Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
153 : Rafael merindu


__ADS_3

"Rafael! Tunggu!" Teriak salah satu rekan kerjanya.


Dia berlari menyusul Rafael yang hendak pulang itu.


"Ada apa?"


"I-ini, ini kue untukmu. Adikku tadi membawakan kue ulang tahunku, jadi aku ingin membaginya untukmu." Ucap wanita ini, dia pun memberikan sebuah kotak yang berisi potongan kue ulang tahun.


"M-makasih, padahal tidak usah repot-repot, kau kan jadinya berlari mengejarku." Sahut Rafael, dia merasa membuat temannya itu susah, karena mau berlari menyusulnya hanya sekedar kue saja.


"Tidak apa-apa kok, aku tidak bisa menghentikanmu lebih lama lagi, jadi sana pulang. Hati-hati di jalan." Kata wanita ini dengan senyuman bahagianya, karena ia berhasil memberikan kue miliknya kepada Rafael.


"Terima kasih, sampai jumpa lagi besok." Tutur Rafael, dia melambaikan tangannya ke arah wanita tersebut sebelum akhirnya dia berbalik dan berjalan pergi menuju pintu gerbang dari resort.


Dia adalah seorang pekerja yang bekerja sebagai seorang penjaga di resort tempat semua orang kaya yang suka bermain golf, sekaligus dialah orang yang bekerjasama untuk menemukan sebuah bom dan menyelamatkan semua orang bersama dengan Elly.


"Rafael, apa kau sudah mau pulang?" Tanya seorang satpam.


"Iya paman."


"Kalau begitu hati-hati ya?" Kata orang ini dengan memberikan senyuman ramah kepada Rafael.


"Ya." jawab Rafael dengan singkat.


Dia pun berjalan keluar dari area resort. Keluar sendirian dan hanya di temani segelas kopi yang ia bawa dengan gelas termos miliknya.


Setelah berjalan sedikit jauh, kurang lebih sepuluh menit, di area tengah hutan yang dimana di samping kanannya ada sebuah danau yang cukup besar, tiba-tiba saja sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di sebelahnya.


"..." Rafael. Dia akhirnya membuka pintu mobil tersebut kemudian masuk kedalam mobil.


BRAK....


"Tuan, apa yang anda bawa itu?" Tanya sang supir, dia menanyakan sebuah paper bag kecil yang Rafael bawa itu.

__ADS_1


"Hanya kue ulang tahun. Aku tidak terllau menyukai manis, untukmu saja." Ucap Rafael, lalu meletakkannya di atas dashboard tepat di depan area setir mobil.


"Terima kasih Tuan." Jawab pria ni, sedikit ragu atas pemberian kue dari sang majikan.


SLURPP....


Dan begitu kopi yang Rafael bawa itu ia seruput, mobil yang dia naiki pun melaju pergi ke tempat tujuan.


"Tuan, kita akan pergi kemana?" Tanya sang supir kepada Rafael.


"Pulang saja." Jawab Rafael.


Untuk pulang ke rumah, di butuhkan waktu kurang lebih lima belas menit untuk sampai, dan karena jalannya begitu lengang, mereka berdua bisa pulang lebih cepat dari waktu yang biasanya mereka berdua tempuh.


Setelah sampai di depan sebuah gerbang besi yang cukup besar, tinggi dan di dominasi dengan warna hitam, kedua gerbang itu langsung terbuka dengan sendirinya, sehingga mobil itu pun segera masuk dan begitu sampai di depan teras rumah persis, Rafael langsung di hampiri oleh seorang laki-laki muda awal 25 tahunan, dimana dia segera membukakan pintu mobilnya dan membiarkan Tuan yang mereka tunggu itu keluar dari mobil tersebut.


"Selamat datang, Tuan muda." Ucap pria ini, dia adalah seorang butler, dan pekerjaan dari seorang buler itu sendiri adalah dengan melayani sang majikan dengan sepenuh hati, baik dari hal sepele sampai yang paling sulit, posisi ini pun harus di kerjakan oleh orang yang punya semua kemampuan yang di butuhkan itu. "Apakah anda ingin mandi terlebih dahulu atau makan?"


"Aku ingin mandi lebih dulu." jawab Rafael. Dengan tampangnya itu yang begitu datar, dia pun berjalan mengekori pelayan pribadinya itu sampai ke lantai dua. Dan sebuah kamar yang ada di dalam rumah mewah pun Rafael masuki.


"Tanya saja apa yang ingin kau tanyakan." Sahut Rafael seraya membuka seragam nya itu. Seragam yang ia dapatkan dari tempat ia bekerja, kemudian dia letakkan di atas tempat tidur dengan sembarangan, sehingga dia pun memperlihatkan tubuh miliknya yang cukup atletis.


"Sepertinya anda ada kejadian baru beberapa hari ini. Benar tidak?"


"Hmm, aku rasa begitu." jawaban dari Rafael pun cukup ambigu, karena sengaja untuk membuat pelayan pribadinya itu berpikir sendiri.


Tapi, di sebabkan pelayan pribadinya itu terus menatapnya dengan tatapan yang begitu lekat, hal itu pun membuat Rafael jadi merasa tertekan sendiri.


