Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
121 : Elly jadi taruhan lagi


__ADS_3

Jika Elly masih begitu terkejut karena orang yang datang, rupanya adalah Aiden, maka tidak dengan Alves.


Dia sudah tahu, kalau anak angkat dari orang tadi, adalah Aiden sendiri.


"Karena Aiden sudah datang, bagaimana jika kita bertanding langsung?" Kata Alves, mencoba untuk menantang Aiden yang terlihat begitu akan menikmati semua permainan yang akan di adakan oleh mereka berdua.


"Oh, ternyata anda sudah kenal dengan anak saya?" Tanya ayah dari Aiden. Meskipun pria paruh baya ini mengangkat Aiden sebagai anaknya, namun pria ini benar-benar menganggap Aiden adalah anak kandungnya sendiri. Makannya, Adien pun tumbuh jadi seorang yang bisa di jadikan seorang saingan untuk Alves sendiri.


Bukan sekedar di bidang bisnis, karena mungkin saja ada saingan dalam hal cinta?


'Lihat itu, dia pintar sekali berakting seperti orang baik. Naif sekali anak ini, padahal masih bau kencur.' Umpat Alves dalam diam.


Namun, melihat Aiden sesekali melirik ke arah Elly, Alves pun jadi semakin terpancing untuk tidak membiarkan Elly mengalihkan perhatiannya itu ke pria lain.


'Cuman seperti ini, tapi aku benar-benar sudah cukup cemburu. Tapi ini sudah cukup, kalau aku memang tidak bisa membiarkan orang ini merebut kembali Elly.' Benak hati Alves, karena ia sudah tahu latar belakang dari hubungan antara Raelyn, atau yang sekarang sudah sepenuhnya menjadi orang baru dengan nama Elly, bersama dengan Aiden.


'Alves, orang ini mulai lagi? Kenapa dia terus menunjukan wajah obsesinya kepadaku itu kepada orang lain? Padahal, aku sama sekali belum punya rasa cinta, tapi bisa-bisanya Alves lebih dulu menyukaiku secara terang-terangan?' Elly perlahan jadi merasa terbebani.


Padahal awal dari hubungan antara dirinya dengan Alves adalah memang sungguh, adalah pelayan dan majikan, tapi perlahan, seiring waktu berlalu, semuanya jadi berubah.


Alves, demi menghindari banyaknya wanita yang bisanya mengerubunginya ketika ada di luar, peran Elly adalah untuk menjadi pelayan yang tidak lain, seolah adalah kekasihnya. Maka dari itu, Alves pun memperlihatkan rasa sukanya itu di depan banyak orang, dan imbasnya, tentu saja Elly jadi seperti pelayan yang menggoda Alves, padahal sebaliknya.


"Tuan, apa an-"


"Oh, ngomong-ngomong agar permainan ini semakin menarik, bagaimana jika pelayanmu yang menjadi taruhannya?" Tawar Aiden. "Dan aku akan bertaruh pada diriku sendiri."


"Aiden, kau kenapa lancang sekali dengan Tuan Alves?" Tekan Ayah nya Aiden, tidak suka dengan cara berpikir Aiden yang tiba-tiba membuat sebuah taruhan. Padahal niatnya tidak seperti itu, tapi sekarang?


Aiden pun menawarkan taruhan dengan dirinya sendiri, jika Alves benar-benar mau taruhan dengan menggunakan pelayannya.


'Anak ini! Aku ingin sekali membuangnya ke laut palung Mariana. Kau mau membuat kesepakatan antara Elly sebagai taruhan, dengan dirimu sendiri? Kau pikir ini adil? Jika dia menang, yang jadi masalahnya Elly yang akan pergi dari sisiku, dan dia ..., tidak ada manfaatnya sama sekali.' Pikir Alves, masih tidak bisa menerima cara Aiden membuat taruhan untuk pertandingan diantara mereka berdua.


"Atau, kau takut jika pelayanmu jauh darimu?" Tanya Aiden lagi, mulai memancing emosi terdalam milik Alves.

