
"Hah!" Elly yang semula pingsan, tiba-tiba langsung sadar. "Apa-apaan dengan tubuh ini? Kenapa aku tiba-tiba saja pingsan?" Elly langsung mengepalkan tangannya sendiri, dia merasa geram dengan tubuh yang dia diami itu benar-benar lemah.
Ellynda atau nama yang biasa di panggil Elly adalah nama yang di berikan oleh Alves kepadanya, karena dia sendiri memang tidak begitu mengingat dengan apa yang terjadi pada tubuh yang dia masuki.
Benar.
Tubuh yang saat ini terbaring kembali di atas tempat tidur pasien sebenarnya bukan tubuh asli dari jiwa yang ada di dalam tubuh tersebut.
Jiwa yang mendiami tubuh Elly itu bernama Everly, dia sebenarnya bukan berasal dari abad dua puluh satu seperti saat ini.
Everly, karena sebuah kecelakaan pesawat yang dialaminya, dia akhirnya mati dan mengalami reinkarnasi kedalam tubuh orang lain yang kebetulan punya fisik serta tubuh yang mirip persis dengan miliknya di masa depan.
Tapi sekalipun sudah begitu, Everly tetap saja tahu dan terus menganggap bahwa tubuh itu bukanlah tubuh miliknya.
Dan tahu-tahu setelah bangun, dia sudah berada di rumah sakit, karena dia diselamatkan oleh pria beruang ini, Alves. Pria yang kini jadi majikannya.
"Oh~ Sudah bangun?" Alves yang sempat tertidur dengan mimpi dari kisah masa lalu miliknya, terbangun setelah merasakan adanya pergerakan dari tubuh Elly yang tidak sengaja salah satu tangannya tadi di letakkan di atas perutnya Elly. "Hoamh~"
Alves menguap dengan suka hati, di depan Elly.
Melihat pria menggemaskan itu menguap seperti beruang yang sedang frustasi karena kelaparan, Elly tiba-tiba mengusap kepala Alves yang kebetulan masih bisa di jangkau oleh tangan kanannya.
"Apa aku bisa pulang?" Tanya Elly di tengah-tengah Alves sedang memasang wajah bengong, karena pria ini kembali mendapatkan usapan di atas kepalanya dengan usapan manja layaknya anak yang baru saja meraih keberhasilan dan mendapatkan hadiah kecil tapi sungguh berarti.
"Ini masih terlalu dini, apa kau yakin mau pulang?"
"Aku tidak begitu menyukai rumah sakit. Lebih suka di rumah ketimbang tempat dengan banyak bau kematian ini." Jelas Elly seraya melepaskan jarum infus yang sempat mendiami di dalam kulit tipisnya di bagian punggung tangan kirinya.
Alves yang melihat itu, tanpa sadar jadi meringis, karena bagaimana pun itu terlihat sakit.
"Ayo." Ajak Elly, setelah turun dari tempat tidurnya dan berjalan memimpin Alves yang masih terduduk di kursinya.
Dikarenakan Alves melihat sesuatu yang merusak penampilan Elly, sebab Elly sama sekali belum menggunakan pakaian selain handuk kimono yang masih membalut tubuhnya, Alves pun menelepon seseorang.
Alves memberikan kode kepada Elly agar jangan keluar lebih dulu.
"Belikan aku satu setel pakaian wanita, ukurannya-" Alves melirik ke arah Elly dan memperhatikan tubuh Elly dari atas sampai bawah. "90, 60, 75. Terserah model apa, yang penting ukurannya itu."
Setelah menelepon seseorang untuk membelikannya pakaian kepada Elly, dia pun memutuskan panggilan itu.
"Apa kau berpikir untuk keluar dengan penampilanmu itu?" Tanya Alves.
__ADS_1
Elly tentu langsung melirik ke bawah. Dia memang masih menggunakan handuk kimono, yang artinya dia pingsan saat masih dalam posisi sedang mandi.
"Bukannya yang penting aku tidak keluar dengan telanjang?"
"Hei ..., hei ..., apa sebegitu tidak pedulinya dirimu dengan image mu?"
"Untuk apa? Aku kan hanya bertugas sebagai pelayanmu."
Alves membuka matanya, memperhatikan wajah Elly lebih dalam lagi. "Ya, sampai melayaniku."
"Maaf, aku jadi merepotkanmu." Elly memperlihatkan ekspresi wajah seperti merasa bersalah.
"Untuk apa minta maaf, akulah yang seharusnya minta maaf, karena kau yang masih sakit itu, bukannya Istirahat tapi malah bekerja. Aku akan memberimu waktu setengah bulan untuk liburanmu." Ucap Alves. Sesuai dengan saran yang diberikan oleh Doni, dia akan membuat wanita ini lebih dulu Istirahat.
"T-tidak! Masa aku haru is-"
"Tapi sisa darah yang menggumpal di dalam otakmu itu, akan memperlambat aktivitasmu. Setidaknya, selama gumpalan darah di dalam otakmu masih ada, kau tidak boleh bekerja. Itu keputusanku sebagai majikanmu, seharusnya kau paham dengan itu.
Singkirkan lebih dulu hal yang memperlambat tujuanmu." Jelas Alves.
Elly yang mendengar pernyataan itu, berhasil di buat bungkam. Sebab apa yang di katakan oleh Alves memang masuk akal, apapun yang memperlampat pekerjaannya, harus di hilangkan lebih dulu.
