
Dengan tatapan sengit, Elly yang berhasil membuat situasinya jadi berbalik dengan hasil akhir Arshen akhirnya berada di bawahnya, menekan leher Arshen dengan kuat, sampai Arshen akhirnya merasa tercekik.
“A-Arshen? Kau kalah?” Tanya Darren secara spontan, karena dalam waktu kurang dari dari dua puluh detik itu, tiba-tiba saja posisi dari dua orang di depannya jadi terbalik.
“Kau tadi mengatakan apa? Mau memberiku pelajaran? Kaulah yang seharusnya aku berikan pelajaran bocah!” Kau tadi memukul pan*atku kan? Rasakan ini.”
Arshen yang bahkan tidak diberikan kesempatan untuk bericara karena lehernya di tekan kuat, perutnya langsung di hantam dengan lututnya Elly, dan tagan kakannya yang bebas itu ia gunakan untuk menampar paha kiri Arshen.
PLAK…
“Akh-” rintih Arshen.
“Segini sakit? Akulah yang lebih sakit! Dasar semua pria itu hanya bisanya suka menyiksa yang lemah! Aku berikan kau tambahan lagi.”
PLAK…
Dengan wajah Arshen yang memerah akibat pahanya di tampar kuat oleh Elly, serta jarak wajah mereka berdua yang cukup dekat, membuat Arshen tidak bisa berpikir apapun selain merasakan siksaan balik yang diberikan oleh Elly kepadanya.
PLAK…..
“Ahhmm…” Matanya langsung mengernyit, daya tahan tubuh Elly yang terbatas itu tidak membuat keinginan dan ambisinya untuk membalas perbuatan dari Arshen terbatas juga.
‘Apa ini? Dia memang benar-benar mirip dengan Raelyn, tapi jika wanita ini punya sikap yang bahkan seperti siga betina yang ganas, siapa yang akan percaya itu?’ Pikri Darren, tidak mau ikut campur dengan urusan dari dua orang yang ada di depannya itu.
“Akhh…..!”
Rintihan demi suara rintihan mengisi kesunyian di dalam rumah yang cukup luas itu.
__________
Jika dilantai satu sedang ada pertunjukkan penyiksaan, maka tidak dengan apa yang terjadi di atas.
BRAK…
Setelah menempuh perjalanan dari lantai satu menuju lantai dua, Felix langsung masuk kedalam kamarnya, dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.
Kamar yang tadinya gelap, secara otomatis menjadi terang selepas kedua tirai jendela yang cukup besar itu secara otomatis terbuka sepenuhnya, dan disitulah Felix segera berjalan menghampiri kaca jendela yang mengarah langsung ke arah pantai lepas.
__ADS_1
Terlihatlah, pantai dengan pasir berwarna hitam dan air laut yang begitu melimpah ruah menjadi pemandangannya saat ini.
“Raelyn, apa dia memang benar Raelyn?” Gumam Felix seraya menatap pemandangan di depan sana dengan begitu lekat, sampai di detik itu juga seluruh pikirannya kembali mengulas ingatan yang terjadi kemarin siang.
____________
Flashback On
Dibawah hujan yang kian deras, tepat di depan kampus, dua orang itu terus berdiri di sana dengan posisi saling menatap satu sama lain.
Felix, pria yang pada dasarnya kuliah dikampus tersebut, tidak jadi pergi mengikuti teman-temannya yang sudah lebih dulu masuk kedalam gedung kampus, sebab ia memiliki satu urusa yang tidak terduga, dan itu adalah bertemu denga nsatu orang wanita yang sangat Felix kenali.
“Raelyn?” Panggil Felix dengan nada yang begitu lirih.
Waniya yang di panggil Raelyn itu lantas sedikit memiringkan kepalanya. Sambil meegang payung berwarna hitam miliknya, ia pun membalas tatapan mata serta perhatian yang terlihat begitu di tunjukkan ke arahnya. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau butuh payung yang aku bawa?” Melihat Felix terus berdiri di depannya sambil menatapnya terus, Elly yang kebetulan membawa dua payung sisa, langsung memberikan Felix salah satu payung miliknya yang belum lama ini ia beli. “Nih.”
Dan wanita yang tidak lain adalah Elly, berjalan menghampiri Felix sambil menyerahkan payung berwarna biru tua.
“Pakai ini sebelum kau benar-benar basah kuyup. Lalu siapa Raelyn? Apa kau barusan memanggilku Raelyn? Apa karena wajahku memang mirip dengan seseorang yang kau kenal dan kau panggil dengan Raelyn itu?” Deretan pertanyaan yang dimiliki oleh Elly pun keluar juga dari mulutnya, sampai membuat Felix yang sudah mendapatkan payung yang sudah di bukakan oleh Elly, langsung memberikan ekspresi terkejutnya.
Jelas, Felix sangat terkejut dengan satu wanita yang Felix anggap kenal, ternyata sama sekali tidak tahu siapa dirinya maupun nama dari yang Felix sebut tadi.
