
Alves yang tidak bisa menolak bibir itu, lantas menerima obat pemberian dari Elly dengan caranya sendiri yang selalu saja berhasil memikat perhatiannya terhadapnya.
Setelah berhasil memindahkan obat dari mulut ke mulut, Elly kemudian membuang obat itu ke sembarang tempat dan langsung mengambil air mineral.
Seperti yang di lakukan nya tadi, sekarang dia pun membuka tutup botol tepat di belakang kepalanya Alves, sudah terbuka dia segera melepaskan tautan dari ciu*man nya itu, meminum air itu dan ia tampung di dalam mulutnya, setelah itu Elly akhirnya memberikan Alves air minum kembali lewat mulutnya itu.
GLUK....
Jakun milik dari pria di depannya itu pun bergerak naik dan turun seiring air yang di minumnya mengalir melewati tenggorokannya.
GLUK....
Sampai ada air yang menyelinap keluar, menyusuri dagunya dan jatuh ke kemeja berwarna biru muda yang sedang Alves pakai itu.
"Phuah...hah..hah.." Mereka berdua akhirnya melepaskan tautan diantara mereka berdua.
"Hah..., hah..., hah..., aku puas. Lain kali kau harus melakukan seperti ini terus." kata Alves dengan senyuman miringnya. Sampai lidahnya langsung menjilati bibirnya sendiri yang mana sudut bibirnya Alves sudah ternodai oleh lipstik yang Elly pakai.
"Kau seperti pria mes*um." Tatap Elly melihat ekspresi wajah Alves yang cukup songong itu.
"Biarin, jika kau menganggapku sebagai pria mes*m, maka itu hanya berlaku untukmu saja. Kerja bagus, jangan seperti boneka hidup, karena kehidupanmu kali ini bukan di gunakan sebagai untuk boneka, tapi untuk dirimu sendiri dan juga untukku. Kau mengerti?" Ungkap Alves, dia tersenyum di tengah-tengah mulutnya terus bicara tentangnya terus, tentang Elly yang dulu seperti boneka, tapi sekarang pria ini justru berhasil menasihati Elly untuk keluar dari zona yang sudah bukan menjadi miliknya itu, sebab semuanya sudah sepenuhnya berubah.
Baik itu tubuh, nama, umur, bahkan nasib, serta kehidupan mereka berdua, jelas sudah cukup berbeda dari yang sebelumnya.
Jadi ada baiknya, Elly bisa lebih banyak mengekspresikan kemauannya sendiri, itulah yang di harapkan oleh Alves terhadapnya, tidak kurang dan tidak lebih.
"Alves." Elly tiba-tiba saja memanggil namanya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. "Kau-"
"Ya?"
"Kau- kenapa kau bisa mengatakan seperti itu kepadaku padahal kau sendiri saja jadi budak dari pekerjaanmu sendiri."
Seketika harapannya yang ingin mendengar pujian dari Elly, langsung runtuh.
"Apa itu sindiran?"
Elly mengangguk iya.
"Tidak apa, jika aku jadi budak dari organisasiku sendiri, yang penting kan hasilnya bisa aku gunakan untuk membahagiakanmu." jawab Alves seraya mengusap wajah Elly.
Begitu tatapan mereka saling terpaku satu sama lain, wajah mereka berdua pun semakin mendekat, sampai di titik ketika Alves ingin meraup bibir itu lagi, Elly justru langsung memeluknya.
GREP....
"Maaf, kalau selama ini aku selalu salah sangka padamu." Kata Elly, wajahnya ia daratkan di atas bahu lebar milik dari pria ini.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Maaf untuk apa?"
"Aku selalu mengira kalau kau tidak memiliki perasaan padaku."
"Elly, sudah aku bilang, itu sudah jadi bagian dari masa lalu kita. Yang harus kita hadapi saat ini adalah diri kita sekarang. Kau, maupun aku, sudah mengambil langkah baru untuk memulai kehidupan kita berdua. Itulah bagian penting yang seharusnya kita pikirkan, bukan terus melihat ke masa lalu."
"Tapi, jika bukan karena masa lalu, kita berdua juga tidak akan sampai di titik ini, ya kan?"
"Elly, masa lalu kita itu di dasari untuk belajar saling memahami, mungkin dulu kau dan aku tidak satu pemahaman, tapi karena sekarang baik kau dan aku sudah mengerti masa lalu kita sendiri sudah jadi seperti apa, kita harus memulainya dari awal lagi, ya kan? Berhentilah, berhenti membahas masa lalu yang sudah tidak berarti itu, kau dan aku, sekarang kita sudah bisa bersama, jadi jangan pikirkan hal lain lagi." Papar Alves. Dia ingin menghentikan kebiasaan Elly yang selalu saja membahas masa lalu yang sudah tidak berarti lagi.
"Ya, makannya, aku minta maaf, lagi. Aku kan jadi membahas masa lalu lagi." Jawab Elly, masih tidak bisa melepaskan pelukannya, karena sungguh, itu membuat tubuhnya merasa nyaman dan hangat.