Dan halangan yang dimiliki oleh Elly adalah, di dalam kepalanya memang masih memiliki gumpalan darah. Itu sebabnya, kadang ada kalanya Elly merasa pusing, dan akhirnya pingsan sendiri.
Tapi semua itu harus di tepis dulu, karena satu-satunya cara untuk mengatasi permasalahan yang ada pada dirinya adalah dengan menghilangkan gumpalan darah di dalam kepalanya, menghilangkan bekas luka pada tubuhnya, dan mulai melakukan olahraga rutin agar tubuhnya tidak selemah tisu yang bisa hancur kapanpun itu.
'Yang dia katakan memang benar. Aku di berikan waktu untuk Istirahat, maka akan aku gunakan waktu Istirahatku sebaik mungkin.' Elly mengepalkan tangan kirinya. Rasa nyeri itu masih ada sebab belum lama ini jarum infus nya sempat tertanam di dalam kulitnya.
Tok....Tok.....Tok.....
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu itu terdengar, Alves yang memang sudah menunggunya sedari tadi, berjalan menghampiri pintu dan menerima pesanan yang di pesan Alves beberapa menit yang lalu.
Setelah menerima paper bag, Alves berbalik dan menyerahkannya kepada Elly.
"Pakai ini, baru kita bisa pulang." Pesan Alves sebelum akhirnya Alves pergi keluar lebih dulu, karena Alves tahu kalau Elly akan menggunakan pakaian di depan matanya langsung.
'Pasti begitu.' Alves berdiam diri berpikir di depan pintu masuk menunggu Elly selesai berganti pakaian.
TING....
"Hmm?" Alves tiba-tiba mendapatkan pesan singkat dari sekretarisnya. 'Rapat? Oh iya, besok memang sudah waktunya jadwal rapat bulanan. Jika anak ini tidak memberitahuku, aku pasti akan lupa. Yah...lebih tepatnya, aku sampai melupakan pekerjaanku gara-gara pelayanku yang sudah seperti Istriku itu.
__ADS_1
Tapi pekerjaanku yang lain adalah, aku harus menemukan identitasnya. Itulah yang dia inginkan, sebelum dia kembali bertemu dengan pria pengganggu itu.'
Hanya dengan memikirkan pria yang tadi siang sempat ikut masuk dalam balapan dan hampir mengganggu kondisi suasana semua orang, Alves jadi merasa kesal.
Karena apa?
'Dia sangat mengganggu, apalagi tatapan matanya yang terlihat seperti mengenal dengan Elly.' Ide yang kembali muncul itu membuat Alves akhirnya menemukan salah satu solusi tercepat untuk menemukan latar belakang, baik itu Elly maupun pria asing, si Aiden. 'Begitu, aku akhirnya punya solusinya. Dia akan menjadi kunci utama untuk masalah identitas milik Elly ini.'
KLEK.....
Dan pikiran itu Alves tarik kembali setelah pintu kamar inap itu terbuka, mengeluarkan satu orang wanita yang kini terlihat seperti seorang model?
'Mungkin karena dia punya kulit yang bagus, setelah menjalani perawatan kesehatan kulit untuk menghilangkan semua bekas luka miliknya itu, dia jadi terlihat lebih cantik.
Pantas saja, mau dia memakai apapun dia akan tetap cocok.' Dan Alves jadi tersenyum-senyum sendiri sambil mengelus dagunya yang sama sekali tidak memiliki jenggot karena ia rutin mencukurnya.
Tentu saja alasan lain dari dirinya tersenyum sendiri seperti itu adalah karena akhirnya dia bisa tahu cara untuk menggunakan uangnya secara tepat sasaran, dan itu adalah untuk membiayai wanita yang punya masalah ingatan ini.
'Kenapa dia senyum-senyum sendiri? Aku jadi ingin membuka isi kepalanya, gara-gara penasaran dia sedang memikirkan apa.' Pikirnya. Akan tetapi Elly tidak mau berlama-lama dalam pikirannya itu, sebab dia punya masalah lain. "Alves, apa kau bisa membantuku?" Tanya Elly.
Alves segera menarik segala pikirannya itu. "Membantu apa?"
"Sleting ini." Elly pun keluar dari kamarnya, hendak memberitahu soal gaun nya yang harus di resleting, tapi karena letaknya di bagian belakang, maka dia perlu bantuan pria ini.
Alves mengerjapkan matanya, rupanya wanita ini hanya ingin di bantu untuk mengurusi bagian belakang dari gaun itu.
Gaun mini dress yang memperlihatkan punggung putih nan halus yang dimiliki oleh Elly, karena bagian punggungnya sama sekali belum di resleting.
"Sebentar, kau tidak memakai pakaian da lam nya?"
"Hanya ada ini dan CD saja." Sahut Elly dengan singkat.
'Sialan, kenapa aku lupa untuk membelikan itu juga?' Alves yang bukan seorang wanita saja, jadi merasa risih melihat kenyataan yang ada di balik gaun yang di pakai oleh Elly ini.
Tapi mau bagaimana lagi? Mereka berdua sudah malas untuk menunggu.
"Kalau begitu pakai mantel ku ini"
"Kau terlalu perhatian untuk ukuran sebagai majikanku. Seperti, suami saja."
DEG.
__ADS_1
Alves memberhentikan tangannya yang hendak memberikan mantel coat untuk Elly, setelah dia mendengar kata suami ternyata keluar juga dari bibir ranum milik Elly ini.