
"Jadi aku ing-"
GREP!
Tangan kanan Elly yang hendak mengusap wajahnya sendiri dengan saputangan yang sudah dia bawa itu tiba-tiba di cengkram kuat oleh Alves.
"Jangan lakukan itu." Alves tiba-tiba saja memohon kepada Elly?
Elly melirik ke arah Alves, dan dia melihat ekspresi Alves yang terlihat seperti orang yang sedang memohon. "A-"
"Aku akan membayarmu. Karena ini adalah acara penting, jadi jangan hapus riasanmu." Pinta Alves.
'Padahal Alves bukan tipe orang yang suka dengan wanita yang suka berdandan. Tapi kali ini, dia-' Tangan Asena segera menepis tangan Gibran, 'Sampai memohon seperti itu. Elly kau benar-benar wanita yang berhasil menarik hati Alves. Setidaknya, kali ini Alves sudah tidak lagi sendirian.'
Asena pun jadi merasa senang, karena akhirnya Alves yang suka menyendiri itu akhirnya bisa menemukan wanita yang bisa menarik perhatiannya sampai seperti itu.
"Elly, aku juga akan membayarmu jika kau benar-benar bisa mempertahankan hasil riasan milikku itu." Kata Asena menantang Elly.
Gibran yang juga suka dengan penampilan dari Elly, akhirnya juga sama-sama mendukung. "Iya Elly, kau jangan menghapus kerja keras Istriku. Seperti yang mereka berdua katakan, aku juga akan membayarmu juga."
'Mereka bertiga, kenapa sebaik ini kepadaku? Padahal hanya riasan. Aku benar-benar tidak begitu menyukainya, tapi mereka..., sampai mau membayarku karena riasan ini, aku..., bukannya jelas aku tidak bisa menolak ini?' Elly yang merasa terpojok dengan permohonan dari mereka bertiga yang bahkan masih belum Elly kenal dengan baik, hanya mengangguk kecil. "Baiklah."
"Fyuh~" All.
'Kenapa mereka menghela nafas?' Batin Elly, bingung dengan reaksi dari mereka bertiga yang terlihat lega?
Entahlah.
"Karena kau akhirnya sudah sepakat, berarti saatnya kita keluar." Ajak Alves.
Seperti yang di harapkan, jika Asena di tuntun oleh Gibran untuk turun ke dari helikopter, maka Alves juga menuntun Elly turun juga.
"Kita jadi terlihat seperti pasangan, ya kan?" Tanya Alves dengan nada menggoda.
__ADS_1
"Mimpi saja sana. Aku hanya menuruti kemauanmu karena kau mau membayarku." Balas Elly.
'Dia, bicaranya terang-terangan sekali.' Pikir Asena, melirik ke arah samping kanannya. Ada dua orang punya kemauan yang sangat bertolak belakang.
"Padahal ada cara lebih singkat agar kau bisa punya uang, status yang tinggi lebih cepat dari pada sebagai pelayan." Ujar Alves, memberikan sebuah kode kepada Elly, seperti apa yang pernah Alves tawarkan sebelumnya, bahwa cara paling cepat dan saling menguntungkan satu sama lain adalah dengan menikah.
'Dia lagi-lagi mengatakan itu.' Sayup-sayup angin malam yang dingin itu menerpa tubuh mereka berempat.
Elly sesaat mendongak ke atas, sama halnya dengan langit yang masih di selimuti awan kelabu yang cukup gelap, Elly sebenarnya masih merasakan hal yang sama.
Apa yang di tawarkan oleh Alves memang cukup masuk akal, jika ingin tempat tinggal, uang, kamar yang hangat, status yang menjamin hidupnya, semuanya harus terhubung dengan Alves ini sendiri, yaitu menjadi Istrinya.
Tapi masalahnya disini, Elly sama sekali tidak ingin memiliki hubungan pernikahan, karena ia masih enggan untuk menerima apa yang pernah Elly alami di kehidupan sebelumnya.
'Salahmu sendiri terus bekerja dan meninggalkanku. Jika saja kau lebih memperhatikanku, aku tidak mungkin akan pindah lain hati seperti ini. Dari pada kita berdua melanjutkan pernikahan kita dan aku akan terlihat jadi orang yang lebih menyakitimu, lebih baik pernikahan kita di batalkan.'
'Ah~ Sudah bereinkarnasi seperti ini, kenapa ucapannya itu selalu saja menghantuiku.' Benak hati Elly.
Meskipun dari luar ia terlihat baik-baik saja, akan tetapi sebenarnya latar belakang Elly di kehidupan sebelumnya, ia pernah gagal dalam pernikahan karena calon suaminya dengan terang-terangan membatalkan pernikahannya sendiri, dan secara jujur sudah meniduri wanita lain, yang mana wanita dari calon suami Elly di kehidupan sebelumnya sudah hamil satu bulan.
