Pelayan Tangguh Rasa Istri.

Pelayan Tangguh Rasa Istri.
90 : PTRI : Kode


__ADS_3

“Apa segini sudah cukup?” 


“Belum, kau pasti punya banyak tenaga yang biasa di sembunyikan dariku, ya kan? Lebih kuat lagi.” Perintah Alves. 


“Baiklah, kau memang benar, aku selalu menyembunyikan kekuatanku untuk sesuatu yang lebih berguna. Apa segini sudah kuat?” Tanya Elly lagi. 


“Hmm…ya, itu sudah cukup. Jadi lakukan,” Kata Alves, mulai mencoba menikmati sentuhan yang akan dilakukan oleh Elly. 


“Ototmu terasa keras sekali, aku jadi tidak tahan ingin memukulnya.” Gumam Elly, dia sedang diperintahkan untuk memijat tubuh Alves, tapi saat ia mencoba menekan kulit dan otot tubuh dari punggung Alves yang begitu lebar seperti samudra, membuat Elly sendiri jadi gemas, ingin memukul otot-otot yang terbentuk itu. 


“Nanti aku belikan samsak, baru bisa kau pukul.” Alves menyahut gumaman Elly yang masih terdengar itu.


‘Dia mendengarnya.’ Jadi tidak enak hati, karena ingin memukul tubuh Alves yang kelewat atletis, punya segala otot tubuh yang terbentuk dengan sempurna. “Apa aku tidak berat?”


“Kau yang berat memang apanya? Sama sekali tidak.” Karena posisi Elly duduk di atas belakang punggungnya persis, Elly jadi mengira kalau tubuhnya itu berat untuk di duduki? ‘Bahkan aku sama sekali tidak merasakan kalau kau sekarang benar-benar sedang duduk di atasku. Padahal aku jamin makanan yang ada di rumah sangat bergizi, tapi dia sama sekali seperti orang yang terkenal malnutrisi. Huhft~’


Dengan begitu lihat, Elly mmberikan tekanan di beberapa tempat. Ia tahu soal pijatan, apalagi pengetahuan titik kupuntur, semuanya ia pelajari karena memang sangat berguna untuk mengatasi masalah yang ada pada tubuh, misalnya saja Alves. 


Karena pria itu cukup lelah, begitu Elly memberikan beberapa pijatan yang membuatnya nyaman, Alves terlihat sudah terlelap. 


Tapi sayangnya bukan lelap karena tidur, tapi sedang menikmati pijatannya. 


Dari bawah ke atas, ujung dari kedua jari jempolnya menekan tepat di bagian tulan belakang Alves, sehingga Alves tiba-tiba saja jadi merasakan sesuatu yang mengejutkan. 


‘Ini, kenapa pijatannya enak? Harusnya aku merasa nyaman, tapi ada sesuatu yang berbeda. Rasanya dia mau keluar.’ Alves menyembunyikan wajahnya di atas tumpukan tangannya, dan terus mencoba menikmati pijatan dari tangan kecil tapi terasa hangat itu. 


Awalnya memang hangat, tapi akhirnya tujuannya sebenarnya bukanlah itu, ia ingin merasakan sensasi lain yang sedang mendart di permukaan kulit belakang pinggangnya itu.


‘Kenapa telinganya memerah? Ah, tengkuknya juga memerah.’ Elly yang penasaran dengan apa yang sebenarnya Alves rasakan ini, dengan entengnya, ia merangkak lebih ke depan, menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya, dan setelah itu Elly menundukkan kepalanya ke bawah, sampai akhirnya Elly berbisik. 


“Alves, apa kamu terkena sesuatu, alergi atau apa? Telingamu juga tengkukmu memerah.” Bisikan kecil, lirih, dan hembusan nafas yang langsung menyapu telinga Alves, siapapun pasti akan langsung bereaksi. 


“.........!” Mendengar bisikan kecil sampai nafasnya menghembus telinganya dengan sensasi panasnya itu, Alves seketika langsung membalikkan tubuhnya. 


Elly langsung terkejut dengan perubahan eksresi wajah Alves yang terlihat begitu tersiksa?


“Elly, apa kau sedang menggodaku?” Tekan Alves, nadanya begitu rendah seolah sedang menahan sesuatu. 


“Apa karena posiis kita ini?” Tanya balik Elly, menyentuh dada bidang Alves dengan sentuhan lembut yang ia gerakkan dari bahu sampai ke perut. Mengabsen setipa roti sobek yang sudah Alves buat dengan begitu sempurna. 


Bahkan siapapun pasti berharap untuk menyentuhnya juga. 


Karena bagi mereka semua, tubuh Alves bagaikan karya seni yang di buat oleh dewa?


