Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
180 : Menuju hubungan baru


__ADS_3

Diberikan peringatan dengan nada penuh penekanan seperti itu dari Alves, dia akhirnya merasa tersindir, apalagi beberapa pelayan yang lewat menyempatkan diri untuk terus menatapnya.


"Alves, apa kau yakin bicara seperti itu kepada ibumu sampai seperti itu?" Bisik Elly.


"Jika kau merasa bersimpati pada orang seperti dia, silahkan saja bela dia dariku. Aku tidak akan melarangmu, tapi kau harus siap dengan apa yang terjadi malam nanti." jawab Alves detik itu juga.


BRAK....


Kesal karena di perlakukan seperti itu oleh Alves, Alves akhirnya menghela nafas kasar, dan di saat yang sama juga, dia pun menganggap riasan yang sudah ia lakukan sudah cukup.


Elly yang sudah merasa kalau riasan wajahnya sudah selesai, dia kemudian membuka matanya secara perlahan. Tapi, saat dia membuka matanya, Elly justru melihat Alves yang sudah terdiam dengan kedua telinga yang memerah.


"Kau terlalu cantik untuk aku pandang."


"Kalau terlalu cantik sampai membuatmu pingsan, kau seharusnya meriasku jadi jelek." sela Elly dengan ekspresi wajahnya yang tenang.


"Masa kau menyuruh sua-"


"Wahh, kenapa hasilnya lebih bagus dari saya ya?"


"Itu artinya kakak perlu bimbingan langsung dari Tuan muda."


"Yah, tapi mana mungkin saya mendapatkan pelajaran langsung seperti itu dari Tuan muda."


Dua orang yang bekerja sebagai penata rias yang di pekerjakan oleh Alves, tapi hanya di suruh duduk diam di kursi itu, tiba-tiba sudah ada di samping mereka berdua, dan mengamati hasil dari make up yang di lakukan oleh Alves kepada Elly secara pribadi itu.


"Tapi anda benar-benar terlihat jadi lebih cantik." Memberikan dua jempol tangan mereka berdua kepada Elly.


"Ah,...iya. Terima kasih." Jawab Elly dengan wajah bingung, karena dia terus saja bertemu dengan banyak orang aneh.


"Kal-"


"Tuan muda, karena waktu baik untuk anda menikah sudah hampir dekat, ada baiknya anda menyerahkan sisanya pada kami berdua." sela perempuan ini.


"Iya, betul kata kakak saya. Kalau kami hanya di undang untuk duduk diam saja di sini, itu artinya anda sama saja menghina profesi pekerjaan kami." sang adik pun mendukung apa yang barusan di ucapkan sang kakak.

__ADS_1


Alves jadi terdiam, melihat kedua saudara kembar di depannya itu sudah mulai berani memerintah nya. Tapi karena melihat keberanian mereka berdua dalam mengutarakan pendapat kepadanya, Alves tersenyum simpul.


"Ok, lanjutkan saja seperti yang kalian inginkan, tapi jangan sampai ada sesuatu terjadi padanya, kalau tidak, tangan kalian berdua yang akan aku penggal."


GLUK....


'Padahal itu pasti hanya candaan saja, tapi kenapa rasanya ucapan dari Tuan muda terdengar cukup serius?' Pikirnya.


______________


"Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu. Tapi walaupun begitu, aku sangat ingin tahu! Bagaimana, bagaimana bisa dia menikah begitu mendadak seperti ini!" Teriak Vian, dia adalah salah satu teman dekat Alves.


Padahal belum genap setengah bulan, tapi yang Vian tidak percaya adalah kalau sahabatnya akan menikah!


"Vian, apa kau tidak bisa diam?" sela Deon yang sedang duduk bersama dengan Diana.


"Iya, apa kau tidak bisa dia? Nanti kalau kau bicara keras lagi, aku akan menyumpal mulutmu itu dengan pembalutku." Diana pun akhirnya angkat bicara.


Diana dan Deon awalnya sudah bertunangan, tapi karena suatu penyebab, mereka pun akhirnya berpisah.


"K-kau jorok." Vian langsung menutup mulutnya, karena ucapan dari Diana itu sungguh keterlaluan.


"Makannya, ini kan acara penting, jadi kau seharusnya menahan diri untuk tidak berteriak. Kau bisa menghajar Alves jika acara ini sudah selesai." Papar Diana.


"Diana, kenapa kau malah bicara seperti itu?" Tanya Deon.


"Tapi memang benar kan? Dia yang diam-diam sudah punya pasangan, sampai tiba-tiba mengirimi kita undangan, maksudnya apa jika tidak ingin di hajar, karena pemberitahuan yang tiba-tiba seperti ini?" Jelas Diana terhadap Deon.


Padahal hanya di selenggarakan di halaman belakang rumah, tapi kesan dari mewah tetap ada.


"Padahal aku tidak berpikir kalau aku mengirimkan banyak undangan, tapi kenapa rumahku terasa tambah ramai dari jumlah yang seharusnya?" Kernyit Alves terhadap Orson.