"Yah, seperti yang kau katakan, aku memang ada beberapa hal baru yang cukup mengejutkan." Jawab Rafael, memberikan sedikit penjelasan agar pelayan pribadinya itu tidak terus menatapnya.


Karena hari perlahan sudah mulai petang menjelang malam, pelayan pribadi Rafael pun pergi masuk kedalam kamar mandi dan di ikuti oleh Rafael.


Di sana bathtub langsung di isi air, dan seraya tengah memperhatikan air hangat yang pas untuk sang majikan, pelayan ini pun kembali bertanya : "Kalau begitu kejutan macam apa yang anda dapatkan itu?"

__ADS_1


"Hmm-" Rafael mencoba untuk berpikir, yang mana pelayan pribadinya itu langsung mengerjakan tugasnya dengan membantu majikannya itu untuk melepaskan celana tersebut. Begitu sudah sudah terlepas, dengan tubuh telanjangnya Rafael pun masuk ke dalam bathtub dan menjawab : "Apa kau ingat apa yang pernah aku ceritakan dua puluh tahun yang lalu? Soal adikku yang hilang?"


Pelayan pribadinya itu pun mengangguk iya, karena dia memang masih mengingatnya, selain itu karena dirinya itu sudah hidup bersama dengan majikannya itu selama dua puluh tahun yang lalu, maka semau cerita baik itu tentang dirinya maupun cerita tentang adiknya, dia sudah tahu semuanya.


"Aku melihatnya, aku akhirnya menemukan adikku lagi setelah sekian lama." Imbuh Rafael dengan senyuman simpul. Tangannya pun bermain dengan busa yang berlimpah itu, dan berkata lagi : "Dia sudah tumbuh dengan baik, cantik, bahkan dia punya sifat yang tidak terduga. Dia cukup berani untuk ukuran wanita yang sudah dewasa. Apa kau bisa membayangkan apa yang aku ceritakan kali ini?" Tanya Rafael kepada pelayan pribadinya itu.


"Jika anda sudah berkata seperti itu, adik anda pasti memang benar-benar cantik dan hebat."


"Tentu saja, dia bahkan punya rasa percaya diri yang tinggi, sampai dialah yang memerintahku untuk membuang bom yang berhasil aku temukan berkat bantuan dari adik jeniusku." jelas Rafael.


Dengan begitu banyak kisah yang ia miliki, karena baik itu dirinya, pelayan pribadinya itu, serta adiknya, mereka bertiga sejujurnya berasal dari panti asuhan yang sama karena suatu insiden.


Tapi karena suatu hal, adiknya Rafael justru di jadikan anak angkat oleh seseorang yang membuat mereka bertiga berpisah.


Setelah Raelyn, adiknya di angkat menjadi bagian salah satu keluarga orang lain, begitu Rafael dan juga temannya sekaligus pelayan pribadinya itu di tinggal, dua bulan kemudian mereka berdua juga keluar dari panti asuhan karena kerabat jauh dari kedua orang tua Raelyn dan Rafael yang sudah meninggal itu datang menjemputnya, dan membuat Rafael berhasil mendapati kehidupan nyaman nya lagi setelah hidup susah di panti asuhan.


Karena Rafael mewarisi warisan dari kedua orang tuanya, akhirnya dia memiliki kekuasan nya sendiri, dan menggunakannya untuk terus mencoba mencari keberadaan dari Raelyn.


Tapi, gara-gara terkendala petunjuk yang sangat sedikit, semua usaha yang Rafael lakukan pun tidak kunjung mendapatkan titik terang.


Sampai kebosanannya sebagai orang kaya, dia gunakan untuk bekerja di tempat golf yang menyatu dengan sebuah resort terkenal, yang di miliki oleh Alves.


Dan di sanalah, titik temu tidak terduga dari pekerjaan sepele nya itu justru membuatnya bertemu dengan wanita yang selama ini dia cari.


"Lalu sekarang adik anda ada di mana? Kenapa anda tidak membawanya pulang saja?" Tanyanya kepada sang majikan yang sedang mandi.


"Dia, sekarang sudah punya kehidupannya sendiri. Walaupun aku tidak tahu cerita bagaimana dia bisa mendapatkan pria itu, tapi karena dia kelihatannya mencintainya, jadi aku akan membiarkannya bersamanya, asal dia bahagia." Jelas Rafael dengan senyuman lemah nya.


Sebenarnya dia sangat rindu, ingin sekali bisa bertemu dengan adiknya yang sudah lama menghilang dan berpisah dengannya lebih dari dua abad itu.


Tapi, begitu sekalinya dirinya bisa bertemu, kebahagiaan yang muncul dari wajah cantik adiknya justru di menangkan oleh pria bernama Alves itu.


"Tuan-" panggilnya dengan lirih.

__ADS_1


Mendengar sang majikan justru memilih untuk membiarkan adik kandungnya itu untuk bersama dengan pria lain yang menurut Tuan Rafael bisa membuat sang adik bahagia, membuat Tuan Rafael memilih untuk membiarkan dirinya menahan rindu itu untuk kebahagiaan adiknya dengan tidak mengusiknya.


__ADS_2