‘Aku memang pernah mendengar pujian tersebut, tapi mau bagaimanapun Alves membuat diirnya seperti ini karena usahanya sendiri.’ Pikirnya, sorotan matanya yang begitu tenang terus melihat secara rinci bagaimana ujung jarinya berjalan menyusuri kulit tipis Alves yang begitu lembut serta menggoda. ‘Aku memang termasuk beruntung.’ Imbuhnya.


‘’Elly~” Alves memaggilnya dengan nada lirih, seolah dia sedang memanggil seekor burung kecil yang sangat rapuh. 


Elly pun menghentikan belaian tangannya dari tubuh Alves, dan menatap manik mata Alves yang begitu memikat. 

__ADS_1


Alves sesaat melirik ke bawah, melihat bagaimana cara buah itu menggantung di depan mataya, sebauh pose indah yang begitu memikat hainya, Alves sudah jatuh cinta, lantas kapa wanita di atasnya ini bisa membalas perasaannya yang sebenarnya?


“Kau menggunakan opium pada tubuhmu ya?” 


“He~” Elly tiba-tiba merekahkan senyumannya, mendekatkan tubuhnya yang hanya terbalut dengan pakaian bikini saja ke arah Alves, akhirnya tangan kanan Alves lebih dulu meraih pingang langsing milik Elly sampai akhirnya tubuh itu benar-benar mendarat di atas tubuhnya. “Kau kelihatan lapar ya?” 


Tatapan mata yang begitu sayu, siapapun akan mengira dengan benar kalau pria di bawahnya itu memag benar-benar menginginkan sesuatu dari dirinya.


“Apa ini alasanmu kau ingin aku memijatmu? Maaf, aku baru sadar dengan kode darimu.” kata Elly, senyuman lembutnya pun benar-benar berhasil menyita perhatian mata Alves, ingin mendapatkan mulut yang terlihat begitu manis itu. 


“Ya, kau memang lama meresponnya, tapi aku tidak mempermasalahkannya selama kau akhirnya bisa ingat maksud dari tujuanku membuatmu keluar dari dalam kolam.” balas Alves. 


Elly tertawa, “Pfft, padahal kau bisa saja mengajakku di kolam saja.” Goda Elly, mengusap wajah tampan Alves. “Apa kau tidak penasaran bagaimana jika melakuannya di kolam?” imbuhnya. 


Rayuan manis, semanis gula. Anak kecil pun akan terpikat dengan manis itu sendiri, apalagi pria dewasa yang sedang merindukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh Elly seorang?


Alves sudah menginginkannya. 


Sudah cukup lama ia menahannya, dan sudah lama ia menunggunya. 


Sejak kapan?


Kemarin, saat mereka berdua saling bertukar air liur di bawa shower. 


“Tapi aku pikir tahan saja dulu. Mandi di air hangat saja bukannya kau sebenarnya sedang menyiksa diri hnaya agar bisa ikutan?” Elly jadi membahas luka yang masih di miliki oleh Alves. 


Obat untuk lukanya sudah ada, dalam waktu kurang dari satu minggu, sudah pasti akan sembuh, tapi apa obat rindu yang di miliki oleh seluruh tubuh, baik hati dan jawa raga?


Obatnya hanya satu, yaitu satu orang yang menurutnya bisa membawanya dalam kenyamanan, dan Elly adalah satu-satunya orang yang bisa melakukannya. 


“Baiklah, jika kau memang maunya begitu.” Tatap Elly, merasa terbebani jika ia menolak keinginan dari pria ini. 


Mendengar permintaannya mau di penuhi oleh Elly,, Alves jadi tidak sabar lagi, sampai ia secas pontan tersenyum kepada Elly. 


Dan dimulailah Elly dalam mode pemuas naf*su majikannya itu. Karena satu alasan yang sudah jelas tentunya, mereka tidak akan melakukan hubungan lebih dari itu.


Satu kecupa pertama menjadi bahan dasar rangsangan untuk mereka berdua, sentuhan ptama dari Alves kepada pinggang Elly pun sama-sama dilakukan agar bisa mendapatkan kepuasannya sendiri.


Pria lajang, umur dua puluh delapan tahun, tampan, pintar, punya segala kekayaan, terlebih lagi baik hanya untuknya, Elly mendapatkan kartu as yang begitu menguntungkan, pemuas keinginan dari diri manusia yang menginginkan kesempurnaan. 


CUP. 


“Mphh….” Satu kecupan lagi kahinrya mendarat di bibir mereka masing-masing. Menciptakan sentuhan kecil menjadi besar, porsi kecil hanya untuk sekedar menc*um dan di ci*m, berakhir dengan sesuatu yang lebih besar dari itu. 


