Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
34 : PTRI : Mall


__ADS_3

Seperti biasa, setiap pagi orang yang mempunyai kebutuhan lebih khusus akan selalu melakukan ritual paginya sebelum melakukan pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas kesehariannya. 


Termasuk Elly sendiri. Setelah melakukan ritualnya sendiri dengan berendam di dalam bathtup yang memiliki banyak kenangan karena pernah mandi bersama dengan laki-laki yang statatusya adalah menjadi majikannya, Elly langsung pergi menuju lemari pakaiannya dan memakai baju pelayan sesuai dengan posisinya saat ini, tentunya. 


Tapi apa jadinya, jika wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah berdiri di depan lemari untuk mengambil pakaiannya, tiba-tiba ketika ia menutup lemari pakaiannya, sosok dari beruang grizzly itu ternyata sudah ada di balik pintu lemari?


“K-kau, apa yang kau lakukan di kamarku?” Elly yang memang sesaat tadi masih memikirkan soal mimpi yang ia alami malam tadi, tentu saja membuat Elly merasa terkejut dengan kehadiran dari Alves yang sudah berdiri persis di balik pintu dengan penampilan sudah rapi menggunakan jas formal nya. 


“Huh~ Aku kira kau tahu kedatanganku.” Kata Alves.


Alves entah kenapa terus saja menghela nafas, dan itu bertepatan setelah pikirannya terus saja terganggu dengan cerita dari mimpi milik wanita yang ada di depannya itu. 


‘Aku masih saja kepikiran soal yang kemarin. Sampai aku tidak bisa tidur saja, gara-gara membayangkan kalau aku saat muda pernah menyetubuhinya? Kira-kira saat aku usia berapa? 


Dari penampilan Elly ini, dia memang terlihat lebih muda sekitar tiga atau empat tahun dariku. Tapi jika memang sesuai dengan apa yang dia katakan saat muda aku melakukannya, bukannya berarti itu sama saja saat Elly ini antara di usia masih sekolah SMA atau baru lulus? Pasti ada di sekitar itu. 


Aku harus mencari tahunya sekarang. Tapi jika aku meeninggalkannya sendiri, jangan-janngan dia akan melakukan apa yang kemarin dia lakukan. 


Dia seperti sosok istri saja. Ah, kenapa dengan wanita ini? Biar sekalipun dulunya aku pernah menyetubuhinya, bukannya berarti sah-sah saja jika aku membuat dia jadi Istriku sekalian?’ Semakin di pikirkan kepalanya semakin ruwet seperti akar serabut. 


“Jadi ada apa, sampai kau datang ke kamarku? Aku ingin ganti baju.”


“Kalau mau ganti, ganti saja.” Balas Alves saat itu juga. 


Mata Elly membulat sempurna. “Kau ini-”


“Tapi jangan pakai baju itu.” Pungkas Alves, menyita pakaiann pelayan yang sudah ada di tangannya Elly, mengembalikannya ke dalam lemari, kemudian Alves pun memilihkan pakaian yang sebenarnya sudah ia pesan untuk Elly. “Coa pakai ini.”


Alves memberikan satu setel dres berwarna pink kepada Elly. 


“Kenapa aku memakai ini?”


“Kau akan ikut denganku.” Senyuman lebar itu menghiasi bibir mautnya.


“Kemana?” Elly mengernyitkan matanya. 


“Kantor.”


“Tapi kenapa?”


“Sudah, jangan banyak tanya, pakai saja itu, ini perintah dariku sebagai majikanmu.” 


Mendengar peringatan tentang posisi diantara mereka berdua, Elly langsung menyambar dress tersebut dengan kasar. 


Setelah merebut dress tersebut, Elly menatap gaun yang akan dia pakai. “Jika aku pergi ke kantormu dengan pakaian yang seperti ini, aku akan di anggap apa lagi oleh mereka?”


“Siapa? Apakah maksudmu Dina itu? Tidak akan ada yang menjelekkanmu atau menghinamu lagi. Tapi jika ada, bukannya kau bisa mengatasi orang-orang seperti mereka?” Kata Alves dengan senyuman yang cukup berseri-seri.


“Jadi itu alasanmu, kenapa aku ternyata bisa naik lift pribadi milkmu?” Mengangkat dres mini, yang jika di pakai, maka itu akan memperlihatkan kedua kakinya, karena panjang dari dres itu hanya sampai di atas lutut. 