Tapi apa yang direspon oleh Felix, Felix justru tersenyum.
“Ya, aku pikir kau adalah Raelyn, makannya aku jadi memanggilmu Raelyn.”
“..........!” Dan Elly sendiri, seketika merubah ekspresi wajahnya jadi begitu serius.
‘Ekspresi wajahnya, kenapa jadi serius? Apa dia juga terkejut? Yah itu memang bisa jadi sih, tapi aku benar-benar berpikir kalau wanita ini adalah Raelyn.
Misal saja Raelyn tidak menghilang, penampilan sederhananya itu pasti bisa di ubah jadi seperti wanita secantik ini kan?’ pikir Fliex.
Felix masih tidak bisa melepaskan pandangannya yang begitu tertarik dengan sosok wanita di depannya itu.
‘Tapi, dia memang sungguhan mirip. Tapi jika wanita ini bukan Raelyn, kenapa bisa ada di sini?’ Segala kebingungan pun melanda diri Felix.
“Cepat masuk sana, nanti telat, baru mampus.” Tegur Elly dengan sindiran yang cukup mencengangkan.
__ADS_1
“K-kau, mulutmu benar-benar berani ya.”
“Jika tidak berani, apakah mulutku harus aku bungkam terus?” Balas Elly detik itu pula.
“Apa kau tidak siapa aku?” tanya Felix, mencoba menguji apakan wanita ini kenal dengannya atau tidak.
Elly mengernyitkan matanya, dan menjawab, “Aku hanya tahu, kalau kau adala salah satu manusia dari milyaran manusia di muka bumi ini, tuh.” Jawab Elly lagi.
Mendengar hal itu, Felix jadi semakin tersenyum tawar.
Ia benar-benar baru pertama kali ada orang yang seberani itu terhadapnya, padahal bayak wanita yang bahkan mencoba menjaga martabatnya di depannya, tapi Elly sama sekali tidak begitu, karena Elly sendiir memang tidak begitu tertarik dengan Felix.
“Berarti artinya kau tidak tahu siapa aku ya? Hmm…” Gumam Felix dengan raut wajah berpikir.
ZRASSH…..
Hujan yang kian menjadi deras, tidak membuat mereka berdua terusik dengan hal itu, yang mana, justru hal itu membuat Felix seperti merasa sedang mendalami perasaan nostalgia dengan kenangan lamanya.
‘Aku ingat, kalau waktu kecil, aku seperti pernah mendapatkan situasi yang sama juga. Tapi karena aku tidak ingat, jadi aku hanya mencoba menikmati perasaan ini.’ pikir Felix. ‘Tapi, dari ekspresi wajahnya, sepertinya dia memang tidak kenal dengan aku.’
“Siapa namamu?”
Satu pertanyaan dari Elly segera membuat Felix langsung menarik semua pikirannya tadi dan dibuat kembali mendapat Elly yang bertanya nama kepadanya.
‘Tapi karena naluriku soal dia adalah Raelyn cukuplah besar, sebaiknya aku tidak usah memberitahukan namaku.’ Pikir Felix. “Jika kita berdua di takdirkan bertemu untuk kedua kalinya, saat itulah aku akan memberitahu namaku. Terima kasih untuk payungnya, akan aku gunakan baik-baik.” Kata Felix, pada akhirnya ialah yang mengakhiri percakapan diantara mereka berdua, dan Felix pula yang pergi meninggalkan Elly terlebih dahulu.
___________
Flashback Off
“Akhh…! Sebentar! Jangan lakukan itu lagi!” Teriak Arshen, membuat Felix yang ada di dalam kamarnya pun jadi mendengar teriakannya Arshen untuk yang pertama kalinya.
Maka dari itu, Felix yang merasa ada sesuatu yang lucu, jadi tertawa, sampai tawa itu membuat langkah kedua kakinya berjalan mundur, sampai ketika kedua kaki bagian belakangnya menyentuh tepi tempat tidur, Felix langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
“Hahaha, suaranya Arshen, jadi seperti ini jika anak itu berteriak. Wanita itu, dia berhasil membuat perlajaran pada Arshen, sebaiknya aku harus memberikannya apa ya? Toh salah Arshen sendiri memprovokasi wanita itu.” Gumam Felix menikmati semua pikirannya sendiri saat ia mengingat kalau di awal pertemuannya kemarin siang dengan Elly, Felix pun sudah merasakan pertanda kalau wanita itu, yaitu Elly bukanlah wanita yang mudah di taklukan hanya dengan intimidasi, kekerasan atau ucapan yang kasar.
__ADS_1
Dan semua itu diawali dengan tatapan mata Elly yang begitu berani untuk menatap lawan bicaranya, itulah yang menjadi titik pemicu Felix bahwa ia lebih baik pergi dari sana ketimbang harus melihat seuatu yang tidak seharusnya di lihat, karena di bawah sana saat ini ada pertunjukkan pembalasan dendam dari Elly kepada Arshen.