"Aku sama sekali tidak tertarik." Ketus Elly.
'Dia benar-benar menolakku. Apa alasannya?' Pikir Alves, sama sekali tidak tahu kalau sebenarnya jiwa yang ada di dalam tubuh dari wanita yang ada di sampingnya itu bukanlah jiwa yang sebenarnya, melainkan jiwa dari seseorang yang tidak sengaja masuk kedalam tubuh dari wanita itu.
'Elly! Kenapa dia malah menolak tawarannya? Dia sungguh aneh, padahal ada banyak wanita yang mengantri ingin jadi Istrinya, tapi kau sungguh menolaknya?!' Pekik Asena mendengar jawaban Elly yang sungguh-sungguh menolak tawaran Alves untuk menjadi Istrinya.
______________
"Oh ya, aku dengar Tuan Alves akan datang juga."
"Hmm? Tuan muda Alves yang itu?" Jarinya menunjuk ke atas, dan beberapa orang langsung menerima imajinasi sosok Alves yang suka bekerja sampai lembur itu, akan datang ke pesta?
Banyak diantara mereka sering ikut pesta, baik itu karena pertemuan bisnis, pesta untuk pengumpulan dana amal, maupun pesta ulang tahun perusahaan atau pesta pernikahan. Tapi dari sekian banyak pesta yang mereka semua hadiri, Alves adalah sosok yang cukup tertutup, karena lebih memilih untuk tidak datang, dan menganggap kalau menghadiri pesta adalah pembuangan waktu yang cukup sia-sia.
__ADS_1
Lantas gerangan apa yang sedang merasuki Alves sampai tiba-tiba mau datang ke resepsi pernikahan seperti malam ini?
Karena topik pembicaraan itulah, perlahan banyak yang mulai bergosip tentang Alves itu.
"Oh ya, katanya Tuan Gibran dan Nona Asena juga akan hadir juga." Kata seorang wanita yang kini sedang duduk sambil meminum jus yang baru saja dia terima dari salah satu orang pelayan yang berpatroli.
"Eh~ Pangantin baru itu kan? Aku jadi tidak sabar ingin melihatnya juga."
"Memangnya kau saja yang tidak sabar, aku juga. Mereka berdua kan pasangan yang cukup serasi. Bahkan aku pikir, Nona Asena memang lebih cocok dengan Tuan Gibran ketimbang Tuan Alves." Imbuhnya lagi.
"Hmm? Katamu dulu Tuan Alves dan Nona Asena pasangan yang cocok." Wanita ini memberikan tatapan menyelidik ke arah temannya itu.
"Yah~ Karena Tuan Alves sepertinya lebih cocok denganku ketimbang Nona Asena." Jawabnya, dengan senyuman tawar menghiasi bibir yang baru saja di gunakan untuk minum.
"Kau memang sungguh licik. Kalau begitu aku juga akan berharap kalau aku lebih cocok dengan Tuan Alves ketimbang kau."
"He~ Kau kan pendek, mana mungkin Tuan Alves suka dengan wanita yang tubuhnya di bawah seratus enam puluh centimeter." SIndir wanita ini sambil memposisikan tangan kanannya di udara, bahwa ketinggian dari temannya itu hanya setinggi itu.
"Kau ak-"
"Alves, jadi ini tempat pesta dari kedua artis itu?"
Sampai suara milik seorang wanita lain dengan memanggil nama Alves, langsung menarik perhatian semua orang yang mendengarnya.
"Sudah aku bilang berapa kali, apa jangan-jangan karena kepalamu yang pernah terbentur itu membuatmu jadi wanita pelupa?" Sahut Alves dengan sebuah sindiran.
"Kalian berdua, apa tidak bisa untuk tidak berdebat untuk satu jam ke depan, aku sudah bosan mendengar kalian berdua bicara hal yang tidak menguntungkan seperti itu." Pungkas Asena.
"Tapi bukankah dengan perdebatan kecil seperti itu akan membuat mereka berdua jadi semakin lebih dekat?" Dan suara milik Gibran yang sedang menggandeng tangan Asena, juga sama-sama berhasil untuk mnejadi pusat perhatian dari semua tamu undangan yang hadir di sana.
"Tuan Gibran dan Nona Asena sudah datang!"
"Eh..? Tapi kira-kira siapa wanita yang di bawa oleh Tuan Alves?!"
__ADS_1
Sontak tatapan mereka semua tertuju kepada dua pasang yang baru saja masuk kedalam ballroom.