__ADS_1


"Tuan Aiden, kalau membuat taruhan, kenapa tiba-tiba harus saya yang menjadi bahan taruhannya? Memangnya tidak ada yang lain?" Kata Elly, membuat Aiden tersenyum.


Dari luar, Aiden memang tersenyum, tapi jangan lihat dari situ saja, karena di dalamnya, Aiden sedang tertawa kearahnya, karena di kira takut.


Takut untuk menjadi taruhan mereka berdua.


"Mungkin, karena kau berhasil menarik perhatianku." Jawab Aiden dengan senyuman lembutnya.


Sungguh, di mata Elly, Aiden seperti sedang diam-diam merencanakan sesuatu terhadapnya.


'Padahal waktu itu sudah aku beri pelajaran. Apa dia tipe orang yang tidak mudah kapok? Oh, jangan-jangan dia tipe-tipe seperti Alves. Semakin aku menolak, dia akan semakin tertarik untuk menaklukanku. Dasar, manusia, kalian emang suka seenaknya.' Benak hati Elly, melihat cara Aiden yang tersenyum ke arahnya itu adalah sebuah senyuman palsu.


"Atau kau takut jika majikanmu kalah dariku?" Sindir Aiden.


Wajah Elly semakin serius. Memang, dirinya tidak menyukai pria ini, tapi jika dirinya menolak, sama saja mengartikan dirinya takut terhadapnya.


"Kau bahkan tidak bisa membuat taruhan yang sesuai. Jika aku menggunakan pela-" Seketika ucapannya terpotong oleh Elly sendiri.


"Saya tidak takut. Lagi pula saya sangat percaya dengan majikan saya sendiri, bahwa-" Elly melirik ke arah Alves, kemudian dengan berani, dirinya meraih tangan Alves dan memeluk lengannya dengan erat.


"Saya percaya dengan kemampuan majikan saya. Ya kan, Tuan?" Senyuman dengan ekspresi wajah polos yang tertuju ke ke arah wajah Alves, membuat Alves terpegun.


'Wanita ini, kenapa sikapnya bisa langsung berubah 180 derajat? Sampai memeluk tanganku, dia memang benar-benar tidak ingin aku kalah darinya. Padahal, jika takut kenapa pakai bilang tidak takut?' Memikirkan bahwa sebenarnya Elly takut tapi sok tidak takut seperti itu, Alves lantas tiba-tiba tersenyum.


Bagaimana dirinya tidak menyadari akan sesuatu yang selalu sudah pasti seperti ini?


Maka dari itu, Alves yang sudah tidak tahan untuk bertanya, langsung berbisik di telinganya Elly. "Mendengar kau mengatakan itu, aku jadi berpikir-, Elly, apa soal kau mengatakan tidak suka kepadaku, sebenarnya tidak sesuai dengan hatimu yang sudah menyukaiku?"


"...!" Elly terdiam, karena Aiden begitu memperhatikannya dengan sedemikan intens ke arahnya, mumpung wajah Alves sedang berada atasnya kepalanya persis, Elly pun langsung meraih kepala Alves, menariknya kemudian Elly pun mendaratkan bibirnya di permukaan bibir Alves.


CUP.....


"Wow..., dia pelayan yang cukup berani." Satu persatu orang yang melihat ke arahnya, menyatakan pendapatnya.

__ADS_1


"Jangan-jangan wanita itu hanya berpura-pura jadi pelayan, padahal sebenarnya adalah kekasih dari Tuan muda Alves?"


Mendengar ada yang menyatakan pendapatnya seperti itu, satu persatu orang, perlahan juga memikirkan hal yang sama.


"Itu bisa jadi sih?"


Tapi perlahan, melihat cara Elly bagaimana melakukan serangan kepada majikannya dengan cara seperti itu, baik wanita maupun pria yang ada di sana, mereka semua jadi tersipu malu sendiri, sebab adegan antara Elly dengan Alves begitulah romantis, bagaikan dua orang yang sedang memperlihatkan seberapa cinta mereka berdua kepada mereka semua.