Padahal Alves sedang sakit kepala, tapi dengan egoisnya, ia malah berulah dengannya.
"Sudah-sudah, tidur saja. Atau kalau tidak, pijatkan punggungku, dengan kedua kakimu itu." Pinta Alves.
Elly akhirnya mau melepaskan pelukannya juga, lalu menginjak-injak punggung Alves sebagai terapi untuk merilekskan tubuh dari pria ini.
KREKK...
KREK...
"Hahaha, dengar kan itu? Tubuhku benar-benar lelah, sampai suara sendi tulangku berisik semua."
"Tidak retak kan?"
"Apa aku seringan itu?"
"Seringan bulu."
"Bagaimana kau tahu aku punya berat kurang dari 45 kg?"
"Karena aku sering mengangkat tubuhmu, jelas aku tahu, lah." Jawab Alves sekali lagi.
"Kau memang pria me*sum."
"Iya, iya. Lagian aku jelas akan bersikap dan berlumut me*sum untukmu saja." sahut Alves detik itu juga.
KREK....
"Ah...enak, terus, turun ke bawah, kebawah lagi." Perintah Alves.
"Sampai mana?"
"Pant*at. Agar kau tahu betapa eksotis nya pan*at ku, kau harus merasakannya juga."
__ADS_1
"Diamlah, jangan jadi orang gila, kau tidak pantas menyandang sebutan itu." Beritahu Elly.
"Hahaha, padahal kau sendiri sudah menyebutku gila."
"Diam, aku sedang menginjak-injak punggungmu, memangnya kau tidak merasa sesak?'
"Aku hanya bisa merasa sesak saat kau tidak ada di sisiku, dan akan sesak ketika kau menangis di depanku."
"Mulutmu, apa kau tidak bisa berhenti untuk tidak menggodaku seperti itu?"
"Kelihatannya tidak bisa sampai kau bisa memberikanku jatah."
Mendengar kalimat itu, Elly akhirnya menghentikan kegiatannya, lalu dia tiba-tiba turun dan malah duduk di atas pinggang nya Alves, sampai akhirnya dia mendaratkan tubuhnya di atas punggung kekar dan lebar milik pria ini.
"Apakah di saat aku belum datang kesini, kau sering menggoda wanita lain?"
"Aku tidak pernah sekalipun menggoda wanita lain, jadi sebaiknya kau tarik kembali semua khayalanmu itu."
"Begitu ya?" begitu sudah memeluk belakang punggungnya Alves, Elly pun membenamkan wajahnya di atas permukaan punggung itu sambil berkata, : "Apa kau yakin dengan keputusanmu?"
"Aku selalu yakin dengan semua yang aku ucapkan." Kata Alves dengan cepat.
Dan begitulah, mereka berdua pun berbicara dengan caranya masing-masing sampai posisi yang cukup di salahpahami oleh Orson, kembali terjadi.
'Mereka berdua benar-benar tidak ingat tempat. Untung saja aku yang buka pintunya, bagaimana jika yang membuka pintu ini orang lain? Pasti akan jadi bahan gosip semua orang di dalam kantor. '
Karena ia tidak bisa mengganggu kemesraan yang di perlihatkan oleh Elly dan Alves, Orson pun akhirnya pergi dari sana.
"Kenapa malah berhenti? Tugasmu kan belum selesai?"
"Yah, aku pikir tugasku untuk melayanimu dengan cara seperti ini."
"Mulutmu ternyata juga kurang ajar juga ya? Untungnya kau termasuk orangku, jika bukan aku pasti sudah membuat perhitungan denganmu." Jawab Alves.
"Begitukah? Tapi bahkan sebelum kau bicara soal akan membuat perhitungan denganku, aku akan melakukannya lebih dulu. Misalnya ini-"
Alves langsung melirik ke arah samping kanannya, dan melihat betapa jahilnya tangan Elly dengan sengaja mengusap paha nya.
"Dengan kaki seperti ini, kau pasti jago dalam segala bidang olahraga."
"Tentu saja." Senyum Alves, dia justru malah jadi semakin tertarik ketika dia merasakan sentuhan dan ucapan menggoda itu hanya tertuju kepadanya. "Jika yang kaku maksud itu adalah olahraga ranjang, aku termasuk paling jago."
"Ya, kau bisa membuktikannya kepadaku saat kau berhasil menaklukanku."
"Apa itu tantangan untukku?" Tanya Alves, terasa ada yang baru saja menantangnya.
__ADS_1
"Hm, aku sudah janji, dulu jika kau berhasil menaklukanku, aku akan melakukan apapun yang kau mau itu." kata Elly.
Dan seperti itulah, kehidupan Alves dengan sisinya yang baru dengan Elly yang selalu saja entah apapun yang di lakukan nya itu, berhasil membuat Alves tidak bisa menghilangkan perasaannya walaupun di telan banyak waktu pekerjaan, bertemu banyak orang, semuanya berujung dengan diri Elly yang selalu saja ada di tempatnya.