Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
171 : Lamaran


__ADS_3

Flashback


Sebelum Alves pergi membersihkan diri untuk mandi karena seekor kucing, Alves memberikan perintah kepada orang-orang yang akan datang untuk proses pembersihan.


"Dengar ya, selagi kalian membersihkan rumahku, kalian juga punya tugas lain untuk mendekor semua taman di rumahku dengan lampu. Kebetulan malam nanti akan turun hujan, bawakan lampu anti air."


-"Baik, saya paham Tuan. Saya dan rekan tim saya akan mencari lampu terbaik untuk menghias taman anda lebih cantik dari taman kota."-


"Ya, sebaiknya begi..chumm! Hachumm! Yang paling penting, prioritaskan rumahku bebas dari bulu kucing!"


-"Baik Tuan! Saya pastikan tidak akan ada sehelai bulu kucing pun yang tertinggal di rumah anda, bahkan tungau sekalipun."-


"Aku harap seperti itu. Lakukan dengan benar, selagi aku menahan calon istriku di kamar mandi. Jadi lakukan dengan cepat tapi harus punya hasil yang bagus. Paham?"


-"Saya paham."-


Setelah berhasil menghubungi para pekerjanya, Alves pun menurunkan rencana berkutnya. Dimana pertama-tama dia mandi dan begitulah, baru juga mandi, setelah dia keluar dari kamar mandi, sayangnya dia harus di hadapi dengan kucing yang langsung menerjang ke arahnya, dan juga hal paling memalukan yang pernah ada adalah Elly yang terjatuh sampai secara tidak sengaja juga, menarik handuk yang di pakai oleh Alves.


Flashback Off.


_____________


"Kau-" Elly kehilangan kata-katanya saat mendengar alasan di balik Alves melakukan semua ini dengan begitu cepat.


"Kau mau menerimanya tidak? Kalau tidak juga tidak apa-apa?" tawar Alves.


"Kau yang menawarkanku seperti ini, membuatmu terlihat begitu putus asa saja." Kata Elly menatap dua cincin itu dengan seksama.


'Apa dia sengaja untuk mengulur-ngulur waktuku?' Pikirnya, apalagi melihat hujan semakin deras.


"Kau sudah kebelet ya?" Elly justru meledek Alves yang cukup buru-buru melamarnya.

__ADS_1


"Anggap saja seperti itu." Ketus Alves. Semakin waktu berlalu, rasa percaya dirinya pun perlahan jadi luntur.


"..." Elly menatap Alves dan cincin itu secara bergantian. Sungguh, baru juga pulang tapi tiba-tiba saja di lamar, Elly pun jadinya terkejut dan bingung harus bagaimana, apalagi ia belum lama ini baru saja di berikan nasehat oleh Gibran.


Maka pupus sudah dia saat ini untuk mendapatkan sebuah keputusan.


"Elly, jika kau tidak mau lebih baik katakan sekarang, hujannya sudah semakin deras." Pinta Alves.


"Dan semakin dingin." Sambung Elly, membuat sebuah kode kepada Alves. "Jika dingin artinya membutuhkan kehangatan, ya kan? Kira-kira apa kau tahu bagaimana cara untuk menghangatkan tubuh di saat cuaca sedang dingin seperti ini?"


Kedua mata Alves membulat lebar, dia seketika tahu maksud dari ucapannya Elly, "Pelukan."


"Jadi menurutmu, kau akan menganggapnya apa pelukan yang barusan kau katakan itu?" tanya Elly, kembali memancing Alves untuk menerjemahkan ucapannya Elly tadi.


DHUARR.....


DHUARR....


DHUARR....


"A-aku jadi malu, aku juga bukan orang yang romantis. Tapi aku senang, kau sampai menyiapkan hal semacam ini. Sampai punya teman yang bisa di percaya seperti Orson, aku mengucapkan selamat kepadamu ya?" Elly menawarkan tangannya untuk menjabat ke arah Alves. Antara sebagai bentuk untuk salam selamat, juga sebagai tanda untuk menerima barang yang akan disematkan kedalam salah satu jarinya itu.


Seketika, wajah Alves pun begitu senang dan bahagia dengan jawaban panjang tapi hanya punya satu arti kalau Elly akhirnya menerima dirinya.


Dengan kebahagiaan yang tidak bisa di hitung lagi jumlahnya, dia segera mencabut satu cincin yang ada di dalam kotak cincin itu dan menyematkannya di jari manis kiri Elly.


"Jadi ada isinya lagi." Senyum Elly sambil mengangkatnya ke atas seolah sedang menerawang tangannya sendiri.


"Berarti kau janji ya, menikah den-" Alves terdiam sejenak mengatur kalimat yang seharusnya keluar dengan ucapan yang lebih baik dari itu.


"Kau memang benar-benar pria kesepian ya? Saking sepinya sudah kebelet ingin menikahiku." Cibir Elly dengan senyuman tipisnya yang mengandung banyak sekali makna, antara simpati, senang, juga sedih.

__ADS_1


Karena mereka berdua sama-sama mengalami hal yang sama dalam bidang percintaan, makannya Alves jadi seperti itu, dan Elly jadi seperti ini.


Tepatnya sih, karena di kehidupan mereka berdua saling mengkhianati.


"Nah, sekarang kau yang masukkan cincin nya ke jariku." Pinta Alves, menyodorkan kotak cincin yang masih menyisakan satu cincin berukuran besar yang sekalinya sudah di masukkan kedalam jari manis sebelah kirinya Alves, itu benar-benar pas.


"Apa kau puas?" Tanya Elly masih menatap tangan kiri Alves, menatapnya dengan cukup lekat sampai dengan manjanya, Elly menuntun tangannya Alves untuk di letakkan di pipinya Elly.


Pipi yang cukup mulus bagai porselen, kulit yang saling bersentuhan itu kian menyusuri wajah dan akhirnya telapak tangan milik dari pria tersebut berhenti di depannya mulutnya sampai sebuah kecupan kecil mendarat di sana.


CUP...


"Jelas, kau pasti puas, ya kan?"


Dan semburat wajah merah milik Alves, berhasil membuat Elly yakin kalau Alves punya area sensitif di telapak tangannya persis.


"Kau memang wanita yang pintar menggoda." senyuman licik menghiasi bibirnya, dan setelah berhasil membuat dirinya malu dengan tingkahnya Elly, Alves langsung mengedepankan wajahnya untuk menggapai wajah Elly sampai tangan kirinya yang tadinya di gunakan sebagai penghalang bibir diantara mereka berdua, menjadi sebuah sarana untuk menarik wajah Elly lebih dekat dengannya.


ZRASSHHH.....


JDERR...


Sebuah ciuma*n akhirnya menjadi hak milik mereka berdua, tepat di bawah hujan lebat dengan petir sebagai hiasan langit setelah melewati langit yang di penuhi dengan kembang api beberapa saat lalu.


Dari kejauhan.


"Belum lama bertemu tapi mereka berdua seperti sudah lama saling mengenal." Gerutu Orson, dia saat ini sedang ada di atap sambil memakai jas hujan.


Walaupun hanya bisa melihatnya dari atas, tapi Orson sungguh mampu melihat betapa mesranya dua orang sejolin yang ada di bawah sana itu.


Di tempat dia berada, satu-satunya rumah yang berdiri di pinggir hutan itu, menjadi tempat paling berwarna.

__ADS_1


__ADS_2