
Elly melirik ke arah kanan dan kiri, atas juga bawah.
'Konsep pernikahannya mewah sekali?' Tatap Elly tiba-tiba merasa iri, karena ia bisa melihat dekorasi pernikahan yang cukup mewah.
Padahal acaranya ada di dalam gedung, akan tetapi mereka seperti di buat masuk kedalam negeri dongeng.
Itu yang di impikan banyak pasangan, mengawali perjalanannya dengan memasuki negeri dongeng penuh fantasi seperti itu. Tujuannya tentu saja untuk meninggalkan kenangan manis yang tidak bisa mereka lupakan.
'Indah.' Perlahan tatapan matanya menjadi sayu. Dia ingat, kalau dia juga memiliki kenangan bisa memilih dekorasi pernikahan yang mewah seperti itu, tapi karena semuanya kandas, maka Elly tidak bisa merasakan kebahagiaan itu sendiri.
'Elly terlihat kagum.' Pikir Alves saat sudut matanya melihat Elly terus mengamati semua hal yang ada di sekitarnya. Dan ketika Alves melihat ke ahar lengan tangan kirinya, Alves tiba-tiba saja tersenyum karena Elly masih belum melepaskan tangannya dari rangkulan tangannya Alves sendiri.
'A-apa? Tuan muda Alves tersenyum?!' Lysandra yang merupakan pengantin wanita dari acara malam ini, langsung terkejut saat ia melihat salah satu tamu undangannya yang Lysandra pikir tidak akan datang, justru datang dengan membawa wanita lain di sampingnya.
Tapi lebih dari pada itu, banyak orang yang merasa terkejut dengan sikap dan ekspresi wajah Alves yang tidak terlihat serius seperti biasanya itu.
"A-aku tidak salah lihat kalau Tuan muda Alves tersenyum kan?" Tanya teman dari Lysandra.
"Kau tidak salah melihat, Tuan muda Alves barusan memang tersenyum. Ada apa ini? Aku akan pergi menghampirinya lebih dulu, kalian tunggu saja di sini ya?" Pesan Lysandra sebelum ia akhirnya pergi meninggalkan teman-temannya, demi menghampiri Alves, Elly, Asena dan juga Gibran yang masih berdiri di tempatnya untuk mengamati situasi dan kondisi.
"Ya, balik lagi dan beri kami kabar terbaru tentang hubungan mereka."
"Cari informasi sebanyak-banyaknya ya."
__ADS_1
Mereka mengangguk setuju dengan inisiatif dari sang mempelai perempuan yang hendak menyapa keempat tamu yang baru hadir itu.
"Lihat, calon pengantinnya yang datang kesini. Memang ya, berangkat bersama dengan orang sepertimu itu langsung menarik perhatian semua orang disini." Ucap Asena saat melihat Lysandra.
"Mungkin saja di dalam tubuhnya ada magnet." Sahut Gibran dengan bisikan yang bahkan masih bisa di dengar oleh Alves.
"Jadi cantik ..., memberatkan." Gumam Elly.
"Apa seharusnya kau tadi menggunakan cadar?" Senyum Alves sambil menatap Elly yang terlihat tertekan itu.
"Tuan muda, terima kasih sudah bersedia datang ke acara pernikahan milik kami." Salam Lysandra dengan cara membungkuk hormat kepada Alves serta Elly juga sepasang pengantin baru, yaitu Asena dan Gibran. "Tuan Gibran, Nona Asena, dan ..."
Kalimatnya terhenti saat Lysandra masih tidak tahu siapa nama wanita yang ada di samping Alves itu.
"Oh, Nona Ellyna, terima kasih sudah datang." Lysandra benar-benar memberikan hormat kepada mereka berempat. "Saya Lysandra."
"Iya," Jawab Elly singkat, tidak tahu harus menyahuti dengan cara apa.
"Jadi, apakah anda bisa memperkenalkan siapakah wanita yang ada di samping anda ini? Apakah kekasih, atau apa?" Tanya Lysandra dengan tatapan penuh ingin tahu.
"Dia adalah ke-" Belum sempat menjawab pertanyaannya Lysandra, Elly langsung berbicara memotong ucapannya.
"Aku adalah pelayannya." Jawab Elly dengan antusias.
Sontak saja semua orang yang mendengar jawabannya Elly langsung tercengang, termasuk Alves sendiri.
__ADS_1
'Elly, kau tega sekali. Padahal aku ingin menggunakanmu sebagai tamengku.' Keluh Alves dengan posisinya saat ini.
"Apa?"
"Jadi Tuan muda Alves membawa pelayannya itu datang ke pesta. Apakah karena Tuan muda Alves tidak punya pasangan yang pas, makannya membawa pelayannya ke sini?"
"Aku pikir dia kekasihnya Tuan muda."
"Aku juga berpikiran seperti itu. Tapi ternyata dia adalah pelayan."
"Tapi, pelayannya itu, cantik juga. Siapa tadi? Elly kan?"
"Tapi tetap saja Tuan muda punya selera yang tinggi. Dia punya pelayan yang cantik yang bisa di bawa pergi kemanapun."
"Ya, semua orang pasti akan mengira kalau pelayannya adalah kekasihnya."
Asena yang mendengar hal itu, langsung menepuk dahinya sendiri.
'Kenapa Elly tidak diam saja. Rencana agar Alves punya tameng kan jadinya gagal total.' Pikir Asena. Dia pun juga merasa kecewa dengan jawaban Elly karena tidak berhasil membuat semua orang salah paham.
Sedangkan Elly sendiri, dia sama sekali tidak memperdulikan pendapat semua orang yang akhirnya tahu bahwa dirinya hanya berstatus sebagai pelayannya Alves.
'Kenapa kalian begitu terkejut seperti itu? Padahal aku hanyalah pelayan, tapi kelihatannya mereka semua berpikir aku punya hubungan lebih dari pelayan.' Lirik Elly, sampai secara tidak sengaja ia melihat ada satu orang yang menatapnya dengan tatapan terkejut juga.
Tapi sayangnya orang tersebut adalah orang yang membuat tangan Elly tiba-tiba saja merasa gemetar sendiri.
__ADS_1