"Ini kan ulah dari Elly, dia yang menyebarkan undangan lewat online. Jadi sebenarnya, meskipun Elly tidak tahu siapa mereka, tapi karena dia sudah tahu banyak teman dari akun sosial milik mereka, jadi setelah sudah tahu alamat rumah mereka, satu per satu mereka di kirimi undangan.


Jadi seperti itulah, alasan kenapa halaman rumahmu jadi lebih padat." bisik Orson tepat di samping telinganya Alves.

__ADS_1


"Dia punya otak yang cukup licik, padahal aku ingin pernikahan ini di lakukan secara tersembunyi saja. Tapi ini?"


"Tenang, sudah terkendali kalau pernikahan ini tidak akan bocor."


"Tenang apanya? Selama manusia itu masih hidup, tidak ada rahasia yang tidak akan terbongkar." sahut Alves atas ucapan dari Orson yang mengatakan untuk tenang itu.


"Setidaknya untuk sementara waktu kan rahasia anda akan di tersimpan dengan baik, walupun tidak selamanya. Lagi pula, memangnya anda selamanya akan menyembunyikan status anda itu dari dunia?"ucap Orson, kembali menggunakan bahasa Formal.


Alves yang sudah ada di atas altar, langsung menoleh ke belakang dan melihat sosok yang sudah dia tunggu itu akhirnya datang juga dengan di bantu oleh beberapa pelayan, karena harus membantu membawakan gaun bagian belakangnya yang cukup panjang itu.


"Tidak juga sih. Tapi aku hanya ingin mamastikan saja, kalau kedepannya tidak ada yang mengganggu hubungan kami." Jawab Alves, dia langsung terdiam dengan ekspresi wajah membeku.


Karena Orson sudah melihat Elly sudah bersiap untuk datang ke arah mereka, Orson langsung bersiap, dia mengambil mic dari salah satu anak buahnya yang sudah mempersiapkan apa yang ia butuhkan itu.


"Untuk para tamu undangan silahkan duduk di kursi anda masing-masing, karena upacara pernikahan hari ini, akan segera di mulai." kata Orson sambil memejamkan matanya. Sebab dia sangat tersentuh, kalau temannya itu akhirnya tidak lama setelah pertunangan antara Alves dan Asena gagal karena Asena memilih untuk menikah dengan pria lain, sesuai dengan takdir dari orang yang waktu itu mendapatkan bunga yang di lempar Asena saat menjadi pengantin, akhirnya sekarang Alves mendapatkan pasangannya, tidak lama setelah itu.


Padahal sampai beberapa bulan lalu, Alves adalah pria yang terlihat kesepian, dan memilih untuk mencintai pekerjaannya.


Tapi semenjak kedatangannya Elly, sekarang Alves berhasil mengalihkan perhatiannya itu dari pekerjaannya dan tertuju pada Ellynda, atau nama aslinya adalah Raelyn.


"Seperti negeri dongeng, serang putri, mengharapkan seorang pangeran yang mampu mendampinginya dan melindunginya selama hidupnya berlangsung, sekarang putri dan pangeran yang di maksud itu sudah ada di depan kita sendiri. Raelyn dan Alves."


'Kenapa jantungku sangat berdegup kencang? Padahal ini hanyalah pernikahan, tapi aku seperti mau tes ujian militer. Hahh...apa aku tidak bisa mengendalikan pikiranku ini? Aku terus saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari dia.' pikir Elly, di ujung karpet merah, dia sama sekali tidak mampu mengalihkan pandangannya dari pria yang akan menjadi suaminya itu.


Suami, padahal sampai seminggu yang lalu dirinya terus menolak perasaannya terus menerus, karena menganggap hatinya belum siap, sebab trauma yang ia alami belum lama ini.


Tapi entah kenapa, detik ini, dia justru sudah berdiri di tengah-tengah banyak orang untuk menapaki jalan pertamanya, melangkah menghampiri orang yang akan ada di sisinya selama sisa hidupnya.


'Ya, dia menjanjikan aku untuk hidup selamanya denganku, aku harus berani. Lagi pula, jika ucapannya hanyalah omong kosong belaka, aku hanya tinggal membereskannya.


Seperti masa laluku, aku bisa melihat calon suamiku dan selingkuhannya lenyap dengan pesawat pribadi milikku, artinya sekarang aku juga tidak akan terjerat dalam masa laluku kembali.' pikir Elly, dia pun mulai memberanikan dirinya, untuk tidak terjerat dalam masa lalunya yang tidak kalah kelam dengan tubuh yang ia diami itu.


"Alves, awas saja jika kau mengkhianatiku, membuat wajah tampanmu itu di gunakan untuk merayu orang lain, aku tidak akan segan-segan." kata Elly lewat tatapan matanya yang cukup tajam itu.


Dan Alves yang mengerti dengan maksud dari tatapan mata itu, hanya tersenyum lemah. 'Kenapa dia terus saja punya prasangka buruk kepadaku? Padahal aku ini orangnya setia, tapi dia terus ragu dengan apa yang aku ucapkan. Apakah akau harus memberikan dia hukuman malam nanti?'

__ADS_1


__ADS_2