Elly tentu saja ingat betul dengan apa yang terjadi saat di lobi. Dia berdebat dengan seorang resepsionis, sampai hampir di tangkap oleh petugas keamanan. Karena ia percaya diri untuk naik lift dengan monitor pemindai jari tangan, karena itu adalah lift yang mana kinerjanya lebih cepat ketimbang lift biasa, rupanya ia di izinkan memakainya, sebab sidik jari tangannya ternyata sudah di daftar sebagai orang yang memiliki akses lift tersebut. 


Entah sejak kapan, Elly tidak tahu itu. 

__ADS_1


“Tunggu apa lagi? Cepat pakai, dan aku akan menunggumu di atap.”


“Kenapa di atap?” Tanya Elly lagi yang serba penasaran dengan keinginan Alves yang tiba-tiba saja mengajaknya ikut. 


Tanpa menghentikan langkah kakinya untuk pergi keluar dari kamar Elly, Alves menyempatkan dirinya untuk menoleh ke samping dan menjawab : “Karena kita akan berangkat menggunakan helikopter.” 


KLEK.


__________________


Dan benar saja, Alves membawa helikopternya lagi untuk sampai di gedung kantor nya. 


Tidak seperti sebelumnya, kemarin malam yang Elly lihat adalah pemandangan dari kota yang di hasi oleh banyaknya lampu, maka sekarang keindahan itu tidak ada lagi. 


Yang ada di bawah mereka semua adalah hiruk pikuk kota yang dilihat saja sudah sangat membosankan. Apalagi jika sudah melihat kalau jalanan sedang macet karena adanya kecelakaan di perempatan jalan. 


“Padahal aku ingin lihat pelayanku bisa berpakaian cantik, kenapa malah di padukan dengan rok panjang dan blazer?” 


“Apakah itu pujian?” Elly menoleh dan memperlihatkan ekspresi tidak suka nya. 


“Kau bisa menganggap itu pujian. Lagi pula jarang sekali aku memberikan pujian kepada orang lain, jadi seharusnya kau merasa terhormat di puji olehku kan?” Lagi-llagi Alves berbicara dengan senyuman lebar yang perlahan terasa memuakkan untuk Elly sendiri. Sebab itu terlihat seperti senyuman yang di paksakan.


‘Ada apa dengan orang ini?’ Detik hatinya. “Aku memakai rok panjang juga karena punya alasan. Aku hanya ingin tidak memperlihatkan sesuatu.”


“Sesuatu?”


“Yah~ Karena aku tiak memperkirakan kalau kemarin aku harus menghajar pencuri, aku tidak sengaja memperlihatkan punyaku yang tidak memakai celana pendek. Jadi aku harap kau menggunakan uang gajiku untuk membeli beberapa celana juga. Itu akan membuatku lebih leluasa melakukan banyak hal ketimbang aku harus memperlihatkan kakiku yang cantik ini.”


Elly menghela nafas kasar, dia tidak berpikir akan menghadapi laki-laki dengan pembicaraan yang cukup terbuka seperti ini. 


“Daripada menunggu nanti, lebih baik beli sekarang.” Senyuman yang tidak pernah pudar dari tadi itu, akhinrya membuat tujuan Alves langsung di ganti untuk pergi ke mall. 


Dan helikopter yang Alves bawa pun berputar balik dengan cukup bagus. 


____________________


Di dalam Mall. 


Elly dan Alves pergi menuju lantai lima dan mall terbesar di kota A. 


Setelah sampai di lantai lima, banyak yang menjadi tempat untuk Elly cuci mata. 


Dari restoran, butik, toko perhiasan, arena permainan, dan ketika melihat ke arah bawah, ia juga melihat adanya mobil mewah yang berjejer rapi, mobil dalam berbagai merek itu sedang di promosikan, dan merupakan keluaran terbaru di tahun ini. Maka dari itu, banyak yang menontonnya, apalagi model yang mendampingi mobil mewah itu adalah wanita cantik dengan penampilan seksi, sebab memiliki proporsi tubuh yang sempuran dan sesuai standar untuk di jadikan pajangan. 


“Mereka menjual waktu, tubuh, dan kecantikan. itu lebih melelahkan.” Elly memejamkan matanya merasa jijik dengan itu semua. 


“Bukankah kau sama saja?” Sinis Alves melihat ekspresi malas milik Elly yang terlihat imut itu. “Tidak ada jauh berbeda dengan mereka.” 


“Tidak jauh berbeda artinya sama saja dengan berbeda. Yang seperti itu, banyak di perhatian orang, aku sama sekali tidak menyukainya.” 


“Dengan kata lain, kau lebih suka jika hanya aku saja yang memperhatikanmu?” Alves mencoba berekspresi berpura-pura berpikr.


“Kan aku pelayanmu, tentu saja harus di perhatikan.” Balas Elly tanpa sungkan sama sekali dan tanpa adanya malu. 

