.
“Dari awal anda punya kasus pencurian, saya kan memang sudah penasaran. Jadi ada baiknya aku menuntaskan rasa penasaran ini, ya kan? Apalagi dengan adanya Arya yang sudah kita jadikan sandera, pasti dengan begitu kita akan dapat informasinya.” Jelas Elly. “Lagi pula, sepertinya informasi mengenai pencurian di kantor anda tidak anda ceritakan kepada Tuan Jefferson, hal itu bukankah sudah begitu membuktikan bahwa anda ingin tahu bagaimana paman anda bergerak mengurus tugas yang anda berikan, ya kan?”
Alves yang di berikan rentetan penjelasan yang begitu masuk akal seperti itu dari Elly, hal itu akhirnya membuat Alves tersenyum remeh.
“Apa dulunya kau juga berbakat dalam bidang ini?” Tanya Alves. Tepatnya, apa yang Alves tanyakan adalah soal pekeraan yang di lakukan oleh Ellnda ketika sebelum masuk kedalam tubuh Raelyn itu sendiri.
Elly menoleh, satu jawaban yang pasti yang bisa ia berikan adalah satu permen lolipop yang langsung Elly keluarkan dan ia makan. “Berbakat? Itu bukanlah jawaban yang bisa aku jawab dengan pasti, karena saya bukan lagi diri saya yang dulu. Tapi satu hal yang pasti, karena saya suka dengan tantangan.” Jelas Elly.
Setelah menyelesaikan jawaban pertamanya, Elly berkata lagi : “Maka dari itu alasan saya mau melakuan kerja sama dengan anda itu karena kehidupan anda itu punya potensi lebih untuk mendapatkan berbagai macam tantangan.”
“Jadi bukan karena aku tampan dan punya banyak uang?”
Elly menoleh, dan hal itu pun memberikan kesempata kepada Alves untuk mendekat, dan merebut permen lolipop yang sudah di **** oleh Elly, untuk Alves makan.
“Itu termasuk.” Elly merebut kembali permen miliknya dari mulut Alves secara langsung, dan kembali menggantikan rasa permen itu dengan mulutnya. “Tapi tenang saja, soal tantangan yang di ikuti ketegangan, adalah alasan nomor tiga milik saya.”
Alves yang belum begitu puas dengan permen yang Alves dapatkan sesaat tadi sebelum di rebut, langsung merebutkan kembali dan kali ini permen tersebut Alves gigit sampai pemen tersebut pecah.
“Kalau begitu, yang nomor satu apa dan yang kedua apa?’
“Kekayaan anda, lalu yang kedua wajah anda, tentunya.” Jawab Elly, mengakhiri pembicaraan mereka berdua. Dan hal itu pun membuat Alves tersenyum puas dengan jawaban Elly yang secara tidak langsung artinya memujinya juga.
“Calon Istri bagus.” Ledek Alves sambil mengusap ujung kepala Elly.
Elly hanya membiarkannya kali ini, karena peran mereka berdua saat ini tentunya adalah pelayan dan majikan, dimana seorang pelayan akan mengiyakan dan menerima apapun yang di lakukan oleh majikannya ini.
__ADS_1