'Wah-wah, ternyata kau terobsesi dengan bibirku ya?' Tatap Alves, ketika melihat wajah Elly yang terlihat begitu menikmati permainannya sendiri, apalagi sampai memejamkan matanya.


Tapi, bagaikan adanya kemampuan telepati diantara mereka berdua, Elly pun memberikan ekspresi wajah yang bisa Alves mengerti ekspresi wajah apa itu. 'Sembarangan saja. Aku hanya terobsesi dengan uangmu saja. Tidak lebih, dan aku melakukan ini, agar, setidaknya Aiden itu cemburu. Aku tidak suka dengannya.'


'Oh ya? Tapi kenapa aku merasa kalau kau memang sedang haus dengan rasa dari ciumanku?' Goda Alves.


'Raelyn, berani juga sampai memperlihatkan hubungan kalian di depanku secara terang-terangan seperti itu, apalagi di depan umum.' Apa ini artinya kalian berdua sedang memulai perang denganku?' Aiden yang merasa cemburu, langsung angkat bicara. "Apa salam perpisahan kalian sudah selesai?" Sebuah pertanyaan dalam bentuk sindiran.


"Dia tidak akan pernah berpisah dariku," Alves pun membalas pelukan dari Elly, selepas puas menerima tegukan dari air liur mereka masing-masing, lalu berkata lagi : "Dan awas saja, jika kau kalah, kau harus menadi budak ku." Tunjuk Alves dengan seringaian nya.


"Hmm.., tapi tidak mungkin selamanya kan?"


"Ha? Kalau memang takut menjadi budakku selamanya, kenapa kau pakai berpikir untuk membuat taruhan denganmu?" Tanya Alves, mengejek Aiden.


Seketika wajah Aiden jadi suram. Bahwa Alves benar-benar tidak ingin melepaskan kesempatan untuk membuat Aiden tidak berkutik lagi, jika memang kalah darinya.


"Aiden, aku bukan menyuruhmu datang kesini untuk membuat taruhan." Kata Ayah angkat Aiden.


"Walaupun Ayah bilang seperti itu, pada akhirnya aku di perintahkan datang kesini untuk mencoba mencari siapa yang lebih hebat, ya kan?" Balas Aiden, tanpa melihat lawan bicaranya yang sudah panik sendiri, karena Aiden bisa-bisanya membuat taruhan dengan Alves, yang merupakan Bos besar disini.


"Heh. Ternyata kau punya satu pikiran yang sama denganku. Tapi aku tidak akan mengubah keputusanku, jika kau kalah kau akan jadi budakku selamanya." Ucap Alves, tersenyum bangga, karena dirinya mengatakannya dengan nada sombongnya, dan membuat mereka semua orang yang ada di sana, mengerti, kalau dirinya adalah orang yang berkuasa, dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengganggu gugat keputusannya.


"Dan jika aku menang, maka pelayanmu akan menjadi milikku selamanya." Sambung Aiden.


Elly yang was-was dengan kemungkinan yang bisa terjadi itu, memeluk lengan Alves lebih erat.

__ADS_1


'Hehh...., sudah aku tebak, dia ini takut, jika aku kalah, ya kan?' Pikir Alves, begitu merasa gemas melihat ekspresi wajah Elly yang terlihat begitu serius, padahal di balik itu sedang menyembunyikan perasaan takutnya. 'Lagi pula, aku tidak akan kalah darinya. Golf itu hanya permainan untuk orang yang sudah seberapa lama mereka bermain, bukan seberapa pintar memainkannya. Aku sudah menekuni bidang ini bertahun-tahun, jadi aku tentu saja percaya diri dengan kemampuanku.'


Dan permainan yang menyatakan sebuah taruhan besar pun di mulai, membuat suasana di sana semakin ramai, untuk melihat siapakah kira-kira orang yang akan meraih kemenangan?


__ADS_2