WUSSHH…..


Angin laut yang berhembus kencang menerpa tubuh mereka berdua. 


Tapi seolah kalau mereka sudah berada di dunianya masing-masing, maka hembusan aingin laut yang dingin itu serasa tidak berarti lagi bagi kedua insan yang sedang memadu nasib di bawa tekanan akan has*rat, yang pastinya selalu ada dan terpendam di dalam diri masng-masing manusia.

__ADS_1


Satu gerakan yang cukup sensual menciptakan gair*ah yang semakin memanas, itu pertanda kalau tubuh mereka berdua memang saling menginginkan, bahkan sudah pernah berkenalan satu sama lain. 


“Phuahh…, kau semakin mahir saja. Hahh..hahh…hahh…” Kata Elly dengan nafas yang sudah tersengal-sengal sebab mereka berdua melakukannya dengan waktu yang sedikit lebih lama dari pada biasanya. 


“Aku memang selalu mahir dalam satu dua kali percobaan, jadi tentu saja aku sekarang bisa mahir, semuanya karena siapa?” 


“Aku.” Elly menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. 


“Dan siapa yang membuat otakku terus memikirkanmu?” 


“Itu karena keinginanmu sendiri, jadi aku jawab kau sendiri.”  Jawab Elly. 


Kembali dalam keheningan, Alves dan Elly jadi saling menatap satu sama lain. Memberikan satu hubungan tak kasat mata yang langsung membuat mereka berdua kembali menyatukan mulut mereka dan masuk dalam pelukan untuk berbagi kehangatan. 


CUP…


Ada sakit ada juga kehangatan yang timbul akibat sentuhan antara kulitnya dengan kulit Elly, tapii semua itu tidak ia gubris karena ia mementingkan cara untuk mendapatkan suatu kepuasan yang lebih dari sekedar ci*man belaka.


Khayalan menjadi kenyataan, tangan Alves yang sudah gatal dari semenjak awal Elly memakai pakaian renangnya itu, akhirnya ia lampiaskan juga dengan menarik ujung tali yang mengikat bra itu.


Dalam sekali tarikan, sontak membuat buah yang terbungkus rapi itu akhirnya keluar dari temptnya, mempertontonkan kesan kenyal, enak, tapi tidak mampu di makan. 


Walaupun begitu bisa Alves nikmati, entah itu dengan mulutnya maupun dengan menggunakan tangannya. 


“Alves, kau sudah jadi pria me*sum ya,” Ejek Elly.


“Tapi kau lah duluan yang membuatku seperti ini.”


“Hmm…, begitu ya. Padahal waktu itu aku hanya melakukannya untuk membantumu. Tapi otakmu lah yang menuntut untuk hal lebih, jika sudah bersamaku. Kau seharusnya tahu itu, bukan aku, tapi kembali lagi ke diirmu sendiri.” Jelas Elly seraya menunjuk-nunjuk tepat ke tengah dada Alves. 


“Makannya, karena aku sudah jadi seperti ini, lakukan hal yang bisa kau lakukan sebagai wanit.” tuntut Alves. 


Elly awalnya diam sejenak, mencerna ucapannya Alves, sampai Elly yang sudah sepenuhnya paham, langsung tersenyum miring dan berkata : “Baiklah Tuanku, sesuai kontrak-” Lalu Elly kembali menundukkan kepalanya, menyambut leher Alves, dan kembali bkata : “Aku akan mengabulkan setiap keinginanmu.”


SLURP….


Elly menjilat leher jenjang milik Alves, dan tangan kiri Elly menangkap tangan kanan Alves, menuntun tangan besar dan kuat itu untuk meraih salah satu dari sepasang aset milik Elly, setelah selesai, Ellly lah yang kini meraih pusaka milik Alves yang tersimpan rapi di dalam celana renang yang di pakai oleh pria ini. 


Sentuhan kecil, di iringi dengan r*mas*an yang begitu nikmat, membuat tubuh terasa semakin melayang ke angkasa lepas. 


[ Dalam kontrak nomor 10.


Jika pihak A meminta sesuatu kepada pihak B, maka pihak B sepenuhnya berjanji untuk menurutinya, terlepas permintaan di luar perjanjian yang ada di nomor 1-9.


Contoh dalam permintaan ini adalah, melakukan kontak fisik melebihi aturan antara majikan dan pelayan. 


Bertanda, pihak B dapat mendapatkan gaji tambahan diluar ketentuan sesuai dengan keinginan pihak B. 


(Syarat, pihak A merasa puas dengan layanan dari pihak B.) ]

__ADS_1


__ADS_2