__ADS_1


Setelah selsai memperhatian apa yang ada di atas, bawa samping kanan dan kiri setelah keluar dari lift, mereka pun beranjak dari pagar kaca pembatas itu untuk pergi ke salah satu toko yang memanng menyediakan berbaga ikebutuhan untuk wanita?


Apalagi kalau bukan karena Elly. 


Jika tidak ada Elly, Alves tidak mungkin akan membuang waktunya untuk pergi ke mall. 


Tapi karena adanya Elly, Alves pun sebenarnya suka-suka saja dengan situasinya saat ini, karena dia jadi terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. 


“.....!” Alves mengangkat kedua alisnya, sedikit terkejut dengan perasaan yang tiba-tiba muncul itu. ‘Ah~ Jadi aku memang benar-benar menyukai wanita ini.’ Pikir Alves sembari menutup separuh wajah bagian bawahnya dengan menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia masukkan kedalam saku celana, karena ingin menyembunyikan tangannya yang ingin sekali menggandeng tangan dari wanita yang saat ini berjalan di sebelahnya. 


Karena hari ini mall lebih banyak di kunjungi orang, maka banyak sekali orang yang berlalu lalang melewati mereka berdua. 


Sampai secara kebetulan, Elly mendengar adanya seorang wanita. 


“Eh~ Dompetku dimana?” 


“Ma~ Ayo bayar ma~ Aku sudah sangat lapar.” Seorang anak perempuan yang sedang memegang ice cream itu menarik-narik ujung baju yang di pakai oleh Ibunya, agar cepat membayar ice cream yang sudah ia beli itu. 


“Tenang dulu nak, Ibu sedang mencari dompet mama.” Bujuk wanita ini kepada anaknya. Ia terus mneggali dan mengobrak-abrik isi yang ada di dalam tas miliknya. Dan raut wakah paniknya kian terlihat karena ia sama sekali tidak menemukan dompetnya. 


“Bagaimana Nyonya?”


“Aduh, dompet saya hilang. Bagaimana ini?” bergumam sendiri dengan kepanikan yang ia dapatkan setelah dompetnya benar-benar tidak ada sama sekali.


“Apa kamu bersimpati ingin membantunya?” Tanya Alves di depan toko perhiasan, karena hanya dari jarak lima belas meter saja mereka berdua sudah mendengar keluhan dari Ibu dan anak itu. 


“Padahal di mall nya mewah dan besar seperti ini, tapi kenapa bisa ada pencuri? Kalau saja aku tahu siapa yang punya Mall ini, aku pasti akan menuntutnya.”


‘Pemiliknya ada di sampingmu loh, apa kau mau menuntutku untuk masuk kedalam penjara?’ Alves jadi terkekeh melihat reaksi serius Elly saat menemukan adanya ketidakadilan, karena di tempat mewah dan dikunjungi oleh kalangan atas, tapi rupanya masih bisa ada pencuri. “Ayo jalan lagi. Nanti juga petuagas keamanan akan mengatasinya, jadi biarkan saja.”


“Hmm …” Dehem Elly, masih merasa tidak puas hati dengan jawaban Alves yang terkesan tidak peduli itu. 


Karena itu, Elly dan Alves pun kembali berjalan menuju tujuannnya?


Ya, memang seperti itulah awal tujuan dari Alves untuk melanjutkan perjalanan mereka berdua. 


Samapi di tengah perjalanan, Alves melihat tangan Elly sudah mengepal dengan kuat. 


‘Apa dia kesal dengan apa yang aku katakan tadi karena terkesan mengabaikannya?’ Sampai pikiran itu terhenti ketika Elly masih berjalan di sampingnya dengan langkah santa, tiba-tiba saja Elly memberikan tinnjuan telak pada seorang laki-laki yang hendak berpapasan dengan mereka berdua. 


BUKH….


“Akh…!” Rintih laki-laki yang memakai baju kaos oblong biasa berwarna putih, tapi di padukan dengan blazer berwarna kelabu. 


Dan pukulan telak yang mendarat di perut laki-laki itu pun berhasil membuat laki-laki itu tumbang. 


BRUK…


“A-apa yang kau lakukan itu?” Alves sempat menarik tangan Elly kearahnya lebih dulu sebelum laki-laki itu tumbang dan menubruk Elly. 


“Aku hanya menghajar pencurinya.” Tatap Elly dengan ekspresi wajah yang cukup serius pada laki-laki yang kini sudah ada di lantai dengan perut yang sudah pasti teramat sangat sakit. 


‘Apa?’

__ADS_1


__ADS_2